Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Ikhlas


__ADS_3

sepulang nya dari rumah sakit, Hania hanya berdiam diri di kamar. air mata nya tak henti mengalir.


"ya Allah, Hania terima segala apa yang terjadi saat ini. Hania ikhlas ya Robb. tapi Nia mohon tolong kuatkan Nia, jangan engkau biarkan Nia menyusahkan siapapun ya Robb."ucap Hania lirih


dia membayangkan bagaimana dengan ayah nya nanti ketika dia benar-benar harus pergi lebih dulu.


drrrt


buru-buru Hania menghapus air mata nya.


"hallo, assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam. maaf ini siapa ya?"


"ini, aku Rafa. Han."


"ada apa lagi, Raf?"tanya Hania dingin


"apa aku bisa bertemu dengan mu sebentar saja Han."ucap Rafa memohon


"aku nggak bisa Raf, suami ku lagi tidak ada di rumah. lagipula kamu mau bicara apa?"


"aku hanya ingin meminta maaf sama kamu, Han atas segala sikap aku kemaren sama kamu."


"sudahlah Raf, tidak perlu di bahas lagi. sekali lagi aku mohon tolong jangan ganggu aku lagi ya. assalamu'alaikum."ucap Hania lalu dia mematikan sambungan telepon


...----------------...


"kenapa kalian tidak becus mengurus perusahaan saya? apa kalian sudah tidak ingin bekerja lagi?"bentak Andra dengan emosi

__ADS_1


"maaf kan atas keteledoran kami tuan, kami juga tidak menyangka mereka berani melakukan korupsi."


Andra terlihat begitu stress dengan kejadian di perusahaan nya saat ini. memang Andra tidak terlalu rugi namun dia sangat membenci pengkhianatan apalagi oleh orang kepercayaan nya sendiri


"sudah, urus mereka dan jangan biarkan siapa pun berani lagi melakukan hal sebodoh ini."


"baik tuan."


Andra duduk di kursi kekuasaan nya.


"sayang, tenang lah. kamu juga nggak akan begitu rugi kok sama yang mereka korupsi kan."


"hmm, iya."jawab Andra


Evan memilih untuk pergi dari ruangan itu, ntah kenapa dia begitu membenci Saras dan merasa jijik dengan sikap Andra.


Evan duduk di balkon kantor, dia terus memikirkan sikap Andra yang tak pernah berubah. maklum saja Evan sudah menganggap Andra sebagai adik nya ditambah lagi usia mereka terpaut cukup jauh.


Evan menghisap rokok lalu menghembuskan nya sehingga kepulan asap keluar dari mulut nya. yaa Evan memang merokok tapi bukan pecandu. dia hanya merokok sekekali saja.


drrtttt


"hallo Tante."ucap Evan


"hallo Van, kapan kamu pulang?"tanya Tante Fera


"mungkin beberapa hari lagi Tan, kenapa Tan?"


"Tante mau minta tolong temani tante ke rumah sakit, Minggu depan sudah jadwal nya Tante check up."

__ADS_1


"iya Tan, nanti Evan temani."


"terima kasih ya van."


"iya Tan, sama-sama."


Tante Fera adalah orang tua pengganti bagi Evan, saat usia nya lima tahun, Evan harus ditinggal orang tua untuk selamanya. nasib Evan dan Andra memang tak kalah jauh.


ceklek


Evan melirik sekilas pada pintu, rupanya itu Andra


"kamu mau pulang nggak?"tanya Andra


"duluan saja, nanti gue pulang sendiri."jawab Evan cuek


sejak Andra kembali lagi dengan Saras, mereka berdua sering berantem.


"oke."jawab Andra lalu dia meninggalkan Evan


setelah Andra keluar, Evan pun juga pergi.


"evan nya mana sayang?"


"di belakang, kita pulang duluan saja."


"ih kok pulang, kita jalan dulu yuk."


"oke."

__ADS_1


Andra mulai melajukan mobil nya, sementara Evan hanya berdecak kesal pada Andra.


...----------------...


__ADS_2