The Prince and I

The Prince and I
Like Father Like Son


__ADS_3

Rumah Baru Sean dan Zinnia


"Lho memang kenapa kalau Daddy cium mommy? Kenapa nggak boleh?" tanya Sean ke Arsya yang masih mode ngambek.


"No! Mommy punya Asya!"


"Lho mommy itu punya Daddy dan Asya" senyum Sean yang tahu putranya mode merajuk. Bagaimana besok kalau Zee hamil adiknya Arsya? Bakalan pening deh istriku.


"Arsya, itu kucing dan anjingnya dibawa dulu ke dalam yuk. Kasihan kalau di tas terus" bujuk Zinnia yang tahu dua pria beda usia dan ukuran itu pasti akan berdebat seharian.


"Ayo mommy, bawa ke dalam. Nanti kita pasang kandangnya baleng-baleng ya." Arsya lalu membawa tas berisikan dua ekor anak anjing shi Tzu, sedangkan Zinnia membawa tas berisikan anak kucing Munchkin.


"Daddy bagian bawa kandangnya ya?" senyum Zinnia sebelum masuk ke dalam rumah yang sudah dibukakan oleh kepala pelayan.


Sean pun cemberut yang mendapat tawa dari Greg dan Jasmine. "Sabar yang mulia, kan anda tidak ada di sisi pangeran Arsya dari lahir. Wajar kalau pangeran tidak mau berbagi dengan anda" kekeh Greg.


"Shut up, Greg!" Sean mengambil kandang - kandang lipat itu dan membawanya ke dalam rumah.


***


Kamar Arsyanendra


"Jadi halus dipasang undelpad begini mommy?" tanya Arsya ke Zinnia saat memasang kandang buat sahabat bulunya.


"Iya sayang, jadi nanti Poo dan pee nya nggak kena lantai. Kalau pagi, nanti kita bawa jalan-jalan ke halaman belakang sekalian toilet training."


"Kamu kok gemesin" cekikian Arsya sambil menggendong anak kucing itu.


"Sudah siapin namanya belum Sya?" tanya Zinnia sambil menata mangkuk tempat makan dan minum.


"Yang anjing namanya Pochi dan Mochi, kucingnya salt dan peppel."


"Hah? Salt and pepper?" Zinnia menatap Arsya sambil tertawa.


"Iya mommy. Bagus kan?"


"Okelah kalau begitu. Pochi dan Mochi serta salt and pepper, selamat datang di rumah yang baru. Berteman baik dengan Arsyanendra ya?" senyum Zinnia ke keempat sahabat berbulu putranya.


***


Kehidupan Sean dan Zinnia selama di rumah yang baru itu makin bewarna setelah setiap pagi terjadi keributan antara Arsya dengan empat teman berbulunya. Dua anak kucing berkaki pendek dan menggemaskan itu ternyata suka heboh dengan dua ekor anak anjing.


"Jangan belanteeemmm!" jerit Arsya yang hanya membuat para pelayan di rumah itu tertawa dan gemas melihat pangeran cilik mereka heboh sendiri.


"Pangeran Arsya, kenapa?" tanya Sarah yang datang ke rumah tuan putrinya.


"Tante Salah, ini Pochi belantem sama Salt. Dikasih tahu kok nggak mau" adu Arsya dengan wajah kesal tapi malah semakin menggemaskan.


"Pangeran, kalau kasih tahu jangan jerit, cukup begini. Pochi, No! Salt, No!" Sarah menunjukkan cara mendidik sahabat berbulu Arsya.


Kedua anjing dan kucing itu langsung berhenti gelut. "Ini keduanya cuma main, pangeran, bukan berantem. Tapi harus diawasi ya soalnya kuku kucing kan tajam."

__ADS_1


"Kata mommy, kukunya halus lajin dipotong ya?" Arsya menatap serius ke sekretaris ibunya.


"Iya pangeran. Nanti Tante Sarah ajarkan."


"Sarah? Kenapa lagi Arsya?" tanya Zinnia yang masuk ke kamar putranya. Semenjak memiliki teman berbulu, Arsya sudah tidak takut tidur sendiri yang tentu saja membuat Sean bahagia bisa mengkompeni Zinnia di waktu malam hari yang berarti misi membuatkan adik untuk Arsya berjalan lancar.


"Ini yang mulia, Pochi dan Salt main bersama tapi pangeran mengira mereka berantem" senyum Sarah.


"Oalah. Arsya, kamu mau ikut mommy dan Daddy nggak untuk acara gladi bersih penobatan Daddy besok jadi raja?" Zinnia pun duduk di karpet tebal bersama putranya yang masih mengelus Pepper.


"Nggak mommy. Asya capek dan bosan disana."


Memang kemarin seharian acara gladi kotor proses coronation, Arsya ikut tapi batita itu rewel membuat Jasmine harus membawa Arsya ke kamarnya.


"Arsya disini sama Tante Jaz? Nggak papa?"


"Nggak papa mommy. Disini Asya ada Pochi, mochi, salt and peppel. Tante Jaz disini kan mommy?"


"Iya, nanti Tante Jaz yang menemani Arsya ya?"


"Iya mommy. Asya disini saja."


"Tapi besok nggak boleh rewel lho ya. Opa Ayrton dan Oma Mariana datang lho."


"Yaaaayyy!" sorak Arsyanendra tahu kedua opa dan omanya datang. "Oom Ken dan Tante Kalila ikut?"


"Tidak sayang, hanya Opa dan Oma saja."


"Bial bisa lihat anjing dan kucing Asya ya mommy."


Kedua orangtua Zinnia siang ini memang bertolak dari Dubai menuju Brussels dan diperkirakan akan tiba malam hari. Ayrton dan Mariana akan menginap di rumah baru Sean dan Zinnia.


"Sayang, ayo ke istana" ajak Sean.


"Arsya nggak ikut, Sean. Katanya mau disini saja sama Jasmine."


Sean pun memanggil pengawal istrinya. "Jasmine, kamu disini bersama Arsya ya. Tolong jaga dia."


"Baik yang mulia."


"Makannya Arsya seperti biasa ya Jaz."


"Siap nona Zinnia."


Zinnia pun memeluk dan mencium Arsya seperti kebiasaannya kalau mau pergi bekerja. Sean pun melakukan hal yang sama ke putranya dan setelahnya pasangan suami istri itu pun menuju mobil Range Rover hitam yang disupiri oleh pengawal dan didampingi oleh Greg. Sarah sendiri berada di mobil satu lagi bersama dengan para pengawal.


***


Istana Brussels


Raja Andrew yang mulai tampak segar, bingung melihat putra dan menantunya datang hanya berdua tanpa cucunya.

__ADS_1


"Sean? Dimana Arsya?" tanya Raja Andrew celingukan.


"Di rumah father. Katanya bosan dan capek kemarin acara gladi kotor jadi nggak mau ikut" jawab Sean.


"Yaaaa, padahal Father sudah siapkan coklat buat Arsya" gumam Raja Andrew dengan sedikit kecewa.


"Besok Arsya kesini kok Father" senyum Zinnia.


"Ah syukurlah. Father kangen dengan cucu satu itu. Benar-benar menggemaskan. Oh Sean, Zinnia, bisa ke ruang kerja father sebentar sebelum acara gladi bersih."


"Oke."


Raja Andrew yang masih duduk di kursi roda, berjalan lebih dulu dengan didorong oleh salah satu perawat kepercayaan istana. Sean dan Zinnia pun mengikuti dari belakang sambil bergenggaman tangan.


Sesampainya di dalam ruang kerja, Raja Andrew meminta orang-orang yang berada disana untuk keluar hingga hanya tinggal mereka bertiga.


"Ada apa Father?" Sean menatap wajah ayahnya dengan penasaran.


"Michelle menderita kanker payu*dara Sean."


"Astaghfirullah!" Zinnia menutup mulutnya dengan tangan. "Stadium berapa father?"


"Menurut dokter disana, sudah stadium tiga Dan chance nya 50:50." Raja Andrew menghela nafas panjang. "Dia ingin bertemu dengan kalian berdua."


"Ke Argentina? Seriously father. Setelah apa yang dia lakukan, apa yang dia perbuat... Masih berani dia..." Suara Sean terhenti ketika tangan Zinnia mengelus lengannya.


"Father akan kesana Sean, usai acara coronation besok."


"Tapi father kan masih belum sehat" ucap Zinnia.


"Tidak apa-apa, Zinnia. Bagaimana pun, Michelle pernah menjadi bagian hidup father dan kami pernah saling mencintai."


Sean hanya mendengus kasar. "Lalu? Ada berita apalagi? Kak Stefanus berbuat ulah lagi?"


"No Sean. Kakakmu sudah bahagia di New Zealand, menjadi peternak domba disana dan Hilda sedang hamil anak pertama. Mereka tidak bisa datang besok karena kondisi Hilda tidak memungkinkan untuk terbang jauh."


"Setidaknya ada yang sudah waras juga" gumam Sean.


"Sean..." tegur Zinnia yang membuat suaminya menoleh sambil manyun hingga tampak persis Arsyanendra kalau merajuk.


"Bagiamana Sean? Kita ke Argentina?" tanya Raja Andrew.


"Aku pikir - pikir dulu!"


Duh! Kok sama dengan anaknya sih gayanya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2