The Prince and I

The Prince and I
Ujian Zinnia


__ADS_3

Geneva Switzerland 5 tahun lalu...


Sean menghampiri Zinnia dengan sedikit tertatih karena dia hanya memakai satu kruk. Sesampainya di tempat tidur gadis itu, Sean naik ke sisi kosong sebelah Zinnia dan dengan lembut pria itu merebahkan tubuh sintal itu agar nyaman tidurnya.


Zinnia tampak tidak terusik dengan perbuatan Sean dan langsung reflek memeluk boneka berbentuk lumba-lumba yang ada di tengah tempat tidur. Wajahnya tampak damai saat tidur membuat Sean tidak tahan untuk tidak mencium kening gadis itu.


"Kamu tahu Zee. Waktu di Singapura, aku mendengar ucapan mu yang bilang pangeran sombong. Rambutmu hitam tergerai dengan ikal gantung dan saat kamu datang bersama Oom Benji atas undangan Grandad dan Grandma ku, aku baru lihat kamu sangat menggemaskan tapi galaknya minta ampun."


Sean mengusap-usap kepala Zinnia. "Zee, maukah kamu bersamaku? Aku benar-benar jatuh dalam pesona kamu. Dan jika kamu meminta aku menemui tiga pria di Dubai, akan aku lakukan Zee."


Zinnia tampak sedikit terusik dan melepaskan pelukannya di bonekanya. Sean langsung melempar boneka itu, melepaskan kaosnya dan merebahkan tubuhnya di sebelah Zinnia.


"Daripada kamu memeluk boneka, mending kamu memelukku Zee" cengir Sean penuh dengan modus lalu menarik tubuh Zinnia dan memeluknya.


Merasakan sesuatu yang hangat, Zinnia mendekatkan tubuhnya dan bergumam "Dingin."


Sean menarik selimut dan memeluk gadis itu. "Kamu tidak tahu betapa damage nya satu kata itu buat belutku, Zee" kekeh Sean yang berusaha menidurkan sesuatu di bawah.


Zinnia tampak masih terpejam dan memeluk Sean yang tanpa bosan menciumi pucuk kepala gadis itu.


"Tidurlah Zee. Besok kamu ujian kan? Mimpi indah, sayang." Sean mengetatkan pelukannya dan tak lama pria itu pun menuju alam mimpi.


***


Suara alarm membuat Zinnia terusik dan berusaha meraih ponselnya namun seketika dirinya terkejut merasakan tubuhnya dipeluk oleh seseorang. Wajah gadis itu memerah ketika mengetahui kepalanya diletakkan diatas dada seorang pria yang berbulu.


Astaghfirullah!


Zinnia mendongakkan wajahnya dan tampak Sean masih terlelap dengan tenang tanpa terusik dengan suara alarm ponselnya. Perlahan dia berusaha melerai pelukan Sean dan berbalik untuk mematikan alarm ponselnya.


Sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang dan Zinnia merasakan bibir Sean menciumi tengkuknya. Tubuh Zinnia menegang mendapatkan perlakuan intlm seperti itu.


Ini salah!


"Sean! Stop!" Zinnia berusaha melepaskan dirinya.


"Jangan pergi Zee, ini nikmat banget" bisik Sean parau.


"Iya nikmat di kamu, musibah di aku! Lepasin!" bentak Zinnia.


Sean pun melepaskan pelukannya meskipun keberatan karena harum rambut dan aroma tubuh Zinnia yang spesifik membuatnya ketagihan.



"Selamat pagi, Baby" senyum Sean yang membuat Zinnia menatap sebal.

__ADS_1


***


Zinnia menyiapkan sarapan berupa pancake dengan teh wasgitel panas favoritnya. Selain itu dia juga menyediakan beberapa buah-buahan diatas meja makan. Masih ada sandwich berisikan smoke beef, keju, onion ring dan mayonaise.



Pancake with berries



Smoke beef sandwich.


Sean yang baru saja menyelesaikan mandi, menatap mesra ke arah Zinnia yang sudah siap untuk berangkat ujian.


"Ujian jam berapa Zee?" tanya Sean sambil duduk di kursi makan.


"Jam sepuluh" jawab Zinnia pendek.


Sean melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. "Diantar Greg ya?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Nggak usah! Aku bisa berangkat sendiri!" jawabnya ketus. Jujur Zinnia masih dongkol bagaimana dia bisa ketiduran dengan lupa mengunci pintu kamarnya yang mengakibatkan keuntungan bagi Sean yang semalaman memeluk dirinya.


"Oh come on Zee, diantar ya?" rayu Sean.


Sean sedikit terkejut melihat wajah galak gadis itu namun senyum tipis muncul di bibirnya. Pasti Zee kesal semalam aku menang banyak - banyak.


"Sudah! Sarapan dulu! Aku tidak mau terlambat ke kampus hanya gara - gara mengurus orang nggak punya akhlak seperti kamu!" Zinnia mulai memakan pancakenya.


Sean hanya menatap mesra ke gadis itu. Biarpun kamu dongkol tapi tetap membuat sarapan itu memang kamu calon istri yang baik, Zee. Membuat aku semakin yakin untuk datang ke Dubai.


***


University of Geneva


Zinnia dan Greta sekarang menunggu di kursi tunggu ujian di ruang dosen bernama Doktor Gustav. Kedua gadis itu tampak memejamkan mata untuk menghapal inti materi yang akan diuji.


Suara pintu ruang doktor Gustav terbuka dan tampak seorang teman Zinnia dan Greta keluar dengan wajah marah.


"Memangnya siapa dia! Seenaknya menghina otakku dangkal! Dasar pria idiot! Bujang lapuk! Makanya siapa juga cewek yang betah dengan pria macam itu!" omel teman Zinnia dan Greta itu sambil menghentakkan kakinya tanda kesal luar biasa.


"Apakah ada ujian susulan jika kita gagal disini?" tanya Greta dengan tatapan horor. Jujur dia malas mengulang ujian yang ini karena menurutnya sangat membosankan.


"Entahlah! Good luck buat kalian!" ucap temannya itu lalu pergi meninggalkan Greta dan Zinnia.


"Fräulein Hadiyanto" suara asisten Doktor Gustav memanggil namanya.

__ADS_1


"Good luck, Zee" bisik Greta tulus.


"Thanks Greta. Aku masuk dulu." Zinnia menepuk-nepuk dadanya yang terasa jantungnya berdebar-debar. *Tenang Zee. Baca basmalah.


Bismillahirrahmanirrahim*.


***


Sean bolak-balik menatap jam dinding apartment Zinnia yang kini sudah menunjukkan pukul dua siang. Jujur dirinya sangat cemas menunggu gadis itu. Makan siang Sean sendiri memilih delivery dan sudah tertata rapih diatas meja makan.


Siang ini Sean sengaja memesan dosirak khas Korea karena tahu Zinnia adalah penggemar makanan Korea dan Jepang. Pria itu tahu ketika tadi membuka kulkas Zinnia, menemukan satu kotak kimchi, berbagai bumbu khas Korea dan Jepang disana.


Bahkan Sean melihat adanya tumpukan daging untuk digrilled serta dia menemukan kompor portabel di kabinet dapur dan peralatan untuk grilled.


Ditinggal Zinnia ke kampus membuat Sean meneliti isi apartemen gadis itu. Pria bermata biru itu membuka lemari pakaian Zinnia dan melihat bagaimana baju gadis itu merupakan perpaduan baju berbranded terkenal dengan branded lokal. Sean tersenyum melihat dalaman Zinnia yang hanya ada tiga warna dan semuanya dari berbagai merk.


Hitam, biru navy dan coklat.


Setelah melihat isi lemari pakaian, Sean memperhatikan meja rias gadis itu. Berderet peralatan dan perlengkapan make up terdapat disana.



"Channel, Jo Malone, Carolina Herrera, Dolce and Gabbana..." Sean membaca parfum - parfum milik Zinnia. "Kamu itu memang kolektor parfum."


Puas menjelajahi kamar Zinnia, Sean pun duduk di sofa sambil menonton TV. Dirinya merasa geli seperti seorang suami yang menunggu istrinya. Hah? Oh Sean, otakmu sudah error.


Suara pintu apartemen dibuka membuat Sean menoleh. Tampak wajah Zinnia yang kusut masuk ke dalam ruangan.


"Welcome home, Zee" sapa Sean yang membuat Zinnia terkejut melupakan pria itu masih ada di apartemennya.


Zinnia tidak menjawab sapaan Sean tapi langsung melepaskan jaket dan sepatunya lalu mengganti dengan sandal rumahnya yang berbulu.


"Are you okay?" tanya Sean yang melihat bagaimana gadis itu seperti menahan tangis. "Ada apa?"


Zinnia tidak menjawab namun langsung menghambur memeluk Sean dan menangis kencang disana.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2