
sepulang nya dari kantor, Andra pergi ke rumah mertua nya dengan ditemani Evan.
namun di halaman rumah, tampak sebuah mobil sedang terparkir disana.
"mobil siapa itu, dra?"tanya Evan
"mana saya tau."jawab Andra ketus
kedua nya pun turun dari mobil.
Andra sedikit terkejut melihat laki-laki yang sedang duduk bersama mertua nya di ruang tengah.
"eh, ada nak Andra. masuk dra, Van."
"iya om."jawab Evan
Andra dan Rafa sama-sama saling pandang, namun Andra menunjukkan sikap dingin nya.
"oh ya kenalin ini Andra, menantu bapak."
deg
refleks Rafa melihat wajah pak Arshad
"maksud bapak?"tanya Rafa bingung
"iya, nak Andra ini suami nya Hania."jawab pak Arshad tenang
Rafa kembali menatap wajah Andra, namun berbeda dengan Andra justru dia memberikan senyum kemenangan.
"Hania."panggil pak Arshad
"iya yah."jawab Hania lalu dia keluar dari kamar
"mas Andra."ucap Hania pelan
Rafa mendongak ke atas dia menatap Hania dengan penuh pertanyaan.
"apa kamu sudah menikah, Han?"tanya Rafa
"i...iya Raf."
"kenapa waktu itu kamu bilang kamu belum menikah?"tanya Rafa lagi
namun Hania hanya diam saja.
"saya permisi dulu pak."ucap Rafa lalu dia meninggalkan rumah Hania
"Raf, tunggu."
__ADS_1
Rafa menghentikan langkahnya
"aku minta maaf Raf, aku memang sudah menikah."ucap Hania pelan
berlahan Rafa membalikkan badannya, dia menatap wajah Hania dengan lekat
"kenapa kamu tidak jujur dengan ku dari awal Han, kenapa kamu membiarkan aku kembali berharap dengan mu? aku tau, aku banyak salah dengan mu bahkan aku sudah mengkhianati kamu. tapi sampai saat ini kamu tetap menjadi wanita yang aku cintai, Han."
"aku tau, dia lebih kaya daripada aku. tapi cinta aku lebih besar dari nya Han, aku bisa melihat itu."teriak Rafa
"cukup Raf, aku menikah dengan mas Andra bukan karena dia kaya atau apapun yang kamu pikirkan dan kamu tuduhkan. aku tau mungkin kamu juga lebih baik dari nya, tapi dia adalah laki-laki yang Allah garis kan untuk menemani ku Raf. tolong mengerti lah. baik buruk nya dia, dia tetap suami ku Raf. dan aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku."tegas Hania dengan sesak di dada nya
"semoga kamu bahagia Han. terima kasih untuk segala permainan yang sudah kamu berikan pada ku."
Hania menatap Rafa dengan nanar, dia melangkah mendekati Rafa.
"aku tidak menyangka Raf, laki-laki yang aku kagumi dan aku cintai selama ini, ternyata bisa berbicara seperti ini pada ku, kamu bilang aku mempermainkan mu Raf? tidak sadarkah kamu dengan sikap kamu terhadap ku? tidak sadarkah kamu siapa yang paling jahat di antara kita? bertahun-tahun aku nungguin kamu, tapi apa? kamu justru memberikan kabar pahit yang tidak bisa aku terima Rafa."teriak Hania dia benar-benar sudah emosi
sementara di belakang, Andra terus memperhatikan istri dan laki-laki yang dia pikir mencintai istrinya itu. sementara pak Arshad sudah di ajak Evan ke belakang rumah agar dia tidak mendengar keributan antara Rafa dan Hania.
"jangan kamu pikir dengan ilmu yang kamu miliki kamu bisa berbicara semau mu Raf, setinggi apapun ilmu mu kalau kamu merendahkan orang lain, tidak akan ada nilai nya di mata ku."
"pergi lah, aku tak ingin lagi melihat mu. asal kamu tau selama ini aku belajar untuk memaafkan semua kesalahan mu, tapi melihat sikap kamu seperti ini rasa nya aku tak ingin lagi bertemu dengan mu Raf."
"Han. aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu, aku tidak rela jika kamu menikah dengan laki-laki lain. aku nggak akan rela sampai kapanpun Han."ucap Rafa lalu dia melirik ke arah Andra yang tak kalah emosi di belakang Hania
"terserah kamu, yang jelas jangan pernah mengganggu kehidupan ku lagi Raf. pergi lah."ucap Hania
Hania membalikkan badannya dan hendak masuk ke dalam rumah.
"mas."ucap Hania lalu dia menghapus air mata nya
Andra menarik tangan Hania
"apa kamu begitu mencintai laki-laki itu, sehingga kamu menangis seperti ini Hania?"tanya Andra dingin
Hania menatap bola mata Andra dengan tatapan sendu.
"mas, demi Allah kamu adalah suami ku mas, bagaimana mungkin aku mencintai laki-laki lain. dia memang masa lalu ku tapi bukan berarti aku akan membuka hati lagi untuk nya kecuali kalau kamu memang benar-benar menceraikan aku, bisa jadi aku akan mencintai nya lagi."ucap Hania
Hania pun masuk ke dalam kamar, sementara Andra masih berdiam diri ntah kenapa hati nya begitu sesak ketika mendengar kata cerai.
Andra menyusul Hania ke dalam kamar. terlihat Hania sedang duduk di tepi ranjang.
"pulang lah, malam ini aku akan menemani ayah disini."ucap Hania lalu dia kembali keluar kamar
lagi-lagi Andra merasa ada yang aneh di hati nya.
"ayah....ayah dari mana?"tanya Hania dengan mata sembab
__ADS_1
"ayah tadi ke belakang sama nak Evan, dia mau lihat bibit sayur di belakang."jawab pak Arshad
"nia kenapa nangis?"
"tidak ayah, Nia nggak nangis tadi mata Nia kelilipan."jawab Hania bohong karena suara Hania memang tidak keras sehingga pak Arshad tidak mendengar suara Hania
"kalian tidak berantem kan?"tanya pak Arshad sembari melihat Hania dan Andra secara bergantian
"tidak ayah,.ya sudah ayah istirahat dulu ya. malam ini Hania akan temani ayah disini."
"apa Andra mengizinkan nak?"
"iya ayah Andra mengizinkan."sahut andra
"terima kasih."
"kami pulang dulu yah, besok Andra kesini lagi."
"iya nak, kalian hati-hati."
hania mengantarkan Andra dan Evan ke depan rumah.
"Abang pulang dulu ya dek."ucap Evan sambil terkekeh
"hehehe, iya Van."
"panggil gue sekarang Abang ya. gue nggak punya adik soal nya."
"hmmm, oke bang."ucap Hania sembari membuang nafas berat lalu dia tersenyum
"oke, thank you."
Andra menatap Hania sekilas. Hania pun mendekati Andra lalu dia mengambil tangan Andra dan mencium nya.
"hati-hati ya."ucap Hania sembari tersenyum
"waduh."ucap Evan
Andra pun masuk ke dalam mobil, hati nya benar-benar terasa lemah ketika di hadapkan dengan Hania.
tit..tit
"pulang ya dek."teriak Evan
"hahaha, iya bang."
kedua nya pun mulai meninggalkan rumah Hania. sementara Andra hanya terdiam terpaku, otak nya masih memikirkan tentang yang baru saja terjadi
"hmm, kalau gue jadi elu dra, gue nggak akan melepaskan bidadari surga demi bidadari neraka."ledek Evan
__ADS_1
...----------------...