The Prince and I

The Prince and I
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Kediaman Sean dan Zinnia.


Setelah seminggu bedrest total di rumah sakit plus drama morning sick yang diderita Sean selama itu, akhirnya Zinnia pun pulang ke rumah mereka. Bumil cantik itu masih sempat menyapa para wartawan dan masyarakat yang tahu ratu mereka mengalami kecelakaan saat sedang mengandung hingga harus bedrest total.


Wajah Zinnia yang sudah tampak segar dan duduk di kursi roda dengan didorong oleh Sean, tampak sumringah melambaikan tangan kepada orang-orang disana. Arsya sendiri digandeng oleh Mariana juga ikutan dengan sang mommy sebelum masuk mobil, membuat orang-orang merasa gemas dengan pangeran cilik mereka.


Kiriman bunga dan coklat serta ucapan selamat dari para rakyat Belgia dari berbagai kota, tampak penuh di istana dan kediaman raja dan ratu itu. Bahkan banyak yang mengirim boneka beruang sepasang karena tahu sang ratu hamil kembar.


"Sarah, aku tidak mungkin menerima boneka dan bunga segini banyak. Tolong kirimkan ke rumah sakit anak-anak dan dewasa ya" ucap Zinnia ke Sarah.


"Baik yang mulia ratu."


"Ya ampun Zee, kamu jualan bunga dan boneka?" komentar Ayrton yang baru saja datang dari istana setelah bertemu dengan besannya yang hendak ke Upper Hut New Zealand untuk menjenguk Stefanus dan Hilda yang baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki yang harus lahir seminggu sebelum jadwalnya karena air ketubannya sudah pecah.


"Ini kan tanda sayang rakyat sama Zee, Ton. Bagaimana, Andrew jadi terbang ke New Zealand?" tanya Mariana.


"Jadi sayang. Lusa berangkat. Alhamdulillah kamu menjadi ratu yang dicintai oleh rakyatnya" Ayrton mencium pucuk kepala putrinya.


"Alhamdulillah Papa."


"Pa, aku bawa Zee ke kamar dulu ya. Dokter Graham masih melarang Zee terlalu banyak duduk" pamit Sean ke Ayrton.


"Iya Sean... Oh Sean. Anak-anak mu semuanya Julid ya sama kamu" goda Ayrton.


"Iya papa, cucu papa Julid sama daddynya. Papa senang?" sungut Sean kesal.


"Senang banget!" gelak Ayrton yang langsung mendapat keplakan dari Mariana. Zinnia hanya cekikikan mendengar keributan suami dan papanya.


Sean mendorong kursi roda Zinnia menuju kamar mereka. Arsya menarik tangan Mariana.


"Oma..."


"Apa sayang?" Mariana sedikit membungkuk untuk mendengarkan ucapan cucunya.


"Oma, maukan besok antar Asya ke sekolah. Kata mommy Asya nggak boleh sering bolos."


"Tentu saja Oma mau. Memang di sekolah ada apa?"


"Pretzel!" teriak Arsyanendra bahagia.


***

__ADS_1


Sean membantu Zinnia untuk pindah ke tempat tidur sedangkan Jasmine memindahkan kursi roda ke sebelah nakas tempat tidur.


"Kamu mau apa sayang?" tanya Sean sambil membetulkan posisi bantal istrinya.


"Aku ingin roti bakar isi meses dan keju dikasih condensed milk. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin itu."


"Akan saya buatkan..."


"Jangan kamu Jaz, tapi aku ingin Sean yang membuatnya. Bisa kan?" Zinnia menatap penuh harap ke suaminya.


"Akan aku buatkan sayang. Apalagi?" Sean mencium bibir Zinnia sekilas.


"Sama strawberry milkshake."


"Oke. Semoga kalian mintanya pada nggak aneh-aneh ya! Pusing Daddy nanti!" Sean berbicara ke si kembar di perut Zinnia membuat wanita cantik itu tertawa kecil. "Aku ke dapur dulu."


"Jangan curang lho Sean. Aku tahu yang mana buatan chef dengan buatan kamu" goda Zinnia sesaat Sean hendak keluar kamar.


"Ish, aku yang buat!" sungut Sean sebal lalu keluar kamar.


Jasmine tertawa melihat wajah manyun Sean. "Nona Zinnia, meskipun yang mulia itu raja, hanya anda yang berani menyuruh ke dapur untuk membuat roti bakar."


"Hak prerogatif istri?" kerling Zinnia yang membuat Jasmine tertawa.


***




"Aaahh, terima kasih sayang. Makin cinta deh!" Zinnia langsung memakan roti bakar buatan suaminya sedangkan Sean hanya menatap sayang ke istrinya sambil duduk di pinggir tempat tidur dekat dengan Zinnia.


"Enak?"


"Enak banget! Yummy!" jawab Zinnia sambil mengunyah rotinya.


"Dulu waktu hamil Arsya, kamu ngidam apa?"


"Pretzel."


Pantas putraku maniak pretzel. Sean tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Terus dibuatkan?"


"Jasmine berusaha membuat tapi kok nggak pas. Akhirnya Valentino dan Arka datang bersama dengan chef dari RR's Meal membuatkan pretzel yang otentik dengan resep Jerman seperti yang aku pernah makan disini. Baru deh pas! Ada kayaknya aku makan itu hampir dua Minggu, nggak mau yang lain padahal sudah masuk tri semester kedua."


"Kalau tri semester pertama?"


"Aku tiap hari makan lotek, gado-gado dan salmon. Aduh parah deh waktu awal hamil. Dik Sendra, Valentino dan Arka tiap Minggu membawa stok salmon.


"Maaf ya aku tidak ada disana bersama kamu dan Arsya."


"Tidak apa, sayang. Kamu sekarang kan ada bersama si kembar." Zinnia memegang wajah tampan suaminya.


"Jujur Zee, aku nyaris putus asa saat terakhir aku bertemu dengan papa. Waktu itu aku sudah pasrah jika memang kita harus bercerai, dan jika kamu mengirimkan surat cerai lagi, aku tidak akan menyobeknya, aku akan menandatanganinya. Tapi papa memberikan alamatmu di Indramayu dan harapanku kembali meningkat. Aku bertekad bagaimanapun aku akan membawamu kembali dan suatu kejutan serta berkah ketika melihat Arsya. He's really mini me meskipun pola asuh trio kampret terlalu merasuk..."


Zinnia mencium bibir suaminya lembut. "Memang sudah waktunya kamu mengetahui bahwa kamu memiliki Arsya."


"Kata papa, di akta kamu tidak memberikan nama Léopold."


"Karena aku belum yakin apakah kita akan bersama atau tidak. Jika kamu mau mengganti..."


"Tentu saja Zee dan sudah aku ganti akta kelahiran Arsya yang baru begitu kita kembali ke Brussels. Aku tahu kamu takut aku meragukan apakah itu anakku atau bukan mengingat aku begitu marah padamu. Maaf Zee, aku sungguh menyesal membentakmu seperti itu dan sungguh aku tidak tahu kalau kamu hamil. Zee, maukah kita tidak membahas peristiwa itu? Karena membuat hatiku sakit, sayang. Aku sudah tidak mau melihat ke belakang, yang aku mau adalah jalan ke depan bersamamu, bersama Arsya, bersama si kembar nantinya."


Mata hitam Zinnia memerah. "Iya Sean. Masa lalu adalah catatan kehidupan kita sebelumnya tapi sekarang kita lebih memilih masa depan kita. Aku cinta padamu, my Prince...eh my King."


"I love you more, my princess... Now my queen. Queen of my heart and soul. My other half, tulang rusukku..." Sean menyingkirkan meja kecil berisi piring yang sudah kosong dan gelas berisi strawberry milkshake ke dekat perapian.


Setelahnya Sean mencium bibir istrinya lembut namun semakin lama semakin panas...dan setelahnya dia mende*sah kesal.


"Harus puasa berapa lama aku Zee?" keluhnya sambil menempelkan dahinya ke dahi istrinya.


"Kata dokter Graham sampai kandungan aku oke semua. Bisa jadi sampai usia lima bulan atau tujuh bulan baru dijenguk."


"Solo lagi deh!"


Zinnia tertawa. "Sabar ya Daddy."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2