The Prince and I

The Prince and I
Kelahiran Arsyanendra


__ADS_3

PRC Group Hospital Jakarta


Ayrton, Mariana, Garvita dan pengawalnya Gabriel, tiba di rumah sakit selepas isya. Dan seperti biasa, Ayrton membawa sedikit pengawal tapi tetap yang hanya ikut dengannya cuma Gabriel karena untuk mengawasi putri bungsunya yang manja.


Gasendra dan Arabella yang menemani Zinnia, langsung menyambut keluarga Emir itu. Garvita dan Arabella langsung keluar dari ruang rawat Zinnia untuk berghibah dengan dikawal Gabriel.


"Bagaimana rasanya Zee? Sudah mulai kontraksi?" tanya Mariana lembut sambil mengusap kepala putrinya.


"Mulai sering ini ma... Timbul tenggelam tidak nyaman" senyum Zinnia.


"Mau dibawa jalan-jalan? Biar cepat lancar?" ajak Mariana. "Sama mama yuk."


"Aku temani mbak." Suara Anandhita terdengar di pintu membuat semuanya menoleh.


"Dhita..." senyum Ayrton sambil memeluk dan mencium pipi adiknya.


"Mas Ayrton apa kabar?" Anandhita memegang pipi kakak sepupunya. "Kamu nggak makan apa? Kok kurus?"


"Kamu kira mbak mu nggak masak apa?" sungut Mariana sambil tersenyum dan menghampiri iparnya.


"Habis, mas Ayrton kuyus mbak" gelak Anandhita sambil memeluk Mariana. "Kebanyakan pikiran sih..."


"Omeli saja terus Dhit!" cebik Ayrton.


Mariana dan Anandhita tertawa. "Yuk Zee, kita jalan-jalan. Biar si boy lancar."


"Iya Tante. Aku bosan di kamar, biar dik Gasendra sama papa disini. Dari tadi dik Sendra dan dik Ara yang gantian mengusap punggung aku." Zinnia memegang tangan Anandhita.


"May, ada pengawal di luar buat Nemani kalian" ucap Ayrton ke Mariana.


"Iya Ton. Kami jalan - jalan dulu."


Setelah ketiga wanita itu keluar, Ayrton dan Gasendra duduk di sofa kamar Zinnia.


"Mbak Zee sebenarnya kangen Sean, Pa..." ucap Gasendra ke Ayrton.


"Papa juga tahu, Sendra apalagi hamil tidak ada suami yang mendampingi itu rasanya nyesek. Tapi papa masih marah sama anak itu!"


"Aku juga pa. Opa gimana?" tanya Gasendra karena setahunya Opa Karl hanya diam saja berbeda dengan Oma Sabine yang langsung nyap-nyap.


"Opamu marah, Sendra. Dan Opamu yang meminta agar Sean tidak boleh tahu kalau punya anak sama Zee!"


"Opa Karl itu kayaknya Alus tapi nampol benar!"


"Siapa sih yang nggak marah melihat cucunya diperlakukan seperti itu. Apalagi sejak kecil, mbak mu selalu dilindungi oleh kami bahkan sejak Opa buyutmu masih ada..."


"Hidupnya mbak Zee benar-benar ya Pa. Dari kecil sudah ditolak oleh ayah kandungnya, nyaris tidak mendapatkan haknya hanya karena keegoisan orang-orang dewasa itu."


"Kita juga egois Sendra, memisahkan Zee dengan Sean tapi untuk kali ini alasannya kuat. Kita melindungi nyawa Zee." Ayrton menatap wajah putranya yang merupakan perpaduan wajahnya dan wajah Karl Schumacher.

__ADS_1


"Iya pa. Kata mbak Leia, bahkan pembunuh bayaran itu sampai mengejar ke New Zealand. Gila!"


"Yang papa dengar saat Pangeran Henry datang ke Belgia, Sean tampak lebih dingin dari sebelumnya."


Gasendra hanya mengangguk. "Mereka berdua sama-sama sulit."


Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dan tampak Gabriel mendatangi keduanya.


"Maaf tuanku Emir, nona Zinnia akan melahirkan!" ucap Gabriel dengan nafas terengah-engah.


"Haaaaahhh?" Ayrton dan Gasendra bergegas menuju ruang bersalin bersama dengan Gabriel sedangkan dua pengawal diperintahkan menjaga kamar Zinnia.


***


Satu jam kemudian Dokter Kartika dan Anandhita keluar kamar bersalin menemui keluarga Zinnia.


"Mas Ega di dalam kan Dhit?" tanya Ayrton yang bersyukur kakak sepupunya Pandega Yustiono ada di Jakarta. Ega, putra Danisha dan Iwan itu adalah seorang dokter anak.


"Mas Ega di dalam memeriksa si boy sama mbak Mariana" jawab Anandhita.


Tadi Zinnia meminta Mariana yang menemani dirinya saat melahirkan. Putrinya merasa jauh lebih nyaman saat orang - orang terkasihnya ada bersama dengan dirinya dalam proses melahirkan.


"Alhamdulillah, Mr Schumacher. Cucu anda lahir normal, berat 3,8 kg dan panjang 52cm. Semua perfect, sehat Dan rambutnya pirang sangat bule. Kata Mrs Schumacher mirip papanya." Dokter Kartika menunjukkan foto putra Zinnia.



Baby Arsyanendra Al Jordan Schumacher


"Belum Mr Schumacher. Tadi kata dokter Ega, lebih baik Opanya yang memberikan adzan dan Iqamah" senyum Dokter Kartika.


"Katanya mbak Zee sudah mempersiapkan nama" ucap Gasendra.


"Siapa?" Ayrton menatap putranya.


"Arsyanendra Al Jordan Schumacher."


"Tanpa Léopold?" Ayrton mendelik tidak percaya.


Gasendra mengangguk. "Tanpa Léopold."


Ayrton mengusap wajahnya.


"Mas Ayrton, ayo masuk. Zee sudah dibersihkan pasti. Mas bacain ya adzan dan Iqamah nya." Anandhita merangkul lengan Ayrton yang masih kaget mendengar Zinnia tidak memasang nama Léopold di nama putranya.


***


Baby Arsya jadi rebutan para Oma buyut, Oma dan para Tante yang datang membesuk. Apalagi trio kampret yang langsung heboh dengan gayanya.


"Yakin aku, Arsya bakalan jadi anak yang nurut sama Oom Shinichi bukan Kudo soalnya kemarin dikasih tahu, paham dia!" ucap Shinichi dengan super pede.

__ADS_1


"Gak gitu cumiii, karena memang belum wayahe brojol!" balas Radyta sebal.


"Eh beneran Rad, manut lho sama aku. Ya nggak Sya? Besok kita jalan-jalan maem gelato ya sesuai dengan janji Oom Shinichi" cengir cowok blasteran itu sok imut.


"Astagaaa! Kapan Oom Hideo datang sih? Biar bawa pulang turunannya ini..." keluh Gasendra kesal.


"Lucu ya Arsya, rambutnya mirip ma warna rambut kita berdua" celetuk Gemini yang gemas tapi belum berani menggendong, hanya towel-towel pipi keponakannya.


"Mbak, kalau aku gendong Arsya, tar dikira anakku lho! Kan mirip" gelak Gemintang. "Mana matanya masih belum jelas hijau atau biru ini warnanya."


"Kayaknya sih biru" sahut Garvita. "Ini benar-benar bang Sean plek ketiplek! Mbak Zee nggak dikasih sama sekali cuma bagian bawa sembilan bulan!"


"Iya ih! Gak adil banget sih! Eh tapi mbak Zee nggak ngidam kan ya?" Juliet menoleh ke arah kakaknya yang dari tadi hanya menyimak kehebohan adik-adiknya. Jasmine, pengawal Zinnia hanya memegang pelipisnya, pusing dengan keributan saudara nonanya.


"Kayaknya yang ngidam Bang Sean deh, Jules" sahut Valentino sambil bermain ponselnya.


"Kok tahu?" tanya Juliet.


"Soalnya waktu kita di Belgia, lihat bang Sean berapa kali muntah-muntah dan itu kan terjadi pas mbak Zee awal-awal hamil" sambung Arkananta.


"Mbak Zeee... ini aku bawain cream sup kaepci sama puding coklatnya sesuai dengan permintaan!" suara cempreng Arabella yang datang ke ruang VVIP itu membuat semua orang mendelik tajam.


"Suara dikondisikan Kunti! Arsya lagi bobok! Kalau nangis, elu tanggung jawab!" hardik Arkananta ke Arabella.


"Kok Kunti sih? Arabella, mas Arka sayangnya Bella..." cengir Arabella tanpa dosa. "Lagian jangan gitu dong! Bella nggak tanggung jawab kalau nanti malam mas Arka bobok ngimpi ketemu mbak Kunti beneran lho!"


"Iyeee, mbak Kuntinya ujudnya kayak kamu!" balas Arka judes.


Wajah Arabella langsung memerah menahan tangis.


"Nah lho dia nangis, Ka" ujar Valentino.


Tak lama Arabella pun menangis kencang diikuti oleh Arsya yang terkejut dan ikut menangis.


"Nah lhooo!" teriak semua orang disana. Zinnia langsung meminta tolong Jasmine untuk membawa Arsya untuk digendongnya.


"Ini ada apa kok Ara sama Arsya sama-sama nangis?" bentak Arimbi.


"Arka tuuuuhhh!" ucap semua sepupunya.


"Lucknut lu pada!" hardik Arkananta kesal karena sudah pasti Arimbi bakalan menjewer kupingnya.


***


Yuhuuuu Up Sore


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2