
Indramayu, Jawa Barat Present Day
Sean menatap adik iparnya yang hanya memasang wajah datar dan dingin. Entah dia nurun siapa tapi Sean tahu Gasendra sama sadisnya dengan Luke Bianchi dan trio kampret sepupunya.
Trio kampret Valentino putra Hoshi Reeves, Arkananta putra Bima Baskara dan Shinichi putra Hideo Kojima Park adalah tiga orang yang dikenal tidak segan-segan menghajar orang yang menyenggol mereka dan keluarga besarnya. Bersama dengan Luke yang keturunan mafia klan Bianchi dan Yakuza Takara, mereka sering melakukan operasi senyap ke orang-orang yang mengganggu.
Trio kampret memang sering berbuat ulah jahil di internal keluarga tapi tidak di luar keluarga. Mereka tidak perduli teman ataupun lawan, jika menyenggol tetap mendapatkan ganjaran nya. Dan sikap mereka diikuti oleh sepupunya yang lain termasuk Gasendra.
"Apa maksudmu, Gasendra?" tanya Sean ke adiknya. "Makanan empuk piranha? Harafiah?"
Gasendra hanya menyeringai. "Kamu akan tahu sendiri nanti" ucapnya dingin dan entah kenapa Sean merasa merinding mendengarnya.
"Mommy..." Zinnia bergegas menuju kamar Arsyanendra setelah mendengar melalui baby speaker monitor.
"Coming sayang" ucap Zinnia yang membuka pintu kamar bewarna biru dengan gambar Woody dan Buzz Light-year di depannya.
"Kamu akan kembali ke Jakarta malam ini?" tanya Gasendra tanpa ada sopan-sopannya.
Sean sedikit terkejut dengan sikap Gasendra. Pria muda berusia 20 tahun itu sudah tidak memanggilnya dengan panggilan 'Abang' seperti dulu. Bahkan tadi pun dia langsung memanggil nama padanya.
Gasendra Al Jordan Schumacher
"Kenapa Sendra?" tanya Sean.
"Lebih cepat lebih baik. Apalagi surat cerai darimu lebih cepat datang juga hal terbaik yang mbak Zee dapatkan!" jawab Gasendra judes.
"Aku tidak akan melepaskan kakakmu! Apalagi ada Arsyanendra!" ucap Sean dingin. "Dan kalian tega tidak memberi tahukan aku bahwa aku punya anak bersama Zee!"
Gasendra mencondongkan tubuhnya mendekati Sean meskipun mereka terpisah dengan meja makan besar. "Apa kalau mbak Zee bilang dia sedang hamil anakmu, kamu percaya Sean? Kamu lebih percaya dengan b@ngs@t - b@ngs@t istana daripada istrimu sendiri! So, buat apa mbak Zee memberitahukan soal Arsya? Mana janjimu untuk selalu melindungi mbak Zee? Tidak ada! Bullshlt semua!"
Sean menatap Gasendra yang memiliki mata warna biru sama dengan dirinya. Adik iparnya itu memang tidak ada takut-takutnya sejak awal Sean mengenalnya.
"Gasendra. Dimana istri Stefan?" tanya Sean dengan sedikit gemetar dan keringat dingin terbit di dahinya.
Panik ga lu?
"Sudah kubilang, dimakan piranha" jawab Gasendra tenang. "Kamu tahu kan kalau fitnah lebih kejam dari pembunuhan? So, di Belgia, kakakku kalian perlakukan buruk jadi kenapa tidak kami balas 100x lipat? Kalian memfitnah kakakku, mempermalukannya padahal kakakku tidak melakukan kesalahan. Kalau aku tidak ingat kamu ayah Arsyanendra, sudah aku lempar ke kandang buaya!"
Wajah Sean memucat.
***
Zinnia sedang memangku Arsyanendra yang masih menyatukan nyawanya setelah bangun tidur.
"Arsya, mau cuci muka dulu? Tuh ada bekas ilernya" goda Zinnia.
__ADS_1
"Asya nggak ngilel mommy" protes batita tampan itu.
Zinnia mencium pipi putranya. "Udah nyatu belum? Apa masih jalan-jalan bareng Mr potato?"
"No mommy, Asya hate mistel potato."
"Kenapa?"
"Suka belantakan" ucap Arsyanendra.
Zinnia tertawa karena Arsyanendra suka kamarnya yang bersih dan teratur. "Yuk keluar. Arsya belum makan lho. Mommy juga belum makan nunggu Arsya bangun."
Arsyanendra mengulurkan tangannya untuk merangkul leher mommnya dan minta gendong. Zinnia pun tidak keberatan menggendong putranya meskipun semakin berat. Baginya masa emas ini harus dinikmatinya karena waktu cepat berlalu.
Arsya dan Zinnia keluar kamar dan bocah itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher mommnya ketika melihat ada orang asing di meja makan.
"Sya, kok minta gendong mommy. Sama Oom Sendra yuk!" bujuk Gasendra.
"No, Oom. Asya belum makan. Mommy belum makan" ucap bocah itu.
"Dipangku Oom yuk, biar mommy siapkan makannya Arsya. Mau ya?" bujuk Gasendra.
Arsyanendra menatap Zinnia yang menganggukkan kepalanya dan batita tampan itu berpindah ke pangkuan Gasendra.
Sean memandang Arsyanendra dengan tatapan lembut dan rindu. Dirinya menahan mati-matian untuk tidak memeluk putranya sedangkan Zinnia sibuk menyiapkan makanan kesukaan Arsyanendra, Dutch stew dan mashed potatoes.
Sean yang melihat menu itu menatap Zinnia. "Dutch stew, Zee? Seperti saat kita di Geneva?"
"Duduk sendili mommy."
"Oke. Mommy siapkan." Zinnia lalu mengambil sebuah kursi yang sudah ada diatas lalu men-setting nya hingga Arsyanendra bisa makan di meja makan.
Gasendra lalu memindahkan keponakannya untuk duduk di kursinya. Zinnia sendiri lalu mengambil makanan yang ada di meja dan mulai ritual makan siangnya.
Suara ponsel Gasendra membuat pria muda itu melihat di layar siapa yang menelpon.
"Excuse me." Gasendra pun berjalan meninggalkan Sean bersama Zinnia dan Arsyanendra.
"Mommy..."
"Ya Arsya?"
"Oom itu siapa?" tanya Arsyanendra sambil menunjuk Sean yang duduk di seberangnya.
Zinnia menatap Sean yang tampak gugup menunggu jawaban istrinya.
"Kenalannya mommy" jawab Zinnia akhirnya.
"Zee!" Wajah Sean tampak kecewa mendengar jawaban Zinnia.
__ADS_1
"Oom jangan bentak mommy!" sahut Arsyanendra judes.
"Sssttt , Arsya..." bujuk Zinnia.
"Oom tidak bentak... Please Zee. Kasih tahu yang sebenarnya. Bukankah kamu pernah bilang sama klienmu dulu bahwa ada mantan suami ataupun mantan istri tapi tidak ada mantan anak!" Sean menatap tajam ke Zinnia.
"Apa kalau aku berkata yang sebenarnya, akan merubah keputusan aku untuk tidak berpisah? No, Sean. Aku tetap meminta berpisah dengan mu."
"Dan membiarkan Arsya hidup tanpa ayahnya?" Sean meninggikan nada suaranya.
"Mommy..." suara Arsyanendra terdengar takut membuat Zinnia langsung memeluk putranya.
"Turunkan nada suaramu! Kamu membuat Arsya takut!" desis Zinnia tajam ke Sean.
"Aku tidak akan seperti ini jika kamu menceritakan yang sebenarnya, Zee. Kenapa kamu tidak mau jujur kepada Arsya?" ucap Sean dengan nada melunak.
Zinnia mengelus kepala dan punggung putranya dengan lembut. "Arsya..." panggilnya setelah berapa kali menghela nafas panjang berulang kali.
Wajah imut itu menatap Zinnia dengan mata birunya. "Yes mommy."
"Arsya pernah tanya where is Daddy kan?" Arsya menganggukan kepalanya. "Itu Daddy Arsya" ucap Zinnia sambil menunjuk ke arah Sean.
Arsya menoleh dari ceruk leher Zinnia. Mata bulatnya yang polos tampak memandangi Sean yang berdiri dan berjongkok di depan putranya.
"Leally ( really - benar )?" Arsyanendra tidak memalingkan tatapannya ke Sean.
"Yes boy, I'm your Daddy. Lihat, mata Daddy sama birunya dengan mata Arsya kan?" senyum Sean dengan mata memerah dan nada nya sedikit bergetar.
Arsyanendra menatap ke arah Zinnia. "Mommy..."
"Yes Arsya?"
"Daddy is mean ( jahat )."
Sean dan Zinnia melongo.
"Arsya! Mommy tidak pernah mengajari ngomong seperti itu, nak" tegur Zinnia yang tidak menyangka Arsyanendra berani bicara seperti itu. "Aku tidak mengajari seperti itu, Sean! Sungguh!"
"Daddy jahat. Daddy bikin mommy nangis!" bentak Arsya yang langsung memeluk Zinnia erat.
Sean hanya bisa membisu sambil menatap Zinnia. What have I done to you Zee?
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️