The Prince and I

The Prince and I
Mistletoe


__ADS_3

Geneva Switzerland 6 tahun lalu...


Sean masih menahan hawa dingin di depan gedung apartemen Zinnia. Sambil menggigil, Sean merasa dirinya seperti Olaf di Frozen.


Do you wanna build a snowman?


on, let's go and play!


I never see you anymore


Come out the door


It's like you've gone away!


Tanpa sadar dirinya bersenandung menyanyikan lagu Anna yang iconic itu. Dan disaat dirinya sudah mulai menyerah karena Zinnia mengacuhkannya, pintu utama apartemen itu terbuka dan tampak Zinnia memakai mantel tebal menghampirinya.


"Kenapa kamu nggak pulang? Mana pengawal kamu?" Zinnia celingukan mencari Greg atau dua pengawal yang biasa mengikuti Sean.


"Aku hanya ingin...bersama kamu Zee" ucap Sean dengan gigi bergemeletuk kedinginan.


"Haaaiissshhh! Drama banget sih nih pangeran songong! Sudah ayo masuk! Aku tidak mau dicap pembunuh seorang pangeran Belgia yang memartirkan dirinya menjadi Olaf!" omel Zinnia sambil membantu Sean berjalan. Wajah pria itu tampak sumringah.


Sesampainya di dalam apartemen Zinnia yang hangat, gadis itu membantu Sean melepaskan jaketnya yang sudah basah kena salju.


"Duduk di sofa situ Sean, keringkan rambut mu pakai handuk kecil disana. Aku akan membuatkan sup krim untukmu."


Sean pun menuruti permintaan gadis itu. Dirinya pun membuka jaket dalamnya dan meninggalkan kaos hitam saja. Sean juga melap celana panjangnya yang agak basah dan tidak mungkin dia melepaskannya disini karena bisa-bisa dirinya dihajar lalu diusir oleh Zinnia yang merupakan hal terakhir dia tidak inginkan. Sean ingin menghabiskan natal ini bersama Zinnia.


"Makan dulu Sean. Biar badanmu hangat." Zinnia meletakkan nampan dengan mangkuk berisi sup krim dengan potongan ayam.



Air liur Sean langsung terbit melihat sup itu. "Kamu tidak makan Zee?" tanya Sean sambil menyendok sup itu. "Hhhmmm... ini enak Zee."


"Habiskan, aku masih harus membersihkan kamarku." Zinnia pun berdiri menuju ke kamarnya namun tangannya dicekal oleh Sean.


"Temani aku makan Zee."


"Aku cuma ke kamar belakang sofamu. Tidak kemana-mana" ucap Zinnia namun mata biru Sean menatapnya penuh permohonan. Sambil menghela nafas panjang, Zinnia pun duduk di sofa kecil agak jauh dari Sean.


"Duduk dekat dengan ku sini, Zee." Sean menepuk sofa di sebelahnya.


"No, Sean. I'm good in here." Zinnia tetap duduk di sofa kecil. Sean lalu menghabiskan supnya sambil menatap Zinnia yang lebih memilih mengambil novel yang terletak di meja kopinya.


"Zee..."


"Hhhmmm" Zinnia menutup novelnya dan menatap Sean. "Apa Sean?"


"Ramai pestanya semalam ya?"


Zinnia mengernyitkan dahinya. "Pesta? Nooo... jangan katakan kamu ke cafe nya Thomas semalam?"


"Kamu cantik sekali Zee semalam..." puji Sean. Dan aku tidak suka melihat kamu mencium Thomas meskipun hanya pipi.


"Terima kasih." Zinnia berdiri dan mengambil nampan berisi mangkok sup yang sudah kosong dan membawanya ke tempat cuci piring.

__ADS_1


Setelah mencuci peralatan masak, Zinnia berjalan menuju kamarnya membuat Sean harus memutar tubuhnya ke arah kamar Zinnia yang berantakan dengan banyak baju disana.




"Kamu ngapain Zee?"


"Mengumpulkan baju yang sudah lama buat aku sumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan."


"Segitu banyak?" Sean berusaha bangun dan berjalan menuju kamar Zinnia.


"Kamu! Stop disitu!" Zinnia langsung memberikan jari telunjuk kepada Sean untuk berhenti di batas pintu kamar Zinnia.


"Why Zee?"


"Tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamarku, ini pribadi!"


Sean akhirnya mengalah dan duduk di lantai sama dengan Zinnia sembari bersandar di kusen pintu. Pria itu melihat kamar Zinnia yang bernuansa hijau putih. Rupanya gadis itu pecinta warna hijau.



"Zee..."


"Ya?" sahut Zinnia sambil melipat bajunya.


"Kapan kamu selesai kuliahnya?"


"Satu setengah tahun lagi kalau santai, setahun lagi kalau ngebut. Tapi aku memilih ngebut. Kenapa?" Zinnia menoleh ke arah Sean.


"Bekerja di HUG lah. Aku kan sudah pegawai tetap disana meskipun masih menjadi asisten Doktor Emma Baker."


"Tidak kembali ke Dubai?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Aku suka disini. Tidak ada paparazi, tidak ada orang julid."


"Apa karena kamu menemani papamu jadi dikejar - kejar para pencari gosip?" Sean memang sudah membaca berita tentang hebohnya Ayrton Al Jordan Schumacher datang bersama putrinya yang baru berusia 16 tahun menggantikan Mariana, mamanya. Sejak saat itu nama Zinnia mulai terkenal karena kecantikannya.


"Short of. Aku tidak suka menjadi terkenal karena kebebasanku berkurang. Disini aku lebih dikenal Zinnia Hadiyanto, tanpa embel-embel putri Emir Al Jordan. Hanya segelintir orang yang tahu keluargaku siapa."


Sean menatap wajah cantik itu. "Bukannya anak jaman sekarang ingin terkenal ya Zee? Betapa mereka memakai platform sosial media sebagai ajang pamer dan populer?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Not me, Sean. Asal kamu tahu keluarga kami bukan sosial junkie."


"Yang benar saja kamu tidak punya akun sosial media?" Sean sendiri memiliki akun Twitter, Facebook, Instagram dan TikTok meskipun jarang digunakan, sedangkan akun lainnya dipegang oleh sekretaris kerajaan. Untuk akun pribadinya, Sean hanya memiliki Instagram yang dia private.


"Aku hanya memiliki email, FaceTime dan Instagram yang aku private. Hanya keluarga saja yang jadi followers dan following serta beberapa teman dekat aku saja."


"Apakah Thomas salah satu followers kamu?"


Zinnia menoleh ke arah Sean. "Apa urusanmu Sean?"


"Apakah aku tidak boleh bertanya?"


Zinnia tertawa sinis. "Memangnya kamu siapanya aku Sean? Bahkan papaku sendiri tidak kepo urusan pribadi putrinya."

__ADS_1


"Aku hanya..." suara ponsel Zinnia membuat gadis itu mengambilnya. Zinnia memang sudah mengaktifkan ponselnya setelah kasihan melihat Sean berdiri kedinginan di depan gedung apartemennya.


"Maaf Sean, ini mamaku. Assalamualaikum ma" sapa Zinnia lembut.


Sean pun berdiri dari pintu kamar Zinnia untuk mengambil sesuatu yang sudah dibawanya dari tadi dari dalam kantong mantelnya.


"Iya, si pangeran songong kemari. Banyak gaya dia sok jadi Olaf. Pasti Ali yang laporan ke papa ya?"


Sean mendengarkan percakapan Zinnia dan Mariana sambil tersenyum.


"Makanya itu aku ajak masuk Ma daripada terjadi skandal internasional seorang pangeran Belgia mati berdiri gara - gara kebodohannya sendiri!"


What? Itu kan gara-gara kamu yang menolak memberikan ijin aku masuk!


"Iya ma. Aku akan jaga diri. Love you ma. Salam sayang buat Papa, dan duo G... wa'alaikum salam."


Zinnia mematikan ponselnya dan terkejut melihat Sean berdiri sambil bersandar di kusen pintu kamarnya.


"Zee... Bisa kemari sebentar?" pinta Sean.


"Kenapa Sean? Kakimu sakit?"


Sean menggeleng tapi memberikan senyum manisnya. "Kesini sebentar."


Zinnia pun berdiri dan berjalan ke arah Sean.


"Ada apa?" tanya gadis itu setelah berhadapan dengan Sean.


"Kamu lihat apa yang tergantung diatas kusen pintu kamu?" Zinnia mendongakkan kepalanya.


"Kenapa ada mistletoe disini?" tanya Zinnia bingung karena dia tidak ada pernak pernik apapun dan sedetik kemudian mata hitam itu menatap galak ke Sean. "Kamu sengaja pasang ini ya?" bentaknya sambil menunjuk daun diatas kusen dan gadis itu berusaha melepaskan tapi tangannya langsung dipegang Sean.


"Sesuai tradisi... We have to kiss under the mistletoe, Zee" ucap Sean dengan tatapan sayu.


"Apa..." suara Zinnia menghilang ketika Sean mencium bibirnya.



Mistletoe


Note tradisi ciuman di bawah mistletoe


Pada abad ke-18, tradisi ini telah banyak dimasukkan ke dalam tradisi Natal dan pria diizinkan untuk "mencuri ciuman" dari wanita manapun yang tertangkap sedang berdiri di bawah mistletoe.


Menolak dipandang sebagai nasib buruk, jika seseorang mencoba mencium Anda di bawah mistletoe di pesta Natal (dan Anda benar-benar ingin menciumnya) mungkin benar-benar mempertimbangkan jika Anda mau.


Demikian penjelasan kira kira


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2