
Saung Sawah Indramayu Jawa Barat
Zinnia menunduk sambil mengusap kepala putranya penuh kasih sayang dan perbuatannya tidak lepas dari tatapan Sean.
"Anak mommy, permatanya mommy, cintanya mommy" gumam Zinnia tanpa sadar.
"Arsya besarnya akan tampan seperti daddynya" ucap Sean berusaha mencari topik pembicaraan.
"Asal tidak seperti Daddynya saja" balas Zinnia judes. "Oh ngomong-ngomong berkas surat cerai sedang diprint oleh Jasmine."
Sean meradang mendengar ucapan Zinnia. "Sudah aku bilang berapa kali Zee, aku tidak mau berpisah denganmu! Ada Arsya ataupun tidak!" geram Sean.
"Tapi Sean..."
"Dengar Zinnia Aida Hadiyanto Al Jordan Schumacher! Sejak aku melihat pertama kali di rumah sakit itu, aku sudah jatuh cinta padamu! Dan ketika kamu bersedia menikah denganku, itu adalah hari yang sangat membahagiakan aku! Apalagi kita menikmati kehidupan pernikahan yang sangat indah sampai badai itu datang!" Mata biru Sean menatap sendu ke mata hitam Zinnia.
"Sean..."
"Sekarang dibalik Zee. Apa jadinya jika kamu yang melihat aku bergumul dengan wanita lain tapi pria itu bukan aku! Apa kamu akan melakukan hal yang sama denganku? Tidak percaya dengan kamu saat itu juga?"
Zinnia menganga.
"Itu yang aku rasakan Zee meskipun hati berusaha menyangkal tapi waktunya sangat tepat. Alibi kamu tidak ada tapi aku tidak tahu kamu terkurung di bunker. Walaupun akhirnya banyak saksi yang mengatakan posisi kamu saat itu, tapi aku sudah kadung menjudge kamu! Dan itu adalah hal yang sangat aku sesali hingga detik ini!"
Sean memegang wajah Zinnia dengan kedua tangannya. "Aku sangat mencintaimu Zee dan aku sangat menyesal bahwa aku tidak percaya padamu saat itu! Kamu boleh minta apapun padaku tapi tolong, tolong jangan minta berpisah Zee. Apa kamu sudah tidak ada rasa cinta sama aku? Apa kamu tidak memikirkan dampaknya jika kita berpisah, Arsya harus kesana kemari hanya untuk bersama aku atau kamu!"
Mata hitam Zinnia mengerjap-ngerjap dan tampak memerah. "Aku tidak mau kembali Sean..."
"Sayang, aku ingin sekali egois. Ingiiinnn sekali! Tapi rakyat Belgia lebih memilih aku sebagai pengganti father dan mereka sampai membuat petisi agar aku membawa kamu pulang." Sean lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan petisi yang dibuat para rakyat Belgia.
Bring Back Princess Zinnia to Belgium.
Zinnia menatap tidak percaya sudah hampir sepuluh juta orang menandatangani petisi itu dari sekitar 13 juta penduduk Belgia.
"Ini... Setelah hampir empat tahun aku meninggalkan Belgia?" Zinnia menoleh ke arah Sean.
"Mereka masih ingat bagaimana kamu selama disana Zee. Bahkan para sekretaris merindukanmu. Sarah merindukan kamu."
"Tapi Sean..."
"Aku sudah bilang pada Arsya kalau akan ke rumah kita tapi Arsya tidak mau jika tidak ada ijin darimu. Aku tahu kamu butuh proses Zee, kita baru bertemu lagi setelah sekian lama. Aku memang tidak mau terburu-buru tapi situasi mendesak... Father sakit."
"Father sakit apa?" tanya Zinnia terkejut karena sejujurnya dia menutup akses pemberitaan tentang Sean dan Belgia sejak keluar dari negara itu.
"Leukemia. Dan stadiumnya juga sudah cukup memprihatinkan."
"Papaku tahu?"
Sean mengangguk. "Papa Ayrton beberapa kali menjenguk Father. Dan aku sangat menghormati papa Ayrton. Meskipun kami ada masalah, beliau dan mama Mariana menjenguk Father. Kamu tahu, saat pertama Papa Ayrton datang membesuk, Father hanya melongo, tidak percaya kalau besannya datang. Rasa bersalah father dan aku semakin besar tapi papa Ayrton bilang, ini demi kesehatan dan support ke Father untuk melawan penyakitnya."
Zinnia menatap tidak percaya. "Papa melakukan itu?"
__ADS_1
"See Zee, after all of this. Papa dan mamamu datang ke Brussels dan itu adalah sikap negarawan yang aku salut. Terlepas soal Keluarga, tapi papamu tetap bermartabat dalam bersikap."
Zinnia memandangi hamparan sawah di hadapannya. Hatinya tampak galau dan Sean hapal jika wajah istrinya seperti itu pasti sedang memikirkan sesuatu.
"Zee..."
"Sebentar Sean, biarkan aku menenangkan diriku."
Sean meraih kepala Zinnia dan meletakkan di bahunya. "Yes, baby."
***
Shinichi berjalan menuju saung setelah mengobrol dengan para pengawas sawah Zinnia karena entah kenapa dirinya merasa bahwa kakaknya akan rujuk dengan suaminya.
Pria imut itu melihat kepala Zinnia bersandar di bahu Sean dan diam-diam Shinichi tersenyum. Semoga jadi awal yang baik.
Shinichi memutuskan untuk tidak mengganggu keduanya tapi saat dia berbalik, kakinya saling tersandung dan akhirnya terpeleset.
"Aaaaaahhhh!" teriaknya membuat Sean dan Zinnia menoleh.
"Astaghfirullah Shinchaaannn!" teriak Zinnia melihat adiknya sudah terdampar di dalam petak sawah.
"Mbak Zeeeee... Huwaaaa!" rengek Shinichi yang sudah berkutat dengan lumpur dan tanah bletok.
Zinnia dan Sean langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Shinichi.
"Mommy...kenapa?" tanya Arsya yang terbangun mendengar tawa kedua orangtuanya.
"Oom Shin terjatuh di sawah" gelak Zinnia.
"Aku bantu Shinichi dulu." Sean pun keluar dari saung dan berjalan ke tempat Shinichi jatuh.
Para buruh tani yang melihat anak majikannya jatuh ikut tertawa.
"Ih pada jahat sama Shinichi. Bantuin kenapa?" sungut Shinichi kesal.
"Maaf, maaf Den" kekeh mereka.
"Sini aku bantu, Shin." Sean mengulurkan tangannya dan Shinichi memegangnya. Tapi karena tangan Shinichi terkena lumpur jadi licin otomatis Sean ikut jatuh ke dalam petak sawah. Dan kini dua pria tampan sama-sama terkena lempung tanah.
"Astaghfirullah! Shinchaaannn!" teriak Sean kesal.
"Maap bang! Licin! Tapi kan aku jadi ada temannya" gelak Shinichi tanpa beban.
Suara tawa Zinnia dan Arsya terdengar dari saung membuat hati Sean menghangat.
Setidaknya mendengar dua orang yang aku cintai tertawa bahagia, membuat mood aku baik.
"Mari saya bantu Den" ucap beberapa buruh tani.
Akhirnya kedua pria itu pun bisa keluar dari sawah dan tampak wajah mereka penuh dengan tanah. Zinnia dan Arsyanendra tertawa tidak berhenti melihat keduanya manyun.
__ADS_1
"Yuk pulang! Kalian berdua harus segera mandi!" ucap Zinnia disela-sela tawanya.
"Mbak, nitip baju ya. Nanti Shin cuci kok" rayu Shinichi yang mendapatkan lirikan Zinnia.
"Modusmu Shin" kekeh Zinnia.
"Mbak Zinnia, minumannya?" tanya seorang buruh.
"Ambil saja tidak apa, Mak. Utuh dan masih segelan itu" jawab Zinnia.
"Nuhun mbak."
"Sami-sami."
Keempatnya pun berjalan menuju rumah induk.
"Zee, Maap ya tidak jadi menggendong Arsya ke rumah. Kamu lihat sendiri kan aku kayak gini" ucap Sean.
"Asya nggak mau digendong Daddy" celetuk Arsya sambil tertawa.
"Beneran?" Sean menggoda putranya.
"Benelaaann" teriak Arsya cekikikan.
Keempatnya sampai di rumah induk dan tampak Jasmine disana terkejut melihat Shinichi dan Sean berantakan.
"Astaghfirullah! Yang mulia? Tuan Shinichi? Apa yang terjadi?" tanya pengawal setia Zinnia itu.
"Anggap saja kita berkubang dalam lumpur macam kebo" jawab Shinichi asal.
"Lewat samping! Jangan masuk rumah!" tegur Zinnia.
"Alamat Appa bahagia nih lihat anaknya macam kebo kungkum" keluh Shinichi.
"Shin" panggil Zinnia.
"Iya mbak?"
Cekrek. Zinnia mengambil foto Shinichi dengan kamera ponselnya.
"Aaaaaahhhh mbak Zeeeee!" rengek Shinichi.
"Langsung ke grup keluarga yaaa!" seringai Zinnia.
"Mooommmmyyyyy!" jerit Shinichi mendrama.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️