The Prince and I

The Prince and I
Will You?


__ADS_3

Lake Geneva Switzerland


Zinnia menemani Sean yang sedang memeriksa beberapa resort nya yang disewa untuk liburan musim panas. Manajer yang ditunjuk oleh Sean, diam - diam melirik ke arah Zinnia yang sedang menikmati pemandangan.


"Joseph, jangan sekali-kali kamu mencuri pandangan ke calon istriku kalau kamu tidak bakalan aku buang ke penjara bawah tanah" ucap Sean dingin yang kesal manajernya main curi pandang ke gadisnya.


"Maafkan saya tuanku tapi calon istri anda cantik sekali. Dan jangan kirim saya ke penjara bawah tanah. Anda kan tahu saya takut tikus!" cengir Jose yang membuat Sean dongkol.


Zinnia masih menikmati pemandangan indah di hadapannya dan matanya terpejam sembari menghirup udara segar musim panas. Itulah kenapa dia memilih Swiss untuk kuliah karena udaranya masih bersih dan tidak berdebu seperti di Dubai.


Tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluk dirinya dari belakang dan tanpa Zinnia membuka matanya dia sudah tahu siapa pelakunya. Harum tubuh Sean sudah sangat dihapalnya.


"Kenapa sayang?" bisik Sean sambil mencium pipi Zinnia.


"Aku suka udaranya, segar."


"Apa kita besok tinggal disini?" tawar Sean.


"Hhmmm. Bisa dipertimbangkan jika kamu tidak menjadi raja" ucap Zinnia. "Aku lebih suka menjadi rakyat jelata."


"Sayangnya, kita bukan rakyat jelata" kekeh Sean.


Zinnia menyandarkan tubuhnya di dada Sean. Karena gadis itu mungil, hanya 164 cm ditambah dia hanya mengenakan sandal trepes dibandingkan Sean yang 185, kepala Zinnia tepat di dada pria itu. Sean pun menciumi pucuk kepala Zinnia yang harum.


"Jadi piknik nggak?" ajak Sean.


"Yuk kita cari tempat yang bagus!" ajak Zinnia semangat.


Sean menggandeng Zinnia menuju mobilnya yang diparkir lalu mengambil kotak pikniknya dan tikar plastik yang sudah disiapkan. Keduanya pun memilih duduk di bawah pohon willow. Sean lalu menggelar tikar dan keduanya pun duduk. Zinnia mulai membuka kotak-kotak makanan, menyiapkan tissue kering dan basah, minuman dan peralatan makannya.



"Ini enak Zee" puji Sean ketika makan ayam goreng buatan Zinnia.


"Thanks. Itu resep dari Oma buyutku."


Keduanya pun menghabiskan makanannya dan setelahnya Zinnia membereskan kotak-kotak yang sudah kosong ke dalam keranjang. Dan kini keduanya bersandar di pohon willow.


"Zee..."


"Hhmmm" gumam Zinnia yang masih bersandar di batang pohon.


"Ke pinggir danau yuk. Nggak ngapa-ngapain, cuma duduk disana" ajak Sean.


"Oke." Sean pun berdiri dan membantu Zinnia berdiri. Keduanya pun berjalan di pinggir danau.


Sean pun duduk di pinggir danau dan saat Zinnia mau duduk di sebelahnya, pria itu mencegahnya.


"Duduk di pangkuanku Zee."


"Haaaaahhh? Aku berat lho..." Zinnia merasa risih karena tahu dirinya lumayan sintal.


"Nggak berat. Ayo duduk di pangkuanku" senyum Sean.


Sedikit ragu gadis itu duduk di pangkuan Sean.


__ADS_1


Keduanya saling berpandangan dan Sean mengecup ujung hidung mancung Zinnia.


"Kamu tahu, untuk mendapatkan kamu, aku harus jatuh bangun. Jadi, aku tidak mau kehilanganmu dan aku akan berusaha memenuhi permintaanmu semalam."


Zinnia menatap mata biru Sean. "Aku harap kamu jangan sampai mengecewakan aku, Sean. Karena aku bukan orang yang kuat juga. Berpura-pura menjadi kuat di depan orang lain, aku bisa tapi tidak di depan orang-orang yang kusayangi."


"Apakah kamu menyayangi ku Zee? Atau kamu sudah mulai mencintaiku seperti aku mencintaimu?"


"Cinta seperti dirimu mencintai aku, masih dalam tahap proses tapi aku mulai menyayangimu, Sean."


"Why you're so honest?" kekeh Sean.


"Kepercayaan dan kejujuran itu penting dalam suatu hubungan. Dan aku belajar dari sekarang, begitu juga dirimu seharusnya" ucap Zinnia lembut.


Sean menatap mata hitam Zinnia. "Kamu tahu, mata hitam mu itu tidak terbaca Zee, tapi aku tahu aku terseret di dalamnya. Matamu sangat indah apalagi jika kamu sedang melirik judes. Rasanya seperti aku terkena serangan listrik."


Zinnia cekikikan. "Rayuanmu receh sekali, tuanku pangeran Léopold."


"Receh begini aku serius Zee."


Zinnia memandangi wajah tampan Sean. "Kemana pangeran cilik yang sombong itu? Yang mengusir orang seenaknya hanya karena dia mau bermain?" Tangan gadis itu mengelus wajah Sean lembut.


"Pangeran cilik sombong itu menghilang karena sudah jatuh cinta dengan gadis cilik yang berani menatapnya dengan penuh kebencian saat acara makan siang bersama." Sean menatap Zinnia penuh cinta. "Zinnia Hadiyanto Al Jordan Schumacher, maukah kau menikah denganku? Pangeran yang sombong, menyebalkan, diktaktor dan tukang pemaksa?"


Pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru bewarna biru dari saku celana jeans-nya dan membukanya. Tampak sebuah cincin bertahtakan berlian dan safir hitam.


Zinnia terpaku dengan lamaran Sean yang menurutnya sangat indah.


"Sean..."


Mata hitam Zinnia pun berkabut. "Yes, Sean."


Sean memasangkan cincin itu di jari manis Zinnia lalu menciumnya.


"Love you Zinnia..."


"Love you too, Sean."


"Finally..."


Sean mencium bibir Zinnia lembut.



***


Indramayu Jawa Barat Present Day...


Sean melongo mendengar ucapan Arsyanendra bahwa mommynya suka menangis. Setahuku Zinnia bukan wanita cengeng. Apa yang terjadi?


"Zee..." Mata biru Sean melihat cincin bermata safir hitam dan berlian masih melingkar di jari manis Zinnia. "Cincin itu..."


"Aku hanya meninggalkan cincin nikah karena itu adalah milik kerajaan. Bukankah cincin nikah aku itu milik Grandma mu kan? Kembalikan saja ke ibumu karena aku tidak butuh cincin itu. Aku tetap memilih memakai cincin ini karena ini kenangan pria yang dulu berjanji padaku dengan setulus hati sebelum pria itu berubah."


Sean merasa perutnya seperti ditinju Mike Tyson.


***

__ADS_1


Sean hanya memperhatikan interaksi Zinnia dan Arsya yang asyik makan berdua bahkan terkadang Arsya menyuapi mommynya. Ada rasa iri di diri Sean ingin bergabung dengan istri dan putranya tapi tatapan judes Arsya membuat Sean memilih bersabar.


Suara petir menggelar membuat Arsya terkejut dan langsung menghambur ke pelukan ibunya.


"Mooommmyyyy!" jerit Arsya yang langsung dipeluk Zinnia erat.


"Ssshhh... Mommy disini Arsya. Jangan takut."


Tak lama hujan deras pun membasahi bumi Indramayu dan Gasendra masuk rumah dengan wajah jutek.


"Nggak bisa pulang lu Sean!" ejek pria tinggi itu.


"Apa lu tega gue kecelakaan?" balas Sean sengit.


"Sudah, sudah. Hujan deras kok malah berantem. Dik, kalau sampai malam hujan tidak berhenti, terpaksa Sean menginap ya" ucap Zinnia ke adiknya.


"Seneng dia!" sindir Gasendra yang dibalas tatapan tajam Sean.


"Dik Sendra" tegur Zinnia. Dirinya tidak mau Arsya melihat keributan antara Daddynya dan Oomnya.


"Mommy... Asya takut" bisik Arsyanendra yang mendengar suara petir menggelar lagi.


"Sama mommy ke kamar yuk. Mau?" Arsya menganggukan kepalanya. Zinnia pun menggendong putranya yang semakin berat.


"Aku bantu gendong Zee?" tawar Sean.


"Arsya mau digendong Daddy?" tanya Zinnia yang dijawab gelengan.


"Sama Oom Sendra?" tawar Gasendra.


"Sama mommy" bisik Arsya.


Zinnia tahu Sean ingin ikut ke kamar Arsyanendra. "Daddy boleh nggak masuk ke kamar Arsya?"


Arsya menatap pria yang memandangnya lembut dan memiliki warna mata yang sama dengan dirinya. "Mommy? Itu benel Daddy Asya?"


"Benar. Warna mata Arsya sama lho" senyum Zinnia. "So? Bolehkah? Daddy kan belum lihat kamar Arsya."


Arsya menatap bergantian antara Zinnia dan Sean lalu mengangguk. Tidak terlukiskan bagaimana bahagianya Sean mendapatkan ijin dari putranya sendiri.


"Ayo, Sean. Masuk ke kamar Arsya" ajak Zinnia sambil melangkah masuk ke dalam kamar Arsyanendra.


"Jangan macam-macam dengan kakakku" ancam Gasendra dingin.


"Aku hanya semacam saja pada kakakmu" balas Sean sama dinginnya. "Membawanya kembali ke sisiku."


Gasendra hanya menatap tajam ke Sean.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2