The Prince and I

The Prince and I
Give Me A Chance


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Present Day


"Ya ampun! Beneran hujan" Zinnia melihat ke arah jendela.


"Mbak Zeeeee!" teriak Shinichi masuk ke dalam rumah. "Bukan salahku hujan lhoooo!"


"Tetep salahmu Shinchan!" seru Arkananta.


"Lho kalian kok belum kelar video call nya?" Shinichi menatap ke semua sepupunya.


"Belum lah..." ucap semuanya.


"Zee, itu dijemur dimana?" Sean pun masuk ke ruang tengah dan menoleh ke monitor layar lebar nya. "Eh? Halo semua!"


"Halo Sean."


"Halo Bang Sean."


"Kok ya beneran hujan ya mbak?" Shinichi menatap jendela ruang makan.


"Elu sih cuci baju!" ujar Luke.


"Ya kata mbak Zee, aku harus bisa cuci baju sendiri tapi kalau endingnya hujan begini berarti besok-besok aku nggak usah cuci baju kan?" Shinichi menyeringai jahil.


"Nggak usah ngeles kamu!" omel Luke. "Bukannya ini memang musimnya?"


"Jadi ini kebetulan? Bukan karena aku cuci baju?"


"Iyalah!" seru semua sepupunya.


"Oh, jangan-jangan kalian bilang begitu biar aku tetap harus bisa cuci baju ya?" Shinichi memicingkan matanya.


"Itu juga!" ucap Bayu O'Grady yang baru bergabung. "Hai Zee, hai Sean. Halo Arsya. Hei kebo!"


"Astaghfirullah! Moooommmyyyy!" rengek Shinichi langsung memeluk Zinnia.


"Kalian tuh kok usil sih?" kekeh Sean melihat Shinichi kolokan dengan istrinya.


"Usilin trio kampret paling enak. Shinichi paling enak" gelak Luke. "Sean, a word. Bisa kita ngobrol bentar?"


"Aku ke kamar Arsya. Bye semua." Sean pun menuju kamar Arsya.


"Aku bye dulu." Luke pun mematikan panggilannya.


"Kira-kira bang Lukie mau ngapain mbak?" tanya Arkananta.


"Mana aku tahu" senyum Zinnia.


"Paling ngomong soal mbak Zee ke Belgia." Gasendra menatap saudara-saudaranya.


***


Kamar Arsyanendra


Luke melakukan panggilan melalui video call ke Sean yang sudah duduk di kursi kamar putranya.


"Gimana kabar mu Sean?" tanya Luke.


"Alhamdulillah baik dan bahagia bisa bertemu dengan Zee dan Arsya. Apakah kamu tahu saat kamu bawa Zee keluar Belgia, Zee sedang hamil?" Sean menatap tajam ke Luke.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kalau Zee hamil saat itu, Sean" jawab Luke. "Kami baru tahu Zee hamil setelah dia pindah ke Jakarta. Sebenarnya Zee tahu hamil saat berada di Kensington dan Putri Medeline dan Pangeran Henry merahasiakannya dari kami."


"Dan kalian semua tidak ada yang memberitahukan padaku?"


"Apa kalau Zee memberitahukan padamu, dia akan aman di Brussels?" balas Luke. "Apakah kamu tidak meragukan itu anak siapa?"


Sean terdiam.


"Zee difitnah saja kamu tidak membelanya Sean! Bagaimana bisa kami membiarkan Zee sendirian di Belgia? Jasmine? Tidak akan kuat melawan ayahmu, ibumu dengan segala cara untuk membunuh Zee!"


"Father tidak ada niat membunuh Zee!"


"Tapi dia membiarkan semuanya Sean! Sama saja menjadi accessory of murders! -- istilah dalam crime -- ( Meaning a person who assists in, but does not actually participate in, the commission of a crime - Artinya adalah orang yang membantu, tetapi tidak benar-benar berpartisipasi dalam, melakukan kejahatan ). Kamu paham kan yang kumaksud?"


Sean tidak bisa membantah akan hal itu karena pada saat itu, Raja Andrew hanya diam saja tanpa ada komentar atau apapun.


"Sekarang, kamu maunya apa Sean? Setahuku Zee ingin berpisah denganmu!"


"Aku tidak mau berpisah dengan Zee apalagi kami memiliki Arsya!" jawab Sean tegas.


"Apakah Zee akan mau rujuk padamu? Aku rasa tidak! Zee sudah cukup parno untuk kembali ke Brussels."


"Tapi dia masih istriku, Luke! Surat cerai yang dikirimkan, selalu aku robek!"


"Sean, lepaskan Zee. Dia sudah cukup..."


"Shut up Luke! She's My Wife for God's sake!" hardik Sean kesal.


"Your wife? Really? Kalau begitu, buktikan kalau kamu memang pantas mendapatkan Zee dan Arsya!"


"Of course Luke!" Mata biru Sean berkilat marah.


"Lepaskan Belgia" ucap Luke tenang.


"Kamu ingin mendapatkan Zee dan Arsya kan? Lepaskan Belgia! Persetan dengan hasil petisi yang dibuat rakyat mu! Istri dan anakmu atau rakyat mu! Pikirkan!"


Sean memegang pelipisnya. "Aku ingin dua-duanya, Luke. Aku tidak bisa egois!"


"Think about it! Jika kamu berusaha membujuk Zee kembali ke Belgia, bersiaplah untuk penolakan!"


***


Zinnia dan Shinichi mengakhiri panggilan videonya bersama semua sepupunya dan sekarang pria imut itu membantu sang kakak untuk menata meja karena mereka bersiap makan siang.


"Mbak, kira-kira bang Sean berantem nggak ya sama bang Lukie?" tanya Shinichi.


"Kamu kan tahu sendiri bagaimana sifatnya Luke. Kalau sudah emosi sama saja dengan papa."


"Ih lagian lahirnya dari mafia sama Yakuza. Horor mbak!" Shinichi tampak bergidik yang membuat Zinnia tertawa.


"Ini nyonya makan siangnya." Bik Minah menyiapkan menu makan siang berupa tomyam dan beberapa ingredient isiannya seperti cumi, udang rebus, bihun, daun seledri jadi mereka bisa memasukkan sesuai dengan selera.


"Shin, nyalakan kompor portabel nya. Arsya duduk manis ya, mommy mau panggil Daddy." Zinnia berjalan menuju kamar Arsya.


"Jasmine, ayo makan bareng. Biar ramai" ajak Shinichi ke pengawal kakaknya.


***


Zinnia mengetuk pintu kamar Arsya namun tidak ada jawaban hingga membuat wanita itu membuka pintu kamar putranya.

__ADS_1


"Sean, ayo makan..." Suara Zinnia terhenti saat melihat Sean duduk diatas karpet tebal bersandar dengan tempat tidur Arsyanendra.


"Duduk sini Zee..." Sean menatap sendu ke istrinya sambil menepuk karpet sisi kirinya.


"Makan dulu. Shin dan Arsya sudah menunggu..."


"Please Zee? Tolong tutup pintunya."


Zinnia menghela nafas panjang. "Shin! Sya! Kalian makan saja dulu. Jaz, tolong bantu Arsya ya."


"Baik nona Zinnia."


Arsya menatap Oom dan aunty Jasmine nya dengan tatapan bingung.


"Mommy kenapa? Kok Ndak maem sama-sama?"


"Mommy lagi bujuk Daddy makan. Mungkin Daddy lagi nggak enak badan jadi malas makan. Kan sama ma Arsya kalau lagi kena flu, jadi malas makan" papar Shinichi.


"Daddy halus dibujuk mommy ya? Kayak Asya?" mata biru bening itu menatap polos ke Shinichi.


"Hu um. Arsya kan anaknya Daddy, jadi hampir sama deh sifatnya" senyum Shinichi sambil menyendok kuah tomyam.


***


Kamar Arsyanendra


Zinnia duduk di sebelah Sean dengan tatapan bingung dan wanita itu bisa merasa suaminya lagi-lagi bertengkar dengan Luke. Zinnia sangat tahu bagaimana protektif nya Luke ke saudara perempuannya bahkan dia berani menghadapi siapapun yang menyakiti mereka.


"Luke dan kamu bertengkar?" tanya Zinnia lembut.


"Dia memberikan pilihan yang sulit." Sean tampak menerawang menatap langit-langit kamar Arsyanendra yang bermotif bintang.


"Sean, jadilah raja di Belgia tapi jangan bawa aku. Aku tidak sanggup kembali..."


"Belum sanggup, Zee! Kamu hanya belum sanggup kembali."


Zinnia menatap Sean. "Kamu tidak tahu betapa..."


"Parnonya kamu? Zee, berulang kali aku bilang, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu dan Arsya. Siapapun!"


"Bagaimana jika itu kamu?"


Sean melongo. "Apa?"


"Bagaimana jika yang menyakiti aku dan Arsya itu adalah kamu?"


"Astaghfirullah! Aku tidak akan pernah menyakiti kamu dan Arsya! Tidak akan pernah!" Sean menatap tajam ke Zinnia.


"Tapi kamu sudah..."


"Dan aku tetap menyesalinya hingga detik ini! Please Zee, berikan aku kesempatan untuk bersamamu dan Arsya. Papamu sudah memberikan kesempatan, kenapa kamu tidak memberikan kesempatan padaku?" Sean memegang wajah Zee. "I love you. And always you and Arsya are my everything."


Zinnia hanya menatap Sean.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2