
Dubai International Airport
Rombongan keluarga Schumacher akhirnya tiba di Dubai setelah menempuh perjalanan sekitar delapan jaman. Garvita yang kakinya masih sakit, tetap menggunakan kruk dengan dibantu Gabriel.
Arsya yang sempat tertidur saat di pesawat, langsung tampak sumringah ketika bangun berada di negara tempat Opanya.
"Mommy, kita sudah di tempat Opa" ucap Arsyanendra yang dalam gendongan Sean.
"Iya, nanti ketemu sama Oom Ken, Oom Radhie, Oom Damian, Tante Kalila dan Tante Raine" jawab Zinnia.
"Nanti aku naik kuda sama Oom Damian ya mommy" rayu Arsyanendra.
"Kamu istirahat dulu Sya, nanti kecapekan" senyum Sean ke arah putranya.
Ketiganya masuk ke dalam mobil Range Rover yang sudah disiapkan oleh para pengawal Ayrton. Ada empat mobil Range Rover disiapkan untuk membawa rombongan itu.
"Mommy..."
"Yes Arsya?"
"Belapa lama kita di tempat Opa?"
"Seminggu. Nanti baru ke rumah Daddy di Belgia."
"Asya halus belajal bahasa jelman?" Wajah imut Arsya tampak manyun.
Gemesin banget sih kamu, Sya
"Iya sayang, sebab disana pakai bahas Jerman. Nanti mommy dan Daddy ajarin." Zinnia memegang pipi Arsya gemas.
Sean hanya tertawa mendengar percakapan istri dan anaknya yang dari kemarin meributkan harus belajar bahasa Jerman.
"Arsya mirip kamu Zee. Ingat saat kamu mau ujian lisan? Betapa kamu juga kesal dengan bahasa Jerman kamu" senyum Sean.
"Kalau Arsya tidak mirip aku, lalu mirip siapa Sean?" balas Zinnia judes.
Sean terbahak lalu mencium pipi istrinya. "Mirip aku."
***
Istana Al Jordan
Rombongan keluarga Schumacher tiba di istana mereka dan langsung disambut Karl dan Sabine. Pasangan suami istri yang masih harmonis itu langsung memeluk Zinnia dan Arsyanendra. Tapi Karl hanya menyalami cucu menantunya dengan dingin, sangat khas pria Jerman.
"Aku harap kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami berikan padamu, Sean. Aku tahu kamu seorang pangeran dan calon raja, tapi disini kamu adalah suami Zinnia, cucuku."
"Iya Opa. Aku tidak akan menyia-nyiakan semua kesempatan yang diberikan Papa dan Mama serta Zee sendiri."
__ADS_1
"Bagus! Karena aku tidak yakin jika kamu berulah lagi, aku tidak akan bisa menjaga Sabine untuk mengambil baby-nya." Karl menyeringai durjana.
***
Garvita dengan tertatih berjalan menuju kamarnya. Dirinya merasa lelah dan ingin segera meletakkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Apalagi lusa dia harus kembali ke Inggris untuk kuliah lagi.
"Anda baik-baik saja Nona Garvita?" tanya Gabriel yang berjalan di belakangnya sambil menyeret koper besar milik gadis itu.
"Sedikit tidak nyaman, Gab" jawab Garvita yang masih memakai kruk. Para Opa dan Omanya yang dokter memintanya untuk tidak menggunakan kakinya berjalan dulu setidaknya seminggu ini.
Gabriel meletakkan koper gadis itu dan tanpa meminta ijin, pria itu langsung menggendong Garvita ala bridal style membuatnya terpekik kaget.
"Gabriel!" bentak Garvita terkejut.
"Maaf nona. Tapi saya takut kaki anda bengkak lagi." Gabriel menatap lembut ke Garvita yang mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh pengawalnya. "Amir, tolong bawakan koper dan kruk Nona Garvita ke kamar nya" pinta Gabriel ke arah pengawal lainnya.
"Apakah kamu akan menggunakan lift?" tanya Amir.
"Iya. Kasihan kaki nona Garvita, nanti bengkak lagi." Gabriel lalu memencet lift yang berada di istana sedangkan Amir memilih menggunakan tangga.
Garvita mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Gabriel, berusaha menenangkan debaran jantung nya apalagi setelah dirinya mendapatkan Omelan dari Shinichi, gadis itu berusaha membuka hati dan perasaannya. Semoga tidak seperti Juliet karena untuk kesekian kalinya, Mas Romeo tampak ingin menyerah dengan sepupuku satu itu.
"Apakah masih nyeri nona?" tanya Gabriel setelah mereka keluar dari lift.
"Hah? A...apanya?" Jantungku agak nyeri.
Garvita mengangguk pelan. Sejak kapan harum parfum pria memabukkan seperti ini?
Amir yang sudah sampai terlebih dahulu, membukakan pintu kamar Garvita lalu Gabriel membawanya masuk.
"Aku taruh kruk dan kopernya nona Garvita disini, Gabriel" ucap Amir sambil meletakkan koper Louis Vuitton itu.
"Terimakasih Amir" sahut Garvita.
"Sama-sama Nona. Permisi." Pria Arab yang mengenakan gamis putih dan kafayeh itu membungkuk hormat dan mengundurkan diri.
Perlahan Gabriel meletakkan tubuh Garvita diatas tempat tidurnya.
"Ya Allah enak banget! Aku kangen kasurku!" gumam Garvita sambil mengambil bantal dan memeluknya.
"Saya periksa dulu bengkaknya nona." Gabriel lalu duduk di pinggir tempat tidur dan memeriksa kaki Garvita.
Mata hazel kehijauan Garvita menatap pengawalnya selama empat tahun ini dan masih tetap saja sama, tidak ada perubahan sikap kepadanya.
"Gab... Biarkan dokter pribadi Al Jordan yang memeriksa" pinta Garvita dengan nada bergetar akibat gugup.
"Tak apa nona. Jika nanti parah, saya panggil dokter istana." Gabriel masih menunduk memeriksa kaki Garvita.
"Gabriel..."
__ADS_1
"Ya nona."
"Aku mau beristirahat. Sepertinya aku terkena jetlag" ucap Garvita.
Yang concern dengan kaki nonanya.
"Nona mau tidur? Kakinya sudah mendingan jika dilihat..." Gabriel menoleh ke arah Garvita.
"Aku mau tidur. Kamu keluar!" Garvita menatap tajam ke arah pengawalnya.
Gabriel tersenyum. "Baik nona. Selamat beristirahat." Pria itu berdiri dan mengangguk hormat lalu berjalan keluar tapi sejurus kemudian dia kembali meletakkan kruk gadis itu dekat nakas. "Kruk nya saya letakkan disini nona."
"Terimakasih." Garvita menatap Gabriel dengan tersenyum tipis.
Apakah nona tahu? Aku berusaha menahan diriku untuk tidak mencium bibir ranum itu! Jangan tersenyum seperti itu, membuat imanku berantakan!
"Saya permisi nona." Gabriel keluar kamar Garvita dan menutupnya pelan.
Garvita menghela nafas panjang. Aku tahu kamu ingin mencium aku kan Gab? Garvita menata bantalnya dan mulai memejamkan matanya.
***
Gabriel berdiri di depan pintu kamar Garvita dengan melakukan inhale exhale karena dirinya hampir kebablasan mencium putri bungsu Emir Al Jordan Schumacher itu.
Bisa digantung di pohon kurma nanti aku jika ketahuan mencium putrinya.
Pria itu melihat bagaimana Sean dan Zinnia berjalan menuju lift bersama dengan Arsyanendra. Diam-diam Gabriel iri dengan keluarga Léopold itu.
Kenapa aku membayangkan memiliki keluarga kecil itu bersama dengan Garvita?
***
Cerita tentang kisah Garvita awal bertemu dengan Gabriel akan ada di novel mereka sendiri.
Ditunggu ya usai The Bianchis dan The Prince and I tamat.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1