The Prince and I

The Prince and I
Bertemu Di Uccle


__ADS_3

Perjalanan Ke Brussels


"Darth Vader!" panggil Leia setelah mereka masuk wilayah Eropa.


"What Lele?"


"Kalian nanti urus Zee, aku dan Blaze akan menghajar impostornya" ucap Leia melalui earpiecenya.


"Apa kalian sudah mendapatkan lokasi si Hilda?" tanya Gasendra.


"Aku sudah dapat!" ucap Blaze. "Dia di apartemen yang di belikan oleh Stefanus dan bangkenya dekat dengan apartemen Sean dan Zee."


"Pantas dia bisa meniru semua gaya baju Zee dan aku yakin ada orang dalam yang disusupkan ke kru Zee" gumam Luke.


"Bang Lukie, ini ada pesan dari Jasmine. Memang si Natalia dan ratu katrok itu memasukkan salah satu dayangnya menjadi mata-mata Zee." Arkananta memang tidak putus berkomunikasi dengan pengawal Zinnia.


"B@ngs@t!!! Son of the b1tch!" umpat Luke. "Brengseeekkk lu Sean! Kagak bisa melindungi bini lu!"


"Luke, kita bisa bawa Zee keluar Eropa, langsung ke Kensington. Tadi putri Medeline akan melindungi Zee penuh sebelum kita bawa kabur lagi." Blaze memberitahukan soal telepon dari putri kerajaan Inggris itu.


"Kensington?" seru semua orang di mobil hitam.


"Inggris ngajak perang! Horeee!" seru Shinichi.


"Eh Shinchan! Elu kalau gelut, hobi ya ?" ejek Luke.


"Memang bang Lukie kagak?" sahut Shinichi.


"Sssttt diam, kita masuk perbatasan" ucap Luke.


Mobil - mobil mereka pun diperiksa begitu juga dengan paspor masing-masing.


"Vous pouvez passer par M. Bianchi ( Anda boleh lewat tuan Bianchi )" senyum petugas perbatasan.


"Thanks Pierre" cengir Luke yang melihat salah satu koneksinya.


"Je pense que ta soeur est innocente ( aku rasa adikmu tidak bersalah )" bisik Pierre.


"Tu as raison ( Kau benar )" balas Luke dan dua mobil mewah itu masuk ke perbatasan negara Belgia.


"Kita langsung ke Uccle" ucap Luke.


***


Apartemen Sean dan Zinnia Brussels


Sean mengobrak Abrik kamarnya mencari tahu kemana istrinya pergi namun dia tidak menemukan petunjuk apapun. Bahkan sopir Zinnia sendiri tidak tahu kemana tuan putrinya pergi karena setelah mengantar ke apartemen, dia disuruh pulang oleh Zinnia.


"Kamu kemana sayang? Pulang lah! Maafkan aku Zee..." Sean terduduk di tempat tidurnya dengan tangan menutupi wajahnya.


"Tuanku..." suara Greg membuat Sean mendongak.


"Ada kabar dari Zee?"


"Petugas apartemen menyatakan tidak melihat putri Zinnia pergi dan CCTV sedang dalam perbaikan."


"Damn it! Semua gara-gara kak Stefanus dan Natalia! Aku kehilangan istriku!"


Greg hanya diam saja.

__ADS_1


"Batalkan semua acaraku, Greg. Aku akan mencari Zee besok!"


"Baik tuanku."


***


Istana Brussels Belgia


"Apa kalian tahu dia pergi kemana?" tanya Natalia ke dayang yang disusupkan.


"Tidak tahu yang mulia. Tapi yang jelas apartemen kosong tadi saya kesana tidak ada siapapun."


"Kamu carikan detektif merangkap pembunuh untuk mencari j4l4ng itu! Beraninya dia membuka semua di depan banyak orang!" Natalia mengambil pisau steak dan melemparnya ke tembok dimana terdapat gambar Zinnia disana.


"Awas kau j4l4ng! Akan aku habisi dengan tanganku sendiri!"


***


Meanwhile di kamar Raja dan Ratu


"Bagus Michelle! Bagus sekali! Jika tahtaku goyah, kamu adalah orang pertama aku masukkan ke guillotine macam Maria Antoinette!"


"Andrew..." wajah ratu Michelle tampak memucat.


"Akan aku keluarkan alat itu karena aku sudah muak! Zinnia benar, aku salah memilih pasangan, salah memilih istri yang menjadikan ibu yang salah mengasuh anaknya! Tega kamu Michelle! Apa kamu juga mau aku bertukar dengan adikmu? Boleh! Setidaknya adikmu lebih cantik dan lebih bermartabat darimu! Dan kamu, bisa ambil suami adikmu yang impoten itu!" teriak Raja Andrew marah.


Ratu Michelle tampak gemetaran.


"Dan jika Zinnia kembali ke Dubai, jangan harap... ingat... JANGAN HARAP AYRTON AL JORDAN SCHUMACHER AKAN MEMAAFKAN AKU, KAMU, STEFAN DAN NATALIA! Dan jika dari kalian bertiga hilang, aku tidak akan mencari kalian! Aku biarkan kalian mendapatkan ganjaran nya!"


"Kamu lebih memilih tahta daripada aku Andrew?" pekik Michelle yang lupa siapa besannya.


"Oh ya. Tentu saja aku memilih tahtaku daripada kamu! Camkan itu, Michelle!" Raja Andrew pun keluar kamar dengan membanting pintu dengan keras meninggalkan Ratu Michelle yang terduduk.


***


Villa Zinnia di Uccle


Menjelang pukul satu dini hari, dua mobil Range Rover itu masuk ke dalam halaman villa setelah sebelumnya Jasmine membuka pintu gerbang otomatis nya.


Ketujuh orang di dalam mobil itu langsung menghambur mencari Zinnia yang sudah terlelap di kamarnya.


"Maaf tapi kalian jangan masuk. Nona Zinnia baru saja bisa tidur" pinta Jasmine mencegah semua sepupu nonanya masuk ke dalam kamar.


"Kita istirahat saja. Tapi sebelumnya apakah villa ini ada CCTV?" Luke bertanya pada Sarah.


"Ada tuan. Bahkan ada ruang monitornya" Sarah mengajak Luke, Gasendra dan Arkananta masuk ke sebuah ruangan yang penuh monitor.


"Bagus! Tidak ada yang tahu Zee disini kan?" tanya Luke lagi.


"Tidak ada tuan."


"Sarah, apa besok kamu kembali ke istana?" tanya Arkananta.


"Saya harus kembali ke istana, tuan, agar mereka tidak curiga dan saya mengetahui perkembangan di istana."


"Bagus Sarah. Besok kamu akan aku berikan body cam kecil dan earpiece agar kita saling bisa berkomunikasi. Okay?" Luke menatap tajam ke arah wanita yang lebih tua itu.


"Baik tuan."

__ADS_1


"Kamu istirahat dulu Sarah. Arka, tolong buatkan kopi buat Abang. Malam ini biar Abang yang jaga."


"Bang Lukie nggak capek?" tanya Arkananta.


"Nggak Arka. Just give me some coffee, please."


Arkananta mengangguk dan bergegas menuju dapur.


"Aku di kamar mbak Zee, ya bang." Gasendra berpamitan ke Luke.


"Jaga mbakmu. Setelah bisa membawa Zee keluar Belgia, baru kita melakukan misi kita. Karena aku yakin, setelah Zee membuka boroknya mereka, mereka tidak akan tinggal diam. Kita tinggal menunggu berita besok pagi!" Luke mulai memeriksa masing-masing kamera.


"Biar aku nanti yang membawa mbak Zee keluar Belgia dan langsung ke London." Gasendra menatap Luke serius.


"Tapi kamu belum punya SIM!"


"Siapa bilang naik mobil?" cengir Gasendra. "Aku sudah menyiapkan kereta ke London."


***


Kamar Zinnia


Gasendra masuk ke dalam kamar Zinnia pelan-pelan dan melihat kakaknya tidur dengan pipi basah.


Perlahan Gasendra duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus kepala Zinnia. Merasa terusik, Zinnia membuka mata dan dirinya tidak percaya melihat adiknya datang.


"Gasendra..." bisik Zinnia yang langsung memeluk remaja tampan itu. "Mbak kangen! Kapan datang?"


"Barusan. Mbak Zee baik-baik saja?" Gasendra menatap kakaknya yang tampak lesu.


"Mbak hanya capek. Capek mewek" cengir Zinnia yang belum ingin memberitahukan kondisinya.


"Sudahlah mbak. Nggak usah mikir Sean. Pria nggak guna! Main percaya saja!" geram Gasendra.


"Tapi cewek itu memang mirip mbak sih..."


"Mbak, habis ini kita langsung kabur ke London ya."


"Lho nggak ke Dubai?"


"Dubai adalah tempat pertama yang bakalan Sean datangi. Mbak ditunggu oleh putri Medeline dan kita disuruh bawa mbak langsung ke Kensington untuk tinggal disana sampai nanti kita bawa mbak ke tempat yang Sean tidak tahu."


Zinnia hanya menatap Gasendra bingung. "Kenapa mbak harus ke Kensington?"


"Karena kerajaan Inggris hendak perang dengan kerjaan Belgia" seringai Gasendra.


"Karena aku?"


"Karena putri Medeline tidak suka sahabatnya difitnah!"


Zinnia termangu.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Lanjut besok


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2