
Indramayu Jawa Barat Indonesia 4 tahun lalu
"V, cepet bawa mobilnya!" hardik Gasendra yang duduk di kursi belakang bersama Zinnia dan Shinichi.
"Elu kira ini Autobahn German? Yang kagak ada limitnya?" hardik Valentino kesal. Iya benar mobil mereka Range Rover tapi kan ini tol Indonesia, bukan Autobahn German!
"Tar kalau kena tilang, biar Oom Dapid yang maju!" celetuk Arkananta. "Kan dia mantan polisi jadi bisa lah dibantuin tar apalagi kan bawa mbak Zee mau lahiran. Dimaapin lah!"
"Mbak Zee, tolong bilang sama si boy. Kalau mau brojol, tolong... tolong dipending barang empat jam..." ucap Shinichi serius. "Boy, tolong bin Tulung ya boy, demi keamanan kita bersama antara kwartet kampret ini tidak terjadi pertumpahan air mineral, keluarnya agak nanti ya. Kalau boy nurut sama Oom Shinichi bukan Kudo yang imut dan bersahaja ini, nanti Oom traktir gelato banyak-banyak!" Shinichi berbicara ke perut Zinnia membuat keempat orang disana melongo.
"Astaga anaknya Oom Hideo! Nemu dimana sih!" umpat Gasendra.
"Boys, ini belum mau lahiran tapi memang sudah tidak enak, belum kontraksi yang sering gitu. Kan memang waktunya Minggu ini" senyum Zinnia yang pagi ini mengepang rambut hitamnya.
Yang spanneng nyetir
Yang ributin si sopir
Yang mau lahiran
Yang paling duluan siapin makanan
Yang ngajak makan gelato
"Bisa jadi malah lahirannya besok ya mbak?" tanya Arkananta yang duduk di depan bersama Valentino sambil ngemil dengan alibi belum sarapan.
"Iya Ka. Sudah ya jangan berantem. Kalian itu kalau ketemu ribut, pisah juga ribut" kekeh Zinnia ke keempat adiknya yang memang gemesin.
"Tapi mbak tadi heboh kenapa?" tanya Gasendra.
"Ya karena udah tidak nyaman saja jadi mbak pikir mending kita semua ke Jakarta aja sekarang daripada malah si boy minta brojol?"
***
Rumah Sakit PRC group Jakarta
Anandhita dan Anarghya bersama dengan Arum dan Rani sudah bersiap di depan rumah sakit. Beruntung di hari Minggu ini termasuk sepi jalanan jadi lalu lintas termasuk lancar.
Tepat tiga setengah jam, mobil Range Rover milik Arkananta itu tiba di depan rumah sakit dan keempat orang di dalam pun turun. Zinnia tetap mengeyel jalan karena dirinya masih bisa kuat dan menolak kursi roda yang diambilkan oleh Gasendra.
Usai memarkirkan mobilnya, Valentino pun ikut masuk ke dalam rumah sakit itu dan bertemu dengan sepupunya Remy, putra Anarghya dan Amaranggana.
"Lho Rem Mobil? Ikut bokap?" ledek Valentino.
"Iya mas V. Bokap minta ditemenin, ya sudah."
__ADS_1
"Elu tuh kayaknya Gedhe bakalan lebih cakep dari gue deh! Kagak ikhlas gue!" gelak Valentino.
"Lha mas V udah dari brojol tukang bikin darting jadi cakepnya ilang deh!" gelak Remy.
"Reseh lu!" umpat Valentino. "Lho kamar mbak Zee dimana?"
"VVIP lah mas!" Remy pun melangkah dengan yakin ke lantai khusus ruangan VVIP karena dia sering diajak Anarghya ke rumah sakit kalau pulang sekolah. Remy sendiri ingin menjadi dokter besok dewasa dan kedua orangtuanya mengijinkan bocah berumur sepuluh tahun itu.
***
Ruang VVIP Zinnia
Arum dan Rani memeriksa kondisi cucu dan calon cicit mereka dengan seksama bersama dengan dokter obgyn Zinnia, Dokter Kartika yang merupakan mahasiswa Rani dulu.
"Duh saya jadi minder nih soalnya memeriksa bareng sama senior..." kekeh Dokter Kartika.
"Kita cuma posisi nya sebagai Oma buyut ini Kartika..." senyum Rani. "Tapi sambil tetap merecall jaman kita masih aktif jadi dokter."
"Gimana keponakan aku, Tika?" tanya Anandhita ke rekan sejawatnya.
"Prediksi malam ini sudah mulai kontraksinya kemungkinan pagi besok lahir deh si boy" senyum dokter Kartika.
"Ya sudah, nanti biar aku dan Arabella yang menemani Zee" senyum Anandhita.
"Jangan Tante!" teriak Arkananta. "Kalau Tante bawa Ara, aku pulang!"
"Lho memang kenapa kalau Tante bawa Ara?" tanya Anandhita yang geli melihat putri dan keponakannya tidak pernah akur.
"Nanti ada koala ujud Ara, Tante. Mengalah-ngalahkan Velcro, bikin aku sumuk."
Semua orang di ruangan itu tertawa mendengar protes Arkananta.
"Emooohh!" teriak Arkananta dramatis membuat Arum gemas dengan cucunya.
"Kamu tuh ikutan sama papamu tho Ka. Dramatis..." kekeh Arum.
"Papa tuh biang drama Oma. Aku ndilalah kecipratan gennya yang nggak banget!" cebik Arkananta.
"Mas Arkaaaaa!" suara centil itu pun terdengar membuat Arka langsung merinding.
"Duh, mbak Kunti datang!" gumamnya.
Tampak seorang gadis manis datang bersama David disana dan matanya hanya tertuju ke arah Arkananta seorang.
Introducing Arabella Satrio
"Aku pulang!" Arkananta pun berdiri tapi Arabella lebih cepat memeluk tangannya.
"Temenin beliin es Dino Milo..." rengek Arabella manja. "Ada yang mau nitip? Kalau nggak ada yang nitip, aku beliin suka-suka tidak boleh ribut, tidak boleh rebutan, tidak boleh berantem. Tenang saja, nanti dibayari mas Arka kok!"
Arkananta mendelik tidak percaya dengan ucapan remaja berusia 15 tahun ini. "Kamu tuh!"
"Yuk mas Arka! Permisi semuanya!" Arabella langsung menarik Arkananta yang terpaksa pasrah karena tidak mau kena omel Omanya.
__ADS_1
***
"Anak itu ya ampun! Nanti kalau sudah dimarahi Arka, nangis drama" kekeh David. "Bagaimana Zee? Sudah mau lahiran?"
"Paling besok pagi, Dave. Tenang saja aku standby di apartemen dekat sini dan Dhita katanya mau nginap disini juga jadi Zee aman" senyum Kartika.
"Ini trio kampret mau disini juga?" tanya David ke ketiga keponakannya.
"Pulang ke rumah dulu Oom. Nanti sore balik lagi kesini" jawab Gasendra.
"Ya sudah balik sana kalian biar segar. Oom yakin kalian semua belum pada mandi kan?"
"Yeeehhh Oom David tuh gimana? Meskipun kita belum mandi, kita tetap wangi dengan kekuatan parfum dong! Tapi sudah nggak bau jigong karena kita kan rajin gosok gigi jadi no smelly abab!" sahut Shinichi.
David menggelengkan kepalanya.
"Dah pulang dulu sana biar segar. Arka biar nanti pulang nanti sama Oma" usir Arum supaya tidak banyak orang di ruang VVIP Zinnia.
***
Setelah semuanya pada pulang dan berjanji akan kembali sore nanti sambil membawa banyak makanan, Zinnia di kamar bersama dengan Rani Pradipta.
"Zee..."
"Iya Oma."
"Papamu dalam perjalanan ke Jakarta ini sama mamamu dan Garvita."
"Alhamdulillah bisa kemari."
"Kamu tidak mau memberitahu Sean?" Rani menatap cucunya.
Zinnia menggelengkan kepalanya. "Tidak Oma, nanti Zee harus kembali ke Belgia dan Zee belum siap Oma. Apalagi, Zee ragu apa Sean percaya ini anaknya atau tidak. Karena saat Zee pergi ternyata sudah hamil dan waktunya hampir bersamaan dengan fitnah keji itu jika dihitung secara medis."
"Tapi kan bukan kamu yang bersama pria brengsek itu!" bantah Rani.
"Apa Sean kepikiran? Zee ragu Oma. Selama Sean masih belum diijinkan papa bertemu dengan Zee, biarkan kami seperti ini dulu. Zee juga masih suka sakit hati kalau ingat bagaimana Sean hanya diam saja waktu Zee disidang."
Rani mengusap bahu cucunya. "Sabar ya nduk. Nanti kalau si boy lahir, kamu akan mendapatkan kekuatan ekstra karena anak itu adalah penyemangat ibu. Ngomong-ngomong, kamu sudah menyiapkan nama?"
"Sampun Oma."
"Siapa namanya Zee?"
"Arsyanendra."
Introducing Remy Giandra Dewasa
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️