Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Ribut


__ADS_3

selepas bersih-bersih, Hania masih berada di kamar, kejadian tadi sore membuat Hania malas untuk keluar kamar.


sementara dari luar kamar, terdengar suara kaki Andra menuruni tangga.


"kemana dia?"batin Andra


Andra merasa bingung karena tidak ada makanan di atas meja.


"jadi dia benar-benar marah sama saya?"tanya Andra pada dirinya


"Budi."panggil Andra


"iya den."jawab Budi lalu mendekati Andra


"kamu beli makanan dulu diluar, kayak nya bahan makanan di rumah ini habis."sindir Andra


"baik den."


Budi pun membeli makanan di restoran depan komplek, Hania yang mendengar itu hanya diam dan merasa tidak enak.


"Hania, seharusnya walaupun kamu lagi marah tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini."ucap Hania


Hania langsung berdiri dan bergegas keluar kamar.


Andra sedang duduk di ruang tv sambil memainkan ponsel nya.


"mas."panggil Hania lirih


"hmm."


"aku minta maaf ya mas, aku masak dulu ya."


"nggak usah, saya sudah menyuruh Budi beli makanan diluar."jawab Andra ketus


"ya sudah mas, aku buatin kopi aja ya."


Andra tidak menjawab, Hania yang melihat sikap Andra seperti itu langsung pergi ke dapur.


tak lama Hania datang sembari membawa secangkir kopi.


"silahkan mas."ucap Hania


"den, non. ini makanan nya."


"cepat kamu siapin sana."


"iya mas."


Hania pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, tak lama dia pun memanggil Andra.


***********


selepas beres-beres, Hania mau kembali ke kamar nya namun Andra menghentikan nya.


"mau kemana kamu?"


"ke kamar mas."


"mulai besok, kamu siapkan semua keperluan ku untuk ke kantor. saya izinkan kamu untuk keluar masuk kamar ku hanya untuk menyiapkan keperluan ku saja tidak lebih dari itu."

__ADS_1


"benarkah mas?"


"iya, apa kamu keberatan? apa guna nya kamu sebagai istri kalau mengurus suami saja tidak becus."


"tidak mas aku tidak keberatan, justru aku sangat senang."jawab Hania


Andra menaikkan alisnya, dia merasa heran dengan sikap Hania, bukan nya menolak tapi justru Hania menerima permintaan nya.


"oh ya mas, tadi mbok menghubungi ku kata nya kemungkinan mbok bakalan lama kembali kesini, karena kondisi suami nya semakin parah."


"hmm."jawab Andra


"kalau gitu, aku ke kamar dulu mas. mas jangan lupa sholat isya ya."ucap Hania lalu dia masuk ke kamar


***********


jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Hania terbangun karena dia mendengar suara ribut.


"astaghfirullahaladzim, suara siapa itu?"tanya Hania lalu dia pun memberanikan diri untuk keluar


ceklek


Hania membuka pintu rumah, terlihat Budi sedang main catur dengan bapak-bapak di kompleks.


"Bud."panggil Hania pelan


"iya non, ada apa non?"tanya Budi khawatir


"siapa yang ribut, Bud?"


"itu non, tetangga sebelah mereka memang sering ribut non."


"ada masalah apa Bud?"


"kasihan anak nya Bud."ucap Hania karena anak nya terus saja menangis


memang ada tangisan suara bayi dari rumah itu, Hania baru melihat mereka beberapa hari yang lalu karena mereka baru pulang dari luar kota.


"iya non, tapi non nggak usah pikirkan. bahaya non.,"


"bahaya? bahaya kenapa bud?"


"sudah non, masuk aja ya. udah malam."


Hania memperhatikan sekeliling rumah nya, tidak ada satupun orang yang peduli dengan keluarga itu


"saya harus kesana Bud, kasihan anak nya."ucap Hania lalu dia pun pergi mendekati rumah itu


suara bayi itu sudah terdengar samar-samar, seperti nya dia sudah kelelahan namun orang tua nya masih saja ribut.


Budi tidak melepaskan Hania begitu saja, dia menemani Hania ke rumah keluarga itu.


tampak dari luar, laki-laki itu memukuli wanita yang ada di dalam nya


"astaghfirullahaladzim."pekik Hania lalu dia langsung berlari memasuki rumah itu


orang yang ada di dalam rumah itu sama-sama terkejut dengan kehadiran Hania.


"siapa anda? berani-beraninya anda masuk ke rumah ini."bentak laki-laki itu

__ADS_1


"saya minta maaf tuan, saya tidak bermaksud lancang masuk kesini tapi saya hanya kasihan dengan anak dan istri anda. apa kalian tidak mendengar suara tangisan anak kalian."ucap Hania


"bukan urusan anda, cepat anda keluar sebelum saya menyakiti anda."ancam laki-laki itu


wanita yang sudah babak belur itu, hanya menatap Hania dengan tatapan sendu. seolah-olah dia meminta pertolongan dengan Hania.


"pergi dari sini."bentak laki-laki itu sembari menyodorkan sebuah pisau pada Hania


"non."pekik Budi


bapak-bapak yang ada di depan komplek langsung mendekati mereka karena mendengar Budi berteriak tanpa terkecuali Andra yang juga ikut bangun karena mendengar suara keributan.


"sudah lah kalian ini apa tidak malu, selalu ribut. lihat anak kalian. istri sampai babak belur begini apa kamu tidak kasihan?"tanya pak prabu, beliau juga sudah capek menasehati kedua nya


Andra berdiri di belakang Hania dengan tatapan yang sulit diartikan


"dasar bocah, ngapain dia kesini. mau jadi pahlawan dia."gerutu Andra dalam hati karena dia tau kalau Hania ingin pergi kesana.


"sudah, nggak usah ribut lagi. ambil anak kamu kasihan sekecil itu udah melihat orang tua nya ribut seperti ini."ucap prabu pada wanita itu


sementara suami dari wanita itu memilih untuk pergi ntah kemana.


"terima kasih mbak, terima kasih pak. kalau kalian tidak datang mungkin saya sudah mati di tangan suami saya."ucap wanita itu


Hania merasa iba, dia pun mendekati wanita itu


"sabar ya mbak."ucap Hania


wanita itu mengangguk, sementara semua orang sudah pergi kecuali Andra.


setelah menenangkan wanita itu, Hania membalikkan badannya dan ingin pulang.


Hania terkejut karena Andra sudah berdiri di depan nya.


"mas."


Andra membalikkan badannya lalu dia kembali ke rumah. Hania pun ikut mengejar Andra.


di dalam rumah Hania merasa takut karena Andra dari tadi belum bicara apa-apa.


"mas."


"kamu mau ngapain kesana? hah."bentak Andra yang berhasil membuat Hania terperanjat kaget


"aku kasihan sama anak nya mas."jawab Hania


"kamu nggak tau seperti apa suami nya itu, maka nya orang-orang disini nggak ada yang mau mendekati keluarga itu. kamu sok-sokan mau jadi pahlawan? untung kamu nggak di apa-apain kalau kamu sampai di bunuh siapa yang repot? aku juga kan?"jelas Andra kesal sekaligus khawatir pada Hania.


"mas khawatir sama aku?"tanya Hania polos


Andra langsung melihat Hania dengan tatapan tajam


"menurut mu?"tanya Andra ketus


Hania tersenyum lalu dia memeluk Andra.


"siapa suruh kamu memeluk tubuh saya? hah? nggak usah ke gr an kamu. saya peduli bukan berarti saya mencintai kamu tapi karena tanggung jawab saya sebagai menantu dari ayah mu."bentak Andra


Hania pun melepaskan pelukannya "iya nggak apa-apa mas, apapun alasan mu aku tetap bersyukur."jawab Hania sembari tersenyum manis

__ADS_1


Hania tau kalau suami nya sedang mengkhawatirkan nya, namun keegoisan Andra lebih besar dari rasa khawatirnya.


...----------------...


__ADS_2