The Prince and I

The Prince and I
Misi Sean Untuk Zinnia


__ADS_3

Geneva Switzerland 5 tahun lalu...


Zinnia menatap Sean dengan wajah datar setelah mengucapkan kalimat panjang lebar itu. Bagi Zinnia, jika Sean berkata seperti itu, berarti dia harus membuktikan ucapannya kepada Ayrton, Karl dan Gasendra. Cukup mereka bertiga dulu karena tidak mungkin dia akan meminta Oom Bagas dan Dewa ikutan.


"Jadi aku harus menghadapi semua anggota keluarga kamu?" tanya Sean.


"Apakah kamu takut?"


"Kenapa kamu mengatakan begitu? Aku tidak takut, Zee tapi apa yang membuat kamu memaksa aku seperti itu?"


"Kamu sendiri yang bilang bahwa kamu sudah bosan bermain-main dan ingin memiliki aku kan? Buktikan!"


"Apa kalau aku sudah membuktikan ucapanku, menjamin kamu akan menjadi milikku?" balas Sean.


"Mau aku menolak seperti apapun, kamu akan tetap mengejar ku kan? Kamu adalah tipe yang tidak mau kalah, Sean. Hanya saja aku tidak yakin, apakah kamu merasa setelah mendapatkan aku, sensasinya akan berbeda? Kamu sekarang memang fokus dan terpacu adrenalin untuk menundukkan aku tapi apa kalau aku sudah menyerah, kamu akan bosan?"


"Zee, seperti aku pernah bilang, kamu adalah pelabuhan terakhir aku dan aku tidak akan pernah merasa bosan kepadamu."


"Kita lihat saja nanti" ucap Zinnia dengan nada dingin.


***


Sean terpaksa harus menyingkir dari ruang kerja Zinnia karena gadis itu kedatangan seorang klien dan kini dirinya berada di cafetaria bersama dengan Greg.


"Greg..."


"Iya tuanku?"


"Berapa lama gips aku bisa dibuka?" tanya Sean.


"Akhir bulan sudah bisa tuan. Bukankah hasil Rontgen tadi sudah membaik meskipun kemarin gips anda sempat rusak."


"Buatkan janji kepada Emir Al Jordan Schumacher bahwa aku ingin bertemu dengannya termasuk dengan Mr Karl Schumacher dan Gasendra Al Jordan di akhir bulan ini."


Greg terkejut mendengar ucapan Sean. "Apa anda yakin tuanku? Hendak bertemu dengan Emir Al Jordan Schumacher? Ini pertemuan kenegaraan atau pribadi?"


Sean menatap judes ke arah Greg. "Tentu saja pribadi! Zinnia benar-benar menantang aku, Greg. Dia tidak mempercayai sedikit pun ucapanku bahwa aku sudah jatuh cinta dengannya."


"Mungkin karena masa lalu anda, tuanku dan juga masa lalu nona Zinnia."


Sean melirik ke arah Greg. "Apa maksudmu Greg?"


"Anda tahu kan nona Zinnia adalah anak angkat Keluarga Al Jordan Schumacher tapi apakah anda tahu dia anak siapa?"

__ADS_1


"Greg, darimana kamu bisa membongkar masa lalu Zee?"


"Saya terpaksa melakukan hack meskipun setelahnya laptop saya habis itu kena virus. Rupanya keluarga besar klan Pratomo menutup rapat siapa nona Zinnia sebenarnya."


"Siapa dia Greg?"


"Nona Zinnia memang putri dari kakak dari Mariana Hadiyanto, istri Emir Al Jordan Schumacher tapi dia adalah anak yang dikandung dengan kekasih nyonya Mariana."


Sean melongo. "Bagaimana?"


"Nona Zinnia adalah anak hasil perselingkuhan kakak nyonya Mariana, yaitu Mareta dengan Indrawan kekasih nyonya Mariana saat itu. Dan saat nyonya Mareta hamil tujuh bulan, baru Indrawan mau menikahinya. Sayangnya nyonya Mareta mengalami pre-eklampsia saat melahirkan nona Zinnia hingga mengalami komplikasi dan koma. Nyonya Mariana pun akhirnya mengadopsi resmi nona Zinnia dan ketika nyonya Mariana menikah dengan Emir Ayrton, keluarga Al Jordan resmi mengadopsi nona Zinnia dan resmi menggunakan nama belakang keluarga mereka."


"Jadi Zee adalah ... "


"Tuanku, kondisi nona Zinnia jangan sampai Keluarga kerajaan tahu karena pernyataan resmi dari Emir Senna Al Jordan, Zinnia adalah anak dari kakak nyonya Mariana yang sudah meninggal. Cukup mereka tahu itu saja. Karena jika ada yang berani mengusik masa lalu nona Zinnia, saya tidak bisa menjamin keluarga besar mereka akan bertindak. Asal anda tahu tuanku, mereka pernah menghancurkan mafia Irlandia dan kerajaan Al Azzam."


Sean mengangguk apalagi dia sangat tahu bagaimana sang mommy sangat menjunjung bibit bebet bobot siapa yang akan menjadi pasangan putranya. Kakaknya Stefan sendiri sekarang sedang berhubungan dengan seorang putri dari kerajaan kecil di Skandinavia. Semua orang tahu princess Natalia adalah wanita yang perfect.


Apalagi jika Sean memilih Zinnia, dia harus menghadapi konsekuensinya termasuk mengikuti semua aturan keluarga Al Jordan tanpa terkecuali serta harus merubah semua kebiasaannya karena keluarga mereka dikenal keluarga yang bersih.


Sean menghela nafas panjang. Mommynya berapa kali memuji bagaimana perfectnya Natalia yang pantas menjadi pendamping Stefan dan banyak hal lainnya. Tetapi aku cintanya hanya pada Zee dan aku tidak mau mengganti dirinya dengan wanita lain.


"Ingat Greg. Semua orang di Belgia tidak boleh ada yang tahu Zee sebenarnya. Biarlah apa yang menjadi statement dari Senna Al Jordan saat itu menjadi pernyataan resmi kerajaan jika aku akhirnya bisa meminang Zee. Kamu tahu kan bagaimana ibuku?"


"Baik tuanku. Anda merasa sebal ya dengan pujian kepada princess Natalia?"


Greg mengangguk.


***


Zinnia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat menerapi kliennya dan diliriknya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Sudah waktunya pulang dan besok harus ke kampus untuk ujian. Harus tidur cepat ini" gumam Zinnia sambil membereskan semua bawaannya.


Setelah semua barang bawaannya, Zinnia merapikan ruangannya dan keluar dari sana saat semuanya sudah rapi.


Zinnia mematikan lampu dan membuka pintu ruangannya. Betapa terkejutnya melihat Sean sudah berdiri disana.


"Ayo, aku antar pulang" ajak Sean.


"Tapi..."


"Kamu datang pakai Uber kan? Ayo, aku antar pulang Zee" suara Sean terdengar tegas membuat gadis itu tidak bisa menolak dan akhirnya mereka berdua menuju parkiran mobil dimana Greg sudah siap disana.

__ADS_1


Zinnia pun masuk ke dalam mobil Mercedes Benz itu berdampingan dengan Sean di kursi belakang. Gadis itu menoleh ke arah Sean ketika dengan santainya menggenggam tangannya.


"Aku akan menginap di apartemen kamu, Zee."


"Hah? Apa - apaan?" seru Zinnia terkejut.


"Kamu hendak ujian besok, dan aku akan menemani dirimu. Okay? Aku tidak menerima penolakan, Zee." Sean menoleh ke arah gadis cantik itu yang masih menatapnya judes.


Zinnia hanya meremas tangan Sean yang sedang menggenggam tangannya dengan perasaan kesal sedangkan pria itu hanya tersenyum lebar seolah tidak merasakan apa-apa dire*mas oleh gadis itu.


***


Apartment Zinnia


Zinnia berjalan dengan langkah kesal menuju kamarnya dan membanting pintu membuat Sean tersenyum. Pria itu ditemani oleh Greg yang membawakan duffle bag dan koper miliknya.


"Tuanku, apakah tuanku yakin akan menginap disini? Anda lihat sendiri nona Zinnia tampak kesal" bisik Greg.


"Aku sedang menjalankan misi membuat dia luluh sedikit karena nanti aku harus menghadapi keluarganya yang bar-bar."


Greg hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau anda babak belur dihajar nona Zinnia, panggil saya untuk membawa anda ke rumah sakit."


"Tenang saja Greg."


Greg pun mengundurkan diri meninggalkan Sean di ruang tengah apartemen Zinnia.


Sementara Zinnia masih berjalan mondar-mandir di dalam kamar akhirnya memutuskan untuk keluar guna mengusir Sean.


Pintu kamarnya pun terbuka dan wajah gadis itu tampak marah.


"SEAN!" bentaknya namun sejurus kemudian wajahnya memerah. Tampak Sean tiduran di sofa tanpa baju dan meninggalkan celana jeans saja sambil memasang earphonenya.


"Apa Zee? Aku mandi dimana enaknya?" sahutnya santai.


Iiissshhh rasanya ingin aku tendang pria ini!



***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2