
Ruang Rawat VVIP PRC Group Hospital
Keributan di ruang rawat inap yang cukup luas tapi tetap saja tidak bisa menampung pasukan sirkus generasi keenam yang memang sama parahnya dengan generasi sebelumnya, membuat para orang tua yang sedang mengobrol dengan para opa dan Oma di luar langsung masuk.
Bima yang melihat putranya ribut dengan Arimbi, hanya tersenyum sedangkan Arabella tidak luput Omelan dari Anandhita yang gemas putrinya hobinya mendrama setiap bersama Arkananta.
"Kenapa lagi ini?" hardik Levi Reeves yang pusing dengan gegeran cucu-cucunya.
"Arka Opa. Biasa bikin nangis Arabella..." adu Valentino.
"Ara! Kamu tahun depan sudah masuk kuliah, kok masih gembeng! Berhenti nangisnya!" bentak Hoshi yang selalu gemas dengan pasukan kampret pembuat darting.
Tangis Arabella langsung berhenti karena dia paling takut dengan Oom Hoshinya yang mulutnya lebih pedas dibandingkan Valentino atau Arka.
"Kalian itu ya ampun! Kasihan Arsya jadi kaget! Kalau kalian semua nggak bisa anteng, pulang!" bentak Levi sebal.
Semua cucunya menunduk takut dengan Opanya. Di generasi keenam, mereka paling takut dengan Levi, Abi, Hoshi dan Kaia.
"Arsya nggak papa, Zee?" tanya Arimbi sambil menghampiri keponakan dan cucunya.
"Nggak papa kok Tante. Ini udah anteng lagi. Tadi mungkin kaget karena dengar oom dan tantenya ribut." Zee tersenyum sambil memperlihatkan wajah Arsyanendra yang menggemaskan sambil mengerjapkan matanya.
"Iiiihhh kamu kok gemesin to Sya. Jadi pengen punya bayi lagi" celetuk Arimbi.
"What?" pekik Bima. "Arka mau kesundul?! Apa kata dunia jeng?"
Arimbi hanya melengos. "Pengen punya bukan berarti harus punya tho mas Bima."
"Nah lho mas, elu bakalan punya adek" gelak Gasendra durjana.
Arkananta hanya manyun.
Manyun nya niat
***
Sesuai dengan kesepakatan bersama, Zinnia bersama dengan Arsyanendra akan tinggal di mansion Giandra karena ada Arum disana yang membantu Zinnia merawat putranya. Mariana memutuskan untuk tinggal di Jakarta sampai acara akikah Arsya sedangkan Ayrton dan Garvita kembali ke Dubai terlebih dahulu. Keduanya akan kembali seminggu sebelum acara itu.
Bara tampak senang mendengar suara bayi di mansion nya apalagi Arsya memang menggemaskan. Terkadang opa dari Arkananta dan Remy itu menggendong Arsya sembari berjemur di halaman belakang dekat kolam renang.
__ADS_1
"Oma... Arsya kemana ya?" tanya Zee mencari putranya yang harusnya jadwal ASI pagi ini. Wanita cantik itu merasa dadanya terasa penuh.
"Tadi habis dimandikan oleh Jasmine langsung dibawa Opa ke belakang. Opamu itu sayang banget sama Arsyanendra" jawab Arum sambil menyiapkan sayur daun katuk untuk Zinnia.
Zinnia tadi memang meminta tolong ke Jasmine untuk memandikan Arsya karena dia mendapatkan panggilan alam.
"Ya ampun Opa. Main culik cicit" kekeh Zinnia.
"Oom Bara sudah pengen punya cicit tuh Tante" timpal Mariana yang keluar membawakan sarapan pagi.
"Oh jangan dong! Arkananta masih kuliah" gelak Arum. "Sudah ada Arsya, sudah senang tuh mas Bara."
"Hahahaha. Aku ke belakang dulu Oma, mama. Nanti anakku jadi Tan..." kekeh Zinnia.
Ibu muda itu pun menuju ke halaman belakang dan melihat Bara dengan serius mendongeng tentang keluarganya.
"Kamu tahu Sya, Opa buyutmu adalah Emir di Dubai, Opa mu salah satu Emir, Opa pihak mommymu pemilik bank, Daddymu pangeran Belgia. Jadi di darahmu itu mengalir banyak orang-orang hebat tapi opa minta kamu jangan ikutan dengan Oom Arka, Oom V dan Oom Shinichi mu... terutama Oom Shinichi. Entah kebanyakan kimchi atau gimana, kok bisa Oom Shinchan mu itu punya pola pikir diluar kita-kita." Bara menatap bayi bule itu yang menatap serius kepadanya.
"Opa, jangan didoktrin dong..." gelak Zinnia. "Nanti Arsya bisa penasaran sama Oom Shinchan nya."
"Hahahaha. Opa senang kamu disini Zee sampai rumah kamu selesai pembangunannya. Yang ngawasi disana siapa?" tanya Bara setelah Zinnia duduk di sebelah Opanya di dalam gazebo.
"Dik Sendra Opa. Kan sudah pulang ke Indramayu sambil mempersiapkan semuanya."
"Tapi jika diperlukan, Shin juga bisa dewasa dan mengambil keputusan yang tepat Opa." Zinnia menatap lembut ke putranya yang sekarang berusia sebulan.
"Kamu beneran tidak mau bertemu dengan Sean?" Bara memandangi wajah cucunya yang tampak mendung begitu mendengar nama suaminya.
"Belum sekarang Opa. Lagipula, Opa Karl adalah orang yang paling marah kedua setelah papa. Opa kan tahu sendiri kalau Opa Karl jarang marah tapi kalau sekalinya marah, mengerikan."
Bara mendengus pelan. "Karl sama dengan Ayrton, sangat khas Jerman. Karl, Ayrton dan Gasendra itu darah Jermannya kental sekali. Jika mereka sudah bilang tidak, untuk ke ya itu butuh waktu yang cukup lama."
"Tapi papa cuma bisa lembek sama mama sih... Kayaknya semua pria di keturunan Pratomo itu bucin dengan istri dan pasangannya" senyum Zinnia.
"Sean juga bucin dengan mu, Zee."
Zinnia hanya tersenyum tipis. "Tapi dia tidak memiliki kepercayaan yang sama tingginya dengan ku Opa. Padahal hanya itu yang aku minta saat kami menikah. Kepercayaan, komunikasi, cinta dan kejujuran. Aku tidak minta harta bahkan aku tidak ambisius menjadi ratu Belgia. Aku bisa melayani dan menjalankan tugas sebagai istri Sean saja sudah bahagia. Jika rakyat Belgia suka dengan aku, itu suatu kebahagiaan tersendiri bagi Zee."
Arsyanendra tiba-tiba mulai rewel membuat Zinnia menoleh ke arah putranya.
"Lapar ya nak? Yuk sama mommy." Bara menyerahkan Arsya ke Zinnia.
__ADS_1
"Opa ke dalam dulu, Zee. Mau sarapan. Apa sarapan kamu dibawa kemari?" tanya Bara sambil berdiri.
"Boleh Opa, biar Jasmine yang bawa kemari. Maturnuwun Opa."
Bara mencium pucuk kepala cucunya. "Yang kuat ya Zee. Arsya adalah kekuatan kamu. Jangan khawatir, papa, mamamu, adik-adik mu dan kita semua sayang padamu Zee."
Mata hitam Zinnia tampak berkaca-kaca saat mendongakkan kepalanya ke arah Bara.
"Zee sangat beruntung memiliki keluarga yang mencintai Zee sedemikian rupa."
Bara memeluk Zinnia. "Be strong Zee. Setidaknya kamu tidak mengalami seperti apa yang dialami Nadira."
Zinnia mengangguk. "Nadira lebih menyeramkan Opa."
***
Zinnia menyusui Arsya sambil menatap wajah tampan putranya yang sangat mirip dengan Sean.
"Ya ampun Sya, mommy nggak dibagi sama sekali ih! Semuanya mirip Daddymu tapi mommy berharap sifat kamu berbeda dengan Daddy, lebih mirip Opa Karl atau mommy." Zinnia menowel hidung mancung Arsyanendra.
"Nona Zinnia..." suara Jasmine membuat Zinnia menoleh.
"Ya Jaz?"
"Ini sarapannya nona." Jasmine meletakkan nampan di depan meja yang terdapat di dalam gazebo itu.
"Daun katuk lagi?" keluh Zinnia dengan wajah memelas.
Jasmine hanya tertawa kecil. "Demi ASI pangeran Arsya."
"Oh Jaz, jangan panggil Arsya seperti itu."
"Tapi dia memang tampak aura pangerannya nona."
Zinnia menatap wajah putranya. "He's really a prince."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️