The Prince and I

The Prince and I
Kembali ke Istana


__ADS_3

Istana Al Jordan Dubai UAE


Zinnia dan Ken berkuda dengan santai karena mereka tahu dimana Arsyanendra dan Kalila berada. Istana Al Jordan memiliki tempat latihan berkuda yang luas karena semua cucu sangat menyukai acara berkuda.


"Arsyaaaaa!" teriak Zinnia ketika melihat putranya malah asyik cekikikan bersama dengan Kalila yang berada di sebelahnya.


"Mommmyyy! Tante Lila ini lhooo..." Arsya tampak bahagia diatas pelana bersama Riyad. "Ngeljain Bang Liyad..."


"Ayo pulang Arsya. NOW!" Zinnia menatap putranya tegas yang membuat Arsya menunduk.


"Yes mommy. Bang Liyad, kita pulang..." Arsyanendra menatap pengawal kesayangannya dengan muka memelas membuat Riyad tertawa melihat pangeran kecilnya begitu menggemaskan.


"Kamu itu nanti nggak bisa bobok karena kecapekan. Apa nggak ingat kalau Arsya rewel gimana?" omel Zinnia sambil berkuda dengan Riyad yang jalan di sebelahnya.


"Yes mommy..." Arsya masih menunduk.


Ken yang juga berkuda bersebelahan dengan kembarannya, juga tidak berhenti mengomel.


"Ganti baju dulu kenapa sih Lila? Masih pakai seragam sekolah kok langsung berkuda? Tadi pengawal yang disuruh mommy manggil kamu, kamu suruh balik ke istana lagi kan?" omel Ken yang lebih tua lima menit dari Kalila.


"Iiissshhh aku kan kangen Arsya" sungut Kalila yang memang sayang dengan keponakannya itu.


"Iya tapi kan ganti baju dulu, baru kemari. Arsya seminggu disini dan baru ke Brussels Minggu depan."


"Hah? Mbak Zee jadi balik ke Brussels? Yakin?" Kalila tampak terkejut. Ya benar kakak sepupunya sudah ijab qobul lagi kemarin tapi kembali ke negara yang membuatnya sakit hati, butuh kekuatan mental.


"Bang Sean kurang dari dua bulan mau diangkat jadi raja dan butuh mbak Zee disampingnya. Apalagi Arsya kan calon putra mahkota kerajaan Belgia, penerusnya bang Sean nanti."


"Sama seperti kamu sama bang Sendra?" Kalila melirik ke arah kembarannya.


"Sepertinya bang Sendra yang naik Lila, bukan aku. Aku lebih suka jadi tukang insinyur..."


Kalila terbahak. Kembarannya entah kenapa suka sekali nonton sinetron klasik si Doel Anak Sekolahan dan kadang ikutan Benyamin Sueb atau Mandra.


"Lagian Lila, mbak Zee kan lebih dekat dibandingkan kita harus ke Indonesia. Jadi kalau liburan bisa ketemu Arsya deh" senyum Ken.


Putra Enzo Al Jordan itu tidak ingin mengikuti jejak ayahnya yang menjadi pembalap formula satu dan lebih suka di bidang science. Enzo sendiri tidak mempermasalahkan Ken tidak mau terjun di dunia otomotif dan lebih mendukung passion nya di bidang akademik.


"Istana jadi ramai ya dengan datangnya mbak Zee dan Arsya. Garvita soalnya lusa kan balik ke London." Kalila menoleh ke arah Ken. "Masih saja gegeran dengan bang Gabriel."


"Untung bang Gab sabar ngadepin anak manja itu!" sungut Ken.

__ADS_1


***


Sean bersedekap menyambut kedatangan istri dan anaknya dari acara berkuda dengan wajah dibuat sok cool karena tahu Zinnia kesal dengan Arsyanendra.


"Sudah puas berkudanya?" Sean menatap putranya.


"Sudah... Daddy." Arsya menatap takut-takut ke Sean. Batita imut tahu kalau dirinya salah, terlalu lama berkuda.


"Sini sama Daddy. Kalau nanti Arsya rewel, berarti itu salah?" Arsya langsung berpindah ke gendongan Sean.


"Salah Asya... Soli Daddy" bisik Arsya di ceruk leher Sean.


"Riyad, terimakasih sudah mengawal Arsya" ucap Zinnia yang sudah turun dari kuda.



Mama Zee yang sudah menyuruh putranya pulang


"Sama-sama princess Zinnia. Saya permisi dulu." Riyad menghela kudanya meninggalkan keluarga Léopold itu.


"My princess, saya bawakan baby kembali ke rumahnya" ucap seorang pengawal.


"Iya terimakasih. Baby tampak senang bisa jalan-jalan meskipun sebentar. Besok kita jalan lagi ya Babe" senyum Zinnia sambil mencium kudanya.


"Ayo masuk semua, mandi!" ajak Zinnia ke kedua adik sepupunya.


***


Ruang Makan Istana Al Jordan


Arsyanendra akhirnya dimandikan oleh Zinnia karena penuh debu dan mereka agak terlambat makan siang. Dan seperti yang Zinnia duga, Arsya agak rewel karena kecapekan bahkan tidak mau makan.


Sean melihat bagaimana Zinnia dengan tegas memberitahukan Arsya agar mau makan dan tersenyum karena tahu istrinya bisa menjadi Ratu Belgia yang semakin dicintai rakyatnya.


"Kebiasaan deh Arsya kalau kecapekan begitu. Rewel!" kekeh Mariana melihat cucunya heboh sendiri.


Sean tersenyum lalu menghampiri Zinnia dan Arsya yang sudah menangis.


"Sya, yuk sama Daddy. Kita makan sambil lihat kolam ikan" bujuk Sean sambil merentangkan kedua tangannya. Arsya langsung masuk ke dalam pelukan daddynya.


"Ini maemnya Arsya. Nanti kamu ajak tidur saja Sean." Zinnia menyerahkan piring yang berisikan makan siang Arsya. Sean pun membawa putranya menuju kolam ikan koi di samping istana.

__ADS_1


"Sean sayang banget sama Arsya ya Zee? Alhamdulillah, bisa jadi ayah yang baik" senyum Mariana.


"Alhamdulillah banyak berubah dia. Setidaknya pengalaman kemarin menjadi pelajaran bagi kami, Ma." Zinnia lalu mengambil makan siangnya. Para anggota keluarga Al Jordan lainnya sudah makan siang karena Zinnia meminta untuk tidak menunggu dirinya dan Arsyanendra.


"Mama harap, kalian semua bisa hidup berbahagia. Kamu tahu, kebahagiaan orang tua itu jika anak-anaknya hidup bahagia dengan pasangannya hingga tua..."


"Seperti mama dan papa?" senyum Zinnia.


"Mama senang kamu melihat kami sebagai panutan kalian..."


"Semua keluarga besar klan Pratomo itu adalah panutan aku, ma. Bagaimana rasa persaudaraan dan kasih sayang itu sangat kental."


Mariana memegang tangan Zinnia. "Be happy Zee. Nikmati kehidupan bersama Sean, Arsya dan calon adik Arsya nantinya."


Zinnia mememluk Mariana. "Terima kasih mama."


***


Dengan berbagai cara bujukan, akhirnya Arsyanendra mau makan disuapi Sean. Batita tampan itu menatap ikan-ikan koi koleksi Opa buyut Reyhannya. Ayah dan anak itu duduk di sebuah sofa empuk yang tersedia disana.


"Arsya, masih capek?" tanya Sean yang melihat makanannya Arsya tinggal sedikit.


"Capek Daddy. Asya ngantuk sekalang..." Arsya bersandar di dada bidang ayahnya dan mulai memejamkan matanya.


"Bobok saja Sya." Sean meletakkan piring makan Arsyanendra ke samping sofa lalu memeluk putranya.


Arsya semakin mendusel ke tubuh daddynya mencari posisi nyaman dan Sean membenarkan tubuh putranya.


"Sya, kamu tahu. Daddy senang sekali kamu dan mommy mau ikut ke rumah Daddy. Lama kita tidak bersama Sya dan itu membuat Daddy sedih... Meskipun itu bukan kesalahan mommymu. Sya, Daddy harap suatu saat nanti, Arsya mendapatkan pasangan yang mirip mommymu, wanita yang tidak hanya cantik fisik tapi juga cantik hatinya, cantik cintanya dan cantik segalanya, inside out. Dan Daddy berdoa agar kamu tidak mengalami apa yang Daddy dan Mommy alami hingga kita sempat berpisah... Arsya, putra kebanggaan Daddy, jadilah Arsya yang selama ini dididik oleh Mommy, Opa, Oma dan nanti Daddy. Tapi janganlah kamu meniru Oom trio kampret mu... bikin pening tahu nggak."


Zinnia yang hendak menghampiri suami dan anaknya, cekikikan mendengar kalimat terakhir suaminya.


Trio kampret memang terlalu banyak kasih pengaruh ke Arsya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gifts

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2