
"Nia."panggil nek Aisyah yang merasa heran kenapa Hania berdiri termenung disana.
"Eh, iya nek."jawab Hania lalu dia menghapus air mata nya dan segera masuk ke dalam kamar
"Hania, ngapain disana?"
"Nggak apa-apa nek, Nia lagi lihat-lihat kota ini saja."jawab Hania.
Tak lama kemudian,suara panitia yang membawa para jemaah meminta para jamaah untuk segera siap-siap karena mereka akan segera melakukan beberapa ibadah di Madinah.
Mereka berada di tanah suci selama 10 hari ke depan. Dengan berbagai kegiatan ibadah.
Setelah semua nya siap, mereka turun ke lantai bawah. Mereka berjalan menuju masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat ashar disana.
Hania merasa kagum ketika dia melihat masjid yang selama ini hanya mampu dia lihat melalui ponsel sekarang nyata di depan mata.
"Masya Allah."ucap Hania kagum
*****
Beberapa hari kemudian, Hania dan ayah nya berkeliling di sekitar Madinah. Tak jarang pula Hania mengambil gambar diri nya dan juga ayah nya. Hania terlihat begitu bahagia.
"Nanti kita kesini lagi ya yah."
"Aamiin nak."
Namun dari kejauhan tampak seseorang sedang memperhatikan Hania Ya.. laki-laki itu ternyata adalah Rafa. Memang benar tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah menghendaki sesuatu pasti akan terjadi.
Rafa mendekati Hania yang sedang asik mengambil gambar ayah nya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."ucap Rafa
"Wa'alaikumsalam."jawab Hania lalu dia membalikkan badannya dan melihat siapa yang memanggil nya.
Rafa terlihat tersenyum pada Hania, namun Hania hanya menampakkan wajah datar dan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya.
"Assalamu'alaikum pak."ucap Rafa
"Wa'alaikumsalam, kamu Rafa anak nya pak Mahmud kan?"
"Iya pak."
"Masya Allah nggak nyangka ya kita ketemu disini."
"Iya pak."jawab Rafa sembari melirik ke arah Hania
Pak Arshad memang tidak tau apa yang telah terjadi dengan Hania dan Rafa.
"Sudah berapa lama disini pak?".
"Sudah beberapa hari ini raf."
"Oh gitu, main ke asrama Rafa, pak. Nggak jauh kok dari sini."
__ADS_1
"Oh ya ya. Besok kami sudah mau ke Mekkah Raf, barangkali nanti jika ada kesempatan kami kesini lagi dan main ke asrama nya Rafa."
"Iya pak. Oh ya pak. Boleh saya berbicara sebentar dengan Hania?"tanya Rafa
"Silahkan."jawab pak Arshad lalu dia bergabung dengan jamaah lain nya.
Hania masih enggan untuk melihat Rafa.
"Apa kabar, Han?"
"Baik Alhamdulillah."jawab Hania singkat
"Syukurlah. Hmm. Kenapa kamu nggak memberi tau aku kalau kamu bakalan kesini."
"Untuk apa? Lagipula disini aku mau beribadah, bukan bertemu dengan mu."jawab Hania cuek
"Kamu beneran udah benci sama aku?"tanya Rafa
Hania melirik Rafa sebentar lalu melihat kembali ke depan.
"Kalau benci tentu saja tidak, kalau kamu tanya aku kecewa apa nggak? Tentu saja aku sangat kecewa dengan mu. Tapi sudah lah aku juga sudah memaafkan mu dan sudah sangat rela melepaskan mu. Bukan kah kamu juga meminta aku untuk tidak menggangu mu lagi?"
"Aku tau, aku sudah sangat berdosa Han, tapi kalau dari hati aku yang paling dalam, aku masih menginginkan mu dan merindukan mu."
Hania tersenyum getir "kalau memang aku yang kamu inginkan tidak mungkin kamu menerima wanita lain, Raf."
"Aku tau, aku salah. Aku sudah sangat kotor Han, Tapi apa kamu tidak mau memberikan aku kesempatan dan menerima aku kembali?"ucap Rafa memohon
Hania kembali melihat ke arah Rafa, namun hanya sebentar
Rafa hanya diam.
"Kalau kamu pernah lihat kaca/gelas itu pecah, pasti bakalan hancur kan? Begitulah hati dan perasaan aku waktu itu raf. Lalu kalau kamu ingin memperbaiki pecahan kaca/gelas itu, apa masih bisa kembali seperti semula? nggak kan."
"Aku sudah memaafkan mu Raf, tapi maaf aku tidak bisa menerima mu kembali dengan alasan apapun itu. Ketika kita membaca sebuah buku dan kita sudah tau ending nya seperti apa? Tidak mungkin kan kalau kita mengulang membaca buku yang sama. Sekarang kita dipertemukan Allah disini bukan tanpa alasan, mungkin Allah ingin kita saling memaafkan tapi bukan untuk menerima kembali."
Rafa terlihat begitu sedih dan menyesal.
"Nia."panggil pak arshad tiba-tiba
"Iya yah."
"Ayo nak kita kembali ke hotel karena ada persiapan untuk ke Mekkah besok."
"Iya yah."
Hania pun menatap Rafa, ada rasa kasihan di hati nya namun Hania juga tidak bisa menerima Rafa kembali. Mungkin kekurangan nya bisa diterima, namun masa lalu nya? Tidak! Hania belum mampu dan tidak akan pernah mampu.
"Jaga diri kamu baik-baik disini. Dekatkan selalu diri mu pada Allah. Ins syaa Allah suatu saat kamu akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik daripada aku."ucap Hania sembari tersenyum
Rafa juga menatap Hania dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan pernah merasa kamu tidak pantas untuk siapapun lagi karena masa lalu mu. Yang pasti Allah akan memberikan yang terbaik untuk mu nanti. Assalamu'alaikum."ucap Hania lalu dia meninggalkan Rafa yang terlihat sudah meneteskan air mata nya.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya
Hania serta rombongan yang lain nya sudah bertolak dari madinah ke Mekkah.
Orang-orang pada berzikir dan bersholawat.
"Selamat tinggal Madinah."ucap Hania ketika dia melihat masjid Nabawi
Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya nya Hania tiba di hotel. Kamar nya ternyata berhadapan langsung dengan Kakbah
"Masya Allah."ucap Hania
Tampak para jamaah berlalu lalang mengelilingi Kakbah.
Tak lama kemudian, Hania serta rombongan yang lain nya juga turun dan pergi ke Kakbah.
"Ya Allah, Hania datang ya Robb."ucap Hania lalu dia menangis.
Segera pak Arshad mendekati putri nya lalu memeluk nya.
Kemudian mereka mengelilingi Kakbah sambil mengucapkan takbir dan bersholawat serta doa-doa yang lain nya.
******
Di tempat lain, pak Farhan sedang berada di rumah makan milik nya bersama Andra. Para pengunjung tak henti-hentinya berdecak kagum pada ketampanan Andra.
"Masya Allah. Kasep pisan oy. Sayang aku nggak punya anak perempuan."ucap ibu-ibu disana yang sedang makan siang bersama.
"Saha eta pak?"
"Ini anak saya."jawab pak Farhan
"Ganteng banget pak,.jodohin sama anak saya aja pak."
"Dia sudah punya calon."jawab pak Farhan sembari tertawa
Namun berbeda dengan Andra, dia hanya diam.
"Ya. Sayang banget."ucap mereka bercanda
"Hahaha, saya permisi dulu."ucap pak Farhan
Andra kembali mengikuti papa nya, sebenarnya dia paling malas jika harus ke rumah makan milik papa nya pasti ramai sekali dan tak jarang dia godain oleh para ibu-ibu disana.
"Ayo pulang pa."
"Nanti dulu lah dra, baru juga sampe."
"Hmm, Andra duduk disini aja ya pa."
"Iya iya. Papa ke belakang dulu."
__ADS_1
Andra mengangguk dan dia pun duduk di kursi dekat dapur.
...----------------...