
Brussels Belgia
Sean dan Zinnia akhirnya tiba di Brussels setelah seminggu hampir berada di Dubai bersama dengan keluarga Al Jordan Schumacher.
Keduanya tiba di apartemen bersama dengan Jasmine dan Greg dalam keadaan lelah. Sengaja Sean memilih penerbangan siang hingga sampai di Brussels agak sore dan bisa langsung istirahat.
"Darling, capek?" tanya Sean sambil melihat Zinnia melepaskan jaket dan sepatunya saat keduanya sudah berada di kamar tidur mereka.
"Capek tapi senang. Pulang ke rumah, bertemu dengan papa dan mama membuat mood aku bagus." Zinnia melepaskan sisa bajunya dan hanya meninggalkan pakaian dalam.
"Sayang, belum ada tanda-tanda ada anak kita di dalam perutmu?" senyum Sean sambil mendekati istrinya dan mengelus lembut perut datar itu.
"Tampaknya belum Sean. Mungkin kita masih diberikan kesempatan untuk berpacaran dulu?" Zinnia mendekatkan tubuhnya ke suaminya.
"Kamu menggoda ku Zee" kekeh Sean.
"Really?" Zinnia membuka jas milik Sean meninggalkan kemeja hitam dan celana jeans. "Kalau begini, apakah menggoda?" Zinnia melepaskan kancing kemeja Sean satu persatu dan memperlihatkan dadanya yang berbulu serta perutnya kotak-kotak.
"Really tempting, baby" ucap Sean serak.
Zinnia melepaskan ikat pinggang Sean dan mulai membuka kancing celana jeans dan tangan mungilnya masuk ke dalam boxer Calvin Klein suaminya.
"Uuuhhh... Zee..." geram Sean yang merasa nikmat dengan ulah istrinya.
"Enak Sean?" bisik Zinnia sen*sual.
"Damn it princess! You make me wanna..." Sean langsung membopong istrinya ke atas tempat tidur membuat Zinnia terpekik karena suaminya sudah tampak hor*ny.
"Just love me like you do..." goda Zinnia di bawah Kungkungan suaminya.
"Jangan salahkan aku kalau agak rough..." Mata biru Sean tampak sayu.
"I'm yours baby..." Zinnia mengalungkan tangannya di leher kokoh suaminya. Sean langsung Melu*mat bibir istrinya.
***
Bruges, Belgia
Zinnia bersama Jasmine dan sekretaris kerajaan sudah dalam perjalanan menuju sebuah sekolah dasar di Bruges. Jasmine memperhatikan bagaimana seriusnya Zinnia mendengarkan penjelasan sekretaris kerajaan dan sesekali menginterupsi jika ada yang tidak dipahami.
Perjalanan dengan mobil dari Brussels menuju Burges menempuh waktu 1,5 jam. Sesampainya di sekolah dasar di Bruges, para guru dan siswa sudah bersiap disana. Zinnia pun turun dengan sekretarisnya dan Jasmine dengan wajah sumringah. Dirinya sangat menyukai anak-anak dan melihat mereka seperti membawanya ke pekerjaannya sebelumnya.
Dengan antusias Zinnia membalas semua para anak-anak SD itu yang memberikan bunga mawar untuknya. Zinnia pun tampak serius mendengarkan penjelasan kepala sekolah dan para guru. Wanita itu pun melihat kelas mereka satu persatu bahkan ikut mendongeng bersama dengan para guru.
__ADS_1
Jasmine tampak berjaga-jaga dengan situasi di sekolah itu. Meskipun dia tahu tidak akan terjadi apapun di sebuah sekolah dasar tapi tidak ada salahnya dirinya mempercayai instingnya.
Dua jam dihabiskan Zinnia di sekolah dasar itu dan acara selanjutnya mereka menuju ke pengrajin lace ( renda ) dan toko nya. Bruges terkenal dengan kwalitas lacenya yang sangat indah.
Zinnia dan rombongan tiba di toko Lace Jewel dan wanita itu tampak antusias dengan barang-barang yang dijual disana.
Menjelang jam makan siang, mereka tiba di Restaurant Le Chef et Moi yang terkenal dengan masakan Perancis nya.
Zinnia memesan fillet dada dengan gnocchi dan saus krim kental. Dan wanita itu langsung menyukainya dengan rasanya yang enak.
"Siapa chefnya?" tanya Zinnia ke sekretarisnya.
"Kenapa tuan putri?" tanya si sekretaris.
"Aku ingin memujinya. Dia sudah membuat masakan yang lezat" senyum Zinnia.
Sang chef sendiri merasa tersanjung mendapatkan pujian dari istri pangeran Sean Léopold. Zinnia sendiri tanpa ragu memuji tim dapur restauran dengan datang sendiri kesana.
Setelahnya rombongan itu kembali ke Brussels. Jasmine memperhatikan bahwa ada mobil asing yang mengikuti rombongan mereka. Ada dua mobil Range Rover di rombongan Zinnia sedangkan mobil itu adalah Fiat Toro.
Jasmine menatap Zinnia dengan tatapan yang hanya mereka tahu.
"Ada yang mengikuti kita, nona. Mereka memakai Fiat Toro." Jasmine menunjukkan foto dari satelit yang diambilnya dengan ipadnya. Benji sudah mengajarkan bagaimana menggunakan tanpa harus memakai drone.
"Siapa orang ini Jaz?" tanya Zinnia.
"Saya tidak tahu tapi saya rasa mereka hendak membuat nona jelek."
Zinnia hanya mendengus kesal. "Siapa sih yang usil Jaz?"
"Boleh saya tebak, antara ibu suri, atau kedua ipar anda."
"Brengsek! Aku menikah dengan Sean bukan hendak mengambil pamor mereka! Aku tidak butuh gelar atau pujian banyak orang!" umpat Zinnia. "Aku menikah dengan Sean karena aku mencintainya."
"Mereka berpikir picik, nona."
"Jika terjadi apa-apa denganku, jangan salahkan jika saudara ku membalas jauh lebih sadis."
Jasmine tersenyum. "Saya tahu bagaimana keluarga Bianchi, nona."
"Mereka memang konyol tapi sadis kalau sudah marah" kekeh Zinnia.
***
__ADS_1
Apartemen Sean dan Zinnia Brussels.
"Bagaimana acaramu hari ini Zee?" tanya Sean saat mereka melaksanakan makan malam.
"Menyenangkan. Aku bahkan mendapatkan hadiah Lace dari toko Lace di Bruges."
"Bagaimana dengan acara di sekolah? Aku yakin pasti kamu sangat senang bisa bertemu dengan anak-anak." Sean menatap wajah cantik istrinya.
"Mereka sangat menggemaskan bahkan tadi aku berbuat konyol dengan mencampur bahasa Belanda dan Jerman menjadi satu kalimat membuat para guru bingung dengan ucapanku tapi mereka bisa memahami" gelak Zinnia.
"Kebiasaan kamu mencampur adukkan bahasa" senyum Sean.
"Bagaimana harimu?" tanya Zinnia.
"Menyenangkan tapi juga menyebalkan."
"Kenapa?" Zinnia menatap bingung ke Sean.
Sean tidak menjawab tapi hanya memberikan ponselnya yang menunjukkan Zinnia mengobrol akrab dengan seorang chef tampan. Zinnia melongo tidak percaya bahwa ada tulisan di bawahnya.
Istrimu ternyata gatel juga ya?
"Astaghfirullah! Aku hanya memuji masakannya Sean!" Zinnia merasa kesal sama pihak pembuat fitnah itu. Benar-benar fitnah basi!
"Aku sudah menanyakan pada sekretarismu dan dia mengatakan memang kamu menanyakan chef nya karena ingin memuji masakannya. Dan aku juga sudah mengkonfirmasi dengan Jasmine kegiatan kamu sehari ini."
"Sean, apakah kamu tahu bahwa aku seharian diikuti oleh sebuah Fiat Toro? Dan aku yakin ada orang yang berniat jahat padaku dan terbukti kan mereka melakukan fitnah murahan seperti ini. Kamu bisa bertanya kepada semua orang di sana bahwa aku tidak flirting ke chef itu, aku hanya memujinya. Lagipula Sean, dia sudah menikah dan punya anak. Apa aku salah Sean? Aku hanya berusaha berbuat baik tapi tetap jadi fitnah?" Zinnia mengomel panjang lebar karena merasa kesal.
Sean memeluk istrinya yang emosi. "Aku percaya padamu Zee, hanya saja aku merasa kesal dengan orang yang membuat fitnah seperti itu."
"Sean, jangan salahkan aku jika aku tahu siapa pelakunya dia akan mendapatkan pembalasan yang jauh lebih kejam dari sekedar fitnah receh seperti itu. Karena di agama kita, fitnah jauh lebih kejam dari pembunuhan." Zinnia mengucapkan kalimat itu dengan penuh kesungguhan hingga membuat Sean merinding.
"Zee..."
"Jika kamu mengira aku tidak berani melakukannya, kamu salah Sean" Zinnia menatap Sean serius.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1