
Indramayu, Jawa Barat... Present Day
Sean menatap Zee dengan tatapan sendu. "Kamu... Itu anakku kan Zee? Anakku kan!" Sean nyaris berteriak ke arah wanita cantik yang sekarang pasang badan menghalangi dirinya masuk ke dalam rumah.
"Seperti yang aku bilang. Dia anakku, bukan anakmu!" Zinnia menatap dingin ke Sean. "Bukannya kamu tidak mengakui aku sebagai istrimu?"
Sean rasanya ingin berteriak tapi mata birunya menatap wajah polos bermata biru sama dengan dirinya.
"Minggir Zee!"
"Tidak akan, Sean! Jangan membuat aku membantingmu!" bentak Zinnia galak. "Balik sana ke Belgia! Cari istri yang sesuai dengan protokoler istana mu! Tapi sebelumya, ceraikan aku dulu!"
"Zee..." Sean benar-benar frustasi menghadapi Zinnia. Dia tahu istrinya galak, judes, keras kepala tapi ini beyond dari biasanya. "Zee... maafkan aku... Maafkan aku."
"Mommy..." suara anak kecil membuat Zinnia tersentak. Putranya tidak pernah melihat dirinya galak seperti tadi. Wanita itu langsung berbalik.
Arsyanendra Al Jordan Schumacher
"Arsya, kenapa? Maaf, mommy membuat Arsya takut ya?" Zinnia langsung menggendong putranya.
Sean yang masih berdiri di depan pintu, terpaku dengan pemandangan di hadapannya. "Si ... siapa namanya Zee?"
"Apa urusanmu?" Zinnia menatap galak sedangkan putranya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ibunya.
"Please Zee..."
"Arsyanendra Al Jordan Schumacher."
"Kamu bahkan tidak memberikan nama belakangku?" Sean tampak terluka mendengar nama anak itu.
"Untuk apa? Kamu kan tidak memiliki kepentingan lagi denganku, Sean. Aku harap kamu segera pergi. Kamu tahu kan pintu gerbangnya?" Zinnia pun masuk ke dalam rumah sembari menggendong Arsya tanpa memperdulikan Sean yang menangis di pintu utama.
***
Zinnia masuk ke dalam kamar Arsyanendra, kamar khas anak kecil yang penuh dengan pernak pernik karakter kartun Toy Story. Ya, putranya fans berat Woody dan Buzz Light-year gara-gara diajak nonton oleh Oom Shinichinya.
"Mommy..."
"Ya sayang?"
"Tadi itu capa?" tanya Arsya dengan mata birunya yang polos.
"Ada orang mau lihat sawah" jawab Zinnia menahan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Mau beli belas ya?"
"Iya sayang." Zinnia mencium kening Arsyanendra. "Sudah Arsya bobok dulu ya. Nanti kita bikin roti." Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu siang dan Zinnia selalu menerapkan jam tidur siang untuk Arsya pada waktu tersebut.
"Mommy..."
"Ya?"
"Oom tadi nangis..." Zinnia tercekat. Tadi dia dan Sean memang menggunakan bahasa Jerman, bahasa yang Arsyanendra belum paham. Putranya lebih paham bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris.
"Arsya salah lihat kali" senyum Zinnia mencoba meredam degup jantungnya.
"No mommy. Oom tadi nangis sepelti Oom V nangis lihat gajah mati di tv." Zinnia melongo. Adik sepupunya Valentino, memang penyayang binatang dan saat mereka kumpul di Jakarta, cucu Levi Reeves itu nonton Animal Planet dan ada adegan seekor gajah mati karena dibunuh pemburu. Valentino langsung nangis tanpa malu membuat semua orang bingung. Ketika sang ibu Rina bertanya ada apa. Valentino menjawab sambil nangis kejer. "Gajahnya mati." Sontak semua keluarga hanya melengos kesal.
"Ya ampun V ! Kamu itu sudah sarjana kok ya masih nangis gara-gara gajah mati! Norak!" hardik Hoshi kesal.
"Daddy nggak tahu kalau perasaan V tuh selutip!"
"Sensitive, bambaaannggg!" teriak Levi gemas dengan cucu tampannya.
"Ya itu Opa."
"Karepmu V!"
Zinnia tersenyum mengingat kejadian itu yang membuat Arsyanendra tertawa bahagia melihat Oomnya nangis kejer sama dengan dirinya.
"Semuanya!" seru Arsyanendra.
"Ya sudah besok Sabtu kita keliling ke semua rumah Opa."
Setengah jam kemudian Arsyanendra pun terlelap dan Zinnia keluar dari kamarnya dan menutup pintunya pelan.
"Nyonya Zee" panggil bik Minah.
"Ya bik."
"Itu tamunya masih di depan dan duduk di teras. Kayaknya sedang menangis. Apa itu papanya mas Arsya?" kepo pembantunya.
"Jangan kepo bik. Kan pak Ayrton sudah bilang apa?" senyum Zinnia yang tampaknya manis tapi mengintimidasi.
"Eh iya nyonya. Maafkan saya." Bik Minah salah tingkah. Ayrton, papa Zinnia sudah mewanti-wanti ke bik Minah agar tidak kepo urusan pribadi Putri dan cucunya.
"Sudah, bibik ke dalam saja. Tamunya biar saya yang urus."
"Baik nyonya. Tadi sudah saya buatkan teh."
__ADS_1
Zinnia mengangguk lalu berjalan menuju teras rumahnya. Tampak Sean yang hari ini memakai suit hitam-hitam membungkukkan tubuhnya dan wajahnya tertutup kedua tangannya. Zinnia bisa melihat tubuh pria itu bergetar karena menangis.
Wanita itu hanya bersedekap di kusen pintu memandangi tubuh tegap yang sekarang tampak rapuh.
"Maafkan aku Zee... Maafkan aku..." ucap Sean berulang kali.
"Sudah aku maafkan Sean..." ucap Zinnia dingin yang membuat Sean mendongakkan wajahnya. Zinnia bisa melihat mata biru pria itu basah dan air mata tampak mengalir di pipinya.
"Zee..."
"Sekarang, pulanglah."
"Zee! Tega kamu mengusir aku?" ucap Sean lemas.
"Lebih tega siapa sekarang? Aku atau kamu?" balas Zinnia dengan mata berkilat marah. "Aku sudah berusaha sabar selama disana, aku sudah berusaha membuka matamu, aku sudah berusaha memberitahukan yang sebenarnya... Tapi apa Sean? Apa? Kamu sama sekali tidak membela aku! Sama sekali! Jadi untuk apa aku..."
Sean langsung memeluknya. "Maafkan aku Zee. Aku bukan suami yang baik... Maafkan aku."
Zinnia berusaha melepaskan diri dari pelukan Sean tapi pria itu semakin erat memeluknya. "Lepaskan aku Sean!"
"Tidak akan aku lepaskan Zee!" balas Sean. "Kumohon, jangan usir aku."
Zinnia hanya bisa diam sembari dirinya berusaha mencari celah untuk melepaskan dari pelukan Sean.
Sean sendiri langsung menghirup aroma Zinnia dalam - dalam, aroma yang dirindukannya selama tiga tahun ini. Selama tiga tahun dirinya berusaha mencari Zinnia tapi Ayrton langsung pasang badan untuk menolak memberitahukan kemana Zinnia pergi. Sebelumnya Emir dari istana Al Jordan itu menghajarnya sehari setelah Zinnia pergi ke Indonesia dan Sean mencarinya di Dubai. Sean hanya bisa diam saat ayah Zinnia itu membuatnya babak belur.
Sean menyesal membuat istrinya terluka dan lebih memilih mendengarkan hasutan hasutan istana tanpa mau mendengarkan penjelasan Zinnia. Dan kini dirinya diberikan kejutan, Zinnia mengandung dan melahirkan seorang putra, seorang Léopold, seorang pewaris tahta kerajaan Belgia.
Perasaan Sean bagaikan menaiki rollercoaster hari ini dan pria itu bertekad untuk membawa Zinnia kembali ke pelukannya.
***
Untung lu kagak di dor sama Sabine
Mommy Zee galake ...
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa.
Cerita Zee dan Sean mau aku buat flashback present day ... something new yang pengen aku terapkan di novel ku. Semoga nggak pada komplain yaaa readersku terchayank
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️