The Prince and I

The Prince and I
Sean Bodoh


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia Present Day


Malam ini Arsyanendra tampak bahagia melihat ada Oom Shinichi di meja makan. Bagi Arsya, Shinichi adalah Oom favoritnya selain Gasendra, Arkananta dan Valentino. Arsya tidak nyaman dengan Luke Bianchi karena wajah dinginnya.


"Besok Oom mau ke sawah?" tanya Arsya ke Shinichi yang seharian ini memasang wajah manyun.


"Iya, besok Oom ke sawah. Kenapa? Arsya mau ikut?" Shinichi menatap keponakan bulenya.


"Mau! Besok Asya temenin Oom Shin ke sawah sama Daddy!" seru Arsya membuat Sean terkejut.


"Hah? Besok ke sawah?" Sean menoleh ke arah putranya.


"Nanti main cacing, Daddy" cengir Arsya.


"Zee..." Wajah Sean tampak memelas.


"Lho kan bagus kamu tahu sawah jadinya" balas Zinnia cuek.


"Bang, ayolah ikut ke sawah biar aku ada temennya kena lintah" gelak Shinichi. "Kan aku nggak mungkin minta Garvita datang kemari. Bisa kena amuk Oom Ayrton nanti."


"Yang benar saja Shin..." Sean melirik judes ke Shinichi.


"Demi bang... Demi adikmu yang imut dan bersahaja ini..." Mata coklat Shinichi mengerjap-ngerjap dan wajahnya dipasang sok imut.


"Oh astagaaa!" Sean memegang pelipisnya. "Ya sudah, besok kita ke sawah!"


Shinichi dan Arsyanendra berseru heboh hingga lebih mirip kakak adik daripada Oom dan keponakan.


***


Malam harinya Arsya ingin tidur dengan Oomnya karena pasti di kamar Shinichi mengajak nonton anime anak-anak. Zinnia sudah meminta untuk tidak menyetel anime yang tidak sesuai dengan usia Arsya.


Zinnia bersama bik Minah dan Jasmine pun membereskan meja makan dan wanita itu membuatkan kopi untuk Sean yang duduk di ruang tengah sambil menelpon asistennya Greg.


"Jadi anda dan princess Zinnia memiliki anak bersama, yang mulia?" tanya Greg terkejut karena selama menemani Sean, dia tidak menduga akan hal itu.


"Iya Greg. Aku memiliki anak laki-laki yang sangat mirip denganku dan usianya sekarang tiga tahun. Jadi saat Zee pergi itu, dia sedang hamil anakku."


"Beruntung princess Zinnia langsung diungsikan keluar Belgia, yang mulia. Saya tidak terbayang jika princess masih di Brussels. Nyawa princess dan calon putra mahkota dalam bahaya."


Sean termenung. "Kamu benar Greg. Ada benarnya Gasendra dan Luke mengeluarkan Zee dari Brussels."


Zinnia datang sambil membawakan kopi hitam beserta singkong goreng dengan susu dan keju.


"Terimakasih sayang" ucap Sean kepada Zinnia yang hendak duduk di sofa kecil namun pria itu memberikan kode agar istrinya duduk di sebelahnya dan Zinnia menurut.


"Bagaimana istana? Father?" Tangan Sean yang bebas langsung memeluk pinggang Zinnia yang mendelik judes.


"Istana baik-baik saja yang mulia. Beberapa sepupu anda mengajukan diri menjadi raja Belgia jika anda memutuskan mundur tapi yang mulia raja Andrew masih tetap menunjuk anda sebagai penggantinya."

__ADS_1


Sean menghela nafas panjang dan Zinnia bisa melihat wajah galau suaminya.


"Yang mulia kapan pulang? Anda sudah meninggalkan Belgia hampir seminggu."


"For God's sake, Greg! Aku baru bertemu dengan putraku dua hari ini! Bilang sama Father, aku baru pulang kalau memang mau pulang! Lagipula aku pergi menemui istri dan anakku, bukan kemana - mana!" hardik Sean kesal.


Sejak peristiwa sekitar empat tahun lalu, hubungan Sean dan Raja Andrew semakin merenggang dan dingin. Keduanya hanya tampak akur di depan layar tv atau acara kerajaan jika menjamu para tamu negara lain.


Sean masih sakit hati bagaimana ayahnya sendiri tidak bersikap tegas pada saat Zinnia dipermalukan oleh ratu Michelle, Stefanus dan Natalia. Meskipun dirinya pun juga merasa bersalah kepada istrinya karena tidak membelanya juga.


Aku juga tidak lebih baik dari Father.


"Nanti saya sampaikan pada Yang Mulia Raja Andrew jika anda belum ada keinginan pulang dalam waktu dekat ini" ucap Greg tenang.


***


Brussels Belgia


"Bagaimana Greg?" tanya Raja Andrew yang duduk di sebelah asisten putranya.


"Pangeran Sean tidak akan pulang dalam waktu dekat ini, yang mulia."


Raja Andrew mende*sah pelan. "Dia ke Dubai lagi?"


"Tidak yang mulia. Pangeran Sean berada di Indonesia, menemui princess Zinnia disana."


Raja Andrew menoleh ke arah Greg. "Ayrton sudah memberikan ijin Sean menemui Zinnia? Di kota mana dia? Apakah Jakarta? Jadi selama ini Zinnia di Indonesia?" q


"Anak siapa?" Detik kemudian Raja Andrew menyesali ucapannya. "Laki-laki atau perempuan?"


Greg mengambil iPad nya. "Laki - laki yang mulia, berusia 3 tahunan, bernama Arsyanendra Al Jordan Schumacher..." Asisten Sean itu pun memperlihatkan foto Sean bersama Arsya saat melakukan selfie.


"Ya ampun, ini benar-benar Sean waktu kecil..." bisik Raja Andrew sambil menyentuh layar iPad itu. "Bahkan warna matanya pun sama." Mata biru raja Andrew tampak berkaca-kaca melihat wajah cucunya.


"Jadi, pangeran Sean memilih untuk bersama dengan istri dan anaknya, yang mulia."


Raja Andrew memegang dadanya yang terasa sesak.


"Anda tidak apa-apa tuanku?" tanya Greg panik.


"Tidak apa-apa Greg. Aku terlalu terkejut..."


Greg hanya mengangguk. Semua orang di istana tahu jika anda tidak baik-baik saja, yang mulia.


***


Indramayu Jawa Barat Indonesia


"Kamu disuruh pulang?" tanya Zinnia ke Sean.

__ADS_1


"Pulang kemana Zee. Ini rumahku dan aku sudah pulang..."


"Technically, ini rumahku, tanahku, bukan rumahmu" jawab Zinnia dingin.


Sean hanya tertawa tapi langsung membawa tubuh Zinnia ke dalam pelukannya. "Iya, ini milik istriku dan aku tidak akan mengutak atik. Tapi melihat kamu dan Arsya, bagiku itu sudah pulang ke rumah."


"Apa perlu kita berpelukan seperti ini?" Zinnia mendongakkan wajahnya menatap Sean karena posisi mereka duduk di sofa dan kedua tangan pria itu memeluk erat tubuh sintal itu.


"Biarkan begini dulu Zee. Aku rindu saat-saat seperti ini. Tubuhmu tidak banyak berubah ya meskipun sudah melahirkan Arsya?"


Zinnia mendelik. "Apa maksudmu?"


Sean tidak menjawab tapi meraih tubuh sintal itu duduk di atas pangkuannya. "Pinggulmu sedikit melebar..."


"Sean!" hardik Zinnia yang kesal suaminya main pegang-pegang.


"Kita belum bercerai Zee. Bahkan surat cerai pun tidak ada..." senyum Sean yang entah kenapa membuat Zinnia sebal.


"Sudah dikirim oleh Oom Travis."


"Sudah aku sobek!"


"Astaghfirullah! Sean! Kenapa kamu sobek?" Zinnia mendelik tidak percaya.


"Karena aku...tidak mau berpisah denganmu, Zinnia Aida Hadiyanto Schumacher Léopold... My Zee. Sampai maut memisahkan kita, aku tidak akan berpisah dengan mu!"


"Tapi aku ingin..."


Sean menarik tengkuk Zinnia dan mendekatkan bibirnya ke bibir wanita itu lalu Melu*matnya. Zinnia tidak munafik jika dia sangat merindukan suaminya tapi rasa sakit hati itu masih membekas.


"Tubuhmu mengkhianati bibirmu, sayang. Apakah kamu merindukan aku seperti aku merindukanmu selama ini?" Sean menatap dalam mata hitam Zinnia setelah puas menikmati bibir istrinya.


"Aku tidak pernah merindukanmu..." Sean mencium Zinnia lagi dan kali ini semakin panas dan Zinnia pun terhanyut dengan sikap Sean hingga tanpa sadar kedua lengannya mengalungi leher Sean.


"Lihat Zee... Kita bisa rekonsiliasi lagi... Sudah waktunya membuat adik untuk Arsya..."


Zinnia mendelik tidak percaya dan langsung bangun dari pangkuan Sean.


"Surat cerai akan datang besok dan aku harap kamu menandatangani nya di hadapan aku!" Zinnia langsung berjalan lebar-lebar ke kamarnya dan sedikit membanting pintu.


Sean hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Bodoh kamu Sean!


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2