The Prince and I

The Prince and I
Di Saung Sawah


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia Present Day


Sean dan Zinnia bersama dengan Shinichi dan Arsyanendra menikmati acara piknik bersama. Bik Minah dan Jasmine sudah menyiapkan beberapa penganan kecil seperti lemper bakar, kimbab, onigiri dan beberapa potongan buah.


"Mommy."


"Yes?"


"Asya dapat cacing banyaaaakk!"


"Wah, bagus dong!" puji Zinnia.


"Iiiihhh, kamu kok seneng sih sama cacing? Memang Asya besar mau jadi apa?" tanya Shinichi sambil memasukkan lemper nya yang ketiga.


"Cacing kan bagus buat tanah subul. Tante Gemintang bilang gitu. Kalo Asya besal, mau jadi doktel hewan kayak Tante Gemintang."


Sean mendengarkan percakapan ketiganya hanya tersenyum.


"Nanti kamu tho kalau jadi dokter hewan, harus bantu sapi lahirin, kalau ada anjing atau kucing sakit, harus siap-siap kena cakar sama gigit." Shinichi menatap jahil ke Arsyanendra.


"Asya udah tahu! Kemalin Tante Gemintang celita bantu kelualin anak sapi."


Zinnia terbahak. "Nah lho Shin, Arsya tuh sering tanya sama Oom Tantenya yang lain lho. Kapan tuh tanya sama Damian soal Onta terus Eagle soal kuda."


"Kamu kok pintar sih?" Shinichi memeluk keponakannya itu gemas.


"Pintal lah! Diajalin mommy dan Oom Sendla."


Hati Sean terasa tercubit mendengar putranya banyak dididik oleh Zinnia dan Gasendra. Ada rasa kesal pada istrinya yang seolah tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk berada di sisi putranya.


"Bu Zinnia..." Keempatnya menoleh ke arah seorang buruh tani perempuan yang tampak bingung.


"Ada apa Mak Titin?" tanya Zinnia.


"Anu, bisa bicara sebentar?" pinta wanita berusia empat puluhan itu.


"Bisa." Zinnia menatap ketiga anggota keluarganya. "Sebentar ya." Wanita cantik itu pun berdiri dan menemui salah satu buruh taninya.


"So, ada kabar apa Shin? Bagaimana keluargamu?" tanya Sean ke Shinichi.


"Well, Opa buyut Takeshi kesehatannya mulai menurun apalagi kan sejak operasi jantung tidak bisa banyak aktivitas tapi Oma Fumiko selalu disampingnya. Yakuza karatan itu katanya belum mau pergi kalau belum lihat bang Lukie nikah."


"Memang Luke sudah punya pacar?"


"Masih nggak jelas sih soalnya dua-duanya sama-sama judes dan tukang berantem! Entah apa yang ada di benak bang Lukie dan Rin Ichigo itu!"


"Lalu ada kabar apa lagi?"


"Well, Appa aku makin judes sama aku dan entah ini kartuku di blokir semua kayaknya. Mommy sehat, Alhamdulillah, tapi sekarang lebih gualak. Adikku Sakura sudah kuliah di Tokyo University mengambil jurusan art desain."


"Sakura umur berapa sekarang?"


"Sakura? 17 tahun."


"Oom Hideo masih bisnis perhiasan?"


"Masih lah, kan itu bisnis keluarga Kojima. Kalau mommy masih bekerja di PRC group bareng sama Oom Luca."


"Shin..."


"Sudah selesai makannya?" tanya Zinnia yang datang usai berbicara dengan Titin.

__ADS_1


"Bental lagi habis mommy" jawab Arsya.


"Memang Mak Titin ada apa mbak?" tanya Shinichi.


"Mau pinjam uang buat anaknya yang mau lahiran tapi Caesar. Masalahnya tabungannya Mak Titin kurang" jawab Zinnia. "Kemarin uangnya sudah dipakai buat renovasi rumahnya yang kena angin kencang."


"Mbak pinjammkan kan?"


"Iya Shin. Masalahnya soal nyawa juga." Zinnia menelpon Jasmine untuk membawakan sejumlah uang ke tempat mereka.


"Tidak kamu taruh pinjaman kantor, Zee?" tanya Sean.


"Nggak Sean. Karena ini kan urgent."


"Kalau tidak dikembalikan?"


Zinnia menatap Sean. "Kamu kok sekarang perhitungan sih? Masalah dikembalikan atau tidak, biar itu urusan Mak Titin. Dikembalikan, Alhamdulillah berarti dia tidak mau berhutang tapi kalau tidak, berarti dia menanggung hutang seumur hidup."


Sean hanya terdiam. Tak lama Jasmine datang dan membawakan sejumlah uang dalam amplop coklat yang kemudian diberikan pada Mak Titin.


"Bang Sean, harusnya tidak ngomong seperti itu sama mbak Zee. Kan bang Sean tahu karakter mbak Zee gimana."


Sean menoleh ke arah Zinnia dan Jasmine yang sedang berbicara dengan Titin dan tampak wajah wanita itu sangat bersyukur mendapatkan pinjaman dan membungkuk hormat dan berpamitan untuk ke rumah sakit.


"Mbakmu memang orangnya baik hati."


"Bang, uang mbak Zee nggak akan habis kalau kasarannya cuma kasih segitu. Malah rejekinya mbak Zee ada terus." Shinichi menatap Sean serius.


"Oom Shin, apa mommy dan Daddy belantem?" tanya Arsyanendra ke Oomnya.


"Nggak, Sya, mommy dan Daddy itu macam Oom Shin dan Oom Lukie kalau ribut" cengir Shinichi.


"Itu namanya ngalah Sya. Yang waras yang ngalah!" cengir Shinichi.


"Memangnya Luke nggak waras?" Zinnia menatap tajam ke Shinichi.


"Kadang-kadang... Aduuuhh!" Shinichi mengusap bahunya yang dikeplak Zinnia. "Mbak Zee KDRT!"


Arsyanendra tergelak melihat Oomnya dimarahi mommynya.


"Makanya kalau ngomong dipikir dulu!" omel Zinnia.


"Zee..."


"Apa Sean?" Zinnia menoleh ke arah suaminya.


"Maafkan ucapan ku yang tadi."


Zinnia hanya tersenyum. "Tak apa. Wajar kan kamu tanya begitu."


"Mommy. Udah!" Arsyanendra memamerkan bungkus lemper yang banyak.


"Astaghfirullah! Arsya! Kamu makan lemper berapa banyak?" gelak Zinnia melihat lemper yang berjumlah 20 tinggal empat. "Satu...dua...tiga... Delapan lemper?"


"Asya kenyang mommy..."


"Ya iyalah kenyang wong kamu makannya khilaf Sya" kekeh Shinichi sambil mengusap kepala Arsyanendra.


"Asya ngantuk..." Asya melihat paha Zinnia dan ingin tiduran disana.


"Sini, sini, bobok sama mommy." Arsyanendra lalu berjalan menuju Zinnia dan langsung merebahkan kepalanya di paha ibunya.

__ADS_1


Zinnia mengambil tissue basah dan membersihkan kedua tangan putranya yang terkena ketan. Setelahnya tangan Zinnia mengusap kepala Arsya yang tidak lama pun terlelap.


"Mbak, nanti kamu pegal lho" komentar Shinichi.


"Nggak papa..."


"Nanti aku yang gendong Arsya kalau kita pulang" potong Sean.


"Aku ta jalan-jalan dulu. Mau ngobrol dengan pak Mamat dan pak Ujang. Sudah lama aku nggak cek and ricek." Shinichi pun bangun untuk menemui para pengawas sawah Zinnia.


"Hati-hati Shin. Licin." Zinnia memperingatkan adiknya.


"Oke!" Shinichi pun berjalan menuju sebuah bangunan yang merangkap ruang kantor pengawas.


"Nona Zinnia, ini saya bereskan makanannya?" tanya Jasmine melihat sudah pada habis makanan pikniknya.


"Boleh Jaz. Maaf aku tidak bisa membantu, ini ada bocah bobok enak banget" senyum Zinnia.


"Aku bantu Jasmine" tawar Sean.


"Tidak usah yang mulia. Biar saya saja." Dengan cekatan Jasmine membereskan semuanya kecuali beberapa botol air mineral yang memang ditinggal.


"Ini yang makan lemper banyak-banyak pasti pangeran Arsya" kekeh Jasmine sambil memasukkan daun pisang bekas bungkus lemper ke dalam plastik tempat sampah.


"Siapa lagi Jaz" senyum Zinnia.


Tak lama Jasmine pun mengundurkan diri sambil membawa keranjang piknik yang berisikan sisa makanan.


"Capek Zee?" tanya Sean melihat istrinya tampak kesusahan membenarkan posisi duduknya. Mereka sendiri berada di dalam saung.



"Mau bersandar, punggung ku agak pegal." Zinnia berusaha menarik Arsya sambil menggeserkan tubuhnya untuk bersandar pinggiran saung.


Sean langsung membopong Arsya. "Kamu bersandar lah, Arsya sudah aku angkat."


Zinnia beringsut menuju sandaran dan Sean pun mengikutinya.


"Sini, letakkan kepalanya Arsya ke pahaku..."


"Tapi nanti pegal." Sean menatap Zinnia.


"Tidak apa." Sean pun menurut.


"Kamu tahu Zee, aku kangen juga meletakkan kepalaku diatas pahamu seperti Arsya" ucap Sean lembut yang membuat Zinnia mendelik.


"Awas kalau kamu modus!"


Sean tertawa.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Sorry Telat


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2