The Prince and I

The Prince and I
Hampir Saja


__ADS_3

Ruang Kerja Zinnia


Sean mendekati wajah Zinnia namun istrinya langsung menutup bibirnya dengan tangan dan menatap judes ke suaminya.


"Zee, kita masih menikah..."


Zinnia menggelengkan kepalanya. "No, Sean..." gumam Zinnia di balik tangannya.


"Ijab qobul dulu?"


Zinnia mengangguk.


"Tapi secara hukum kita masih menikah resmi, Zee." Sean mencium pipi Zinnia dan menjalar menuju lehernya hingga ke tulang selangka dan Zinnia bersyukur dirinya memakai baju kerah tinggi.


"Kenapa kamu harus pakai baju leher tinggi begini sih?" gerutu Sean.


"Sengaja..." Zinnia menatap Sean. "Dan kalau kamu tidak mau aku tonjok, menyingkrlah!" Wanita cantik itu mendorong Sean keras membuat pria itu terhuyung ke belakang.


"Duduk manis disitu Sean! Aku mau bekerja!" hardik Zinnia judes membuat Sean tersenyum.


"Oh, Zee. Judesmu dari kecil tidak hilang-hilang" gelak Sean gemas.


Zinnia melirik judes sedangkan Sean berjalan menuju sofa dan mengambil foto dengan Zinnia di belakangnya.


Sean mengirimkan foto itu ke ponsel Zinnia yang dia dapat nomornya dari Shinichi.


Zinnia mengambil ponselnya dan melihat foto yang dikirim oleh Sean.


We are together again.


Zinnia menatap Sean dengan tersenyum smirk.


Sudah waktunya kita bersama Zee. Aku ingin membangun keluarga yang seutuhnya.


"Sean! Kamu kan bisa ngomong! Bukan model main kirim pesan begini!" hardik Zinnia sebal. "Mengganggu konsentrasi kerja aku!"


Sean tertawa melihat istrinya sebal.


"Zee... Sepertinya ber*cinta seru nih! Aduuuhh!" Sean memegang kepalanya yang terkena gulungan kertas yang dilempar oleh Zinnia.


"Mulut dikondisikan!"


Sean menghampiri Zinnia. "Kamu tuh sudah berani melempar kertas ke suamimu?" ucap Sean sok galak.


"Membantingmu aku juga berani!" balas Zinnia galak.


"Oh Zee, paling enak itu membanting di kasur..."


Zinnia menatap judes. "Sean, biarkan aku memeriksa dulu pekerjaan aku!"


Sean mencium pipi istrinya sekilas. "Aku tunggu di kamarmu!" Pria itu melenggang menuju kamar pribadi Zinnia.

__ADS_1


***


Sean melihat banyaknya mainan anak-anak disana dan dia yakin, istrinya pasti membawa Arsya untuk beristirahat disini. Lengkapnya fasilitas yang ada di kamar ini membuat Sean bersyukur putra dan istrinya hidup nyaman.


Dilihatnya foto Zinnia bersama Arsya disana, tampak bahagia. Sean juga melihat ada foto pernikahan dirinya dengan Zinnia terdapat di belakang foto Arsya.


Sudah ada dua foto kita di ruang kerja dan kamar mu, Zee.


Sean mengambil foto saat pernikahannya dengan Zinnia empat tahun lalu lalu membawanya ke tempat tidur. Pria itu pun merebahkan tubuhnya sambil menatap foto itu dan memeluknya. Tak berapa lama, dirinya terlelap.


***


Zinnia memanggil Zaidan dan keduanya terlibat diskusi tentang pekerjaan. Meskipun dulu Zinnia berasal dari psikologi, bukan berarti dirinya tidak mampu memahami bidang bisnis yang baru.


Begitu dia mengetahui akan memegang sendiri perusahaan berasnya, Zinnia belajar banyak dari Oomnya Hoshi, Travis, Benji dan Bima. Zinnia mendapatkan gemblengan dari orang-orang hebat yang sudah berkecimpung di dunia bisnis dan hukum.


Zinnia tidak mau mengecewakan papa dan mamanya yang sudah menyiapkan warisan untuknya dan Arsya. Karena itulah dia belajar keras apalagi para Oomnya sudah melakukan banyak hal hingga sekian tahun produksi berasnya diakui kwalitasnya.


Usai membahas semuanya, Zaidan pun mengundurkan diri dan Zinnia menyelesaikan beberapa hal lalu mematikan MacBook nya lalu menuju ke kamar pribadinya.


Dilihatnya Sean tampak terlelap sambil memeluk pigura yang Zinnia tahu adalah berisikan foto pernikahan mereka. Hati Zinnia tersentuh melihat bagaimana wajah Sean tampak sedih dalam tidurnya.


Wanita itu duduk di sisi kosong tempat tidur dan memandang wajah suaminya. Tidak bisa dipungkiri, sekian tahun berpisah, rasa cinta itu masih terpatri di hati Zinnia.


Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Sean yang menurutnya bertambahnya usia membuatnya semakin tampan..


"Kalau mau pegang, pegang saja Zee..." gumam Sean membuat Zinnia terkejut.


"Kok bangun...?"



Ngagetin aja lu bang...


Zinnia menarik tangannya namun oleh Sean ditariknya membuat tubuhnya terjatuh diatas tubuh suaminya.


"Hello gorgeous..." senyum Sean sambil mengusap wajah cantik istrinya. "Entah sudah berapa malam aku merindukan wajah ini, merindukan harum ini... Tiga tahun lebih aku merindukan istriku. Dan setelah kesempatan itu datang, aku tidak akan melepaskannya lagi..."


Mata hitam Zinnia mengerjap-ngerjap bingung. "Sean..."


"Apa kamu tahu, ketika papamu memberitahukan dimana kamu, aku bagaikan mendapatkan lotere satu milyar dollar. Melihat wajah papamu memberikan ijin untuk menemui mu, adalah hari yang terindah bagiku. Masalah kamu mau menghajarku, aku pikir belakangan, yang penting aku bertemu dengan mu."


Jempol tangan Sean mengusap pipi mulus istrinya dengan penuh perasaan.


"Kembalilah padaku Zee... Aku tahu kamu masih mencintaiku karena jika kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku, tidak mungkin kamu mau dipeluk dan dicium olehku. Aku tahu kamu Zee..."


Zinnia berusaha bangun tapi Sean langsung membalik tubuhnya membuat istrinya berada di bawah kungkungannya.


"Aku serius Zee. Kita seperti dulu lagi. Mengarungi biduk rumah tangga lagi, aku, kamu Arsya dan calon adiknya Arsya..."


"Calon adiknya Arsya?" Zinnia menatap Sean kesal.

__ADS_1


"Iyalah! Aku sudah kehilangan fase kamu hamil, melahirkan dan membesarkan Arsya. Aku tidak mau kehilangan itu lagi untuk adiknya Arsya. Apalagi, kegiatan membuat adik Arsya kan kegiatan paling mengenakkan Zee" seringai Sean membuat Zinnia melengos.


"Dasar Meshum!"


"Hei, tapi kamu juga menikmatinya kan Zee? Aku tidak pernah lupa saat kamu mencapai puncaknya selalu memanggil namaku..." goda Sean yang menikmati wajah memerah Zinnia.


"Sean..." desis Zinnia.


"Ya ampun Zee... kamu sudah bukan ABG tapi kenapa wajahmu masih memerah aku goda begitu?" kekeh Sean.


"Ayo pulang. Kasihan Arsya di rumah.." Zinnia mencoba bangun tapi tubuh Sean menindih tubuhnya.


"Kita nikmati dulu Zee... Mumpung tidak ada Arsya..." ucap Sean serak.


"Sean..."


"Ssshhh... " Sean mencium bibir istrinya dan tak lama keduanya pun seperti gulungan api yang panas. Sean sudah melepaskan atasan Zinnia dan menampilkan dua bukit kembarnya yang tertutup br@ hitam.


"Apa kamu memberikan ASI eksklusif ke Arsya?" tanya Sean sambil melepaskan kemejanya.


"Sampai Arsya berusia dua tahun." Mata hitam Zinnia tampak sayu melihat tubuh suaminya yang semakin berotot dan sangat dihapalnya.


"Apa kamu tidak takut menjadi jelek?"


"Apakah punyaku jadi jelek?" balas Zinnia dengan suara serak.


"Kita lihat dulu..." Sean melepaskan pengaitnya dan mata birunya berkabut melihat milik Zinnia yang sudah terlepas dari penutupnya. "Aku rasa agak sedikit besar ya Zee tapi bentuknya tambah indah..."


"Sean!" hardik Zinnia.


Sean tertawa kecil lalu mencium bibir Zinnia lagi. "Aku suka semuanya darimu..."


Zinnia merangkul leher Sean dan membalas pagu*tannya. Keduanya saling menyalurkan perasaan masing-masing dan ketika Sean hendak membuka celana panjang Zinnia, suara ponsel istrinya berbunyi.


Keduanya menghentikan kegiatannya dan saling berpandangan.


"Kenapa Zee?" tanya Sean.


"Itu ringtone Jasmine..." ucap Zinnia dengan nafas tersengal.


"Memang kenapa kalau Jasmine?"


"Berarti Arsya mencariku."


Sean menggeram kesal.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2