
Kereta Orient
Zinnia menatap tidak percaya Sean melihatnya dan berusaha mengejarnya namun ditahan Luke. Hatinya sakit melihat bagaimana terpuruknya wajah suaminya. Memang benar dia tidak patut meninggalkan Sean tapi di satu sisi dia ingin melindungi janin dalam perutnya. Bukan tidak mungkin, nyawanya dan nyawa anaknya dalam bahaya meskipun Jasmine berusaha sekuat tenaga melindunginya.
Apakah kamu percaya bahwa itu anakmu, Sean? Apalagi kamu masih meragukan diriku saat sidang kemarin.
Gasendra memeluk bahu kakaknya dan Zinnia menangis dalam dekapan adiknya. Gasendra memeluk Zinnia erat dan tahu bagaimana perasaan kakaknya. Dua-duanya patah hati.
"Mbak, jangan nangis, jangan stress. Ingat janin dalam perutmu mbak..."
"Nona Zinnia hamil?" seru Jasmine kaget.
"Jangan bilang siapa-siapa dulu Jaz. Biar yang tahu hanya kita dan papa mama. Nanti kalau mbak Zee sudah sampai Indramayu, baru kita bilang ke semua orang." Gasendra menatap pengawal kakaknya.
"Baik tuan." Jasmine duduk di hadapan Zinnia. "Nona membutuhkan sesuatu?"
"Aku ingin biscuit" bisik Zinnia disela-sela tangisnya.
"Sepertinya ada nona." Jasmine menuju pantry untuk mencari biscuit.
"Mbak, jangan nangis ya. Aku tahu mbak patah hati tapi aku mohon, ingat janin mbak. Itu bagian dari Sean, dan tolong mbak jaga. Aku yakin, akan mirip Sean nanti wajahnya tapi bukan sifatnya yang terlalu mudah percaya."
"Tapi aku juga tidak menyalahkan Sean, dik. Kamu lihat kan bagaimana miripnya si Hilda dengan aku? Sekilas pun Sean tidak bisa membedakan apalagi kata Luke, mereka sedang bergumul. Sean pasti lebih shock berat hingga tidak bisa berpikir jernih."
"Kamu kan sudah bilang, saksi ada."
"Namanya sudah kaget, emosi memuncak tidak bisa berpikir jernih, dik."
Gasendra mengusap pipi Zinnia yang basah. "You're tough mbak. Aku yakin mbak bisa melewatinya dan aku akan selalu ada disisi mbak."
"Maksudmu?"
"Aku akan kuliah di Bandung sembari menemani kamu mbak."
Zinnia melongo.
***
Grand Central Station Brussels
Sean tampak terpuruk dan Luke membawanya keluar stasiun bersama Greg. Pria itu benar-benar tampak patah hati harus kehilangan istrinya.
"Greg, kamu temani dia. Jangan lepaskan pengawasan kamu ke Sean. Aku tidak mau ada kejadian dia nekad aneh-aneh!" perintah Luke.
Pawangnya Trio Kampret
"Baik Mr Bianchi." Greg lalu menyuruh pengawal membuka pintu dan menghela Sean masuk. Beruntung tidak banyak orang lalu lalang di jalur VIP yang memang dipesan khusus oleh Emir Al Jordan.
I'm sorry Sean, tapi aku tidak akan membiarkan nyawa Zee menjadi taruhannya.
***
Istana Brussels Belgia
Blaze mendatangi taman sayap kiri tempat Stefanus sudah menunggunya. Tampak disana sebuah meja untuk dua orang yang sudah ditata untuk dua orang.
__ADS_1
Seriously? Sangat-sangat menjijikkan!
Blaze mengulas senyum sok gugupnya dan menghampiri Stefanus yang sudah mengenakan suit berbeda dari tadi siang.
"Selamat datang, Anna. Ayo duduk." Stefanus menarik kursi dan mempersilahkan Blaze duduk.
"Darimana anda tahu nama saya?" tanya Blaze karena merasa tidak memperkenalkan dirinya.
"Aku bertanya pada Sarah."
"Oh."
Boleh nggak ya aku cincang anunya sekarang?
"So, berapa hari kamu bekerja disini?"
"Baru empat hari yang mulia."
"Pantas aku tidak pernah melihat mu, rupanya baru masuk kerja."
Blaze memberikan senyum manis.
"You're so beautiful when smiling" rayu Stefanus.
Kenapa gue bayangin si bebek yang ngomong begini? Bah kanebo satu itu mah mana paham romantisme!
"Yang mulia, apa yang mulia putri Natalia tidak marah anda mengajak saya dinner seperti ini?" Blaze berlagak melirik kiri kanan tapi sambil memeriksa apakah ada pengawal yang bisa melihat dirinya memasukkan obat itu ke minuman atau makanan Stefanus.
"Natalia? That b1tch? Mana berani dia! Lagian dia sama b@ngs@tnya. Apa kamu tahu? Pasti semua orang di istana sudah memberitahukan padamu kalau dia ada main dengan aktor yang lagi naik daun itu, Rowan Jesper. Bahkan hamil anaknya pria brengseeekkk itu!" tawa Stefanus yang terdengar miris.
"Zinnia? She's so damn hot! Aku yakin, setelah dia selesai terpuruk, pasti akan bercerai dengan Sean, dan aku akan mengambil hatinya."
Setan! Awas kamu b@jing@n! Sepupuku adalah wanita yang bermartabat!
"Oh ..." Blaze diam-diam mengambil sebuah pil yang sudah disiapkan. Pil itu cepat larut dan tidak berbau atau pun terasa.
"Kamu tampak bukan seperti orang Jerman..."
"No, I'm British yang mencari kerja di luar Inggris."
"Tapi bahasa Jerman mu bagus dengan aksen Inggris seperti itu."
"Terimakasih yang mulia." Blaze menghentikan ucapannya ketika para pelayan datang membawakan makanan pembuka.
"Aku tahu dari Sarah kalau kamu tidak bisa makan daging babi karena alergi. Jadi, no pork today."
Good job Sarah! Blaze tersenyum. "Benar yang mulia, saya memiliki alergi aneh."
"So, apa rencana mu malam ini?" tanya Stefanus.
Meracuni dirimu.
"Saya langsung pulang karena besok pagi sudah kembali bekerja. Dan saya tidak mau kehilangan pekerjaan saya."
"Tinggallah disini..." rayu Stefanus.
__ADS_1
Bebeeekkkk! I need you!
"Maaf yang mulia. Saya tidak bisa." Blaze memajukan tubuhnya sambil diam-diam memasukkan pil Lucknut itu ke dalam mangkuk sup Stefanus. "Karena, ini terlalu cepat." Kedip Blaze genit.
Stefanus terbahak. "Kau benar. Kita harus sering bertemu seperti ini dulu ya baru kita ke jenjang berikutnya... Kamar tidurku." Pria itu langsung memakan supnya.
"Pelan-pelan yang mulia. Jangan terlalu gegabah. Bukankah Anda bisa dicabut dari calon raja."
"Hah! Aku tetap calon raja, Anna. Tidak mungkin Sean!"
"Kenapa?"
"Karena Sean adalah anak dari istri father yang tidak diakui."
Mata biru Blaze melotot. "Maksudnya apa?"
Stefanus tersenyum smirk. "Sean adalah anak istri yang dijodohkan oleh grandfather tapi father sudah memiliki aku dengan mother. Father menikah dengan ibu Sean tapi tragedi terjadi. Ibu Sean meninggal saat melahirkan dirinya dan otomatis my mother naik panggung karena aku adalah anak sulung dari father. So, grandfather dan grandmother yang sebelumnya menyembunyikan kami, mengumumkan keberadaan kami."
What the f***! Tapi kenapa skandal ini tidak ditemukan oleh Oom Benji?
Blaze menatap Stefanus. "Jadi seharusnya Pangeran Sean yang naik tahta?"
"Tetap saja tidak bisa! Semua orang tahu, aku lah yang berhak naik tahta, bukan adik tiri ku!"
"Tapi yang dinikahi resmi sebelumnya adalah ibunya pangeran Sean."
"Hah! Anna, kamu terlalu banyak bicara... Tunggu, kenapa aku melihat ada Zinnia disini?"
Blaze menoleh dan nyaris dirinya terjungkal dari kursi melihat seorang wanita yang mirip dengan sepupunya. Ya wajar kalau Sean menganggap yang di video itu adalah Zee.
"Siapa kamu?" bentak Hilda.
Suaranya hampir mirip tapi ini lebih kasar.
"Saya hanya pelayan yang menunggu tuan putri datang" ucap Blaze sopan. "Silahkan anda duduk tuan putri."
Hilda langsung duduk di hadapan Stefanus.
"Benar kan kamu datang, Zinnia..." gumam Stefanus sedikit mabuk.
"Apa yang terjadi?" tanya Hilda.
"Bawa ke kamarnya tuan putri. Tampaknya dia sedikit mabuk." Blaze mendorong Hilda.
"Tapi ... "
"Tuan putri Zinnia, tolonglah."
Hilda pun memapah Stefanus dibantu oleh pengawal yang dipanggil Blaze.
Aku harus cerita dengan semua orang di villa !
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️