Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Kekhawatiran Evan


__ADS_3

"silahkan duduk tuan."ucap dokter Mia


"dok, maaf. sebenarnya apa yang terjadi dengan Hania?"


"jadi begini tuan, setelah hasil pemeriksaan sebenarnya Hania sudah cukup lama mengidap penyakit leukemia, mungkin saja gejala-gejala nya tidak terlalu terlihat. akhir-akhir ini dia sering mengalami mimisan, berat badan nya turun drastis, dan lain nya. yang mana itu merupakan bagian dari kanker ini."jelas dokter Mia


"lalu, apa Hania bisa sembuh dok?"


"hanya 10% bahkan bisa dikatakan tidak, saya rasa tuan juga tau bagaimana penyakit ini, ditambah lagi Hania memang sudah sering sakit-sakitan."


"hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah banyak-banyak berdoa, dan terus mensupport dia."tambah dokter Mia


Evan hanya diam, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.


"terima kasih dok."


"sama-sama, dua Minggu lagi Hania akan menjalani kemo lagi, saya harap kondisi dia bisa lebih baik dari sebelumnya."


Evan mengangguk, lalu dia permisi dan meninggalkan dokter Mia.


...----------------...


setelah dari rumah sakit, Evan pergi ke kantor.


Evan langsung menuju ke ruangan Andra.


"dari mana aja kamu van? kok jam segini baru datang?"tanya Andra yang masih sibuk dengan berkas-berkas

__ADS_1


"sorry, tadi gue ke rumah sakit."


"oh, gimana keadaan Tante Fera?"


"lumayan baik sih."jawab Evan


"dra."


Andra menghentikan tangan nya yang sibuk dengan kertas-kertas itu, dan mendongak ke arah Evan.


"ada apa?"


"gue mau tanya serius sama elu?"


"tanya aja lah, nggak usah terlalu formal van."


"kenapa kamu nanya itu? nggak ada pertanyaan lain apa? kamu udah tau kan jawaban nya?"tanya Andra


"dra, apa elu benar-benar nggak mencintai Hania?"


"menurut kamu?"tanya Andra dengan menaikkan alisnya


"menurut gue, elu mencintai Hania tapi elu tidak menyadari itu dra."


"itu menurut kamu, bukan menurut saya. lagipula kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? apa kamu mau jadiin dia istri kamu? kalau iya tunggu beberapa bulan lagi van."jawab Andra tanpa bersalah


"kalau Hania di ambil tuhan, gimana?"tanya Evan lagi dengan suara bergetar

__ADS_1


Andra terdiam, Andra memperhatikan sikap Evan yang terlihat sedang menyimpan sesuatu.


"kamu kenapa sih Van? ngapain kamu bahas tentang dia?. sampai kapanpun aku akan tetap memilih Saras."


"gue cuma nanya dra, gue cuma ingin tau gimana sikap elu tapi gue lihat elu benar-benar nggak apa-apa kan kalau kehilangan Hania."tanya Evan lagi lalu dia pergi meninggalkan Andra


"nggak jelas."gerutu Andra


...----------------...


sepulang nya dari rumah sakit, hania hanya diam di kamar. sekekali dia keluar untuk mengambil minum. wajah cantik itu tak terlihat sedang sakit. Hania begitu pintar menyembunyikan segala kesakitan nya.


"non, tadi pagi non kemana?"


"ada kerjaan mbok."jawab Hania


"ibu-ibu itu kemaren, siapa nya non?"


"dia adalah wanita yang sudah melahirkan saya mbok, tapi saya bukan anak yang dia inginkan."


"sudah lah mbok, jangan di bahas lagi ya. aku ini hanya anak pembawa sial bagi dia, bahkan dia sangat ingin kalau aku mati."ucap Hania dengan senyuman getir


mbok Iyem langsung memeluk Hania, dia merasa kasihan dengan Hania.


"non, itu bukan pembawa sial non. non anak yang baik. mbok sayang sama non."


Hania mengelus tangan mbok Iyem "terima kasih mbok."ucap Hania lalu dia kembali ke kamar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2