
Area Berkuda Istana Brussels
Sean memacu Thundernya setelah mendapatkan foto yang memperlihatkan Stefanus seperti mencium Zinnia-nya. Tidak mungkin! Zee bukan wanita seperti itu dan lagipula, ada Jasmine disana. Sudah pasti kak Stefan dihajar oleh dua wanita itu!
Tak berapa lama Sean melihat Zinnia berada di belakang Jasmine yang memasang badan dan Sean bisa melihat bahasa tubuh kakaknya yang sepertinya tertarik dengan istrinya.
"Zee!" panggil Sean yang membuat Zinnia menoleh dan wajah istrinya tampak lega. "Ayo naik ke Angel, kita berkuda."
Zinnia mengangguk. "Baik sayang." Wanita berambut hitam itu pun naik ke atas pelana Angel, tanpa berpamitan dengan Stefanus dan mensejajarkan Angel dengan Thunder.
Sean memberikan kode kepada Jasmine untuk mengikuti mereka berdua. Pengawal Zinnia itu pun mengangguk hormat ke Stefanus lalu naik ke kudanya mengikuti dua orang di depannya.
Stefanus tersenyum licik melihat wajah kusut adiknya dan dia yakin foto-foto itu sudah sampai ke ponsel Sean. Stefanus lalu menaiki kudanya dan memacunya menuju istana.
***
Sean dan Zinnia tiba di sisi danau yang lebih jauh dari tempat istrinya duduk tadi. Sean turun dari Thunder dan membantu Zinnia turun dari Angel, kudanya.
Setelahnya pria itu mengikat kedua kuda itu di sebuah pagar dekat pohon ek sedangkan Jasmine memilih duduk agak menjauh dari pasangan suami istri yang sepertinya membutuhkan waktu berdua.
"Zee, apa yang kak Stefan lakukan disana tadi?" tanya Sean tanpa basa basi dan Zinnia bisa melihat suaminya tampak menahan emosi.
"Aku tidak tahu Sean. Aku dan Jasmine sedang mengobrol soal Dubai, tiba-tiba dari belakang kakakmu datang. Dan entah kenapa aku sangat tidak nyaman dengan perilakunya lalu Jasmine berdiri melindungi aku. Meskipun aku bisa dan mampu menghajarnya tapi aku masih memikirkan posisi kamu, Sean."
Sean langsung memeluk Zinnia erat yang membuat istrinya bingung tapi tetap membalas pelukan suaminya.
"Kamu tidak tahu... Aku mendapatkan ini" ucap Sean usai melerai pelukannya dan mengambil ponselnya.
Mata hitam Zinnia melotot tidak percaya melihat foto-foto disana. Tampak foto yang diambil dari jarak jauh dengan lensa kwalitas tinggi menunjukkan posisi Zinnia seperti dicium oleh Stefanus.
"Astaghfirullah Al Adzim... Ini harusnya ada Jaz di sebelah sini. Dan aku tidak berciuman dengan kakakmu! Demi Allah Sean!" wajah cantik Zinnia lebih ke arah jengkel daripada takut.
"Aku tahu itu sayang. Karena kamu pergi dengan Jasmine, tidak mungkin pengawalmu tidak menghajar kakakku kalau berani kurang ajar padamu!"
"Sean, percaya padaku. Ini hanya permainan angle kamera hingga seperti aku berciuman dengan kakakmu! Aku tidak pernah berciuman dengan pria lain selain kamu! Kamulah yang mencuri ciuman pertamaku Sean! Dan aku mencintaimu." Zinnia memegang wajah Sean.
Sean mencium bibir Zinnia lembut. "Aku percaya padamu, Zee tapi aku tidak percaya ada yang tega dengan kita."
"Orang iri itu ada dimana-mana Sean termasuk keluarga sendiri" ucap Zinnia.
"Tapi keluarga mu tidak" gumam Sean.
"Keluarga ku adalah perkecualian" jawab Zinnia.
__ADS_1
Sean merebahkan kepalanya di paha Zinnia. "Kamu tahu Zee, mom meminta kita untuk tinggal di istana..."
Tubuh Zinnia membeku dan Sean merasakan bahwa istrinya merasa tidak nyaman. "Aku tidak nyaman tinggal di istanamu, Sean. Apalagi sejak kejadian tadi kakakmu mencoba berandai-andai denganku."
"I know Zee, maka dari itu aku bilang kita lebih nyaman tinggal di apartemen karena tugas kerajaan kita hanya minor, tidak seperti kak Stefan dan Natalia."
Zinnia tampak berpikir untuk menceritakan soal kakak iparnya atau tidak tapi dirinya merasa agar Sean tahu yang sebenarnya.
"Sean..." panggil Zinnia lembut sambil mengelus rambut coklat kepirangan Sean yang matanya terpejam. "Ada yang ingin aku ceritakan."
"Apa itu Zee?"
"Soal Natalia."
"Aku tahu dia tidak suka padamu, Zee."
"Bukan itu saja."
Sean membuka mata birunya dan menatap wajah Zinnia yang tampak tegang. "Apa maksudmu Zee?"
"Natalia mengincar mu sama seperti Stefanus mengincar aku."
Mata biru Sean membulat dengan sempurna. "Jangan suudzon Zee."
Pria itu menyentuh wajah cantik istrinya. "Jangan jauh-jauh dari Jasmine sayang. Kalau perlu kamu tambah pengawal lagi gimana?"
"No, Sean, Jaz sudah cukup buat aku."
Sean mengambil tangan Zinnia dan menciumnya.
"Sean, ada lagi..."
"Apa lagi sayangku?"
"Apakah kamu tahu kalau kakakmu dan istrinya tidur terpisah sejak lima bulan lalu?"
Sean tampak berpikir. "Mereka kan baru menikah enam bulan, Zee? Kita saja sudah tiga bulan menikah."
"Dan, aku mendapatkan informasi kalau kakak iparmu memiliki selingkuhan aktor Hollywood dan baru saja menggugurkan kandungannya di Swiss."
Sean terduduk dengan wajah sangat terkejut. "You can't be serious, Zee! Jangan fitnah!"
Zinnia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak fitnah Sean." Zinnia menoleh ke arah Jasmine yang duduk sambil membaca novel. "Jaz, berikan bukti-bukti dari Oom Benji."
__ADS_1
Jasmine lalu mengangguk dan menghampiri pasangan suami istri itu.
"Ini yang mulia. Foto-foto yang diambil mata-mata tuan Smith untuk mengikuti kakak ipar anda." Jasmine memperlihatkan ponselnya yang berbentuk fold hingga tampak jelas.
Mata biru Sean menatap nanar ke layar ponsel itu. Bahkan terdapat pula hasil kesehatan yang bisa diambil oleh hack Benji.
"Apa maksud kalian mengikuti Natalia?" tanya Sean yang tampak shock dan tidak suka keluarga Zinnia sampai segitunya mengikuti iparnya.
Jasmine menatap wajah nonanya.
"Apa kamu tahu..." Suara Zinnia sedikit tercekat. "Saat kita menikah, beberapa anggota keluarga mu mengatakan... aku tidak pantas untukmu karena aku... hanya anak angkat yang bukan keturunan bangsawan... Hanya gadis Indonesia, gadis biasa... gadis..."
Sean memeluk istrinya erat. "Jangan diingat-ingat... Mereka tidak tahu bagaimana baiknya kamu, bagaimana bersinarnya kamu Zee."
Zinnia terisak di dalam pelukan suaminya. "Luke sudah mewanti-wanti aku, apakah aku sudah siap menjadi istrimu. Menjadi istri seorang pangeran yang menjadi line kedua calon raja itu tidak mudah..."
"Kamu punya aku Zee. Punya keluarga mu dan aku paham kenapa Oom Benji sampai seperti itu melindungi kamu begitu juga papa Ayrton."
"Jangan kecewakan aku Sean. Aku tidak pernah berbohong atau pun berpura-pura karena aku tidak bisa seperti itu Sean."
"Aku tahu Zee." Sean menciumi pucuk kepala Zinnia. "Aku tahu, sayang. Dan aku sangat mencintaimu, Zee. Aku tidak mau kehilangan dirimu."
Jasmine pun pelan-pelan mundur dan mengambil keranjang makanan yang memang dibawanya.
"Yang mulia, kita makan dulu" ucap Jasmine sambil membawa keranjang piknik itu.
"Kapan kamu membawanya Jaz?" tanya Zinnia bingung.
"Saya sudah mempersiapkan nona, saat tahu kalian mau berkuda." Jasmine lalu menggelar kain untuk alas piknik dan mulai menata makanan diatas kain itu.
Sean, Zinnia dan Jasmine pun menikmati acara piknik mereka tanpa mengetahui bahwa kegiatan mereka difoto oleh seseorang menggunakan kamera tele jarak jauh.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Insyaallah hari ini Zee bisa agak banyak
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1