The Prince and I

The Prince and I
Stefanus of Belgium


__ADS_3

Istal Istana Brussels Lima Tahun Lalu...


Sean dan Zinnia bergandengan tangan menuju istal tempat kuda-kuda mereka berada. Zinnia seperti biasanya menyapa ramah semua pegawai yang bertugas di istal.


"Bagaimana Angel, Jack?" tanya Zinnia kepada pengasuh Angel.


"Dia baik yang mulia. Angel pasti senang anda datang hari ini dan saya sudah menyiapkan semua kebutuhan Angel."


"Terimakasih Jack" senyum Zinnia.


Sean yang memeluk pinggang istrinya memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya. "Angel tahu mamanya datang tuh!" Keduanya mendengar suara ringkik kuda dan pintu yang ditendang.


"Kok dengar ya suara aku" senyum Zinnia sambil menuju kandang Angel. "Halo Angel. Mama kangen deh!" Zinnia langsung memeluk kepala kuda itu dan Angel seperti tahu pemiliknya datang langsung mengusapkan moncongnya ke wajah Zinnia.


"Really?! Dia seenaknya main usap wajahmu?" protes Sean cemburu.


"Oh come on Sean. Jangan cemburu dengan Angel" kekeh Zinnia.


"Harusnya aku memberikan kuda betina, bukan kuda jantan! Lihat, dia menatapku penuh kejudesan!" Sean menatap sebal ke kuda bewarna hitam itu.


"Ah, Sean. Perasaan kamu saja" gelak Zinnia.


"Ingat Angel, Zee itu istriku! Kamu hanya tunggangan" goda Sean ke kuda milik Zinnia yang dijawab dengan ringkikan kesal dari Angel.


"Yang mulia, Angel kami bawa keluar?" tanya Jack setelah selesai memasang pelana.


"Iya Jack." Zinnia menatap Sean. "Kamu tidak berkuda dengan Thunder? Nanti cemburu lho."


"Harry!" Sean memanggil pengasuh Thunder.


"Iya yang mulia?" Harry tergopoh-gopoh menghampiri Sean.


"Thunder sudah siap?" tanya Sean.


"Sudah yang mulia."


Sean pun tersenyum ke Zinnia. "See? Thunder tidak bakalan cemburu."


Zinnia tertawa. Keduanya pun keluar dari istal dan melihat cuaca cerah yang sangat mendukung.


Jack memberikan tali kekang Angel dan wanita cantik itu mengusap wajah kudanya dengan sayang. "Kayaknya kalau Angel dikawinkan dengan Baby, bakalan mendapatkan bibit premium deh."


Sean mendengar ucapan istrinya. "Mau kamu breed? Bisa dikirim ke Dubai kan?"



Zee and Angel


"Boleh? Kalau boleh, aku akan bilang sama papa dan Umar yang mengasuh Baby." Wajah Zinnia tampak berbinar.


"Apa sih yang tidak buat kamu Zee" senyum Sean yang pagi ini mengenakan kemeja kotak-kotak.



Babang satu ini Yaaaaaa

__ADS_1


Tiba-tiba sekretaris ibunya datang tergopoh-gopoh ke arah Sean dan Zinnia.


"Yang mulia Sean, anda dipanggil yang mulia Ratu" ucap sekretaris itu dengan nafas terengah - engah.


"Mommy disini? Bukannya ada urusan kerajaan?" tanya Sean bingung sambil menatap Zinnia.


"Yang mulia Ratu baru datang, yang mulia. Dan meminta bertemu dengan anda."


Sean hanya menghela nafas panjang. "Aku ke dalam dulu Zee."


"Apa aku harus menemani kamu?" tanya Zinnia yang juga terkejut mendengar ibu mertuanya tiba-tiba sudah di istana.


"Tidak usah, kamu berkuda saja. Jasmine, tolong jaga Zee" pinta Sean ke pengawal istrinya.


"Tentu saja yang mulia." Jasmine menganggukan kepalanya.


Sean pun mengikuti sekretaris mommynya sedangkan Zinnia berkuda bersama dengan Jasmine.


***


Kedua wanita itu berkuda santai karena Zinnia tidak mau berpacu hari ini dan menikmati cuaca yang cerah.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Jasmine.


"Memangnya kenapa Jaz?"


"Acara berkuda anda dengan yang mulia Sean diganggu oleh ibu mertua Anda."


Zinnia tersenyum. Keduanya mengobrol menggunakan bahasa Arab, bahasa yang orang lain tidak tahu. "Aku bukannya tidak tahu kalau ibu mertua dan iparmu tidak suka dengan ku, Jaz. Pamor mereka tersaingi olehku."


"Kamu kan tahu karena selama ini kamu mengawal aku, mama dan Garvita. Jadi tahu bagaimana sifat dan sikap kami."


"Saya tahu karena keluarga nona memang dikenal humble dan tidak sombong" senyum Jasmine.


"Kami sombong kalau memang diperlukan" kekeh Zinnia.


"Ohya nona, saya mendapatkan informasi dari tuan Benji."


"Apa itu?" tanya Zinnia.


"Mata-mata yang dikirim tuan Benji untuk mengawasi ipar anda menemukan princess Natalia berada di sebuah rumah sakit di Swiss, di kota Zürich tepatnya."


"Ngapain?" Zinnia menatap pengawalnya.


"Menggugurkan kandungan nya."


Zinnia melotot tidak percaya. "Tapi... kenapa?"


"Informasinya, janin itu milik selingkuhannya yang seorang aktor Hollywood. Dan mata-mata kita di istana mengatakan bahwa pangeran Stefanus hanya menyentuh putri Natalia dua kali dan setelahnya mereka tidur terpisah."


"Jaz, meskipun menyentuh cuma dua kali tapi kan bisa hamil" gumam Zinnia.


"Pangeran Stefanus hanya menyentuh awal pernikahan dan sekarang mereka sudah hampir enam bulan. Kandungan yang digugurkan berusia empat Minggu. Bagaimana bisa nona?"


Zinnia beristighfar dalam hati. Bagaimana pun janin itu tidak bersalah, orangtuanya yang salah.

__ADS_1


"Iya ya Jaz, aku dan Sean sudah tiga bulan ini menikah."


"Nona belum ada tanda-tanda hamil?" tanya Jasmine sambil melihat perut rata nonanya.


"Belum Jaz. Kami mungkin baru disuruh menikmati hidup berdua dulu." Zinnia menghentikan Angel. "Kita beristirahat disini dulu Jaz."


Keduanya mengikat kuda-kuda mereka dan menikmati acara duduk santai di pinggir danau yang masih dalam wilayah istana Brussels.


Zinnia melihat ada beberapa ekor rusa disana dan tersenyum hangat. "Di Dubai tidak ada ya Jaz. Yang ada unta dan kuda kalau di Padang milik Al Jordan."


Jasmine tersenyum. "Anda kangen Dubai, nona?"


"Sejujurnya iya. Aku kangen semuanya disana."


Suara gemerisik pertanda ada orang berjalan diatas rumput belakang mereka membuat keduanya menoleh. Betapa terkejutnya Zinnia dan Jasmine saat melihat siapa yang datang.


***


Royal Room of King and Queen


Sean mengahadap ratu Michelle dengan perasaan bingung. Ada apa mommy memanggil aku?


"Ah Sean. Akhirnya ketemu juga." Michelle menghampiri putra bungsunya.


"Mother." Sean mencium pipi Michelle. "Ada apa mother memanggil aku?"


"Kamu kok betah sih tinggal di apartemen? Tinggal lah disini Sean. Biar tidak sepi istana."


Sean menaikkan sebelah alisnya. "No mother. Aku lebih nyaman tinggal di apartemen, lagipula tugas kami berdua kan bukan tugas utama seperti kak Stefan dan Natalia. Jadi, menurut aku, kami tidak tinggal disini saja."


"Oh Sean, pasti Zinnia kan yang memaksa kamu tinggal di Apartemen? Memang dia itu tidak bisa tinggal di tempat mewah sedikit!"


Sean menatap ibunya dengan tatapan tidak suka. "Apa mother lupa? Bagaimana luasnya istana milik keluarga Zee? Bagaimana mewahnya? Zee sudah terbiasa hidup mewah dari kecil tapi dia wanita yang sederhana, bukan tipe wanita glamor yang suka memamerkan kekayaannya. Dan asal mother tahu, akulah yang memintanya tinggal di apartemen agar kami bisa dekat dengan rakyat.!"


Michelle hanya terdiam. Aku harus mencari taktik lain.


***


Padang Rumput


"Halo adik ipar" sapa Stefanus sambil tersenyum yang entah kenapa, Zinnia dan Jasmine tampak tidak nyaman dengan senyuman itu.


"Kak Stefan. Apa yang kakak lakukan disini? Aku kira ada urusan pekerjaan kerajaan" ucap Zinnia basa basi sedangkan Jasmine sudah dalam posisi waspada. Keduanya berdiri menghadapi kakak Sean itu.


"Hanya berkuda dan melihat mu juga berkuda, jadi aku hampiri lah." Stefanus mendekati Zinnia yang mundur selangkah sedangkan Jasmine maju selangkah untuk melindungi nonanya.


Posisi Stefanus terhalang oleh Zinnia dan pemandangan itu diabadikan dengan kamera DSLR super canggih.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2