The Prince and I

The Prince and I
Ke Pabrik AJ Corp


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat


Setelah beradu argumentasi dengan putranya, akhirnya Sean mengalah mandi di kamar tamu yang disiapkan untuknya tapi nyaris tidak pernah dia gunakan beberapa malam ini.


Shinichi yang sudah menunggu di meja makan, hanya menatap tiga anggota keluarga Léopold heboh semaunya sendiri.


"Daddy culang!"


"Apanya yang curang, Arsya?" tanya Sean berlagak pilon.


"Kan halusnya Asya tidul sama mommy tapi kenapa Daddy ikutan tidul?"


"Lho kan Daddy juga kangen sama mommy" sahut Sean santai tapi membuat Zinnia melengos.


"Bang, dua hari lagi Oom Ayrton kemari" ucap Shinichi menjatuhkan b*m membuat Sean dan Zinnia terkejut.


"Kamu laporan ke papa?" Zinnia melotot ke adiknya.


"Lha kalian sekamar, tidur bareng meskipun aku tidak tahu kalau ada Arsya diantara kalian."


Sean menatap ke arah Zinnia yang tampak panik. Tenang Zee. Kita hadapi bersama.


***


Pagi ini Sean menemani Zinnia ke kantor perusahaannya untuk memeriksa laporan para manajer dan pengawas sawahnya. Seperti biasa, setiap seminggu dua kali, Zinnia selalu datang sendiri ke kantornya yang selalu ditemani Arsya dan Jasmine. Hanya kali ini, Sean mengeyel meminta ikut karena dirinya ingin tahu kegiatan istrinya selama tidak bersamanya.


Menggunakan mobil Range Rover milik Zinnia dan istrinya yang menyetir, membuat Sean terpesona melihat hamparan sawah yang kemarin belum dilihatnya.


"Apakah sawah-sawah ini milikmu Zee?"


"Sayangnya iya. Aku berhasil membeli sawah milik juragan Toha. Cucunya tidak mau diribetkan soal sawah jadi tahun lalu, mereka menemui aku dan menawarkan sawahnya. Papa menyetujui dan akhirnya kami membelinya."


"Kenapa cucunya juragan Toha menjual padamu?"


"Karena kami sudah bertetangga sejak lama, sejak kakek buyut kandungku masih hidup. Dan meskipun kami membelinya, aku juga masih memberikan 2,5% penghasilan ke keluarga juragan Toha. Papa yang membuat perjanjian itu dan Oom Travis serta Oom Benji tidak mempermasalahkan."


"2,5% itu pendapatan yang lumayan Zee."


"Iya, tapi aku juga mendapatkan hasil yang memuaskan dari sawah juragan Toha karena tanah mereka satu tingkat lebih baik dari tanah milikku. Hasil beras kami memang premium tapi yang dari sawah juragan Toha, gradenya A++ sedangkan sawahku mix antara A++ dan A+."


"Macam anggur ya Zee?"


Zinnia mengangguk dan mobil istrinya itu tiba di sebuah bangunan yang luas menyerupai gudang penyimpanan beras yang juga terdapat beberapa silo disana. Zinnia memang memiliki pabrik beras dibawah AJ Corp.



"Beras-beras kami, sudah dipacking lalu didistribusikan ke agen beras. Semua independen kecuali perdagangan karena memang regulasinya begitu" papar Zinnia.


"Selamat pagi bu Zinnia" sapa asistennya Zaidan yang merupakan kepercayaan Ayrton dan Karl Schumacher.


"Pagi Zaidan" sapa Zinnia ke pria berdarah Arab itu. "Perkenalkan ini Pak Sean Léopold, suami saya."


Hati Sean menghangat mendengar kata 'suami' dari bibir Zinnia.


"Selamat datang di pabrik beras kami Pak Sean" salam Zaidan sembari mengulurkan tangannya.


"Terima kasih Zaidan" ucap Sean sambil menyambut uluran tangan Zaidan.

__ADS_1


"Ada kendala apa Zaidan?" tanya Zinnia sambil menerima helm proyek dari Zaida. "Pakai ini, Sean."


Sean pun menerima helm bewarna kuning itu dan memakainya.


"So far, aman semua bu. Tuan Ayrton, tuan Quinn dan tuan Travis juga selalu periksa karena tidak mau distribusi beras terganggu."


Zinnia mengajak Sean berkeliling ke pabriknya dan pria itu sangat mengagumi bagaimana istrinya berinteraksi dengan semua orang. Bahkan Sean pun mengikuti jalannya meeting mingguan dan melihat sendiri Zinnia yang lembut dan tegas kepada para anak buahnya. Tak heran jika banyak orang yang mengagumi sepak terjang Zinnia karena dia memiliki daya tarik tersendiri.


Para pegawai akhirnya mengetahui suami Zinnia yang selama ini jarang terlihat. Salah seorang manajer wanita bahkan sempat menyeletuk jika Arsyanendra sangat mirip dengan Daddynya membuat Sean tersenyum.


Menjelang makan siang, Zinnia mengajak Sean untuk makan di ruang kerjanya. Istrinya meminta Zaidan memesankan makanan di cafetaria pabrik.


"Makanan disini standar Al Jordan jadi para pegawai nyaman" terang Zinnia.


"Jadi selama kita berpisah, kamu disibukkan dengan pekerjaan kamu disini?" Sean melihat ruang kerja Zinnia yang terdapat foto Arsya dan keluarga Schumacher. Yang membuat Sean terkejut, ada foto dirinya bersama Zinnia saat mereka menonton Phantom of the Opera.


"Zee?" Sean menunjukkan foto mereka.


"Memang aku pasang agar orang tahu aku masih bersuami meskipun surat cerainya tidak kembali ke aku seberapa banyak aku kirim." Zinnia menatap Sean serius.


"Terima kasih kamu masih menghargai aku." Sean menghampiri Zinnia dan memeluknya.


"Selalu Sean."


***


Rumah Zinnia


"Jadi mereka sebenarnya tidur bertiga Shin?" tanya Ayrton dalam panggilan video.


"Iya Oom. Arsya tidur bersama mereka."


Shinichi menatap Oomnya dengan tatapan geli. Perasaan mbak Zee dan bang Sean sudah bukan anak-anak lagi deh!


"Mbak Zee ajak bang Sean melihat sawah dan pabrik beras AJ Corp, Oom. Biar tahu kalau mbak Zee ga butuh harta" kekeh Shinichi.


"Opaaaaa!" teriak Arsyanendra saat melihat Ayrton.


"Eh cucu ganteng. Tadi malam katanya bobok sama mommy dan Daddy ya?"


"Iya Opa. Daddy culang main bobok baleng" adu Arsyanendra.


Ayrton tertawa mendengar cucunya mengadu. "Nanti malam biar Daddy bobok sendiri saja ya."


"Iya Opa. Daddy nakal."


Shinichi hanya menggelengkan kepalanya. *N*iru siapa ini keponakannya jadi tukang ngadu?


***


Pabrik Beras AJ Corp


Sean menatap makanan di hadapannya dengan wajah manyun sedangkan Zinnia memakan lahap hidangan yang sama.



"Apa ini Zee?" tanya Sean sambil mengerenyitkan dahinya.

__ADS_1


"Lotek" jawab Zee santai.


"Ini kan yang bikin Jasmine sakit perut?" Sean menatap horor ke istrinya.


"Jaz makannya ngawur, cabenya delapan. Diare lah!"


"Ini rasanya seperti apa Zee?" Sean mengambil sesendok lotek.


"Coba dulu baru komentar."


Sean memasukkan lotek itu ke dalam mulutnya.


"Cabenya dua Sean..." ucap Zinnia yang membuat pria itu terbatuk-batuk kepedasan.


"Mi... minum Zee..." pinta Sean dengan suara tercekik.


"Nggak pedas ah Sean kalau segitu!" kekeh Zinnia sambil memberikan sebotol air mineral yang membuat Sean mendelik.


"Pedas tahu!" protes Sean judes yang membuat Zinnia tertawa.


"Tapi enak kan?" kerling istrinya yang duduk di hadapannya.


"Enak sih..." Sean menyuap lagi loteknya dan mulai menikmati salad Sunda kalau kata Shinichi.


Tak berapa lama keduanya menghabiskan makan siangnya.


"Disini orang-orang nya demen sayur jadi menunya kebanyakan menu Sunda. Kebersihan dan semuanya juga standar Al Jordan dan RR's Meal. Tahu sendiri kan Oom Jendra clean freak." Zinnia membereskan piring bekas makan dan memanggil OB untuk mengambilnya.


Tak lama seorang OB laki-laki datang dan mengambil dua piring kotor itu lalu membawanya pergi.


"Mau sampai jam berapa disini Zee?" tanya Sean sambil melihat keluar jendela ruang kerja Zinnia. Istrinya sendiri sudah kembali duduk di kursi kebesarannya dan mulai bekerja.


"Paling sampai jam tiga karena aku tidak yakin Shinichi tidak mengajari Arsya aneh-aneh. Kenapa Sean?" Zinnia menatap Sean bingung tapi suaminya malah mendekati dirinya dan mengunci tubuhnya di kursi kerjanya.


"Aku lihat ada kamar pribadi kamu dengan kasur empuk..."


"Lalu?" Zinnia menatap Sean dingin.


"Kita tambah anak yuk Zee. Perempuan kalau bisa. Gimana?"


***



Minta ditonjok Papa Ayrton lu bang



Hajar Zee!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2