The Prince and I

The Prince and I
Ke Dubai


__ADS_3

Istana Kerajaan Brussels


Malam ini Sean dan Zinnia terpaksa harus mengikuti kemauan Ratu Michelle yang ingin semua anak dan menantunya makan malam bersama. Sean sendiri masih merasa dongkol dengan foto fitnah Zinnia tapi demi menghormati kedua orangtuanya, pria itu memenuhi permintaan ibunya. Lagipula, Zinnia juga mengatakan untuk tidak menolak permintaan sang ibu.


Kini mereka berenam duduk di kursi makan dan Sean merasa kesal karena yang disajikan makanannya adalah makanan pantangan dirinya serta Zinnia. Sean melirik ke arah istrinya yang tidak menampakkan kekesalannya dan hanya mengambil semangkuk Greek salad tanpa menyentuh daging yang terdapat di meja makan.


"Kamu tidak makan daging?" tanya Michelle ke Zinnia.


"Maaf yang mulia Ratu, tapi saya tidak boleh memakan daging itu. Jadi saya makan salad saja" jawab Zinnia sopan.


"Halah! Agama kamu memang bikin repot" cebik Natalia.


Zinnia hendak membalas namun tangan Sean menahannya. "Tidak usah bawa-bawa agama!" desis Sean kesal membuat Natalia diam.


Zinnia hanya menatap semua orang disana dengan tatapan dingin lalu memakan saladnya begitu juga Sean. Makanan penutup pun datang berupa puding coklat kesukaan Sean dan Zinnia, mereka pun memakannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Usai makan malam, Sean menyatakan keputusannya. "Mother, maaf, tapi kami tidak akan tinggal disini. Kami lebih nyaman tinggal di apartemen dan kami juga tidak mendapatkan tugas penting seperti kak Stefan dan Natalia. Jadi, karena kami bukan line utama pengganti father, maka kami minta janganlah dipaksa untuk tinggal di istana."


"Pasti kamu kan yang membujuk Sean untuk tidak mau tinggal di istana?" hardik ratu Michelle.


"Jangan salahkan Zinnia, mother!" balas Sean dingin. "Itu adalah keputusan aku! Zinnia hanya mengikuti keputusan aku sebagai suaminya."


Zinnia hanya menatap Sean sendu. Memang keluarganya Sean keterlaluan.


"Maaf father, mother, kak Stefan, Natalia, kami undur diri dulu. Oh, fitnah mu keterlaluan sekali, kakak!" ucap Sean dingin ke Stefanus. "Daripada urus istriku, urus istri kakak sendiri!"


Stefanus sedikit terkesiap namun didikannya sebagai seorang pangeran yang bisa mengontrol emosinya, hanya wajah datar yang dipasang calon raja itu.


Sean pun mengajak Zinnia undur diri dari ruang makan itu. Setelah keduanya pergi, Michelle dan Andrew menatap Stefanus.


"Fitnah apa Stefan?" tanya Michelle.


"Sean hanya mengigau, mother" jawab Stefanus tenang. Sialan Sean! Dia tidak terpancing.


Natalia tampak berpikir. Apa maksud Sean mengatakan seperti itu? Apa dia tahu sesuatu? Tidak bisa dibiarkan!


***


Apartemen Sean dan Zinnia


Sean membanting asbak yang terbuat dari perunggu hingga tidak berbentuk dengan perasaan marah yang meluap-luap. Zinnia hanya berdiri menatap suaminya melampiaskan emosinya.


"Brengseeekkk! F***!!!" umpatnya berulang - ulang.


Zinnia perlahan mendekati suaminya dan memeluk Sean erat. "Stop Sean..." bisiknya.


"Aku tidak terima Zee! Mereka tidak menghargai kita!"


Zinnia memegang wajah tampan suaminya. "Kamu mau liburan?"


"Apa kamu ada jadwal?" Sean berbalik bertanya.


Zinnia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada jadwal hingga seminggu ke depan. Kamu?"


Sean mengambil ponselnya dan mencari kalender. "Tidak ada."


"Kita ke Dubai?" tawar Zinnia.

__ADS_1


"Kamu kangen orangtuamu ya Zee?"


"Iya, aku sudah tiga bulan tidak bertemu." Zinnia memberikan senyum manisnya.


"Tapi pesawatnya..."


"Pakai punya keluarga Al Jordan. Kalau kamu mau, malam ini biar pilotnya berangkat kemari."


Sean mencium bibir Zinnia lembut. "Aku lupa kalau kamu putri Emir."


"Asal kamu tahu Sean, kekayaan keluargaku semuanya kalau digabungkan, bisa membeli sebuah negara" kekeh Zinnia tanpa maksud menyombongkan.


"Dan sekarang, ibu negara, bagaimana kalau kita membuat calon anak negara?" goda Sean.


"Sean! Masa istilahnya anak negara" gelak Zinnia.


"Lalu apa?" goda Sean sambil membuka gaun Zinnia.


"Anak buah cinta kita, sayang."


"Aku ingin anak laki-laki. Dan aku yakin, pasti mirip aku, tidak mirip dirimu Zee" bisik Sean sambil mencumbu ceruk leher Zinnia.


"Curang itu namanya Sean! Aku yang membawanya selama sembilan bulan!" Zinnia sedikit tercekat ketika Sean mulai membuka penutup dadanya.


"Kita buktikan. Bibitku atau sel telurmu yang menang?" seringai Sean sambil menggendong istrinya ke atas tempat tidur.


Zinnia tertawa mendengar istilah dari suaminya.


***


Dubai Airport UAE


Setibanya di Dubai Airport, tampak Gasendra sudah datang menjemput kakak dan kakak iparnya.


"Mbak Zee!" remaja jangkung dan tampan itu pun langsung memeluk kakak perempuannya. "Bang Sean."


"Halo, Sendra." Sean dan Gasendra saling berpelukan. "Sehat semua?"


"Alhamdulillah. Yuk, pulang. Papa dan mama sudah menunggu." Gasendra pun membawakan koper milik kakaknya menuju Range Rover miliknya.


"Kamu sudah punya SIM ?" tanya Sean melihat adik iparnya dengan cueknya memasukkan koper ke bagasi mobil mewah itu.


"Belum lah! Ini aku sama Gabriel, pengawalnya Garvita. Kan dia sudah 20 tahun. Cuma si Gab lagi beli kopi buat kita semua."


Tak lama, datanglah seorang pria tampan mengenakan suit hitam dan kemeja putih membawakan banyak kopi.


"Nona Zinnia, yang mulia Sean" sapa Gabriel sambil mengangguk hormat. "Miss Jasmine."


"Garvita aman Gab?" tanya Jasmine yang memang masih menjabat kepala pengawal istana Al Jordan.


"Ya begitulah" cengirnya.


"Jaz, kayak kamu tidak hapal sifatnya adikku saja" kekeh Gasendra.


"Yuk masuk. Itu sudah ada paparazi" ucap Jasmine.


***

__ADS_1


Istana Al Jordan


Kedatangan Zinnia dan Sean membuat Ayrton dan Mariana bahagia apalagi tiga bulan tidak bertemu langsung.


Zinnia memeluk kedua orang tuanya dengan hangat. Setelahnya Ayrton memeluk menantunya, begitu juga Mariana.


"Kamu itu benar-benar deh Zee, bikin heboh sukanya" kekeh Mariana sambil bergandengan dengan putrinya menuju ruang makan.


"Heboh gimana ma?"


"Bikin saingan sama putri Medeline dari Inggris" senyum Mariana. "Oh dia mau datang ke Dubai lho lusa."


"Mama kenal dengan putri Medeline?" tanya Zinnia.


"Lho mama habis dari Inggris diundang acara pembaptisan anak putri Medeline dua bulan lalu. Dia cari kamu lho!"


Zinnia melongo. "Serius?"


"Makanya mama senang kamu bisa pulang ke Dubai karena bisa bertemu dengan putri Medeline. Bahkan begitu tahu kamu pulang hari ini, kami sudah mengabari ke London."


Zinnia menoleh ke arah Sean. "Sean?"


"Mau gimana? Putri Medeline minta bertemu dengan kamu" senyum Sean. "Pangeran Henry ikut juga ma?"


"Ikutlah! Masa istrinya ke Dubai sendiri?" kekeh Ayrton.


"Mbak Zeeee!" teriak Garvita, si bungsu keluarga Schumacher yang langsung memeluk kakaknya. "Kangeeennn!"


"Kamu kangen ghibah kan?" ejek Zinnia.


"Iiissshhh... kok tahu?" kerling gadis remaja cantik itu.


"Kalian tuh hobinya kok ghibah sih?" gerutu Ayrton.


"Namanya juga cewek, papa" cengir Garvita.


"Yuk makan siang dulu" ajak Mariana.


***


Sabine dan Karl serta Reyhan dan Paradina sangat senang cucunya datang, langsung menyambut keduanya dengan hangat. Sean merasakan bahwa sangat berbeda dengan keadaan di istananya sendiri yang banyak iri dengki dan ketidaknyamanan.


Acara makan siang pun berlangsung ramai dan kehadiran Enzo serta Georgina plus kedua anak kembar mereka menjadi ajang kehebohan sendiri. Bahkan Gasendra setuju jika kuda milik Zinnia di Brussels dikirimkan ke Dubai untuk di breed.


"Kebayang bibit premiumnya plus bisa dibreed ke kuda milik Oom Alaric. Kan kuda premium juga miliknya" ucap Gasendra.


"Nanti bang Sean atur deh!"


"Siipp!"


Ayrton memandangi wajah Sean dan Zinnia yang tampak bahagia, merasa lega. Setidaknya Sean menepati janjinya.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2