Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Khawatir


__ADS_3

Hari semakin sore, Hania masih di dalam kamar. Hujan deras disertai petir membuat suasana sore itu terasa mencekam. Tak lama Hania pun keluar dari kamar.


"Kok kosong, mas Andra sama Evan kemana ya?"batin Hania


Hania terus memanggil Andra dan Evan namun tak ada jawaban dari mereka.


Hania pergi ke dapur untuk membuat makan malam.


Tok...tok


Suara pintu, buru-buru Hania membuka pintu.


Betapa terkejutnya Hania, ketika dia melihat Andra bersama saras serta teman-teman nya.


"Eh, tolong kamu siapin makan malam buat kita-kita ya, yang enak."titah Saras


Hania hanya diam tak bergeming, dia menatap Andra dengan tatapan bingung.


"Heh, kamu dengar nggak apa yang saya katakan barusan?".bentak Saras


"Eh, iya mbak."


"Apa? Mbak? Panggil saya nona saya ini bukan saudara kamu."


Hania menarik nafas panjang lalu membuang nya dengan pelan.


"Baik non."ucap Hania! lagi-lagi mata nya menatap Andra namun Andra justru memberikan tatapan tajam


Hania pun kembali ke dapur untuk membuat makan malam.


Suara adzan berkumandang, Hania menghentikan kegiatan nya sebentar.


"Mau kemana kamu?"bentak Saras


"Saya mau izin sholat sebentar non."ucap Hania


"Nggak ada sholat-sholat, sekarang kamu siapin makanan nya."


"Tapi non."


Saras berdiri dan mendekati Hania. "Kamu mau jadi ratu di rumah ini, hah?"


"Sudah biarkan saja dia sholat."ucap Andra


"Tapi sayang."


"Udah, duduk sini."titah Andra


Hania segera masuk ke dalam kamar, segera dia mengambil wudhu dan langsung melaksanakan sholat.


Selepas sholat, Hania kembali ke dapur.


"Kata kamu dia sakit, kok sehat-sehat aja tu?"tanya Saras karena dia baru sadar kalau dia melihat Hania baik-baik saja.


"Mungkin dia udah sembuh kali."jawab Andra tanpa basa basi


"Makanan nya sudah siap, silahkan."ucap Hania!layak nya seperti pelayan


Saat mereka makan malam, Hania kembali ke kamar. Dia menangis sejadi-jadinya. Tubuh nya yang tadinya sudah mulai kuat dan sehat, sekarang justru kembali drop.

__ADS_1


Setelah semua nya selesai makan, Hania membereskan meja makan. Piring-piring berhamburan, sementara mereka sudah pergi ntah kemana.


"Astaghfirullahaladzim."ucap Hania


Hania bingung, obat apa yang harus dia minum, hanya Andra yang tau obat-obatan dia.


Dengan sekuat tenaga, Hania membereskan semua nya, hingga dia benar-benar tidak sanggup lagi.


"Ya Allah, sakit."rintih Hania! Hania pun kembali ke kamar nya.


Rasa sakit itu benar-benar sudah menjalar ke seluruh tubuh nya.


*****


Di klub malam, Andra terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ya...semenjak Saras kembali, Andra sudah mulai berani memasuki tempat terlarang itu.


"Sayang kenapa? Ayo minum. Katanya mau happy kan?"ucap Saras yang sudah setengah mabuk


Pikiran Andra tertuju pada Hania.


"Dia belum minum obat malam ini, bagaimana dia sekarang? Kenapa aku biarin dia mengerjakan semua nya."batin Andra dengan sedikit merasa bersalah


Tanpa pikir panjang, Andra pun kembali ke rumah tanpa menghiraukan Saras. Namun dia tetap menyuruh orang suruhan nya untuk mengantar Saras pulang.


Sesampainya di rumah, buru-buru Andra masuk ke dalam rumah. Obat Hania masih tergeletak di atas meja.


"Jadi dia beneran belum minum obat."batin Andra


Masuklah Andra ke kamar Hania, kamar itu begitu gelap. Andra menghidupkan lampu meja. Tampak Hania sudah tidur terlelap, cukup lama Andra memandangi wajah Hania.


Namun tangan Andra tak sengaja menyentuh lengan Hania. Lengan itu terasa begitu panas. Andra langsung meriksa kening Hania, dan benar saja Hania demam.


Andra kembali keluar kamar untuk mengambil air hangat.


Uwek....uwek


Suara Hania dari dalam kamar. Mendengar suara Hania, Andra langsung saja berlari.


Terlihat Hania sedang berdiri di depan wastafel. Andra pun mendekati nya dan mengurut tengkuk leher Hania.


Hania tidak bisa menahan air mata nya lagi, dia benar-benar sudah tidak tahan dengan rasa sakit di tubuh nya. Andra yang melihat itu merasa tak tega.


"Apa yang sakit, hmm?"tanya Andra lembut sembari mengusap air mata Hania


Hania menggeleng kan kepala nya. Andra menuntun Hania kembali ke tempat tidur.


Wajah Andra tidak dapat dibohongi lagi, dia terlihat mengkhawatirkan keadaan Hania.


Dia memeras handuk kecil dengan air hangat, lalu mengompres kening Hania.


Air mata Hania tidak henti-hentinya mengalir. Andra merasa khawatir melihat kondisi Hania.


"Kita ke rumah sakit aja ya."


Hania menggelengkan kepala nya. "Tidak usah mas."ucap Hania pelan Lalu dia pun menutup mata nya.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Andra masih saja terjaga. Mata nya tidak bisa terpejam. Sementara suhu badan Hania masih tinggi.

__ADS_1


Andra sangat kebingungan, karena Hania tidak mau di bawa ke rumah sakit. Andra langsung menelpon Evan.


Drrrtttt


"Siapa sih."gerutu Evan! tiba-tiba mata nya terbelalak ketika melihat nama Andra di layar handphone


"Hallo, ada apa dra? Ganggu tidur gue aja elu."gerutu Evan


"Sekarang elu kesini, dan jemput dokter Rere."titah Andra dengan nafas khawatir


"Kenapa?"


"Udah nggak usah banyak tanya, cepat kamu jalan sekarang."


"Iya...iya."jawab Evan pasrah


Dokter Rere sudah menunggu di depan rumah, karena Andra sudah menelpon nya. Dokter Rere adalah kakak dari papa nya.


Tak butuh waktu lama, Evan pun sudah tiba di rumah dokter Rere.


Sebelum ke rumah Andra, mereka pergi ke apotik untuk membeli keperluan pengobatan.


"Sudah Tan? Emang siapa yang sakit sih Tan?"tanya Evan! Karena setau nya Hania sudah sudah cukup sehat tadi siang


"Kata nya sih Hania."jawab dokter Rere


"Perasaan tadi siang, Hania itu sudah sehat lho Tan, tapi kok sakit lagi."


"Ntah lah, kita lihat saja nanti."


"Iya Tan."


Evan pun melajukan mobil nya lebih cepat lagi, karena jalanan sudah sepi jadi Evan bisa lebih leluasa di jalanan.


Sesampainya di rumah Andra, dokter Rere langsung masuk ke dalam rumah.


"Dra."panggil nya


"Iya Tan, disini Tan."sahut Andra


"Astaghfirullah, kok bisa drop kayak gini lah Han. Kamu nggak kasih obat nya dra?"tanya dokter Rere sembari memeriksa Hania


"Tante."panggil Hania pelan


"Iya sayang,  apa yang Nia rasakan sekarang?"tanya dokter Rere sembari mengecek darah Hania


"Tubuh Nia sakit semua Tan, Nia merasa sangat lemah seperti tidak ada tenaga."jelas Hania pelan


"Tante infus aja ya, atau mau ke rumah sakit?"


"Nia mau di rumah aja Tan."


"Oke, Tante infus ya."


Hania mengangguk pelan.


Semua keluarga Andra sudah tau kalau Hania adalah istri Andra, mereka juga menerima Hania dengan baik walaupun Andra meminta untuk tidak publik pernikahan mereka.


Setelah memeriksa dan memasang infus, dokter Rere pun di antar pulang oleh Evan, karena dia masih ada anak kecil yang tidak bisa ditinggal kan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2