The Prince and I

The Prince and I
Phantom of the Opera


__ADS_3

Brussels, Belgia Lima tahun Lalu...


Acara masak memasak pun berakhir dengan matangnya roti buatan Zinnia dan timnya serta matangnya stew yang dimasak ramai-ramai termasuk Sean disana yang membantu mengaduk panci besar itu.


Sean dan Zinnia berpamitan ke semua orang sekalian meminta maaf karena tidak ikut mengantarkan makanan - makanan itu ke panti jompo dan panti asuhan karena harus menghadiri acara Opera yang memang sudah dijadwalkan.


Semua orang disana pun maklum karena kesibukan pasangan itu dan berterima kasih menyempatkan datang. Para wartawan yang meliput pun meminta untuk melakukan wawancara ke pasangan itu. Sean dan Zinnia dengan luwes dan ramah menanggapi wawancara mendadak para kaum kuli tinta.


"Apa anda sangat mendukung acara seperti ini, yang mulia?" tanya seorang wartawan.


"Tentu saja kami sangat mendukung dan jika jadwal kami pas, kami akan datang untuk melakukan hal amal seperti ini lagi" ucap Sean tegas tanpa ragu.


"Princess Zinnia, tampaknya anda sangat semangat berkumpul dengan para relawan. Anda sangat menikmatinya ya?"


"Tentu saja. Saya sangat suka acara amal seperti ini karena saya bisa bertemu dengan orang-orang yang jarang saya temui dan saya bisa tahu apa saja yang terjadi." Zinnia menatap Sean lembut. "Saya jadi bisa mengasah bahasa Belanda saya karena saya belum terlalu fasih" tawanya yang membuat orang-orang disana tersenyum.


Acara wawancara itu pun berlangsung selama sepuluh menit dan harus selesai karena mereka harus bersiap ke gedung Opera.


***


The Royal Palace of Brussels


Natalia menatap layar televisi dengan wajah menahan amarah. Bagaimana bisa putri abal-abal itu langsung menarik perhatian banyak orang disana!


"Matikan televisi nya!" perintah Natalia ke dayangnya. "Bikin sakit mata saja!"


***


Stefanus yang sedang menyelesaikan pekerjaannya, tersenyum melihat wajah cantik Zinnia berada di layar tv ruang kerjanya. Bagaimana adik iparnya itu tersenyum, tertawa dan menatap lembut ke semua orang, membuat calon raja itu terpana.


Sean memang selalu mendapatkan gadis-gadis cantik tapi Zinnia adalah yang paling cantik dan paling anggun. Sial! Kenapa harus diambil dia duluan sih!


Stefanus tersenyum smirk. Bagaimana kalau istrimu aku ambil dan istriku kau ambil? Pas kan?


***


Apartemen Sean dan Zinnia


Keduanya kini kembali ke Apartemen untuk membersihkan diri dan berganti pakaian untuk acara Opera. Para tim penata busana kerajaan sudah datang disana dan mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Sean dan Zinnia.


Jasmine dan Greg pun juga sudah menyiapkan diri untuk mengawal Sean dan Zinnia.


"Sayang, kamu cantik banget pakai gaun itu" puji Sean saat melihat Zinnia sedang ditata rambutnya.

__ADS_1


"Aku masih bingung pakai yang ini atau yang hitam" ucap Zinnia sambil menatap suaminya.


"Hitam saja, sayang. Kan aku juga pakai hitam. Lagipula Zee, phantom of the Opera itu kan ceritanya gelap" senyum Sean.




Zinnia tertawa. "Iya sih, panthom of the Opera memang ceritanya gelap."


"Kalau memang suka, kenapa tidak langsung mengatakannya, tidak sembunyi-sembunyi macam si Erik itu." Sean memasang cuffling ( manset ) di kemejanya.


"Erik ( Ghost of the Opera ) kan merasa tidak percaya diri karena wajahnya yang buruk, Sean. Makanya dia memakai topeng yang membuatnya mendapatkan julukan Phantom of the Opera demi cintanya ke Christine yang ternyata sudah pacaran dengan Roul." Zinnia merasa puas dengan tim MUA dari kerajaan. "Bagus tata rambutnya. Terima kasih." Zinnia menatap MUA nya yang memberikan hormat ke wanita itu.


"Cantik sayang. Aku suka tatanan rambutnya." Sean memberikan kecupan di pelipis Zinnia.


"Yang mulia, kita berangkat." Greg menghampiri keduanya.


"Yuk sayang, pakai mantelnya."


***


La Monnaie De Munt, Opera House Brussels



Para wartawan dan tamu undangan tampak antusias menyambut Raja dan Ratu Belgia itu. Setelah kehadiran Andrew dan Michelle, calon penggantinya Stefanus dan Natalia pun keluar dari mobil yang membawanya.


Kilatan lampu Blitz menerpa pasangan yang digadang-gadang akan segera naik tahta tidak lama lagi. Wajah dingin Stefanus dan wajah sombong Natalia tampak terlihat membuat beberapa para wartawan merasa tidak nyaman.


Mereka bahkan berbisik. "Pernikahan macam apa yang mereka jalani? Bahkan bergandeng tangan pun tidak."


Setelah putra mahkota dan putri masuk ke dalam gedung Opera, giliran mobil yang membawa Sean serta Zinnia berhenti di depan pintu utama.


Lampu Blitz bahkan sudah berkilat sebelum pintu mobil dibuka. Sean turun terlebih dahulu dan membantu Zinnia keluar yang malam ini mengenakan gaun hitam dipadu Coat hitam dengan Payet.


Keduanya menyapa para wartawan dengan melambaikan tangan dan wajah tersenyum. Lampu Blitz tidak berhenti mengambil wajah pasangan itu.


Sean dan Zinnia menyapa ramah ke semua aktor dan aktris yang sudah memakai kostum panggung. Zinnia tidak sungkan bertanya berapa berat gaun yang dipakai pemeran Christine.


"Pasti akan sedikit sulit ya bernyanyi dengan gaun yang berat seperti ini" komentar Zinnia sambil memperhatikan detail gaun itu.


"Tapi saya sudah biasa, yang mulia putri" ucap aktris itu sambil mengangguk hormat ke Zinnia.

__ADS_1


"Aku tidak sabar untuk menikmati pertunjukannya" senyum tulus Zinnia yang menular ke semua orang.


"Istriku sangat suka karya klasik dan Opera jadi jangan membuat dia kecewa ya." Sean menatap ke semua orang dengan tangannya yang tidak lepas dari pinggang Zinnia.


"Tentu saja yang mulia pangeran."


Usai basa basi sebentar, Sean dan Zinnia diantarkan ke tempat duduk khusus keluarga kerajaan dengan diikuti Greg dan Jasmine. Mereka duduk di lantai dua tempat para keluarga kerajaan yang berseberangan dengan tempat duduk Raja Andrew dan Ratu Michelle.


Stefanus dan Natalia sendiri berada satu lantai dengan kedua orangtuanya seolah menunjukkan bahwa akan menjadi pengganti Raja Andrew nantinya.


Sean dan Zinnia tidak ambil pusing karena mereka ditempatkan tidak satu lantai dengan Raja dan Ratu.


"Kamu tidak apa-apa kan kita duduk terpisah?" bisik Sean ke istrinya yang tampak antusias hendak menyaksikan pertunjukan Opera.


"Tidak apa-apa, Sean. Aku malah memikirkan dirimu. Apa kamu kecewa?" Zinnia menatap wajah suaminya.


Sean menggeleng. "Yang penting aku bersama istriku yang cantik, sudah cukup."


Zinnia memegang wajah Sean dengan lembut. "Terima kasih. Dan aku sangat senang hari ini. Banyak kegiatan yang membuat aku berguna."


"Kamu itu awesome, Zee. Asal kamu tahu, Natalia tidak mau menghadiri acara macam tadi. Memasak bersama seperti kamu. Dia bukan tipe wanita suka dapur." Sean melirik ke arah kedua kakak dan iparnya yang menatap tajam ke arahnya.


"Biarkan saja. Sudah, ini mau dimulai." Zinnia memegang tangan suaminya.


Jasmine yang duduk di belakang nonanya menatap dingin ke arah dua orang yang berada di lantai seberang. Aku harus lebih waspada lagi dalam menjaga nona Zinnia.


***



Adegan Phantom the Opera


Natalia menatap kesal ke arah Zinnia yang asyik menyaksikan adegan Phantom dan Christine. Bisa-bisanya anak angkat itu mengambil spotlight acara kerajaan! Dasar cari muka!


Stefanus mencuri-curi pandang ke arah Zinnia yang tampak cantik malam ini. Sialan Sean! Istrinya sangat cantik!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2