The Prince and I

The Prince and I
Terjebak dan Dijebak


__ADS_3

Apartemen Sean dan Zinnia Brussels Belgia


Pagi ini Zinnia sudah bersiap bersama dengan sekretaris dan Jasmine. Menurut jadwal acara, Zinnia akan menemui para keturunan korban perang dunia kedua di Plantin Moretus Museum setelah dirinya mengunjungi Bunker War Museum perang dunia kedua.


Sean menatap istrinya yang pagi itu memakai baju tertutup bewarna coklat dan sepatu boot kesayangannya.



"Gorgeous.." bisik Sean sambil mencium pipi Zinnia.


"Pantas kan aku pakai ini? Maksud aku, pantas kan?" tanya Zinnia.


"Pas sayang. Tidak terlalu terbuka dan cocok untukmu."


"Aku pergi dulu Sean. Kamu juga hati-hati perginya."


Sean mencium bibir Zinnia dan keduanya keluar dari kamar tidur untuk menemui sekretaris masing-masing.


Sean mencium Zinnia lagi sebelum masuk ke dalam mobil yang akan membawanya bekerja. Zinnia dan Jasmine pun masuk ke dalam Range Rover yang akan membawa mereka ke Antwerp.


***


"Jadi nanti ke dari museum ke museum?" tanya Zinnia ke sekretarisnya.


"Iya tuan putri. Kita dari museum ke museum. Apa tuan putri keberatan?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali. Aku malah suka museum."


"Berapa lama perjalanan dari Brussels ke Antwerp?" tanya Jasmine ke sopir istana.


"Sekitar 1 jam 15 menit. Kenapa Miss Jasmine?" Sopir itu menoleh ke arah pengawal Zinnia.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu." Jasmine lalu mengirimkan pesan ke Zinnia.


📩 Jaz Al Buchori : Fiat Toro mengikuti lagi nona.


Zinnia menatap pengawalnya melalui kaca spion.


📩 Princess Zinnia : Kita tunggu saja maunya apa.


📩 Jaz Al Buchori : saya tidak akan jauh-jauh dari anda.


Zinnia menatap pengawalnya yang sedang menoleh ke belakang. Entah kenapa keduanya merasa tidak enak.


***


Antwerp Belgia


Sekretaris kerajaan mendapatkan permintaan perubahan jadwal karena para keturunan korban perang dunia kedua itu meminta untuk bertemu dulu sebelum Zinnia berkunjung ke museum Bunker.


Zinnia pun menyanggupi untuk bertemu dengan mereka di Plantin-Moretus Museum. Mereka akan bertemu di taman belakang museum.


Plantin-Moretus Museum


__ADS_1


Zinnia bertemu dengan banyak orang disana dan saling bertukar cerita tentang apa yang terjadi saat perang dunia kedua. Zinnia yang sudah banyak mendapatkan cerita dari sang mama saat Eyang Hadiyanto bertahan dari serangan agresi Belanda dan juga cerita dari sang papa tentang Eyang Arga Pratomo yang membantu para pejuang Indonesia bersama ayahnya dari balik tembok istana Jogjakarta bersama dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.


Para keturunan itu pun bercerita saat Jerman menduduki Antwerp dan bagaimana banyak buku dan karya sastra serta seni lainnya yang dijarah Jerman selain pembangunan penjara bagi para Yahudi dan tentara Belgia.


Zinnia tampak perhatian dengan semua cerita karena baginya adalah sejarah yang harus diingat baik ataupun buruknya agar menjadi pelajaran di kemudian hari.


Setelah hampir satu setengah jam saling bertukar cerita dan bersyukur mereka hidup di jaman yang damai, Zinnia pun berpamitan dengan semua orang disana untuk mengunjungi Bunker Museum.


***


Bunker Museum



Zinnia dan rombongan pun tiba di Bunker Museum ( Wilrijk ) dan mulai mendengarkan penjelasan dari kepala museum. Wanita itu tampak perhatian dengan semua penjelasan dan sesekali menanyakan sesuatu jika dia tidak jelas.


Jasmine selalu tidak jauh-jauh dari nonanya. Entah kenapa dirinya kali ini membawa peralatan yang tidak pernah dibawanya. Setelah mendengarkan semua penjelasan, Zinnia pun berjalan melihat-lihat isi museum itu bersama dengan Jasmine.


Saat keduanya sedang memperhatikan sebuah ruangan yang berada dua lantai dari permukaan tanah, Zinnia dan Jasmine merasa didorong oleh seseorang dan keduanya terjebak di sebuah kamar yang ditutup dengan pintu besi tebal.


"Heeeiii!" teriak Zinnia dan Jasmine. Keduanya menggedor pintu yang tebal itu tapi tidak ads respon.


"Nona, kita terjebak disini!" seru Jasmine.


Zinnia segera mengambil ponselnya tapi sinyal tidak ada, begitu dengan Jasmine.


"Sial! Apa kamu tahu siapa yang mendorong kita kemari?"


"Tahu nona."


"Salah satu dayang putri Natalia yang disusupkan ke dalam rombongan kita."


"Kenapa kamu tidak bilang?"


"Menurut sekretaris, itu memang perintah ibu suri agar menemani anda, nona. Saya tidak ingin nama anda menjadi jelek lagi."


Zinnia mengumpat dengan kesal. Mata hitamnya mencoba mencari celah agar bisa menghubungi suaminya atau siapapun.


***


Sekretaris Zinnia kebingungan mencari putri dan pengawal nya ketika melihat Zinnia datang menghampirinya.


"Ayo, kita pulang. Aku harus ke bandara" pinta Zinnia.


"Tapi tuan putri, anda masih ada acara lagi di Antwerp." Sekretaris itu meminta agar Zinnia mematuhinya.


"Antarkan aku ke bandara Brussels! Aku ditunggu kekasih ku!" bentak Zinnia yang membuat sekretaris itu terkejut.


Putri Zinnia tidak pernah seperti ini. Apakah ada sesuatu yang membuatnya kesal?


"Tuan putri baik-baik saja? Dimana nona Jasmine?" tanya Sekretaris itu lagi.


"Jasmine aku suruh pulang. Sekarang batalkan semua agenda hingga seminggu ke depan! Aku ingin berlibur lagi!" Zinnia pun berjalan menuju mobilnya diikuti oleh sekretarisnya yang masih kebingungan dengan perubahan mood sang putri.


"Kemana kita tuan putri?" tanya sopir kerajaan.

__ADS_1


"Bandara!"


Sopir kerajaan itu pun merasa aneh tapi tidak bisa berkata apapun. Tampaknya putri Zinnia sedang tidak baik hatinya.


***


Bunker Museum Antwerp


Jasmine membuka tas selempang nya dan mengeluarkan coklat dan dua botol air mineral.


"Nona, kita tidak tahu akan terjebak sampai kapan dan saya minta anda berhemat air minum."


Zinnia mengangguk dan mulai memeriksa bunker itu. Tidak mungkin tidak ada air di sini.


"Jaz! Ada keran air!" teriak Zinnia dan mencoba membuka keran itu. Air mengalir disana membuat kedua wanita itu bersyukur masih ada air.


"Nona, ada kamar mandi tapi tampaknya sudah berpuluh-puluh tahun tidak terpakai" ucap Jasmine saat membuka sebuah pintu.


"Setidaknya kita masih bisa survive sampai bisa keluar dari sini." Zinnia menatap langit-langit yang tertutup beton tebal. "Pantas sinyal tidak bisa tembus. Betonnya tebal sekali!"


Jasmine mengutak-atik sebuah ponsel satelit yang diberikan oleh Gasendra saat dirinya dan Garvita berjalan - jalan ke Padang pasir. Ponsel itu berguna saat mereka berdua terjebak di badai pasir.


"Sial! Sinyal pun susah masuk!" umpat Jasmine.


"Jaz!"


"Ya nona?"


"Ada sinar diatas! Sepertinya jika kita bisa memanjat, bisa mendapatkan sinyal."


Jasmine mendongak. "Kita panjat tebing?" seringai pengawal itu.


"Bajuku tidak cocok Jaz!" sungut Zinnia.


***


Bandara Brussels Belgia


Mobil kerajaan itu pun tiba di bandara dan langsung menuju runway pribadi milik keluarga kerajaan yang membuat sekretaris dan sopir bingung karena Zinnia tidak pernah meminta kemari tanpa Sean disisinya.


"Aku liburan dulu. Cancel semua acara seminggu ke depan." Zinnia pun turun menuju pesawat pribadi kerajaan dan kedua pegawai Zinnia melongo tidak percaya melihat siapa yang menyambut wanita cantik itu.


"Yang Mulia Stefanus?"


Stefanus menyambut Zinnia yang naik ke dalam pesawatnya dan berciuman mesra lalu keduanya masuk ke dalam pesawat.


"Mereka berselingkuh?"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift comment

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2