The Prince and I

The Prince and I
Generasi Keenam


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia 4 tahun lalu


Kandungan Zinnia sudah menginjak usia sembilan bulan dan karena ini liburan semester, trio kampret pun datang ke Indramayu untuk menemani kakaknya yang mulai masuk jadwal lahiran.


"Kalian itu tuh datang kemari dalam rangka apa?" Gasendra menatap tajam ke arah kakak sepupunya.


"Nemenin mbak Zee lah! Kata mommy, minggu - Minggu ini tuh masa-masa rentan mbak Zee mau lahiran. Kalau ada kita - kita, kan kamu nggak kelimpungan, Sendra" ucap Shinichi santai. Kelima orang disana sedang duduk di meja makan sambil menikmati makan siang. Shinichi duduk di sebelah Zinnia sebab remaja tampan itu memang manja dengan kakak perempuannya satu itu.


Gasendra sendiri sudah lolos ujian masuk ITB mengambil jurusan arsitektur, Shinichi sudah kuliah di Tokyo University jurusan fisika karena dia ingin membuat roket yang bisa membawanya ke planet Namec. Meskipun bocah itu sudah dibilang kalau planet Namec itu adalah khayalan dan sudah hancur, tapi Shinichi tetap mengeyel bahwa planet milik Songoku itu ada.


"Kalian datang bikin mbak Zee darting, tahu nggak!" protes Gasendra.


"Bukannya elu yang darting?" ejek Arkananta.


"Eh udah ! Kalian tahu nggak kalau Leia kecelakaan?" Zinnia melerai keributan keempat adiknya yang sering tidak jelas berantem soal apa.


"Hah? Mbak Zee tahu dari siapa?" tanya Valentino.


"Darth Vader jilid dua lah. Katanya sekarang Oom Luca dan Luke mau ke Turin."


"Memang mbak Leia ngapain kok sampai kecelakaan?" Shinichi menatap perut Zinnia yang sudah besar. "Mbak, boleh pegang perut nggak?"


"Kenapa Shin? Penasaran?" kekeh Zinnia. Shinichi mengangguk. "Pegang saja nggak papa."


"Mbak! Jangan!" cegah Gasendra.


"Lho kenapa?" Zinnia menatap bingung adiknya.


"Nanti ketularan ancurnya Shinchan!"


Zinnia terbahak. "Ya nggak lah. Ketularan itu kalau pas udah lahir diajarin aneh-aneh."


"Siapa tahu dengan kekuatan telepati aku, si boy menjadi anak yang cerdas macam Oomnya yang imut ini, baik hati, tidak sombong, calon pengumpul dragon ball..." Shinichi memegang perut Zinnia. "Eh si boy gerak lho! Boy, ini Oom Shinichi tapi bukan Kudo. Sehat ya boy, biar besok kamu lahir, kita main kembang api."


Keempat orang di sana melongo mendengarkan ucapan random si cowok blasteran imut itu. "Astaghfirullah!" Gasendra memegang pelipisnya.


"Mbak, mbak Leia kenapa bisa kecelakaan?" tanya Valentino untuk kembali ke topik utama.

__ADS_1


"Ada yang mau bunuh dia" jawab Zinnia yang sukses membuat keempat adiknya melongo.


"Ada apa sih dengan kalian? Mbak Zee mau dibunuh di Belgia, mbak Leia mau dibunuh di Turin, mbak Nadira nyaris menjadi korban pembunuhan dan b*m di kampusnya. Apa kalian terlalu bar-bar atau gimana?" omel Arkananta.


"Eh kita nggak bar-bar ya Arka" protes Zinnia. "Kalau Nadira kan dia tidak sengaja mendengar dua orang pelaku itu membicarakan rencana pengeb*man di kampus nya."


"Untung ada si Pedro. Kalau nggak bisa melayang tuh mbak Dira. Lagian nggak bawa pistol juga sih!" omel Valentino.


"Kampus nya mbak Dira nggak boleh bawa senjata api, V jadi wajar lah kalau mbak Dira polosan. Kalau Pedro memang boleh, kan dia agen FBI" sahut Shinichi sambil mengelus perut Zinnia. "Eh si boy nendang!"


"Mbak Nadira akhirnya pacaran sama Pedro?" Valentino berjalan menuju pantry untuk mengambil kopi.


"Belum tahu" jawab Zinnia. "Soalnya Oom Rajendra belum kasih restu karena profesi Pedro yang high risk."


"Kan Pedro sama dengan Oom Chris dan Oom Dapid meskipun Oom Dapid sekarang sudah pensiun sih" gumam Arkananta yang ikutan Oomnya Anarghya memanggil David dengan Dapid dan ayah Arabella itu memilih untuk tidak membetulkan panggilannya karena tahu Arka susah untuk diluruskan. "Maksudnya sama-sama law enforcement gitu."


"Tapi mungkin Oom Rajendra punya pemikiran lain sih" ucap Gasendra.


"Eh iya, Arabella kan tahun depan masuk kuliah. Katanya ingin masuk UI sama ma elu Ka" celetuk Valentino ke Arkananta sambil membawa mug berisikan kopi.


"Juliet kan juga tapi anak itu minta kuliah di Singapura barengan sama Duo G dan Radyta." Gasendra menatap wajah Arkananta yang ditekuk.


"Tapi kalian kan memang tidak ada hubungan darah sih Ka. Lagian kan ga usah repot-repot screening" kekeh Shinichi.


"Emooohh!" teriak Arkananta.


"Lha memang kenapa? Anaknya manis dan menyenangkan kok" kekeh Zinnia.


"Mbak Zee nggak tahu aja! Arabella itu beda jauh sama Tante Dhita. Absurdnya bukan main! Macam si Shinchan versi cewek lah!" Arkananta menatap Zinnia sebal.


"Lho tapi kan Oom David juga sering absurd jadi wajar dong!" Gasendra menimpali.


"Ini lebih parah dari Oom Dapid!"


Keempat sepupunya terbahak. "Kalau jodoh, mbuh lho ya" gelak Zinnia.


"Amit-amit, amit-amit, amit-amit!" Arkananta mengetuk meja makan tiga kali.

__ADS_1


***


Istana Brussels Belgia


Sean menatap sengit ke arah Stefanus, kakak tirinya yang sudah kembali dari perawatan di Swiss. Sean merasa heran kenapa kakaknya hanya menyelesaikan enam bulan perawatan dari jadwal setahun yang sudah disepakati.


"Kok kamu sudah pulang kak?" Sean menatap judes ke Stefanus. Saat ini Sean sedang di ruang kerjanya bersama dengan Greg dan Sarah.


"Aku meminta pulang, ingin bertemu mother dan Natalia tapi mereka semua tidak ada."


"Mother sudah diasingkan ke Argentina dan dilarang keluar dari negara itu selamanya sedangkan Natalia, aku tidak tahu dimana dia."


"Istri...mu tidak kembali Sean?" Stefanus menatap sendu ke adiknya.


"Thanks to you, brother, istriku meninggalkan diriku! Dan ayahnya sudah pasti tidak mengijinkan aku bertemu dengannya!" Sean menatap marah ke arah Stefanus. "Lebih baik kamu pergi, kak. Aku tidak mau melihat kamu!"


Stefanus pun keluar dari ruang kerja Sean. Selama ini adiknya tidak pernah berkata keras padanya dan sekarang Sean seperti orang yang marah dan tidak tersentuh oleh siapapun. Hanya dua asistennya yang bisa dekat dengannya.


Stefanus berjalan menuju ruang kerja ayahnya dan tampak Raja Andrew menatap dingin putra sulungnya, putra yang selama ini dibanggakan tapi ternyata melemparkan kotoran ke wajahnya.


"Kenapa kamu sudah pulang? Bukannya masih harus enam bulan lagi kamu di Swiss?" ucap Raja Andrew dingin.


"Aku kangen mother dan father. Tapi kata Sean, mother sudah diasingkan ke Argentina."


"Dan aku sudah menceraikan Michelle."


Stefanus tidak terkejut tapi tidak menyangka sampai seperti itu dahsyatnya efek samping dari hawa nafsunya untuk memiliki Zinnia.


"Apa kamu sudah puas Stefan? APA KAMU SUDAH PUAS?" bentak Raja Andrew yang membuat Stefanus jatuh terduduk dan menangis.


"Maafkan aku father ... Maafkan aku..."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2