The Prince and I

The Prince and I
Runaway


__ADS_3

Istana Kensington London Inggris


Gasendra menatap layar ponselnya tidak percaya jika suami kakaknya sekarang ada di rumah Arjuna McCloud. Bahaya! Harus pulang ke Indonesia segera!


Tak lama Ayrton pun menelponnya.


"Assalamualaikum Papa" sapa Gasendra.


"Wa'alaikum salam. Sendra, bisa kamu ke bandara Heathrow dua jam lagi? Pesawat kita mendarat satu jam lagi."


"Papa kirim tadi pagi?" tanya Gasendra.


"Karena semalam Luke menemukan catatan di kamar Natalia kalau dia mencari pembunuh bayaran untuk membunuh Zee. Papa khawatir orang itu sudah sampai di London."


"Pa... Sean ada di London."


Ayrton terdiam. "Di rumah siapa?"


"Opa Arjuna. Eagle yang memberitahukan aku."


"Bilang sama kakakmu dan putri Medeline. Kalian harus terbang ke Jakarta, secepatnya!"


***


Gasendra langsung masuk ke kamar tidur kakaknya yang sedang mengobrol dengan putri Medeline yang membawa pangeran Richard dalam pangkuannya.


Remaja jangkung itu menjelaskan apa yang terjadi membuat Zinnia dan Medeline terkejut.


"Kamu harus pergi Zee. Meskipun Kensington aman, dan orang tidak berani mendekati tapi posisi Sean masih Pangeran Belgia dan berteman baik dengan Henry. Bukan tidak mungkin dia bisa kemari." Medeline menatap Zinnia. "Apalagi ada pembunuh bayaran. Duh, serem banget!"


"Bagaimana kita bisa ke Heathrow tanpa terlihat?" tanya Jasmine.


"Serahkan padaku!" Medeline tersenyum smirk.


***


Bandara Heathrow London


Kunjungan mendadak putri Medeline membuat banyak wartawan heboh untuk mengetahui apa yang dilakukan putri cantik itu. Disaat para wartawan meliput putri Inggris itu, mobil Range Rover milik pangeran Henry melesat menuju sebuah hanggar tempat pesawat milik keluarga Al Jordan berada. Pesawat yang lebih kecil daripada Gulfstream dengan brand Stratos yang mesinnya memakai mesin buatan Giandra Otomotif Co.



Ketiganya langsung masuk ke dalam pesawat kecil itu yang hanya bisa membawa empat penumpang. Tiga koper besar milik ketiganya pun masuk ke dalam bagasi pesawat dan sepuluh menit kemudian pesawat itu bersiap take off.


Tanpa mereka sadari, seorang pengawal Sean melihatnya dan segera mengirimkan pesan ke suami Zinnia itu.


Sean yang sedang berada diluar kediaman McCloud untuk kembali ke Belgia, bergegas menuju Heathrow bersama dengan sopir yang disewanya. Perjalanan dari rumah Arjuna ke Heathrow membutuhkan waktu dua puluh menit.


Setibanya di Heathrow, Sean bertemu dengan Putri Medeline yang hendak pulang.


"Princess!" panggil Sean saat turun dari mobilnya melihat Medeline hendak naik Range Rover nya.


"Sean?! What a surprise!" senyum Medeline.

__ADS_1


"Stop the chit chat. Where's Zee? Dimana istriku?" tanya Sean dengan nafas memburu.


Medeline memberikan kode ke Sean untuk mengikuti dirinya ke sebuah ruang VIP yang tidak dilihat oleh wartawan maupun paparazi.


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Medeline tenang.


"Dimana istriku?"


"Istri?! Apakah kamu suami yang baik yang membela istrinya?" sindir Medeline.


"Please, Medeline. Aku sudah cukup lelah kesana kemari mencari Zee di keluarga nya di Dubai, New York dan sekarang London. Mereka tidak tahu ada dimana Zee."


"Zee di istanaku, di Kensington." Medeline menatap Sean tenang. "Tapi dia sudah pergi lagi karena iparmu sudah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh istrimu! Lihat Sean, betapa jahatnya keluargamu! Kakakmu ingin memiliki istrimu, istrinya ingin membunuh Zee. What kind of family is that?"


Sean terperangah. "Astaghfirullah!"


"Karena papa mertua mu sudah mendengar, maka Zee dia terbangkan pergi dari London."


"Jadi selama ini, Zee berada di London?" Sean menatap Medeline dengan perasaan kesal.


"Ohya, dengan perlindungan penuh dariku!" jawab Medeline dingin.


"Sekarang Zee kemana?"


"Kalau kamu mau tahu, tanyalah pada ayah mertuamu! Jangan kamu tanya keluarga Zee lainnya karena mereka tidak akan memberitahukan kamu meskipun mereka tahu!"


Sean mengusap wajahnya kasar. "Ya Allah, kamu kemana Zee?"


***


"Apa sudah tahu siapa calon pembunuh Zee, Ka?" tanya Arjuna McCloud di panggilan video bersama trio kampret. Eagle dan Sekar pun berada di ruang komputer milik Opa jangkung itu.


"V yang menemukan namanya. Saul Amos, mantan tentara Israel yang menjadi pembunuh bayaran. Dia sangat licin Opa." Arka menunjukkan foto Saul Amos.


"Ada kemungkinan dia juga menyamar dan hasil recognition wajah, sudah mendarat di Heathrow sepuluh menit lalu." Valentino melaporkan ke Opanya.


"Zee?"


"Sudah take off setengah jam yang lalu. Dan Opa, bang Sean tahu mbak Zee di London. Dia bertemu dengan putri Medeline, lagi konfrontir" sahut Shinichi.


"Kasih foto yang diduga hendak membunuh Zee."


Valentino membeku. "Dad?"


Hoshi masuk ke dalam percakapan itu dan tampak dirinya bersama Bima dan Aji.


"Kamu dimana Hoshi?" tanya Arjuna.


"Perjalanan ke London. Satu jam lagi sampai, Oom Junjun. V, kasih ke Daddy gambar si Salome" pinta Hoshi.


"Saul, Dad!"


"Whatever deh!"

__ADS_1


Valentino melengos kesal ke Hoshi. Bukan hal yang baru jika ayahnya hobi memberikan nama aneh-aneh. Remaja tampan itu sudah tahu hobi Daddynya menurun dari Opa buyut dan Opanya, Eiji dan Levi.


"Ji, coba elu bikin face recognition perkiraan bagaimana wajahnya kalau nyamar" pinta Hoshi ke Aji yang merupakan CEO IT terkenal.


"Aku bisa buat 100 macam model wajahnya dan siapa satu bisa nyangkut salah satunya." Aji menatap tenang ke Hoshi.


"Bagus!" Hoshi menoleh ke arah Bima. "Elu kenapa Werkudara?"


Bima menatap sendu ke Hoshi. "Ternyata aku kangen anak lanang ku. ARKAAAA, papa kangen ndul!"


Arka melongo melihat kelebayan papanya. "Oh Tuhan ku..."


***


Skandinavia Regional


Luke mendekati Natalia yang sedang menikmati makan siang.


"Boleh saya duduk disini?" tanya Luke ramah dengan bahasa Jerman fasih.


"Tentu saja. Saya sudah melihat Anda dari dua hari lalu. Anda jago juga menembak." Natalia tersenyum.


Dua hari sebelumnya memang diadakan lomba menembak bagi para tamu hotel dan Luke mengikutinya untuk mengasah kemampuannya. Natalia yang ikut menyaksikan pun melihat bagaimana Luke menjadi juara pertama lomba menembak sasaran ala olimpiade.


"Terimakasih karena itu hanya hobi saja."


"Apakah kamu orang Jepang?" tanya Natalia.


Luke menatap Natalia yang tampaknya tidak mengenali dirinya padahal saat pesta pernikahan Zinnia, dia ada.


"Apakah kamu tidak mengenali aku, Natalia?" seringai Luke.


"Apakah harus?" Natalia menatap datar ke Luke. Entah kenapa hawa dingin terasa di tengkuk wanita itu.


Luke mencondongkan tubuhnya dan berbisik di sisi telinga Natalia.


"Aku adalah sepupu Zinnia of Léopold yang hendak kamu bunuh" ucap Luke dingin membuat tubuh Natalia membeku.


Wajah Natalia tampak memucat dan mata birunya menatap Luke dengan penuh ketakutan. "Bo...bohong!" bisiknya.


"Kamu sudah menyewa Saul Amos kan? Pembunuh bayaran terkenal di Eropa. Jangan dikira aku tidak tahu Natalia. Dan kamu jangan bermain-main dengan nyawa keluargaku karena bagi kami, nyawa dibayar dengan nyawa. Ingat Natalia, kamu berurusan dengan keluarga yang salah" seringai Luke yang entah kenapa Natalia merasa nyawanya di ujung tanduk.



Bang!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2