Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Cemburu


__ADS_3

Hania sudah kembali ke apartemen, sementara pak Arshad kembali ke rumah nya.


uhuk uhuk


suara Hania batuk, kini darah dari hidung nya sudah semakin sering terjadi. kondisi nya semakin turun dan tidak baik-baik saja. namun Hania begitu pandai menutupi rasa sakit nya.


"ya Allah, kalau memang sudah waktu nya. ins syaa Allah Nia sudah ikhlas ya Robb."ucap Hania lirih dengan air mata di pipinya


drrtttt


"assalamu'alaikum la."ucap hania sembari menghapus air mata nya


"wa'alaikumsalam, Han. besok aku pulang ke Indonesia, kita ketemuan ya."


"iya la. ins syaa Allah."jawab Hania sendu


"oke han, bye."


"bye."


sambungan telpon terputus, Hania duduk di balkon kamar apartemen. bola mata nya terus memandangi ramai nya perkotaan.


Ting


"assalamu'alaikum non, apa kabar non?"pesan dari mbok Iyem


"wa'alaikumsalam, Alhamdulillah Nia baik-baik saja mbok."balas Hania


"syukurlah, non tinggal dimana? mbok kangen sama non."


"maaf ya mbok, Nia nggak bisa ngasih tau tempat Nia sekarang."


"iya non, nggak apa-apa. mbok ngerti kok."


Hania meletakkan ponsel nya di atas meja.

__ADS_1


drrtttt


Hania melirik ponsel nya, ternyata Rafa


"assalamu'alaikum Raf."


"wa'alaikumsalam Han, gimana kabar kamu sekarang?"


"Alhamdulillah baik Raf."


"syukurlah, oh ya Han, aku bisa ketemu sama kamu nggak sebentar aja."pinta Rafa


"bisa, kamu ke apartemen aku aja ya Raf, di jalan A. nanti kita ngobrol di kafe dekat sini."


"baik, terima kasih ya Han. sebentar lagi aku kesana."


"iya Raf."


...----------------...


hania yang datang tidak menyadari kalau ada Andra disana.hania duduk di seberang Andra dan Evan.


Evan tampak memperhatikan Andra,sembari bertanya-tanya. "Hania ngapain disini?"batin Evan


Evan dan Andra tak sengaja akan meeting disana, karena apartemen klien nya ada di dekat situ.


tak lama, Rafa pun datang.


"waduh, ternyata."ucap Evan tak percaya sembari nahan tawa karena dia melihat ekspresi Andra


"sudah lama Han?"


"belum kok Raf, silahkan duduk,mau pesan apa?"tanya Hania


"nanti saja Han, oh ya aku kesini mau minta maaf sama kamu, Han."

__ADS_1


"minta maaf untuk apa Raf? bukan kah aku sudah memaafkan mu?"tanya Hania


Andra mendengar semua obrolan keduanya karena meja mereka tak begitu jauh.


"ya sebagai manusia pasti akan selalu melakukan salah dan dosa Han."


"iya Raf, aku juga minta maaf ya."ucap Hania sembari tersenyum


"hmm, Masya Allah senyum kamu itu begitu mendamaikan bagi siapapun yang melihat nya Han."


uhuk uhuk


suara batuk seseorang, Hania dan Rafa reflek melihat ke arah suara


Hania terkejut dan menatap Andra. Keduanya sama-sama saling pandang dengan perasaan masing-masing. sebenarnya Hania merindukan suami nya itu.


"hai Han?"sapa Evan cengengesan


sementara Hania merasa bingung dan tak enak juga.


"lanjutin aja Han, nggak apa-apa kok biasa lah dia batuk."ucap Evan


"itu suami kamu kan, Han?"


Hania mengangguk ragu.


"kalian kenapa?"tanya Rafa sembari melihat Andra


"tidak apa-apa Raf. oh ya Rafa mau ngomong apa?"tanya Hania


"hmm, aku nggak enak sama suami kamu, Han."


"kenapa nggak enak, biasa aja Raf. apa kita harus pindah tempat?"tanya Hania sengaja


"hmm, pintar juga nih adek gue."batin Evan

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2