
Istana Al Jordan Dubai UAE
Garvita dengan telaten mengobati wajah Sean yang babak belur habis dihajar oleh papanya. Si kembar Ken dan Kalila ikut membantu Garvita.
"Sakit nggak bang?" tanya Kalila.
"Nggak Lila. Sakit sedikit" ucap Sean pelan.
"Nggak sakit tapi meringis" ledek Ken.
"Ini agak sakit sedikit bang..." Garvita mengompres dengan daging beku.
"Ssshhhh... much better Garvita. Terimakasih." Sean tersenyum tipis karena bibirnya bengkak kena jotos Ayrton.
"Papa tuh kalau udah ngamuk brutal nya..." omel Garvita.
"Oom Ayrton kan nggak bakalan ngamuk kalau nggak ada pasal" celetuk Ken.
"Iya bang. Oom Ayrton itu paling jarang marah sih" timpal Kalila. "Tapi sekalinya marah, beeeuuu Lila mending ngibrit deh!"
Sean tersenyum mendengar celotehan adik iparnya yang masih ABG. "Apa kalian tahu mbak Zee pergi kemana?" tanya Sean.
Ketiganya kompak menggelengkan kepalanya.
"Maaf bang Sean. Aku masih sayang uang jajanku dan nyawaku..." ucap Ken dramatis.
"Bang Sean harus berjuang untuk mendapatkan mbak Zee kembali karena aku yakin, Oom Ayrton akan menguji bang Sean apa masih pantas apa nggak jadi suami mbak Zee selamanya" timpal Kalila.
"Maksudnya apa Lila?" Sean menatap bingung ke gadis remaja cantik itu.
"Papa akan membuat bang Sean dan mbak Zee berpisah" sahut Garvita.
Sean melongo.
***
Kensington Palace, London, Inggris
Zinnia menikmati acara minum teh sore dengan putri Medeline dan pangeran Richard. Seperti para pendahulunya, putri Medeline memilih untuk mengasuh sendiri putranya tanpa bantuan sang nanny jika dirinya berada di rumah.
Zinnia merasa gemas dengan bayi tampan itu dan tanpa sungkan menggendongnya apalagi putri Medeline sendiri yang memberikan ijin.
Melihat Zinnia menggendong Richard, Medeline melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang dia alami saat hamil Richard.
"Zee..."
"Yes Medeline?" jawab Zinnia tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Richard.
"Kamu hamil?"
__ADS_1
Zinnia tersentak. "Bagaimana..."
"Hei, aku baru saja hamil dan melahirkan Richard dan pasti ada tanda-tanda yang aku tahu lah kalau wanita itu hamil. Apa kedua orangtuamu sudah tahu?"
"Papa dan mama sudah tahu tapi mereka merahasiakan dari keluarga besar dulu karena Sean berada di Dubai."
"Berapa Minggu?"
"Aku tidak tahu. Aku belum memeriksanya."
Medeline lalu memanggil sekretarisnya dan meminta agar dokter kandungannya datang ke istana membawa alat USG portabel. Putri Inggris itu tidak mau ada berita macam-macam karena pers Inggris sangatlah kepo.
Satu jam kemudian, Zinnia sudah diperiksa oleh dokter kandungan yang berusia lanjut. Medeline tampak serius melihat layar USG.
"Bagaimana dokter Waston?" tanya Medeline.
"Semuanya bagus your Highness. Princess Zinnia hamil sekitar tiga Minggu dan semuanya sehat."
"Apakah aman jika saya pergi dengan pesawat jarak jauh?" tanya Zinnia.
"Pesawat pribadi kan princess? Saya rasa aman semuanya. Nanti saya berikan obat penguat kandungan dan vitamin. Selamat princess, Belgia akan mendapatkan pangeran atay princess baru" senyum dokter itu. "Tapi tenang saja your Highness, saya menyimpan rahasia anda sesuai dengan sumpah dokter saya."
"Terimakasih dokter Waston" ucap Zinnia. "Alhamdulillah sehat semua."
"Jangan stress tuan putri, apapun masalahnya, saya minta dikesampingkan dulu. Fokuskan kesehatan bayi anda karena dia yang akan menjadi sumber kekuatan anda, putri." Dokter Waston menepuk tangan Zinnia lembut layaknya seorang ayah ke anaknya.
"Anda benar dokter. Thank you."
***
"Bagaimana kakak saya, dokter?" tanya Gasendra penasaran.
"Alhamdulillah tuan putri dan janinnya sehat semua, my young Emir. Saya minta anda menjaga kakak anda ya. Putri Zinnia wanita yang baik dan saya bersyukur dia pergi dari Belgia karena jika masih tetap disana, takut mempengaruhi janinnya." Dokter senior itu menepuk bahu Gasendra. "Putri Zinnia beruntung memiliki adik seperti anda young Emir."
"Tidak dokter, saya yang beruntung memiliki kakak seperti mbak Zee."
***
Hotel Hilton Dubai UAE
Sean memuntahkan semua isi perutnya pagi hari usai beribadah. Dirinya merasa lemas dan menelpon resepsionis untuk membelikan shampoo yang merknya merupakan merk favorit Zinnia. Sean lupa membawanya hingga saat ini perutnya terus berontak karena tidak mencium harum shampoo itu.
Dua puluh menit kemudian petugas hotel membawa kan shampoo yang diminta Sean dan pria itu merasa perutnya tidak berontak lagi usai mencium harumnya.
Ada apa sih dengan ku? Apa karena aku rindu berat dengan Zee jadi seperti ini? Kamu dimana Zee kalau tidak di Dubai?
Sean membuka iPadnya dan mencari silsilah keluarga Zinnia. London, New York, Tokyo dan Jakarta adalah kota-kota tempat keluarga Zinnia berada.
Aku harus ke New York dulu, baru ke Tokyo, Jakarta baru London.
__ADS_1
Sean pun memesan tiket menuju hutan beton di Amerika Serikat itu. Entah apa yang akan terjadi di New York, Sean tetap kesana. Seminggu di Dubai, sembari menghilangkan bekas-bekas dihajar Ayrton, Sean tetap mencari Zinnia bahkan sampai ke istana Al Azzam dan disana istrinya pun tidak ada.
Istana Al Azzam Dua Hari Sebelumnya
"Mbak Zee tidak ada disini bang Sean" ucap Damian putra Direndra dan Raana. Kedua orangtuanya sedang ada perjalanan ke Kuwait untuk menghadiri pernikahan Emir Al Sabah.
"Apa kamu yakin Damian?" tanya Sean memelas.
"Ya ampun bang, serius. Mbak Zee kalau pun ngumpet nggak mungkin disini" cengir Damian.
"Mbak Zee nggak disini bang" sambung Radhi, putra Alaric dan Nura yang berusia sepuluh tahun dan dijawab anggukan kembarannya Raine.
Sama seperti Enzo dan Georgina, Alaric dan Nura dikarunai kembar sepasang bernama Radhi dan Raine yang artinya dermawan. Sayangnya setelah itu, Nura harus diambil rahimnya karena terdapat kista yang bisa membahayakan dirinya. Alaric sendiri bersyukur sudah diberikan sepasang anak yang cantik dan tampan jadi dia mementingkan kesehatan dan keselamatan istrinya.
"Kira-kira mbak Zee kemana Raine?" tanya Sean ke bocah cantik itu.
"Raine nggak tahu bang" jawab Raine.
"Anak-anak tidak ada yang tahu kemana Zee pergi, Sean" ucap Nura yang keluar setelah memeriksa pasiennya. Dokter bedah itu membuka praktek di sebuah paviliun istana khusus untuk orang-orang yang pendapatannya tidak terlalu banyak.
"Tante Nura" Sean mencium punggung tangan istri Alaric itu.
"Kamu tuh gimana sih Sean?" Nura menoleh ke arah Damian. "Dam, bawa adik-adikmu masuk, Tante mau bicara dengan bang Sean."
"Yah mama, memangnya Raine nggak boleh ikutan duduk disini?" rayu putrinya yang selalu kepo.
"No Raine, ini pembicaraan orang tua. Anak kecil tidak boleh ikutan!" tegur Nura.
"Lho mama..."
"Ayo Raine! Kamu belum dua puluh, baru sepuluh tahun!" Radhi menarik tangan kembarannya.
"Mama nggak asyik!" protes Raine tapi langsung diam setelah mamanya melotot judes membuat Damian terkikik.
"Kapokmu kapan tho Raine?" gelak Damian ke adik perempuannya yang centil dan super kepo.
Setelah ketiganya masuk ke dalam rumah, Nura menatap Sean. "Sean, Tante tidak tahu kemana Zee tapi yang jelas jika Ayrton sudah bilang kamu tidak bisa menemukan, berarti Zee disembunyikan di tempat yang bisa jadi kami sendiri tidak tahu dan hanya keluarga Al Jordan yang tahu."
"Saya ingin bertemu Zee, Tante."
"Tante tahu Sean tapi kamu harus melihat dari sisi Ayrton. Ayah mana yang tidak marah melihat dan mendengar putrinya difitnah sedemikian rupa dan suaminya sendiri tidak bisa membelanya padahal ayah putri itu sudah memberikan kepercayaan pada lelaki yang meminang putrinya. Kamu akan merasakan hal yang sama jika kamu memiliki seorang anak perempuan nantinya, Sean."
Sean termenung mendengar ucapan Nura.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️