
Zinnia bergegas mengenakan br@ dan bajunya, begitu juga dengan Sean mengambil kemeja dan jasnya yang dia lempar entah kemana. Buru-buru Zinnia mengambil ponselnya yang berada di meja kerjanya dan langsung menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum?" nada suara Zinnia dibuat tenang seperti biasanya tapi rasanya seperti habis marathon.
"Wa'alaikum salam. Nona Zinnia, prince Arsya mencari anda" suara Jasmine terdengar di seberang.
"Mana Arsya Jaz?"
"Mommy? Masih lama sama Oom Zaidan?" tanya Arsyanendra yang hapal kesibukan ibunya.
"Ini sudah mau selesai. Sebentar lagi mommy pulang. Kenapa Sya?" Zinnia tersenyum membayangkan putranya yang suka memasang wajah cool.
"Arsya kangen..."
Zinnia nyaris tergelak mendengar nada rayuan Arsya yang mirip Arkananta kalau merayu Arimbi, ibunya.
"Ini sebentar lagi pulang Sya. Anak mommy mandi dulu ya jadi nanti mommy pulang sudah wangi. Oke?"
"Oke mommy. Malaikum."
"Wa'alaikum salam."
Zinnia mematikan panggilan Arsya dan berbalik. Wajahnya terkejut melihat suaminya ada di belakang dan nyaris dirinya menabrak Sean.
"Astaghfirullah Sean! Jangan berdiri di belakang aku! Bikin kaget saja!" Zinnia memegang dadanya.
"Maaf Zee. Kita pulang?" Sean menarik tubuh istrinya dan keduanya kini saling menempel.
"Pulang Sean! Arsya menunggu..." Suara Zinnia menghilang karena bibir Sean menutup bibirnya dengan sangat panas.
"Kita lanjutkan di rumah?" bisik Sean parau.
"No, Sean. Papa mau datang dan aku tidak mau kamu kena masalah padahal kita mulai membaik..." Mata hitam Zinnia menatap serius ke mata biru Sean yang tampak sayu.
"Aku akan bilang ke papa agar kita segera ijab..."
"Sean, aku dan Arsya belum menyetujui untuk kembali ke Brussels. Jika kita ijab, berarti kan kami pindah ke Belgia. Ada banyak hal yang harus aku bereskan disini. Perusahaan aku, rumah aku..."
Sean memeluk Zinnia erat. "Jangan jadikan itu alasan kamu tidak mau kembali padaku..."
"Sean, aku tidak seperti dulu yang hanya seorang konselor tapi aku juga sekarang adalah seorang pemimpin, ada banyak orang yang tergantung padaku..."
"Zee, aku pun sama..."
Zinnia memegang wajah Sean. "Berikan aku waktu. Setidaknya sampai Shinichi pulang ke Tokyo sembari aku mengurus disini sebelum kita putuskan ke Brussels kapan." Zinnia sebenarnya masih belum nyaman untuk kembali tapi posisinya adalah dia masih istri Sean.
Sean mencium bibir Zinnia sekilas. "Maaf, jika aku membuatmu tidak nyaman tapi jujur, aku sangat takut kehilanganmu lagi, Zee."
"Bukankah aku sudah mengatakan akan memberikan kesempatan padamu Sean?" ucap Zinnia lembut. "Tapi tidak tidur bersama dulu Sean!" hardiknya ketika melihat wajah suaminya berubah menjadi agak meshum.
"Oh come on Zee? No sleeping together?! Bukankah semalam nyaman sekali?"
"No, Sean! Kamu tidur di kamar tamu!" Zinnia melepaskan pelukan suaminya.
"Zee, kita belum mencoba ber*cinta di meja kerjamu..." goda Sean usil.
"SSEEAAANNN!"
***
__ADS_1
Rumah Zinnia
Arsya menunggu kedatangan kedua orangtuanya sambil bersedekap dan berjalan mondar mandir dengan ditemani oleh Shinichi yang asyik bermain game di ponselnya di teras.
"Sya, kamu macam Opa Takeshi saja kalau gitu. Mondar mandir kayak setrikaan kacau."
"Oom Shin. Mommy dan Daddy kemana ya?" Arsya menatap Oomnya.
"Bikin adik buat Arsya mungkin..." jawab Shinichi asal.
"Apa? Adik? Kan Asya sudah bilang sama Daddy mau pikil-pikil dulu!" jerit Arsya yang membuat Shinichi menutup sebelah telinganya dengan jari telunjuknya.
"Astaghfirullah Arsya! Kuping Oom Shin dengung ini!" Shinichi menatap judes ke keponakannya. Duh lupa, Arsya sama pintarnya dengan aku dan Oom-oomnya.
Tak lama mobil Zinnia masuk ke halaman rumah itu dan masuk ke dalam garasi. Zinnia dan Sean berjalan menuju rumah sambil bergandengan tangan yang langsung diberikan pemandangan batita cemberut.
"Lho anak mommy kenapa cemberut?" tanya Zinnia sambil berjongkok di depan Arsya setelah melepaskan pegangannya dari Sean.
"Mommy, apa benal mommy bikin adik sama Daddy ?"
Wajah Zinnia terkejut luar biasa mendengar ucapan putranya. "Siapa yang bilang sayang?"
Arsyanendra menunjuk ke arah Shinichi. "Oom Shin."
Zinnia melotot ke arah adiknya yang hanya mengalihkan pandangannya. "Shinchaaannn!"
"Eh tapi benar kan?" goda Shinichi.
"Belum... Hampir" sahut Sean.
"Ini lagi!" hardik Zinnia kesal. "Sayang, belum ada adik. Jadi kamu nggak usah khawatir." Wanita cantik itu pun berdiri dan langsung menggendong Arsya. "Yuk ke kamar sama mommy."
Arsya merangkul leher mommynya. "Nanti malam Asya bobok sama mommy ya."
"No Daddy."
Zinnia tertawa. "No Daddy."
Sean hanya manyun mendengar percakapan istri dan putranya.
"Bang, jangan nyicil dulu lah! Bisa gegeran lagi nanti sama Oom Ayrton." Shinichi menyeringai jahil.
"Kamu sih Shin, pakai acara ngadu ke Papa!" cebik Sean sebal.
Shinichi terdiam. Oh my! Arsya niru aku jadi tukang ngadu ya?
***
Zinnia meletakkan Arsyanendra di tempat tidurnya dan sudah waktunya dia membicarakan soal ke depannya kehidupan mereka. Wanita berambut hitam itu berlutut di hadapan putranya.
"Arsya... Mommy mau bicara serius. Okay?"
"Okay mommy. Asya juga selius."
Zinnia tertawa mendengar gaya putranya mirip dengan Arka. "Arsya, mommy mau cerita soal bagaimana Arsya hadir."
Batita bermata biru itu menatap wajah mommynya.
"Arsya, Arsya kan tahu mommy dan Daddy sempat berpisah karena mommy ingin kembali ke Indramayu..."
__ADS_1
"Mommy dan Daddy malahan? Sepelti Tante Juliet dan Oom Lomeo?"
Zinnia melongo. "Ada apa dengan Tante Juliet dan Oom Romeo?"
"Kalau Tante Juliet malah sama Oom Lomeo, pasti ditinggal pelgi Oom Lomeonya..."
Zinnia diam-diam merutuk kelakuan adik-adiknya yang membuat Arsya melihat kejadian yang belum pantas diingatnya. "Iya, seperti Tante Juliet."
"Telus? Mommy dan Daddy udah baikan?"
"Sudah sayang. Dan bagaimana kalau kita pindah ke rumah Daddy di Belgia?"
Arsyanendra mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ke lumah Daddy yang besal itu?"
Zinnia melongo. "Memang Arsya sudah lihat rumah Daddy?"
"Sudah. Daddy kasih lihat. Lumahnya besal telus Asya bilang sama Daddy kalau tidak mau disana."
"Kenapa?"
"Lumahnya besal. Asya takut mommy nanti susah Cali Asya."
Zinnia tertawa mendengar ucapan putranya yang semakin menggemaskan dan cerdas.
"Jadi, Sya, Daddy mengajak kita kumpul kembali. Arsya mau? Mommy hanya ingin tahu bagaimana perasaan Arsya karena mommy ingin Arsya nyaman dan bahagia."
"Mommy, Asya pikil-pikil dulu ya..."
"Eh?"
"Kata Oom Alka, segala sesuatu halus dipikil dulu sebelum mengambil keputusan."
Kali ini Zinnia tidak bisa menahan tawanya melihat gaya Arsya yang sangat mirip Arka.
"Ya ampun Sya, kiblat mu ke Oom-oom kamu itu harus diperhatikan" gelak Zinnia.
"Mommy, apa mommy benelan sudah baikan sama Daddy?"
"Beneran. Kenapa Sya?"
Arsya memeluk Zinnia. "Asya senang."
Zinnia tidak dapat membendung air matanya. "Maafkan mommy, Sya. Mommy dan Daddy marahannya lama."
"No mommy. Kata Oom Vi, telkadang Olang dewasa malahannya seling lama dali anak kecil."
Zinnia tertawa sambil menangis.
"Terima kasih Arsya. Mommy sayang Arsya."
"Asya juga sayang mommy."
Sean yang mendengar percakapan Zinnia dan Arsya pun tidak tahan menahan harunya..
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️