The Prince and I

The Prince and I
Isi Hati Zinnia


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Present Day


"Kelahiran Arsya normal, Zee?" tanya Sean yang sekarang duduk menyamping sambil terus menatap wajah istrinya dan sesekali memilin rambut hitam Zinnia.


"Alhamdulillah normal dan Arsya tidak membuat aku report sama sekali. Dia bayi yang sangat tampan..."


"Seperti Daddynya..."


Zinnia menoleh ke arah Sean. "Iya, seperti kamu. Semua saudaraku bilang begitu, aku hanya bagian bawa sembilan bulan."


Sean tersenyum dan mengambil sejumput rambut panjang Zinnia lalu membawanya ke hidungnya yang mancung. "Aku selalu suka harum shampoo mu Zee..." ucapnya serak.


"Sudah malam Sean." Zinnia belum lupa sama sekali dengan tanda-tanda suaminya seduktif apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.


"Lalu kenapa kalau sudah malam?" Sean menatap dalam mata hitam istrinya yang tampak gugup.


"Aku...mau tidur. Oh, besok jam berapa kamu kembali ke Jakarta?"


Sean melongo. "Setelah kejadian sehari ini, kamu tetap meminta aku kembali ke Jakarta besok? Tega kamu, Zee! Aku baru bertemu dengan anakku!" desis Sean penuh amarah. "Aku tidak akan pulang ke Belgia jika kamu tidak ikut!" Sean mencengkeram lengan Zinnia.


"Aku tidak mau kembali Sean! Please... let me go..." pinta Zinnia memelas.


"Why Zee? Mother sudah tidak ada! Stefanus sudah memilih ke New Zealand bersama dengan wanita sialan itu! Apa lagi yang kamu takutkan Zee?" Sean melepaskan cengkeramannya. "Apa kamu tahu, aku harus minum red wine setiap malam setahun pertama kamu pergi hanya agar aku bisa tidur! Bagaimana aku selalu menyebut namamu dalam doaku agar kamu segera kembali padaku. Setahun, dua tahun, tiga tahun, aku menanti kekasih hatiku yang sudah membuat aku berantakan tiga tahun terakhir ini... Dan ironisnya, kekasihku memiliki putra bersamaku tanpa memberitahukan padaku..."


Zinnia menatap wajah lelah Sean, wajah sedih yang teramat dalam. Wanita itu menggenggam tangan suaminya. Tidak hanya kamu yang berantakan hatinya Sean.


"Aku rindu berat padamu Zee. Setiap tiga bulan sekali aku selalu ke Dubai, hanya untuk membuka pintu maaf dari papamu dan opamu, berharap keduanya memberikan informasi kamu dimana. Selama tiga tahun terakhir ini, aku selalu menemui mereka. Apa kamu tidak tahu?"


Zinnia menggelengkan kepalanya. Dia tahu Sean ke Dubai tapi sampai setiap tiga bulan sekali kesana demi membuka hati papa dan opanya, itu yang dia tidak tahu.


"Papamu tidak cerita?" Sean mencari kebohongan di wajah Zinnia dan setelahnya dia ingat, Zinnia tidak mungkin berbohong.


"Tidak Sean. Papa cuma cerita kamu ke Dubai, tapi tidak yang setiap tiga bulan sekali itu."


Sean mengusap wajahnya kasar lalu tertawa miris. "Hukumanku benar-benar telak ya Zee..."


"Maaf tapi opa, papaku dan Gasendra adalah orang-orang yang paling marah padamu. Mereka tipikal pria yang butuh waktu untuk kompromi dengan perasaan. Sebenarnya mereka kecewa berat padamu, Sean..."

__ADS_1


"I know Zee! Dan aku menyesali nya setiap saat!" hardik Sean frustasi. "Please, sayang. Apakah kamu sudah tidak ada perasaan cinta padaku?"


Zinnia hanya menatap datar ke Sean.


Sean seperti mendapatkan tinju di perutnya saat melihat ekspresi istrinya, ekspresi yang sama saat Zinnia pergi meninggalkannya ke London.


"Zee... Apakah... kamu ingin berpisah?" bisik Sean yang bisa didengar Zinnia ada nada bergetar disana.


"Aku tidak mau mengalami hal seperti kemarin Sean... Aku tidak meminta hartamu, Sean, hanya kepercayaan, cinta, komunikasi dan kejujuran... tapi kamu tidak percaya padaku. Apalagi saat aku pergi, aku sedang hamil Arsya. Apa kamu percaya bahwa itu anakmu saat itu? Aku rasa tidak, karena di pikiranmu, itu kemungkinan anak Stefanus. Aku tidak pernah berhubungan dengan pria manapun kecuali padamu. Aku tidak pernah mengkhianati kamu Sean. Pada saat kamu ucapkan ijab qobul, aku sudah berjanji menyerahkan hidupku untuk bersama dengan mu jadi tidak mungkin aku melanggar janjiku di hadapan Allah."


Mulut Sean menganga. Betapa dalamnya luka yang dia torehkan ke Zinnia apalagi saat itu sedang hamil muda.


"Aku masih ada rasa tidak nyaman di istanamu dan apartemen mu, Sean. Karena di istana, mereka memfitnah dan mempermalukan aku tanpa ada pembelaan darimu, sedangkan di apartemen, kamu membentak aku sedemikian rupa tanpa mendengarkan penjelasan ku dan kamu merendahkan aku, Sean." Zinnia sedikit terisak mengeluarkan semua uneg-unegnya.


Sean hendak memeluk Zinnia tapi istrinya menolak.


"Aku lelah Sean." Zinnia pun berdiri. "Selamat malam." Wanita itu berjalan meninggalkan Sean menuju kamar tidurnya dan pria itu mendengar suara pintu terkunci.


Sean menghela nafas panjang berulang kali. Dia tidak menyangka sikapnya membuat istrinya terluka seperti itu meskipun sudah hampir empat tahun berlalu.


Maafkan aku Zee...


***


Di dalam kamar, Zinnia pun tidak lebih baik perasaannya. Trauma dan dendam itu muncul begitu saja meskipun dia sudah berusaha menekannya di bawah alam sadarnya tapi semua itu muncul kembali membuat Zinnia lepas kendali.


Rasa yang ditahannya akhirnya dia luapkan ke suaminya agar tahu bahwa perlakuan keluarga nya membuatnya tidak menaruh respek sama sekali meskipun beberapa pelakunya sudah dihukum oleh keluarganya sendiri.


Zinnia terduduk di pinggir tempat tidur dan dirinya mulai menangis, meluapkan semua emosi yang selama ini ditahannya, semua yang ingin dia ucapkan di hadapan Sean, akhirnya terwujud tapi dia tidak menyangka akan sangat menyesakkan.


"I love you Sean tapi aku tidak... belum sanggup jika harus kembali kesana. Bisa dibilang aku egois tapi apa aku tidak boleh melindungi Arsya dari orang-orang seperti itu?" isaknya.


***


Gasendra keluar dari kamar usai membuat tugas kuliahnya dan melihat Sean tampak patah hati. Dia tahu kakaknya sedang berbicara serius dengan suaminya dan Gasendra membiarkan.


Seperti yang diduganya, keduanya sama-sama mengalami luka hati yang dalam akibat perbuatan ibu tiri, saudara tiri dan ipar Sean. Gasendra sangat tahu bagaimana karakter Zinnia, yang selalu menyimpan sakit hatinya sendiri dan hari ini adalah puncak nya.

__ADS_1


Akhirnya kamu muntap juga ya mbak.


Gasendra menuju dapur dan membuat dua cangkir teh chamomile untuk dirinya dan Sean. Setelahnya dia membawa dua cangkir itu ke meja ruang tengah.


"Are you okay bang?" tanya Gasendra.


Sean membuka matanya perlahan.


"No Sendra, I'm not okay..." bisik Sean.


"Minum teh dulu bang, buat nenangin hati dan pikiran." Gasendra menyerahkan cangkir teh chamomile ke Sean yang langsung menerimanya.


"Terimakasih Sendra."


Gasendra mengangguk dan menyesap teh nya. "Mbak Zee sudah mengeluarkan uneg-unegnya?"


tembak Gasendra.


"Aku tidak menyangka kakak mu sangat trauma dengan kejadian lalu..."


"Aku kasih tahu ya bang. Mbak Zee itu kecewa berat sama Abang dan yang lebih membuat hatinya sakit dan patah adalah saat Abang membentak mbak Zee. Kakakku satu itu tidak kuat mengahadapi sikap orang yang dicintainya seperti kamu bang. Apa kamu tahu, hampir three semester awal kehamilannya, mbak Zee sering melamun dan nangis jika sedang sendirian tapi di depan orang, dia selalu berusaha tegar..."


Sean menatap Gasendra dengan perasaan remuk redam.


"Mbak Zee itu aslinya rapuh bang karena sejak dalam kandungan sudah mendapatkan penolakan dari ayah kandungnya. Bahkan saat lahir, Keluarga ayahnya sudah menghinanya dan akhirnya mama yang menyelamatkan mbak Zee. Mbak Zee itu kalau sudah mencintai seseorang, maka dia akan menyerahkan semuanya tanpa tapi. Jadi saat mbak Zee butuh dukungan dan support darimu tapi Abang tidak memberikan... Tahu kan bagaimana kecewa, sedih dan patah hatinya kakakku itu. Makanya mbak Zee sempat bilang tidak mau jatuh cinta karena takut patah hati. Dan ironisnya, suaminya sendiri yang membuatnya patah hati..." ucap Gasendra.


Sean semakin menundukkan wajahnya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2