
Indramayu Jawa Barat Indonesia
Sean berguling ke kiri dan ke kanan, bolak balik, melakukan push up dan beberapa olah raga lainnya agar dirinya kecapekan agar gampang tidur tapi tetap saja tidak berhasil. Merasa gerah, Sean pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi air hangat tapi itu adalah kesalahan paling bodoh! Melek lagi kan!
Usai mandi, setelah mengeringkan tubuhnya, hanya mengenakan celana piyama, Sean berjalan mengendap-endap menuju kamar Zinnia. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi dan dirinya tidak bisa merem sedikit pun. Hanya berdekatan dengan istrinya yang bisa membuatnya tidur.
Sean bersyukur kamar Zinnia tidak terkunci dan perlahan membukanya. Dilihatnya Zinnia dan Arsya sudah terlelap dengan buku cerita di dada putranya. Pelan-pelan dia mengambil buku itu dan meletakkan diatas sofa. Sean menutup pintu kamar Zinnia.
Layaknya seperti ninja atau maling ciuman, Sean naik ke atas tempat tidur, membuka selimutnya dan langsung memeluk tubuh Zinnia dari belakang.
"Se..an?" bisik Zinnia yang merasakan tubuhnya dipeluk dan harum sabun serta parfum yang dihapalnya terasa di hidungnya.
"Aku tidak bisa tidur, Zee."
"Hitung sampai seratus atau nggak dzikir..." gumam Zinnia sambil memejamkan mata.
Sean merasa gemas dan mulai merusuh mengusap dua bukit kembar Zinnia yang membuat wanita itu melotot.
"Sean!" desisnya tertahan.
"Ke kamarku yuk Zee..."
"No Sean, papa besok datang dan Shinichi pasti tahu kita tidur bersama karena kamar nya bersebelahan. Jangan cari perkara!" tolak Zinnia. "Oh astagaaa!"
Sean hanya menyeringai. "Gimana coba? Tiba-tiba dia bangun. Rindu dengan rumahnya..."
Zinnia membalikkan tubuhnya. "Suruh tidur!"
"Ya ampun Zee, memangnya apaan kamu suruh tidur?"
"Mandi air dingin sana! Pakai sabun!"
"Astagaaa Zee! Ini bibit unggul buat calon anak kita, adiknya Arsya..."
Zinnia mendelik. "Sean, jika kamu mau kami ikut kamu ke Belgia, ikuti cara aku! Jangan buat papa marah lagi padamu!"
Sean pun cemberut.
"Sudah! Aku mau tidur!" Zinnia membalikkan tubuhnya membelakangi Sean. "Jangan macam-macam, Sean! Ada Arsya disini!" desisnya ketika merasakan suaminya menyingkap gaun tidurnya.
Sean menciumi ceruk leher Zinnia. "Makanya ke kamarku yuk."
Zinnia bukannya tidak tertarik dengan tawaran Sean. Kejadian siang menjelang sore tadi membangunkan macan tidur yang disimpannya selama tiga tahun lebih. Siapa yang tidak bergairah melihat suaminya semakin tampan dan seksih.
Zinnia tahu dirinya wanita dewasa yang sudah menikmati yang namanya hubungan suami istri, hapal dengan aroma tubuh dan hapal anatomi tubuh suaminya. Keinginannya untuk ber*cinta selama ini teralihkan karena hadirnya Arsya tapi tadi Sean membuatnya ingin merasakan lagi bagaimana panasnya mereka saat ber*cinta.
__ADS_1
"Zee... Apa kamu tidak merindukan aku?" rayu Sean dengan suara serak. "Tadi sore aku bisa melihat bagaimana ber*gairahnya dirimu..."
Zinnia memejamkan matanya agar tidak terpengaruh dengan rayuan Sean tapi itu salah. Justru dia semakin merasakan bagaimana panas tubuhnya mendapatkan perlakuan mesra Sean.
"Don't..." bisik Zinnia dengan suara tercekik ketika tangan Sean masuk ke dalam celana istrinya.
"Mommy..." Suara Arsya membuat kedua orang dewasa itu membeku. "Mommy, Asya nggak mau belajal bahasa jelman..."
Zinnia melihat putranya mengigau hanya tersenyum. Terimakasih Arsya, kamu membuat Daddymu gagal aksinya. Memang Daddymu itu rusuh dan meshum.
Sean melepaskan pelukan dari istrinya dan mengusap rambutnya. Sabar Sean... sabaaarrr!
"Kamu! Kembali ke kamarmu! Jangan sampai Arsya melihatmu disini karena bisa membuatnya tidak mau ke Belgia. Bagaimana?" Zinnia menatap Sean serius.
Sean menghela nafas panjang. "Baiklah, aku akan bersolo karier tapi kan sayang Zee, harus membuang bibit premium ini..."
Zinnia mendelik. "Jangan mulai lagi deh!"
"Zee, kalau sudah ijab..."
"Terserah kamu kita mau ngapain!" potong Zinnia cepat agar Sean segera keluar dari kamarnya.
Sean tersenyum lebar lalu Melu*mat bibir Zinnia. "Promise?"
"Promise."
Zinnia harus menetralisir degup jantungnya yang berantakan karena bohong jika dia tidak berdebar-debar bersama dengan suaminya.
Sean makin hot saja!
***
Pukul sepuluh pagi, Ayrton bersama dengan Mariana, Garvita dan pengawalnya Gabriel, tiba di rumah Zinnia. Sean langsung mencium punggung tangan Ayrton dan memeluknya erat. Keduanya kini berada di ruang kerja Zinnia di rumah.
"Terimakasih papa. Sudah memberikan kesempatan kepadaku agar bisa berkumpul kembali dengan Zee dan Arsya" ucap Sean penuh haru.
"Kamu belum nyicil buat adiknya Arsya kan?" selidik Ayrton judes.
"Hampir... Aduuuhh!" Sean memegang kepalanya yang kena keplak Ayrton.
"Ijab ulang Sean!" bentak Ayrton galak.
"Iya Pa. Mumpung papa dan mama datang, kenapa tidak ijab saja sekalian disini?"
"Serius kamu?" tanya Ayrton. "Apa kamu sudah yakin Zee dan Arsya akan ikut kamu ke Belgia?"
__ADS_1
"Arsya kan kalau Zee ikut aku, pasti juga ikut juga."
"Sean, posisinya Zee sekarang berbeda. Dia lebih mementingkan kebahagiaan dan kenyamanan Arsya. Zee sekarang seorang ibu dan sebagai seorang ibu, anak lebih didahulukan apalagi Arsya lah yang membuat Zee kuat selama ini."
"Iya Pa... Aku juga punya andil membuat aku tidak bisa melihat proses kehamilan, kelahiran dan tumbuh kembang Arsya..." ucap Sean pelan.
"Sean, papa memberikan kamu kesempatan bersama putri dan cucu papa karena satu, kalian belum bercerai, kedua papa melihat bagaimana kamu bersungguh sungguh mencari Zee dan memohon pada papa. Ketiga, papa kira sudah cukup papa menghukum kamu apalagi masing-masing pelaku sudah mendapatkan karmanya sendiri. Papa juga tidak mau melihat Arsya tumbuh tanpa ada kamu sebagai daddynya di sisinya."
Air mata Sean menitik dari mata birunya. "Terimakasih papa..." ucapnya dengan rasa haru.
"Jangan kamu perbuat kesalahan yang sama lagi Sean, karena jika kamu melakukan kesalahan fatal lagi, papa tidak bisa membantu kamu. Zee anaknya keras, Sean. Kamu tahu itu kan?"
"Iya pa."
***
Mariana menatap wajah putrinya yang hanya tersenyum tipis.
"Bahagia bisa bersama Sean, sayang?" tanya Mariana.
"Sejujurnya ma, Zee senang tapi Arsya masih belum bisa seutuhnya menerima Sean."
"Pelan-pelan Zee, apalagi Sean tidak ada dari dalam kandungan hingga Arsya besar."
"Ma, kenapa Zee merasa seperti mama Mareta ya, hamil tapi tidak ada suami..."
"Sayang, kamu jangan mengira siklus itu berulang atau karma di kamu. Situasinya berbeda. Sean mencintai kamu tapi kondisi di Belgia saat itu tidak kondusif jadi kamu harus pergi. Berbeda sayang..." ucap Mariana lembut.
"Zee masih ragu untuk kembali, ma..."
"Kenapa? Kalau soal perusahaan, bukankah sebelum kamu handle juga sudah berjalan dengan baik? Apalagi Oom Hoshi dan Oom Travis juga sering mengontrol. Ada Zaidan disana juga, ada banyak orang kepercayaan kita."
"Mungkin bukan soal perusahaan... Zee masih gamang tinggal di Brussels ... Arsya masih ragu-ragu juga..."
"Pelan-pelan Zee. Atau kamu ajak Arsya ke Brussels dulu sementara sambil melihat bagaimana reaksinya. Jika Arsya tampak nyaman, kamu pun merasa nyaman kan?"
"Iya ma. Bagaimana pun, Arsya yang terpenting."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️