
Uccle Belgia
Gasendra mengajak Zinnia untuk mengobrol serius di halaman belakang villa yang asri. Leia dan Shinichi membiarkan kedua kakak beradik itu berbicara secara private.
"Mbak, rencana mbak mau gimana? Pulang ke Dubai atau mau gimana?" tanya Gasendra. "Setelah kita di Kensington."
"Mbak mau pergi jauh. Meninggalkan semuanya di Eropa. Mbak ingin beristirahat dari semua hiruk pikuk dan... mbak tidak mau stress disini." Zinnia menatap adiknya.
"Mbak, papa kemarin memberitahukan padaku kalau mbak punya warisan dari ayah kandung mbak."
Mata hitam Zinnia melotot. "Warisan apa?"
Gasendra menceritakan apa yang Ayrton simpan selama ini dan hanya tetua yang tahu, plus Valentino dan Arka membantu Levi, Hoshi, Benji dan Travis mengawasi.
"Mbak... punya sawah? Penghasil beras?" Zinnia mencari - cari prank di wajah Gasendra tapi tidak menemukan.
"Tadinya papa hendak memberikan saat mbak Zee usia 25 tahun tapi sekarang mungkin waktu yang tepat supaya mbak Zee bisa stand up dari Sean."
"Mbak kan selama ini stand up. Tidak pusing soal duit karena tabungan mbak Zee banyak ditambah mbak bisa bekerja di rumah sakit."
"Iya tapi nama mbak kan sudah dicemarkan sama bajigur - bajigur itu. Mbak akan sulit mendapatkan pekerjaan dimana-mana tanpa mengenali mbak. Semua orang mengenali mbak."
Zinnia tampak terdiam. Apalagi aku sedang hamil juga. Pasti akan sulit.
"Jadi apa rencana kalian?" tanya Zinnia.
"Membalas fitnah menjijikkan itu menjadi pembalasan yang jauh menjijikkan!" seringai Gasendra.
"No... Kalian itu!"
"Mereka menyenggol keluarga yang salah!"
***
Apartemen Sean dan Zinnia di Brussels
Arka dan Valentino masuk ke dalam apartemen kakak iparnya dengan menggunakan kartu milik Zinnia. Keduanya memakai topi cap dan bergegas menuju lantai tempat apartemen Sean.
Arka nya Bima
V nya Hoshi
"Password nya masih yang lama kata mbak Zee" ucap Arka sambil membuka iPad nya.
"Kita tunggu, Ka. Jadwal bang Sean yang didapatkan Sarah itu dimulai jam sepuluh pagi." Valentino menatap lantai tempat pintu apartemen itu berada.
"V, Bang Sean membatalkan semua jadwalnya!" bisik Arka.
"Tahu dari siapa?" Valentino menatap Arka.
"Mbak Bee kasih tahu ini." Arka menunjukkan iPadnya.
Tak lama suara pintu terbuka terdengar dan duo kampret itu langsung bersembunyi di balik tembok yang beruntung lift dekat dengan apartemen Sean dan mereka melihat suami Zinnia itu bersama dengan Greg menggunakan baju casual terlihat.
"Kita akan cari putri Zinnia kemana tuanku?" tanya Greg ke Sean. Valentino dan Arka yang terpisah diantara dua tembok saling berpandangan.
"Aku harus menemui Sarah! Tidak mungkin Zee tidak berkomunikasi dengan sekretarisnya!" Sean dan Greg masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Duo kampret itu menunggu sampai lima menit, lalu bergegas menuju apartemen Zinnia dan Sean.
"Ka, CCTV sudah kamu hack kan?" tanya Valentino.
"Semalam sudah diutak-atik sama bang Lukie jadi hari ini aman."
"Apartemen mbak Zee ada CCTV nggak?" Valentino menempelkan kartu kunci apartemen.
"Ada di ruang tamu, ruang makan. Tapi kamar nggak ada."
Ceklek!
"Ya iyalah gadha. Bisa jadi tontonan gratis, cumiii!" cebik Valentino yang sudah masuk ke dalam apartemen.
"Emang tontonan apaan sih?" tanya Arka dengan muka polos.
"Dih! Sok iye!" Valentino langsung mematikan alarm dan Arka menjam CCTV di apartemen itu.
"Oke kita periksa." Arka melihat sekelilingnya yang seperti kapal pecah. Botol minuman berserakan dan foto Zinnia ada di mana-mana.
"Berantakan banget! Duh bau alkohol dimana-mana!" Arka menutup hidungnya dengan kedua jarinya.
Valentino mengacuhkan protes Arka dan menuju jendela apartemen dan melihat dari sana adalah kamar Hilda Stuart. Valentino mengambil binoculars canggihnya dan mulai melihat isi apartemen Hilda.
"Bro, dia punya kamera super canggih dan peralatan hacker. Pasti dia menghack CCTV mbak Zee dan berusaha meniru semua gerak gerik mbak Zee sehari-hari."
"Pantas dia tahu apa saja baju yang dipakai mbak Zee." Arka pun ikut memeriksa dengan binoculars milik Valentino.
"Sepertinya selain dayang yang disusupkan, pasangan bajigur itu juga melakukan cara licik lainnya." Valentino menatap geram ke arah apartemen yang hanya beda satu blok dari apartemen kakaknya.
"Kita kesana V?" ajak Arka.
"Yuk! Pengen tahu ada apa saja disana! Dia mungkin merasa pintar tapi kita jauh lebih pintar dan cerdik!"
***
Blaze mengenakan kacamata untuk menyamarkan wajahnya. Dirinya merasa bersyukur wajahnya jarang muncul di publik karena dirinya sendiri tidak suka publisitas. Kalau kedua orangtuanya sering muncul di berita karena memang pekerjaan mereka yang membuat terkenal.
Bee nya Bebek
"Nona Blaze..." bisik Sarah.
"Ya Sarah?"
"Pangeran Sean ingin bertemu dengan saya. Ponsel saya ada pesan dari putri Zinnia. Saya takut jika nanti..."
"Tenang saja Sarah. Kamu ingat tadi aku meminta ponselmu?" Blaze menatap Sarah dan dijawab anggukan. "Pesan dari Zee hanya sebatas saat kalian menemukan dirinya di Antwerp."
"Sisanya?"
Blaze nyengir. "Aku buat hidden."
"Syukurlah!"
"Sarah! Yang mulia pangeran Sean of Léopold memanggil mu." Salah seorang rekan Sarah memberitahukan.
"Oke." Sarah menoleh ke arah Blaze. "Wish me luck!"
"Body cam sudah terpasang ya Sarah."
__ADS_1
"Baik nona Blaze." Sarah pun berjalan mengikuti rekannya.
***
Ruang Kerja Pangeran Sean of Léopold
Sean menatap wanita yang sudah menjadi sekretaris istrinya beberapa bulan terakhir ini. Sarah melihat bagaimana wajah suami putrinya berantakan seperti tidak tidur semalaman dan wanita itu bisa mencium sedikit bau alkohol.
"Dimana Zee, Sarah? Tidak mungkin Zee tidak menghubungi mu!" Wajah Sean tampak kesal dan marah.
"Saya tidak tahu yang mulia."
"Jangan berbohong padaku, Sarah!"
"Sungguh yang mulia. Sejak putri Zinnia disidangkan hari Senin, beliau tidak pernah menghubungi saya. Begitu juga dengan Jasmine padahal biasanya kami selalu berkomunikasi."
"Berikan ponselmu!" Sean mengadahkan tangannya.
"Tapi..."
"BERIKAN PONSELMU!" bentak Sean.
Sarah lalu memberikan ponselnya setelah membuka password nya.
Sean berusaha mencari bukti percakapan istrinya dengan Sarah. Begitu juga percakapan dengan Jasmine.
Semua percakapan Zinnia dan Jasmine terhenti setelah peristiwa di hari Senin itu. Sean mencoba menghubungi Zinnia dan Jasmine menggunakan ponsel Sarah, tapi semuanya terhubung dengan kotak suara.
"Apa kamu juga diblokir oleh Zee?" Sean menatap Sarah.
"Saya tidak tahu yang mulia. Hari Senin pagi itu memang tuan putri meminta saya untuk pulang karena beliau berencana untuk beristirahat setelah acara sidang kerajaan."
"Zee bilang hendak istirahat?"
"Benar yang mulia. Putri Zinnia bilang dirinya akan beristirahat setelah sidang karena pasti merasa lelah. Semua ada di pembicaraan kami di ponsel."
Sean membuka pesan Zinnia dengan Sarah.
📩 Sarah The Secretary : Anda membutuhkan sesuatu yang mulia.
📩 Your Highness Zinnia : Tidak. Aku hanya ingin beristirahat setelah acara itu selesai."
📩 Sarah The Secretary : Saya yakin anda kuat yang mulia.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu.
"Apa kamu yakin tidak tahu kemana istriku pergi?" Sean menatap tajam ke Sarah.
"Yakin yang mulia."
Damn it ! Kamu kemana Zee!
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️