
Istana Brussels Belgia
"Tapi yang mulia pangeran Léopold..." ucap salah satu anggota kerajaan.
"Aku bukan pria yang haus kekuasaan dan jika father bisa bijaksana dalam menanggapi skandal ini, aku persilahkan untuk tetap berkuasa. Aku lebih memilih tugas kerajaan yang sudah diterapkan dan aku tidak mau naik tahta jika aku belum bisa membawa istriku pulang!" ucap Sean tegas.
"Sean... " Raja Andrew menatap putranya.
"Bagaimana reaksi rakyat Belgia itu tergantung dari keputusan mu, father. Aku sudah kehilangan istriku dan semua karena hawa n@fsu yang sangat menjijikkan. Aku serahkan semua padamu, Father, karena disini aku dan Zee adalah korban." Sean pun berdiri lalu menghampiri Leia, Blaze, Valentino, Arka dan Shinichi.
"Terimakasih kalian sudah membawa Zee pergi karena aku tidak mampu melindunginya jika kepala naganya sendiri juga tidak bisa bersikap tegas" sindir Sean sambil melirik Raja Andrew. "Aku akan bersabar sampai papa Ayrton membukakan ijin aku bisa bertemu dengan Zee. Dan selama itu, aku akan membuktikan bahwa akulah yang pantas mendampingi Zee. Maafkan semua kesalahanku hingga kalian semua datang kemari." Sean membungkuk hormat ke semua sepupu Zinnia.
"Bang Sean..." panggil Valentino yang berjalan ke kakak sepupu iparnya. Putra Hoshi Reeves itu langsung memeluk Sean. "Bersabar lah, Oom Ayrton pasti akan membukakan jalan tapi tidak sekarang."
Sean membalas pelukan Valentino. "Aku kangen kakakmu, V."
"I know. Tapi kondisinya tidak memungkinkan. Bang Sean paham kan maksudku."
Sean mengangguk. Valentino melerai pelukannya. Arka dan Shinichi pun bergantian memeluk Sean. Keduanya tahu bagaimana sebenarnya perasaan Sean ke Zinnia.
"Be patient, Sean." Leia memeluk iparnya. "Maaf jika kami mengobrak Abrik negaramu."
Sean tersenyum tipis.
Blaze memeluk Sean. "Zee merasakan hal yang sama tapi rasa kecewanya masih tinggi jadi kamu sabar ya."
"Terimakasih semuanya." Sean mengusap matanya yang berembun.
"Yang Mulia Raja Andrew, kami atas nama keluarga besar Klan Pratomo, meminta maaf jika kami membuka kotak Pandora. Semua ini tidak akan terjadi jika kepala keluarga bisa menghandle permasalahan internal. Perdana Menteri dan semua anggota kerajaan, kami menyerahkan semuanya kepada anda untuk berunding. Kami tidak bermaksud membuat gegeran hingga menyangkut tiga negara tapi fitnah yang dilakukan itu sangatlah kejam hingga kami harus membuktikan kebenarannya serta cerita di balik itu." Leia menatap semua orang.
"Kami rasa kami sudah cukup membuat anda semua paham ya kenapa kami melakukan ini karena kami ingin kebenaran terungkap meskipun awalnya hanya ingin membela saudara kami, Zinnia of Léopold, yang sudah berani membela dirinya sendiri tanpa dukungan dari anda semua" sambung Blaze yang membuat hati Sean terasa nyeri.
"Oh FYI, kalian tidak perlu mencari tahu dimana putri Natalia karena itu bagian kami" seringai Shinichi yang langsung mendapatkan pelototan dari kakak-kakaknya.
"Kami permisi." Leia bersama adik-adiknya membungkuk hormat dan berjalan keluar dari ruang pertemuan itu.
Yang membuat Sean merasa tenang, semua saudara Zinnia menepuk bahunya hangat sebelum keluar.
Setelahnya, Sean menatap tajam ke arah Raja Andrew. Dirinya ingin tahu apa yang akan diputuskan oleh ayahnya.
***
__ADS_1
Sarah dan Greg menghampiri kelima kakak beradik itu dengan wajah kepo yang tidak disembunyikan.
"Bagaimana tuan dan nona?" tanya Sarah.
"Tinggal tunggu keputusan Raja Andrew" jawab Leia. "Terimakasih Sarah, sudah membantu Zee." Leia memeluk wanita yang lebih tua darinya itu hangat.
Blaze, Valentino, Arkananta dan Shinichi juga bergantian memeluk Sarah yang selalu bersama mereka hampir tiga bulan ini.
"Saya senang bisa membantu anda semua. Putri Zinnia tidak bersalah disini dan saya mendukung beliau bersembunyi sampai kondisi disini kondusif. Hanya yang mulia pangeran Sean, Greg, Jasmine serta kami-kami sekretaris kerajaan yang melindungi putri Zinnia sebelum fitnah itu terjadi. Dan saya serta Greg tidak menyalahkan yang mulia Sean karena memang rapih sekali fitnahnya." Sarah menatap lima bersaudara itu.
"Dan saya tidak menyangka Ratu Michelle dan Putri Natalia berniat membunuh putri Zinnia" sambung Greg. "Saya malah tidak tahu jika ratu bukanlah ibu kandung pangeran Sean."
"Maaf jika kami berbuat huru hara disini. Dan semoga keputusan raja Andrew bijaksana" senyum Leia.
"Kalian berdua, tolong jaga bang Sean. Bagaimana pun, kehilangan mbak Zee itu cukup menyesakkan" ucap Arkananta.
"Tentu saja Tuan Baskara."
***
Kelima bersaudara itu pun pulang menuju kota masing-masing. Blaze kembali ke New York, Leia dan Shinichi kembali ke Tokyo karena mendapat kabar Opa Takeshi Takara harus memasang ring jantung, Arkananta dan Valentino kembali ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah mereka.
Leia tidak mau tahu apa yang terjadi dengan Natalia karena semua sudah menjadi urusan Darth Vader jilid dua. Dirinya fokus dengan kesembuhan Opanya dan harus kembali ke Turin.
***
Indramayu Jawa Barat Indonesia
Kandungan Zinnia kini menginjak lima bulan dan Juliet langsung sumringah mengetahui dirinya menang taruhan dengan sepupunya bahwa bayi yang dikandung Zinnia beneran boy.
Hari Sabtu sore ini Juliet datang ke Indramayu bersama dengan Valentino yang berencana untuk menginap disana. Valentino sendiri memang sudah kuliah di Universitas Indonesia barengan dengan Arkananta yang dua tingkat diatasnya dan Romeo sahabatnya. Valentino memilih jurusan IT sedangkan Romeo mengambil kedokteran.
Juliet sendiri merasa senang semenjak Romeo lulus SMA tahun lalu jadi dirinya tidak ada yang mengganggu dan merayu gombal ala puisi Shakespeare di sekolah.
"Mbak Zee, itu rumahnya jadi kapan sih?" tanya Juliet yang sedang memperhatikan proses para tukang untuk membangun rumah impian Zinnia.
"Kata Tante Arimbi mungkin enam bulan lagi jadi" senyum Zinnia.
"Lha, keburu si boy lahir dong!"
"Kata Oma Gendhis, setelah melahirkan, mbak disuruh tinggal disana sampai si boy tiga bulan baru balik ke Indramayu. Katanya biar kuat dulu."
__ADS_1
"Gas-gas sekolah online ya mbak?" tanya Juliet.
"Iya, lagian kan Gasendra sudah keterima di ITB kok tahun ini" senyum Zinnia.
"Biarpun aku rada sebal dengan Gas-gas, aku salut dia mau tinggal disini menemani mbak Zee."
"Ohya besok Oom Ayrton dan Tante Mariana datang." Zinnia menatap adik Valentino itu.
"Sama Garvita?"
"Iya sama Garvita."
"Eh mbak Zee tahu nggak, bodyguard nya Garvita, si Gabriel itu kayaknya suka sama Garvita." Juliet mulai ghibah dengan Zinnia.
"Macam Romeo ke kamu?" goda Zinnia.
"Ih Romeo mah nyebelin! Pede ajah bilang ke Daddy kalau Romeo itu untuk Juliet!" cebik Juliet.
"Terus Oom Hoshi bilang apa?"
"Over Shakespeare's dead body!"
Zinnia terbahak. "Shakespeare kan udah mati berapa abad yang lalu, Jules!"
"Makanya Daddy bilang kalau serius, si Romeo suruh langkahin kuburannya Shakespeare di Holy Trinity Church, Stratford-upon Avon. Apa maksudnya coba?"
"Suruh minta ijin ke yang buat Romeo and Juliet kali." Zinnia masih tertawa mendengar perintah Hoshi ke Romeo. "Terus Romeo bilang apa?"
"Tenang Oom Quinn, liburan aku kesana dan bakalan aku langkahi tujuh kali!"
Zinnia makin terbahak.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1