
Rumah Zinnia Indramayu
Zinnia memeluk erat putranya yang duduk di pinggir tempat tidur dengan hati menghangat. Meskipun terkadang dirinya kesal dengan adik-adiknya yang sangat mempengaruhi Arsya tapi kebanyakan adalah hal-hal yang baik, membuat putranya terkadang lebih dewasa dari usianya.
"So, Arsya. Mau ikut ke rumah Daddy?" tanya Zinnia. "Atau mau pikir-pikir dulu seperti kata Oom Arka." Wanita berambut hitam itu menatap wajah putranya.
"Asya pikil-pikil dulu mommy."
"Oke Arsya. Oh ya, apa Arsya tahu kalau Daddy akan menjadi raja?"
Mata biru itu menatap wajah ibunya dengan wajah terkejut. "Laja? Sepelti di Aliel? Laja laut?"
Zinnia tertawa. "Well, Daddy bukan raja model papanya Ariel, sayang. Dia mirip raja di sleeping beauty atau Opa James di Inggris."
"Sepelti Opa James? Jadi Asya sepelti kak Licad ya?"
"Iya seperti kak Richard."
"Asya pangelan mommy?"
"Well, iya. Arsya pangeran di Belgia, Emir di Dubai. Jadi Arsya memang pangeran."
"Asya nggak mau!"
"Eh? Kenapa?"
"Jadi pangelan itu nggak enak. Halus naik kuda, capek mommy" jawab Arsya yang membuat Zinnia tertawa terbahak-bahak.
"Mana ada pangeran jaman sekarang naik kuda, Arsya?"
"Itu di film - film begitu."
"Opa James naik kuda." Zinnia teringat ketika mereka datang ke London untuk merayakan ultah Pangeran Richard, Raja James III datang naik kuda untuk membawa Richard jalan-jalan.
"Kan Opa James buat ajak jalan-jalan Kak Richard, hari-hari juga nggak naik kuda kok."
"Mommy..."
"Yes Arsya?"
"Kalau kita ke lumah Daddy, nggak disini ya?"
"Nggak Sya, kita tinggal di Belgia. Sebuah negara yang dekat dengan Swiss, Perancis dan German. Dan bisa ketemu dengan kak Richard. Tinggal naik kereta api, sampai deh ke London."
"Mommy..."
"Yes?"
"Ambil peta di Kamal Asya yuk. Asya pengen tahu dimana lumah Daddy" ajak Arsya sambil turun dari tempat tidur. Zinnia pun bangkit mengikuti langkah putranya yang tampak menggemaskan dengan gaya pedenya.
Sean pun masuk ke dalam kamar Zinnia dan menarik tangan istrinya. "Apakah Arsya mau?"
"Pelan-pelan Sean. Ajaran adik-adikku terlalu terpatri di otaknya" bisik Zinnia.
"Mommy... Dimana lumah Daddy?" teriak Arsya.
Zinnia pun bergegas masuk ke dalam kamar Arsyanendra yang sudah membuka kertas bergambar peta dunia.
"Kamu cari apa boy?" tanya Sean yang menyusul ke kamar Arsya dan ikut duduk diatas karpet tebal yang sudah terhampar peta dunia.
"Lumah Daddy" jawab Arsyanendra.
"Cari benua Eropa. Yang mana Sya?" Zinnia memang sudah mengajarkan Arsya peta dunia sejak usia dua tahun karena saking seringnya mereka ke berbagai negara jadi Arsya penasaran lokasinya.
__ADS_1
"Ini!" Arsya menunjukkan Eropa di peta. "Ini lumah Oom Eagle." Jari telunjuk mungil itu menunjukkan Inggris dan kota London.
"Pintar. Dimana Swiss?"
"Ini! Mommy dulu sekolah disini, Opa Adrian juga sekolah disini."
"Pintar. Ini Swiss, ini Belgia." Zinnia mengarahkan jari Arsya ke area Belgia yang berada diatas Swiss dan berbatasan dengan Belanda, Perancis dan German.
"Oh diatas ya mommy."
"Iya. Lihat, hanya dipisahkan selat Dover atau selat Inggris. Kita bisa naik mobil atau kereta atau Ferry."
Arsya memegang dagunya, gaya yang ditiru dari Valentino kalau sedang berpikir.
"Mommy, Asya pelajali dulu ya."
Zinnia dan Sean melongo lalu terbahak. Wanita cantik itu langsung memeluk putranya gemas karena gaya Arsya mirip sekali dengan Gasendra.
"Astagaaa Asya. Kamu kok makin mirip sama Oom kamu sih?" gelak Zinnia.
"Kenapa mommy? Asya salah?"
"No baby. Arsya memang anak pintar dan mommy so proud sama Arsya." Zinnai menciumi pipi gembil putranya.
Sean terharu melihat kedua orang yang disayanginya, bagaimana Zinnia mendidik putranya menjadi anak yang cerdas dan menggemaskan. Membuat dirinya tidak sabar memboyong keduanya ke Brussels.
"Mommy mandi dulu ya" ucap Zinnia.
"Daddy ikutan mandi sama mommy..." goda Sean yang langsung mendapat pelototan Zinnia.
"No Sean!"
Arsya cekikikan melihat keduanya ribut.
***
"Jadi kalian main final fantasy IX?" tanya Zinnia.
"Game klasik tuh mbak. Arsya tertawa waktu lihat Steiner kalau jalan pakai baju zirahnya" jawab Shinichi.
"Lucu mommy, bunyi plok plok plok gitu kalau Steinel jalan" gelak Arsya.
Ki - Ka : Freya, Eiko, Vivi, Steiner, Garnet, Zidane, Quina, Amarant
"Jadi kalian main game itu?" Zinnia masih mencecar Shinichi.
"Mbak, itu menurut aku seri game final fantasy yang ceritanya nggak seberat yang lain."
"Hhhmmm."
"Lagian grafisnya anak-anak banget dan bukan yang seperti Squall Leonhart atau Cloud."
Zinnia masih agak skeptis tapi Sean memegang tangannya. "Ada baiknya kita lihat gamenya daripada kamu memasang wajah begitu."
"I think you're right."
***
Usai makan malam, Sean dan Zinnia menemani Shinichi dan Arsya bermain PlayStation game final fantasy IX yang di download ke console. Zinnia tidak pernah. bermain game tapi dia membelinya untuk adik-adiknya kalau main ke rumah dan menginap.
__ADS_1
Ternyata memang grafisnya yang menunjukkan tokoh yang menggemaskan dan Arsya tertawa geli setiap Steiner berjalan dengan bunyi baju zirah.
Sean menarik tubuh Zinnia untuk mendekati dirinya dan langsung memeluknya.
"Nanti aku tidur bersama kalian ya" bisik Sean.
"No Sean, nanti Arsya marah lagi." Zinnia menatap Sean datar.
"Oh come on Zee, bukankah tadi kamu sudah terhanyut dengan ku?"
"Anggap saja, aku sudah lama tidak bersama dengan pria..." goda Zinnia membuat Sean gemas.
"Kamu itu..." Sean hendak mencium Zinnia ketika Arsya berteriak.
"Aaaahhh chocoboooo!"
Dan keduanya pun hanya bisa tersenyum kecut.
***
Malam ini Zinnia dan Arsya tidur di kamar Zinnia sambil mengobrol sebelum tidur. Sean sendiri terpaksa harus tidur di kamarnya karena Arsya menolak Daddynya tidur bersama dirinya dan mommynya.
"Arsya, kalau mommy dan Daddy kembali ke rumah Daddy lalu kita tinggal di sana, mau nggak?"
"Mommy, kata Oom Shin, mommy dan Daddy baikan itu, nanti Asya ikut ke lumah Daddy."
"Lalu?"
"Asya masih suka tinggal disini, bisa cali cacing."
"Memang di Belgia nggak ada cacing?" goda Zinnia. "Belgia ada cacing juga Sya, tapi bahasanya beda."
"Beda gimana?" Mata biru Arsya menatap wajah cantik ibunya.
"Kalau disini cacingnya ngobrol pakai bahasa Indonesia dan Sunda. Kalau di Belgia, pakai bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan Belanda."
Arsya terbahak. "Belalti Asya halus belajal bahasa jelman ya mommy. Kayak mommy dan Daddy kalau ngoblol..."
"Hu um. Arsya sudah bisa bahasa Indonesia, Inggris dan sedikit Jawa serta Sunda. Nanti kalau di rumah Daddy harus belajar bahasa Jerman dan Perancis."
"Susah mommy... Asya pusing!"
"Pelan-pelan. Dulu mommy juga sama kayak Arsya, bahasa Jerman dan Perancis nya berantakan. Tapi mommy mau belajar dan mommy juga yakin Arsya akan bisa. Nanti diajarin mommy dan Daddy."
Arsya memeluk ibunya. "Mommy, apa kalau di lumah Daddy boleh piala kucing dan anjing?"
"Bisa tanya Daddy nanti. Asya pengen ya pelihara kucing dan anjing?"
Arsya mengangguk. Mereka tidak bisa memelihara dua binatang itu karena bik Minah alergi bulu. Zinnia baru mengetahui ketika ada seekor kucing masuk dan pembantunya itu langsung bersin-bersin.
"Besok Asya tanya Daddy" ucap Arsya sambil memejamkan matanya.
"Memangnya kalau boleh, Arsya mau ikut ke rumah Daddy?"
"Bisa Asya peltimbangkan."
Zinnia tertawa gemas mendengar ucapan Arsya yang mirip Arkananta. "Kamu menggemaskan, Sya!" ucapnya sambil memeluk putranya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️