
Geneva Switzerland 6 tahun lalu...
Sean berdiri di depan pintu apartemen Zinnia dengan wajah dongkol. Cewek satu ini benar-benar deh! Sean pun memencet bel pintu sampai lama dan akhirnya Zinnia membuka pintunya.
"Kok nggak pulang?" tanya Zinnia santai.
Sean hanya menatap bibir gadis itu yang terdapat saus saladnya. Tangan Sean terulur ke bibir Zinnia.
"Eh... eh! Kamu mau apa?" Zinnia langsung mencekal tangan Sean yang sudah terulur.
"Ada...saus salad di sudut bibir kamu, Zee. Aku mau bersihkan saja kok" ucap Sean lembut dan tatapan mata birunya membuat Zinnia tidak nyaman.
Dengan tangan kanannya yang bebas, Zinnia mengusap bibirnya kasar dan membuat Sean terpana. Ya ampun gadis satu ini benar-benar tidak ada jaimnya.
"Sudah kan? Sekarang kamu pulang!" Zinnia melepaskan pegangan tangannya di tangan Sean tapi pria itu menggenggamnya kembali.
"Aku tidak mau pulang Zee. Boleh aku masuk?" pinta Sean penuh harap.
"Ooohhh menyesal aku tidak meminta nomor babysittermu! Mana ponselmu?"
"Buat apa Zee?"
"Buat telpon Greg lah! Kamu pikir buat telpon siapa?" Zinnia mengulurkan tangannya.
"Zinniaaaa... please? Boleh aku masuk? Kakiku sakit berdiri terus dari tadi."
"Salah siapa?" balas Zinnia cuek.
Sean melepaskan kruknya yang dipegang sebelah kiri dan langsung merengkuh tubuh sintal itu. "Kamu lama-lama menggemaskan, Zee."
Zinnia hanya menatap dingin wajah Sean. "Kamu ingin aku hajar, Sean? Aku tidak perduli jika terjadi tragedi internasional. Seorang pria yang merupakan pangeran kerajaan Belgia kena hajar seorang wanita yang hendak dilecehkan."
"Apakah kamu berani menghajarku Zee? Seorang wanita muda menghajar seorang pangeran Belgia yang mengalami kecelakaan ski dan tidak perduli dengan kondisinya yang masih memakai gips. Headline mana yang bakal dipercaya?" senyum Sean manis. "Aduuuhh! Zee!"
Zinna meninju perut Sean yang liat hingga pria itu melepaskan pelukannya.
"Pulang sana!" Mata coklat Zinnia menatap tajam tapi dirinya juga merasa kasihan melihat pria itu memegang perutnya. Apa aku memukulnya terlalu keras?
"Kamu tega melihat aku kesakitan begini akibat ulah kamu?" hardik Sean dengan wajah meringis menahan sakit.
Zinnia hanya menghela nafas panjang. "Kamu tuh!" Gadis itu membuka pintu apartemennya. "Bisa jalan kan? Masuk, aku obati kamu nanti."
__ADS_1
"Zee..." rengek Sean.
"Oh Astaga!" Zinnia pun menghampiri Sean dan membantu pria itu berjalan masuk ke dalam. Diam - diam sudut bibir pria itu terangkat ke atas.
***
"Duduk disitu! Anteng! Jangan berulah!" Zinnia pun meninggalkan Sean yang duduk di sofa. Gadis itu pun masuk ke dalam kamar sedangkan Sean berjalan tertatih melihat pemandangan dari jendela Zinnia.
Pangeran super ngeyel
Sean memperhatikan ada sebuah foto dalam pigura di sudut meja tempat Zinnia sepertinya menjadi favoritnya untuk menikmati waktunya disana.
Diambilnya foto itu dan Sean melihat sebuah foto keluarga. Tampak Zinnia berada dalam pelukan seorang pria tampan yang usianya masih belasan namun tingginya melebihi Zinnia.
Gadis itu memang mungil.
Sean memperhatikan ada Ayrton dan Mariana yang memeluk seorang gadis remaja yang diyakini adalah adik perempuan Zinnia. Keluarga itu tampak bahagia dengan senyuman lebar dan akur.
"Kamu tuh ngapain lihat-lihat foto aku?" tanya Zinnia yang sudah berdiri di sebelah Sean.
"Ini ayah ibumu kan? Adik-adikmu namanya siapa?" Sean menatap Zinnia.
"Apa kalian selalu akur?" tanya Sean.
Zinnia duduk di sofa lalu menatap Sean. "Well, akur dalam apa nih? Kalau akur saling menutupi kenakalan kami, jelas akur lah! Tapi kalau hari-hari, Alhamdulillah kami sering berantemnya" kekeh Zinnia. "Tapi kami bertiga saling sayang satu sama lainnya. Jika salah satu terluka, yang lain tidak akan segan menolong."
"Siapa yang akan menggantikan Emir Al Jordan nanti jika ayahmu dan paman Enzo mu mundur? Apakah Gasendra?"
Zinnia menggelengkan kepalanya. "Sejujurnya aku tidak tahu karena Papa dan Oom Enzo sama-sama memiliki anak laki-laki. Lagipula Gasendra dan Asher juga masih remaja, tidak meributkan soal siapa pengganti Emir Al Jordan. Kami bukan orang - orang serakah. Kami ambisius, iya tapi dalam hal pekerjaan bukan perebutan kekuasaan yang harus terjadi perang saudara. No! Kami tidak mau adanya keributan antar saudara karena kami sudah mendapatkan porsi masing-masing."
Sean menatap gadis cantik itu.
"Ohya, apa perut mu masih sakit yang terkena tinjuku?"
Sean tersenyum. "Tidak Zee, pukulanmu tidak ada apa-apanya."
"Kalau gitu, pulanglah" sahut Zinni dingin.
__ADS_1
Sean berjalan menuju sofa dan mendekati Zinnia dan melihat pizza diatas meja yang masih ada beberapa slice. Sean tahu gadis itu memesan dua kotak pizza besar, salad dan chicken wings.
Tanpa malu pria itu mengambil satu slice pizza dan memakannya. "Aku lapar dan kedinginan Zee. Ijinkan aku disini. Okay? Aku tidak akan macam-macam."
Zinnia memicingkan matanya.
"Sumpah Pramuka Zee!" Sean mengangkat tangan kanannya.
Zinnia hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju dapur.
"Kamu mau ngapain Zee?" tanya Sean sambil mengambil pizza kedua.
"Kamu mau kopi atau teh atau juice? Apa kamu masih minum obat untuk cideramu?" tanya Zinnia.
"Aku masih minum obat."
"So no coffee." Zinnia mengambil kotak juice jeruk dan menuangkan di gelas. Sean tersenyum melihat gadis itu tampak perhatian dengannya meskipun mulutnya terdengar pedas.
"Zee..."
"Hhhmmm?" sahut Zinnia sambil menyiapkan juice dan air putih lalu membawanya ke meja.
"Terimakasih."
"Soal?"
"Mengijinkan aku masuk ke apartemen kamu."
Zinnia hanya menghela nafas. "Kalau kamu tidak masuk, yang ada kamu akan terus menerus membuat drama!"
Sean hanya nyengir lebar.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa.
Harusnya semalam aku up cuma aku ketiduran.
Sorry ya gaeesss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️