The Prince and I

The Prince and I
Malam Natal


__ADS_3

Setelah ribut dengan Sean dengan memaksa pria itu menelpon Greg, babysitternya, pria itu pulang bersama dengan asisten dan dua bodyguardnya.


Zinnia akhirnya bisa beristirahat setelah jatah hibernasinya terpaksa dikorbankan hanya gara-gara pangeran pemaksa tukang kepo itu tidak mau pulang.


Sebelumnya Zinnia melakukan kewajibannya dan setelah membaca beberapa jurnal,gadis itu memutuskan untuk tidur dan tidak lupa ponselnya dia silent tapi dia setting hanya berbunyi jika papa dan mamanya yang menelpon.


***


Sean tiba di hotel tempat mereka menginap dan pria itu memutuskan untuk tidak pulang ke Belgia sebab dirinya tidak mau terjadi kericuhan disana. Sean sendiri adalah lulusan ilmu politik dan juga mengambil gelar master di program studi yang sama di Ghent University Belgia.


Pria itu masuk ke dalam kamarnya dan mulai membersihkan diri. Kakinya yang masih di gips, dibungkus kantung plastik khusus agar tidak kena air.


Sean sedikit kesulitan awalnya untuk masuk ke dalam bathub tapi setelahnya dia bisa berendam dan merasakan tubuhnya menjadi relaks. Pria itu memejamkan matanya dan yang terbayang adalah wajah Zinnia.


Pria itu tahu bahwa dirinya sudah tertarik dengan gadis itu sejak duduk di taman. Dirinya tidak menyangka gadis cilik centil itu tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, cerdas dan seksih. Zinnia memang tidak seperti tipenya yang tinggi semampai dan langsing. Zee tidak tinggi tapi semua bentuk tubuhnya sangatlah aduhai.


Sean tidak munafik jika awalnya dia tertarik dengan fisik Zinnia tapi setelah berapa kali bertemu, dirinya merasa tertantang ingin menundukkan gadis itu. Zinnia dengan terang-terangan mengatakan saudara - saudaranya memiliki wajah dan tubuh paripurna jadi soal fisiknya, gadis itu juga bilang tidak tertarik. Yang benar saja Zee! Kamu tidak tertarik dengan wajah dan tubuhku?


Sean tersenyum smirk. Kita lihat saja, apakah kamu benar-benar tidak tertarik padaku!


***


Tanggal 24 Desember, Malam Natal


Zinnia sudah bersiap untuk datang ke acara pesta natal di cafe Thomas. Gadis itu mengenakan sweater tebal dan jaket super tebal, celana wool, sepatu UGG dan topi beanie. Mengambil tas selempang under armour nya, Zinnia pun berjalan menuju cafe Thomas.



Gadis itu tahu kalau papanya mengirim pengawal karena dirinya tidak pulang ke Dubai akhir tahun ini. Diam - diam dia melirik seorang pria keturunan timur tengah berjalan sedikit jauh dari nya tapi tetap mengawasinya.


Tak lama, gadis itu tiba di cafe Thomas yang sudah tampak ramai dan Zinnia mengenali beberapa orang disana yang juga mahasiswa University of Geneva tapi beda fakultas.


Thomas menyambut gadis itu dengan memberikan pelukan dan Zinnia membalasnya. Ayrton dan Mariana tahu bagaimana pergaulan putrinya dan mereka memberikan kepercayaan pada Zinnia yang memang selama ini selalu menjaga dirinya. Hanya sekedar pelukan itu biasa dilakukan di dunia barat.


"Aku kira kamu tidak datang Zee" ucap Thomas sambil membantu gadis itu melepaskan mantelnya.


"Hei, masa aku tidak boleh refreshing sejenak, Thom? Aku menyapa teman-teman aku dulu ya" senyum Zinnia.

__ADS_1


"Sapalah para musafir itu" jawab Thomas dramatis yang membuat Zinnia tertawa.


Gadis itu lalu berbaur dengan teman-temannya bahkan ada beberapa yang orang Indonesia. Membuat Zinnia kembali menggunakan bahasa Indonesia dan asyik mengobrol.


Thomas melayani para pengunjung sambil memperhatikan Zinnia yang tampak semangat mengobrol dengan banyak orang. Gadis itu memang mudah bersosialisasi dengan siapa saja. Pria berambut pirang dan bermata biru itu sudah lama tertarik dengan Zinnia dan sempat menembaknya tapi gadis itu menolak Thomas dan menganggap hubungan mereka hanya sahabat karib.


Dan Thomas sendiri akhirnya menerima permintaan Zinnia sebagai sahabat karena dia tidak ingin kehilangan gadis itu sembari berharap perasaan Zinnia akan berubah dari hanya sekedar teman.


Menjelang jam sebelas malam, Zinnia bersiap-siap pulang meskipun pesta belum selesai. Gadis itu lalu berpamitan kepada Thomas yang merasa kehilangan karena Zinnia memutuskan pulang.


"Sudah malam, Thomas. Aku kan masih harus jalan ke apartemen aku" senyum Zinnia. Meskipun Jenewa khususnya dan negara Swiss umumnya terkenal dengan angka kriminalitas terendah di dunia, tapi Zinnia tetap tertib untuk pulang sampai di rumah sebelum jam 12 malam macam Cinderella.


"Aku antar Zee" tawar Thomas.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Zinnia berjinjit mencium pipi Thomas. "Merry Christmas."


Thomas tersenyum. "Hati-hati, Zee." Gadis itu mengangguk.


***


Zinnia berjalan dengan sedikit tergesa karena dirinya merasa kedinginan dan ingin segera masuk ke dalam apartemen. Jarak cafe ke apartemen hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan.


Rasa hangat dari pemanasnya, membuat Zinnia memberanikan diri membuka jendela apartemennya dan menikmati pemandangan salju turun. Wajah cantiknya tampak tersenyum melihat pemandangan yang nyaris tidak pernah dia lihat di Dubai.


Tanpa Zinnia sadari, Sean memperhatikan dirinya dari dalam mobil bersama Greg. Pria itu pun mengambil foto Zinnia dengan kamera ponselnya.


Kamu cantik sekali Zee.


***


Zinnia nyaris bermalas-malasan di hari Natal ini karena selain cuaca yang dingin karena salju turun tanpa henti sejak semalam, dirinya juga hendak membersihkan apartemennya. Setelah memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci, gadis itu membersihkan kamarnya sembari bersenandung lagu lama milik Trisha Yearwood yang diputarnya melalui bluetooth speakernya.


And tell me now


How do I live without you?


I want to know

__ADS_1


How do I breathe without you?


If you ever go


How do I ever, ever survive?


How do I, how do I, oh, how do I live?


Karena dirinya menyetel sedikit keras apalagi apartemennya kedap suara, bunyi bel di pintu tidak terdengar. Hingga sebuah telepon masuk memotong lagunya dari Spotify.


Gadis itu hanya menatap malas melihat siapa yang menelpon tapi dia tetap mengangkatnya.


"Selamat pagi, your highness" sapa Zinnia dibuat seformal mungkin.


"Zee! Buka pintunya!"


"Tidak mau! Aku mau santai, mau hibernasi seperti beruang! Anda silahkan pulang dan sampai kapanpun aku tidak akan membuka pintunya." Zinnia pun mematikan ponselnya. Lama-lama si pangeran sombong bin songong itu ngelunjak juga ya!


Zinnia melanjutkan acara bersih-bersih nya ketika mendengar suara ketukan di jendela apartemennya. Apartemen yang ditempati Zinnia hanyalah tiga lantai sebab gadis itu tidak mau terlalu banyak lantai.



"Siapa sih?" Zinnia melongok ke luar jendela dan tampak Sean berdiri disana sambil tersenyum.


"Buka pintunya, Zee!" teriaknya. Sean sendiri memilih memakai topi baseball untuk menutupi wajahnya ditambah jaket tebal dan kruk yang dipegangnya.


Zinnia menyilang kan tangannya đź™… tanda tidak mau.


Sean pun menelpon Zinnia terus menerus hingga tidak bisa menelpon lagi karena gadis itu mematikan ponselnya.


Sialan kau Zee! Tega membuat aku jadi boneka salju disini!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa Gaeesss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2