Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Sakit #2


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Hania masih belum tidur. Tubuh nya benar-benar merasa tidak enak, semua sendi nya terasa nyeri.


Di umur nya yang masih muda, Hania memang sering sakit-sakitan namun dia terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.


Hania mencoba untuk bangun dan membaluri tubuh nya dengan minyak angin.


Karena sudah tidak tahan, Hania memutuskan untuk meminta tolong mbok Iyem.


Ceklek


Hania pun keluar dari kamar, ternyata Andra sedang nonton tv di ruang keluarga.


Hania menatap Andra sekilas lalu dia pergi menuju kamar mbok Iyem.


Tok....tok


"Mbok."panggil Hania pelan


Tak lama mbok Iyem pun membuka pintu.


"Mbok, Nia mau minta tolong boleh?"tanya Hania dengan mata yang berkaca-kaca karena tubuh nya benar-benar terasa sakit


"Astaghfirullahaladzim, non kenapa non?"tanya mbok Iyem


"Tubuh Nia sakit semua mbok."


"Ya Allah, ayo masuk non. Biar mbok urut ya, apa di kamar non aja?"


"Disini aja mbok."


Hania pun tidur di kasur mbok Iyem, kini air mata nya sudah mengalir di pipinya.


"Non, jangan nangis. Mbok urut ya. Non udah sering kayak gini?"tanya mbok iyem sembari memijat kaki Hania


Hania mengangguk


"Non, udah minum obat?"


"Sudah mbok, biasa nya kalau udah minum obat pasti nyeri dan sakit nya hilang, tapi ini nggak hilang-hilang."jawab Hania terisak-isak


"Udah non istirahat aja, biar mbok urut ya."


"Makasih ya mbok. Maaf kalau Nia sudah merepotkan."


"Sama-sama. Mbok nggak ngerasa direpotkan sama sekali kok non."


Di ruang keluarga, Andra bertanya-tanya kenapa Hania belum juga kembali ke kamar nya.


"Kemana tu perempuan?"tanya Andra kepo


Lalu dia merasa heran dengan diri nya sendiri, kenapa dia harus memikirkan Hania.


Setelah cukup lama di kamar mbok Iyem, Hania pun kembali ke kamar nya dengan mata yang sembab. Andra yang melihat itu hanya memandang nya dengan perasaan penuh tanda tanya.


"Mas, belum tidur?"tanya Hania


Bukan nya menjawab justru Andra terus menatap Hania


"Kamu kenapa?"tanya Andra datar


"Nggak apa-apa mas. Ya udah aku ke kamar dulu ya."ucap Hania lalu dia pun menutup pintu kamar nya

__ADS_1


******


Keesokan harinya, Andra sudah siap dengan pakaian kerja nya, namun saat dia turun dari tangga, mata nya tidak melihat Hania disana.


"Selamat pagi den, mbok sudah siapkan sarapan buat den karena non lagi kurang sehat den."ucap mbok Iyem


Andra pun duduk di kursi makan.


"Dia sakit apa, mbok?"tanya Andra tanpa ekspresi apa-apa


"Mbok juga nggak tau den, hanya saja tadi malam non ke kamar mbok, non bilang tubuhnya sakit semua terus non nangis."jelas mbok Iyem


Andra kembali diam, dia hanya meminum susu yang di buatkan mbok Iyem.


"Bilang sama dia, kalau masih sakit. Nggak usah ke kantor."ucap Andra lalu dia melangkah ke luar rumah dan berangkat ke kantor


Tok...tok


"Non, gimana keadaan non sekarang?"tanya mbok Iyem khawatir


"Alhamdulillah sudah enakan mbok, oh ya mas Andra nya udah berangkat mbok?"tanya Hania karena dia baru saja selesai mandi


"Sudah non, baru aja den berangkat. Non mau kemana?"


"Ke kantor mbok."


"Kata Aden, kalau non masih sakit nggak usah dulu ke kantor non."


"Nia sudah sehat mbok, lagipula kerjaan Nia banyak banget di kantor."


"Tapi non."


"Udah, nggak apa-apa mbok. Ins syaa Allah Nia akan baik-baik saja. Ya sudah Nia siap-siap dulu ya mbok."ucap Hania sembari tersenyum


"Sebelum non berangkat ke kantor, non sarapan dulu ya."


"Masya Allah, terima kasih banyak ya mbok."ucap Hania


"Sama-sama non, non harus sehat. Mbok nggak mau kalau non sakit."


"Iya mbok."ucap Hania sembari mengelus tangan mbok Iyem


Sembari siap-siap, nadira juga sarapan. Setelah itu dia berangkat ke kantor.


*****


Sesampainya di kantor, Hania sedikit takut karena Andra sedang di meja resepsionis bersama Evan.


"Selamat pagi pak."ucap Hania


"Pagi Nia. Kok baru Dateng?"tanya Evan heran


"Iya pak, maaf tadi kesiangan."jawab Hania sembari tersenyum


Sementara Andra, hanya diam sembari terus memperhatikan Hania. Walaupun Andra tidak menyukai Hania, namun dia masih ada sisi manusia nya. Apalagi Hania adalah istrinya


"Saya permisi dulu pak."ucap Hania lalu dia pergi ke meja kerja nya


"Ada apa sama Hania, dra? Kok wajah nya pucat gitu sih?"bisik Evan


"Dia memang lagi sakit, udah saya bilang sama mbok untuk nggak nyuruh dia ke kantor."jawab Andra lalu menatap Hania

__ADS_1


"Oh gitu, pantesan aja dia pucat banget kayak gitu, mungkin dia mau nurut kalau kamu yang bilang dra."goda Evan sembari menyenggol lengan Andra


"Nia, tolong buatin ini dulu ya. Minta tolong banget."ucap Roni karena dia harus ke rumah sakit


"Iya Ron. Nanti aku kerjain."ucap Hania


Hania pun mulai mengerjakan pekerjaan nya, namun ntah kenapa Andra terus saja memperhatikan nya.


"Dra, kalau khawatir tu bilang aja."goda Evan karena dia juga terus memperhatikan Andra sejak tadi


"Apa sih."jawab andra


Evan tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Namun, tiba-tiba Hania berlari ke kamar mandi. Karena tiba-tiba perut nya merasa perih dan mual.


Sementara Andra dan Evan sama-sama kaget dan panik.


"Kenapa tu Nia."tanya Evan lalu dia keluar untuk mendekati Hania


"Kenapa Han?"tanya karyawan


"Nggak apa-apa."jawab Hania


"Kenapa Han? Kamu sakit?"tanya Evan yang baru saja datang


"Nggak apa-apa kok pak, kayak nya cuma masuk angin."jawab Hania


Hania pun kembali ke meja nya, keringat dingin mengucur di wajah nya.


"Pulang aja Han."titah Evan


"Iya han, pulang aja. Wajah kamu pucat banget lho."ucap Lisa


"Nggak apa-apa Lis, nanti kalau kerjaan nya sudah selesai baru saya pulang."jawab Hania sembari tersenyum


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat, Hania pun ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, kali ini dia sholat di kantor karena tubuh nya tidak kuat jika harus ke musholah.


Selepas sholat, Hania hanya duduk diam di kursi kerja nya. Tubuhnya benar-benar tidak enak.


"Ya Allah."ucap Hania!ingin rasanya dia menangis


Biasa nya ayah nya lah yang merawat nya ketika dia sakit. Tapi sekarang dia sendiri


"Apa aku izin aja ya."ucap Hania


Setelah cukup lama dia berpikir, akhirnya Hania memutuskan untuk ke ruangan Andra.


Ceklek


"Pak, saya mau izin pulang."ucap Hania pada Andra


Evan hanya diam, karena dia ingin Andra yang bicara dengan Hania


Cukup lama Andra diam, akhirnya dia pun bicara.


"Pulang lah, bukan kah saya sudah bilang sama mbok, kalau kamu sakit nggak usah ke kantor, lalu kenapa kamu masih ke kantor?"tanya Andra dengan suara dingin serta sorot mata yang tajam


"Maafkan saya pak."ucap Hania

__ADS_1


Setelah pamit, Hania pun pulang ke rumah. Untung saja selama di perjalanan Hania tidak kenapa-kenapa.


...----------------...


__ADS_2