
Suara adzan ashar berkumandang, sayup-sayup terdengar di telinga Hania, perlahan dia pun membuka mata nya.
Hania merasa heran kenapa dia sudah memakai selimut sedangkan tadi dia tidak memakai selimut, mata nya mencari keberadaan Andra.
"Mas."
Sekilas Andra melihat ke arah Hania, lalu dia kembali sibuk dengan laptop nya.
Pelan-pelan Hania bangun dari sofa, tubuh nya terasa tak berdaya. Namun tetap dia paksa untuk berdiri.
"Mau kemana?"tanya Andra tanpa melihat Hania
"Ke kamar mas, mau sholat. Mas nggak sholat?"tanya Hania
Tak ada jawaban dari Andra, Hania pun masuk ke kamar nya.
Tok...tok
Seketika Andra melihat ke arah pintu
"Siapa sih, ganggu aja."gerutu Andra dengan malas nya, dia pun membukakan pintu
"Permisi."ucap Lala! Dia baru tau kalau sahabat nya sakit karena Hania baru memberi tahu nya tadi pagi
"Cari siapa?"tanya Andra datar
"Hmm, Hania nya ada? Saya mau menjenguk dia. Apa boleh saya menemui nya?"tanya Lala takut
"Masuk lah, dia lagi sholat."jawab Andra ketus
"I..iya. terima kasih."ucap Lala!jantung nya terasa ingin copot, mata Andra begitu tajam
Andra kembali duduk di sofa dan melanjutkan pekerjaan nya, sementara Lala masih berdiri disana.
"Mau sampai kapan kamu berdiri disana?"bentak Andra tanpa melihat Lala
Segera Lala duduk di sofa. Tubuh nya terasa panas dingin.
Ceklek
Hania pun keluar dari kamar, dia masih menggunakan switer tebal.
"La, sudah lama datang nya?"tanya Hania
"Belum lama kok Han, gimana keadaan kamu? Kok kamu nggak ngabarin aku sih?"tanya Lala sedih
"Aku udah sehat kok, don't worry. Eh mau minum apa? Biar aku ambilkan."
"Nggak usah, aku kesini cuma mau jenguk kamu aja kok."
"Hmm, iya-iya. Ya udah kita ngobrol di samping aja ya, soal nya takut ganggu mas Andra."ucap Hania sembari melirik Andra sekilas
"Iya Han, ayo."ucap Lala senang!sudah lama dia ingin kabur dari Andra
Kedua nya pun duduk di taman samping rumah
"Kamu kenapa la?"tanya Hania sembari tertawa kecil
__ADS_1
"Ya Tuhan Han, itu benar suami kamu? Kamu tau nggak deg degan nya itu melebihi saat mau sidang tau."
"Hahaha, kasian banget sih kamu la."
"Han, gimana dia sama kamu?"tanya Lala serius
Hania menatap Lala sekilas, lalu dia mengarahkan pandangan nya ke arah depan.
"Hmm, pernikahan kami sudah hampir lima bulan la, seperti yang kamu lihat dia dingin, cuek, tapi akhir-akhir ini dia peduli sama aku, aku sakit dia urus, bahkan di depan ayah pun dia bisa tersenyum. Walaupun aku tau, dia terpaksa hanya untuk menjaga perasaan ayah. Tapi walaupun semua itu mungkin hanya rekayasa, tak apa la. Setidaknya aku tau suami ku masih tau cara menghargai. Dia peduli sama aku walaupun mungkin itu hanya karena dia kasihan, tapi bagi ku setiap perhatian kecil yang dia berikan itu sudah membuat aku bahagia, La."jelas Hania sembari tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca
"Han."panggil Lala lalu dia memeluk sahabat nya itu
"Kamu nggak usah khawatir, suami ku nggak pernah sekalipun menyakiti aku la, kami hanya butuh waktu. Itu saja. Tugas kamu sebagai sahabat kamu harus doain aku ya."ucap Hania
Lala pun mengangguk dan mengelus tangan Hania.
"Gimana kabar om sama Tante?"tanya Hania
"Baik Han, mereka sering nanyain kamu tau."
"Oh ya, sampaikan salam ku pada om dan Tante ya."
"Iya Han, nanti aku sampaikan."
Cukup lama kedua nya mengobrol, tanpa mereka sadari Andra mendengar semua percakapan mereka.
"Hai dra."
"Ngapain kamu kesini Van?"
"Widih, nggak ada lah. Gue cuma gabut aja. Mobil siapa di luar?"tanya Evan
"Oooh, Dimana mereka?"tanya Evan lagi!belum sempat Andra menjawab kedua nya pun sudah masuk kembali
"Van, udah lama disini?"tanya Hania
"Belum sih Han, gimana? Udah sehat belum? Berkas-berkas udah numpuk tau dia atas meja mu."ucap Evan sembari tertawa
"Hahah, iya sebentar lagi aku akan kerjain semua nya Van, tenang saja."
"Oke han, siap. Oh ya siapa wanita disamping mu?"
"Ini Lala, Sahabat aku."jawab Hania
"Hai, Evan."
"Lala."
"Han, aku pamit dulu ya, soal nya aku mau menemani mami ke mall."
"Oh iya, kamu hati-hati ya."
"Oke han, udah istirahat sana."
"Iya..iya."
Lala pun pergi meninggalkan rumah Hania, dia merasa sedikit lega karena sudah melihat keadaan sahabat nya.
__ADS_1
"Mau kopi atau teh, Van?"tanya Hania
"Udah, nggak usah banyak tanya, mending kamu istirahat sana. Evan kalau mau minum ambil sendiri."ucap Andra
"Wkwkw, ngeri banget ya kalau suami udah marah."ejek Evan
"Udah turutin aja Han, mumpung dia lagi waras, kapan-kapan dia kumat."
Mata Andra melotot ke arah Evan yang terlihat begitu puas mengejek diri nya.
"Iya udah, aku ke kamar dulu ya."ucap Hania
"Hmm, ikut senang dech lihat nya. Ternyata sahabat aku ini, dingin-dingin masih ada hangat nya sedikit sih."
"Bisa diam nggak Van, tangan aku udah gatal ni mau lempar kertas ini ke muka kamu."
"Sabar bro."
Evan kembali tertawa terbahak-bahak, lalu dia mengambil minum ke dapur.
"Mbok, belum juga balik dra?"
"Kamu nggak lihat apa? Ada apa nggak mbok nya?"
"Ya Tuhan, iya maksud gue kenapa mbok belum juga balik, kan udah lama lho dia kampung."
"Mungkin suami nya belum sembuh kali "
"Oooh."jawab Evan manggut-manggut
Evan kembali duduk di sofa, sambil memainkan ponsel nya.
"Gue mau ngomong serius ni sama elu Han."bisik Evan
Andra mengernyitkan kening nya
"Gue senang lihat elu udah mulai perhatian sama Hania, walaupun ya masih dengan nada kasar,but it's okay."
"Aku kayak gitu, karena aku kasihan. Dan ya hitung-hitung sebagai tanggung jawab aku sebagai suami."jelas andra tanpa bersalah
"Kamu harus tau Van, aku masih mencintai Saras. Kayak nya sampai kapanpun itu."ucap nya lagi
Evan yang tadi nya senang berubah menjadi kesal.
"Terserah kamu dra."
"Iya lah, terserah aku. Setelah satu tahun papa, aku akan menceraikan Hania dan akan menikah sama Saras."ucap Andra lancang
"Sadar dra..sadar. gue udah muak dengan namanya Saras. Sumpah."
"Terserah kamu."
Di balik pintu kamar, Hania juga mendengar semua ucapan Andra. Hati nya terasa sakit tapi dia belajar untuk ikhlas.
"Nggak apa-apa ya Allah. Hania ikhlas kok."ucap nya sembari tersenyum getir
Hania pun menjauh dari pintu, tubuh mungil itu sudah terbaring di atas kasur dengan air mata yang terus saja mengalir.
__ADS_1
...----------------...