
Geneva Switzerland, 5 tahun lalu...
Sean masih Melu*mat bibir seksih Zinnia dan hatinya menghangat ketika sepasang lengan feminin melingkar di leher kokohnya. Pria itu semakin mengetatkan pelukannya dan merasakan aset gadis itu menempel dada bidangnya.
Ya ampun! Aku bisa gila dan kebablasan kalau begini! Sean melepaskan pa**gutannya dari bibir Zinnia. "Maaf Zee, aku terbawa suasana."
Zinnia hanya mengangguk lalu mengusap bibirnya sedikit kasar. "Jangan diulangi lagi."
"Tidak bisa Zee, kamu terlalu manis untuk tidak aku cium."
Zinnia hanya melengos lalu berjalan menuju sofa namun tangannya ditarik oleh Sean dan gadis itu masuk dalam pelukannya.
"I'm so in love with you Zee" bisiknya sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher Zinnia. Badan Sean harus sedikit membungkuk karena gadis itu lebih pendek 20 Senti darinya dan Zinnia hanya memakai sandal rumah yang berbulu.
"Hhhmmm" gumam Zinnia biasa saja.
"You don't believe me?" tanya Sean.
"Nope." Zinnia mencoba melepaskan diri dari pelukan Sean namun sia-sia karena pria itu memeluknya erat. "Ini sudah lewat tengah malam dan aku minta agar Greg kemari menjemput kamu."
"Aku akan tinggal disini Zee. Greg pasti juga sudah tidur."
Zinnia hanya mendengus kasar. "Alasan! Dan sekarang lepaskan aku!"
"Nope. Aku suka baumu... Aduuuhh!" Sean melepaskan pelukannya setelah sikut Zinnia bersarang di perutnya.
"Lama-lama kamu ngelunjak ya!" hardik Zinnia yang langsung masuk kamar tidurnya dengan membanting pintunya. Tak lama Sean mendengar suara kunci diputar.
Pria itu tersenyum dan berjalan menuju sofa lalu merebahkan tubuhnya disana usai menutup jendela apartemen yang tadi dibuka Zinnia. Suara kembang api masih bersautan di luar dan Sean melirik ke arah pintu kamar Zinnia.
Have a nice dream, baby.
***
Di dalam kamarnya, Zinnia merenungkan kejadian tadi dan bagaimana sikap Sean yang menunjukkan dominasinya sebagai pria yang sedang mengejar wanitanya. Zinnia bukannya tidak paham tanda - tanda pria yang tertarik dan jatuh cinta tapi dirinya lah yang menutup membentengi diri sendiri.
Semenjak tahu dirinya lahir dari kasus apa dan bagaimana kedua orangtua angkatnya begitu melindungi dirinya, Zinnia bagaikan memiliki kecemasan tersendiri meskipun tidak dia perlihatkan. Gadis itu sangat takut bagaimana masa lalunya menjadi masalah untuk urusan bibit bebet bobot yang tanpa sadar masih banyak pihak yang mengagungkan.
Bahkan keluarga nya sendiri meskipun mereka lebih rasional dan obyektif dalam menscreening siapa saja yang dekat dengan mereka. Zinnia sangat beruntung sang mama dan almarhum Opa dan Oma dari pihak papanya mendidik dengan baik namun tetap saja, rasa insecure itu tetap ada.
Zinnia memilih masuk psikologi demi meningkatkan self esteem nya namun tetap saja rasa ketidaknyamanan yang sebenarnya tidak perlu muncul, tetap saja hadir tanpa disadarinya.
__ADS_1
Dan sekarang Sean Léopold terang-terangan tertarik dengannya dan Zinnia mati-matian membuat pria itu untuk berpaling namun sepertinya Sean yang sekarang berbeda dengan Sean kecil yang sombong. Dan Zinnia lebih nyaman jika Sean kembali menjadi pria songong seperti dulu.
Suara ponselnya berbunyi dan wajah Zinnia tersenyum.
"Assalamualaikum Luke" sapanya. "Sudah pagi kan di Tokyo?"
"Wa'alaikum salam. Iya sini sudah jam delapan pagi dan aku baru tidur dua jam ini tapi okāsan sudah membangunkan aku karena jam sembilan kita semua akan dihukum" keluh Luke.
Zinnia tertawa. "Kasihan anak mbarep."
"Trio kampret memang tidak ada akhlak semua! Brengseeekkk! Mana malam tahun baru dihabiskan di kantor polisi pula! Astagaaa... Pokoknya mereka bertiga jadi satu, disana musibah terjadi!" omel Luke.
"Oom Hideo dan Tante Fayza akan ke Tokyo kah hari ini?"
"Tampaknya tidak. Kata okāsan, mereka semua menyerahkan hukuman trio kampret ke kami. Dan aku yakin tiga monyet itu hanya tertawa selama dihukum."
Zinnia cekikikan membayangkan trio durjana itu dihukum pun santuy sekali.
"Zee..."
"Ya Luke?"
"Di ruang tengah, aku tinggal disana."
"Dia tidak pulang?' tanya Luke. "Oh Geneva baru jam satu atau dua malam ya?"
"Iya. Eh Luke..."
"Dia jatuh cinta padamu kan Zee?" Luke bisa menebak apa yang hendak Zinnia sampaikan.
"Iya..."
"Apakah kamu jatuh cinta dengan pangeran brengsek itu Zee? Sebab jika belum, hapus perasaan kamu. Bukankah kamu ingin hidup bebas? Andaikan kamu menerima Sean, ada besar kemungkinannya kamu harus tinggal di istana Belgia yang sudah pasti kamu akan merasa terpenjara Zee."
Inilah yang membuat Zinnia dekat dengan Luke Bianchi. Pria itu mampu menjadi kakak yang baik dan tak heran jika Zinnia bisa bercerita apa saja kepada Luke. Bukan berarti dengan Leia tidak dekat tapi Luke memiliki pola pikir khas pria yang semuanya diukur dengan logika dan nalar.
"Terkadang aku merasa insecure, Luke" ucap Zinnia.
"Oh please, honey. Kamu tuh cantik, cerdas, seksih dan menarik, putri Al Jordan, anak psikologi... Bagaimana kamu merasa insecure? Don't be Zee. Kamu memiliki banyak saudara yang menyayangi kamu secara tulus. Be positive, Zee dan ingat kata-kata ku. Jika pada akhirnya kamu bersama si Sean dan dia menyakitimu, kami semua akan membalasnya dengan lebih sadis dari yang dia lakukan!"
Zinnia sedikit bergidik mendengar ucapan Luke. "Oh Luke Skywalker Bianchi, kenapa kamu menyeberang ke Dark Side? Jangan mentang-mentang ayahmu Darth Vader, sekarang kamu jadi Kylo Ren."
__ADS_1
Luke terbahak. "Aku sayang kamu Zee. Leia juga sayang kamu, Dira, Bee, trio kampret, Jules, duo G adikmu... semuanya keluarga besar kita sayang semua anggota keluarga jadi janganlah merasa insecure. Okay?"
"Thanks Luke. Aku tidur dulu ya" pamit Zinnia.
"Oke cantik. Aku harus menemani Okāsan menghukum trio kampret."
Zinnia tertawa. "Good luck! Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Pintu kamarmu sudah dikunci kan?" tanya Luke.
"Of course. Bye Luke."
***
Pagi harinya Zinnia terbangun disaat matahari sudah mulai hadir dan diliriknya jam digital diatas nakas sebelah tempat tidurnya yang menunjukkan pukul tujuh.
Gadis itu pun bangun menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu setelah rapih, dirinya membuka pintu kamarnya.
Dilihatnya Sean masih terlelap dengan sweater tebal dan berselimutkan jaket dan quilt yang memang tersedia disana.
Perlahan gadis itu mulai menyiapkan kopi dan sarapan pagi dengan memanaskan beef stew semalam yang masih sisa satu panci dan menanak nasi.
Perlahan mata biru Sean terbuka setelah hidungnya mencium bau kopi dan masakan. Pria itu mendongak dan melihat pemandangan indah disana, Zinnia sibuk di dapur dengan sweater dan celana leging plus apron yang menurutnya sangat seksih.
"Good morning Zee... Selamat hari satu Januari" sapanya dengan suara serak.
"Morning Sean. Kopi?"
"Yes, please. Thank you" jawabnya sambil memejamkan matanya lagi.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1