The Prince and I

The Prince and I
Diantara Dua Pilihan


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat Indonesia Present Day


"Apa?" Zinnia mendelik ke arah Sean yang berdiri di hadapannya dengan kondisi Shirtless. Harum sabun milik Arsyanendra tertinggal di tubuh pria itu bercampur dengan harum parfum Sean yang sangat dihapal Zinnia.


"Aku rindu mandi bersama mu Zee" senyum Sean seduktif.


"Yang benar saja Sean!" cebik Zinnia. "Minggir Sean, aku mau lewat."


"Masih memakai sabun yang sama?" Sean mencium pucuk kepala Zinnia yang memang jauh lebih pendek darinya. "Shampoo yang sama."


"SEAN!" hardik Zinnia dengan suara tertahan.


"Kenapa Zee? Aku hanya ingin merecall memory ku..." Sean menatap lembut istrinya yang saat ini hanya mengenakan daster batik rumahan.


Zinnia mendorong tubuh kekar suaminya namun Sean merengkuhnya dan keduanya pun kini berpelukan saling berhadapan. Wajah Zinnia memerah karena ini adalah kali pertama dirinya dipeluk Sean dalam kondisi Shirtless ditambah tubuh suaminya yang sangat dihapalnya meskipun sekian tahun tidak bertemu.


"Nanti malam, kita tidur bersama ya Zee..." Mata biru Sean menatap mesra ke Zinnia.


"Nggak usah ngelunjak!" balas Zinnia judes.


"Apa kamu tidak kangen aku Zee?"


"Tidak!" Kangen banget Sean. Jantung Zinnia bertalu-talu kencang apalagi tangannya posisi memegang dada Sean yang berbulu.


"Kamu bohong. Kita sama-sama saling merindukan kan Zee?" Sean mencium pipi Zinnia. "Miss you in the heartbeat, baby."


"Mommy! Katanya mau buat blonies!" teriak Arsyanendra di pintu kamarnya.


Zinnia melepaskan pelukan Sean. "Kamu nanti tidur di kamar tamu!" Wanita itu lalu meninggalkan Sean menuju ke putranya yang sudah berdiri di pintu kamarnya.


Sean mengusap wajahnya kasar. Susahnya membujukmu Zee.


Sean kembali ke kamar Arsyanendra dan memutuskan untuk mandi disana.


***


Suara ramai Zinnia dan Arsyanendra di dapur membuat Sean penasaran untuk melihat kehebohan keduanya.


"Bang..." panggil Gasendra.


"Ada apa Sendra?"


"Bisa bicara berdua?" Gasendra menatap kakak iparnya dengan tatapan dingin.


"Mau bicara dimana ?"


Gasendra mengedikkan dagunya mengajak Sean menuju ruang kerja milik keluarga Schumacher.


Di dalam ruang kerja, Gasendra menutup pintunya dan keduanya duduk di sofa disana.


"Apa yang bang Sean rencanakan?" tanya Gasendra tanpa basa-basi. "Mbak Zee mungkin bisa memaafkan bang Sean tapi tidak semudah itu férguso."

__ADS_1


"Abang ingin membawa mbakmu kembali ke Belgia karena tiga bulan lagi Abang harus menggantikan Father. Apalagi kondisi kesehatan father tidak terlalu baik dan Abang harus menggantikannya. Syarat yang Abang serahkan ke istana, jika Abang bisa membawa mbakmu, baru Abang mau naik tahta."


"Kalau mbak Zee nggak mau?"


"Aku lepas Sendra. Tapi itu sebelum Abang tahu ada Arsyanendra."


"Memang kenapa kalau ada Arsya?"


"Karena Arsyanendra adalah calon raja masa depan Belgia. Dia keturunan Léopold langsung."


"Memangnya Abang yakin Arsya anak Abang?" Gasendra menatap tajam kakak iparnya.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Arsya anak Abang. Dan Abang yakin Sendra, Abang melihat Arsya itu mini me Abang. Jangan diingat soal fitnah itu, Sendra. Hati Abang masih sakit kalau mengingat bagaimana kalian membawa Zee pergi, ditambah nyawanya dalam bahaya."


"Nah tuh tahu! Apa sekarang Belgia sudah aman? Apa bang Sean bisa menjamin tidak ada drama lagi disana?" Gasendra menghela nafas panjang. "Jika Abang disuruh memilih, gelar raja atau Mbak Zee dan Arsya, pilih siapa?"


"Tentu saja Zee dan Arsya!" jawab Sean tegas.


"Kalau begitu, lepaskan semuanya yang di Belgia!" ucap Gasendra tajam.


Sean terdiam.


***


Acara makan malam ini tampak ramai dan Arsyanendra berceloteh soal membuat brownies membuat tiga orang dewasa disana tertawa dan gemas dengan batita lucu itu.


Setelah makan, Arsya memakan satu potong brownies buatannya, begitu juga dengan Zinnia, Sean dan Gasendra.


"Asya kan pintal buat blonies" jawab Arsyanendra. "Nanti Asya mau sepelti opa Jendla jadi chef."


"Nggak seperti Oom Eagle?" goda Gasendra.


"Oom Eagle kalo masak, suka pedas. Asya Ndak suka."


Gasendra tertawa karena Eagle memang suka masakan pedas membuat sepupunya sebal. Tidak ada yang tahu kenapa Eagle suka pedas.


"Nanti jangan lupa sikat gigi ya Sya. Kan habis makan brownies" ucap Zinnia sambil mencolek hidung putranya.


"Yes mommy."


Jam setengah sembilan malam, setelah gosok gigi, Arsyanendra mengeyel meminta duduk bersama dengan mommynya dan Daddynya di ruang tengah sambil menonton Toy Story. Namun belum ada sepuluh menit film itu main, Arsya sudah terlelap.


"Aku yang menggendong Arsya. Dia sudah mulai berat" bisik Sean.


"Aku akan menyusul." Zinnia pun bangkit membereskan semua mainan Lego Arsyanendra yang tadi meminta Sean menyusun Lego Toy Story.



***


Sean menggendong Arsyanendra masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan putranya perlahan. Setelahnya dia menyelimuti Arsyanendra dan mencium kening putra tampannya dan duduk di pinggir tempat tidur putranya.

__ADS_1


"Semoga Arsya dan mommy mau tinggal bersama dengan Daddy. Kamu tahu, boy. Daddy tidak tahu kalau pada saat mommy pergi meninggalkan Daddy, mommy sudah membawa Arsya dalam perut mommy. Maafkan Daddy ya Arsya karena tidak ada bersama Arsya tiga tahun ini." Sean mengusap rambut pirang putranya.


"Sejujurnya kalau disuruh memilih, Daddy memilih kalian berdua tapi Daddy tidak bisa egois karena rakyat Daddy membutuhkan Daddy. Arsya tahu, mommymu adalah wanita yang paling Daddy cintai dan mommymu tidak ada keinginan menjadi ratu tapi bagi Daddy, mommymu adalah ratu di hati Daddy. Sya, Daddy dihadapkan dalam keputusan sulit dan Daddy tidak mau kembali jika tanpa Arsya dan mommy."


Tanpa Sean sadari, Zinnia mendengar semua ucapan suaminya. Maaf Sean, tapi aku belum percaya sepenuhnya padamu.


***


"Apakah saat melahirkan Arsyanendra, kamu mengalami kesulitan?" Sean menatap wajah Zinnia. Kini keduanya berada di ruang tengah sambil menonton film ditemani dengan popcorn dan air jeruk.


"Nope. Sejujurnya, Arsyanendra itu anak paling pengertian dengan mommynya. Aku nyaris tidak pernah morning sick, Sean."


Sean tampak termenung.


"Kamu kenapa?" tanya Zinnia bingung.


"Karena yang mengalami morning sick adalah aku, Zee. Aku baru bisa tenang jika mencium harum shampoo mu yang tertinggal di apartemen."


Zinnia melongo.


"Ceritakan bagaimana proses kelahiran Arsya..." Sean menatap lembut ke Zinnia yang duduk bersandar di sofa.


"Well..."


***


Indramayu Jawa Barat Indonesia 4 tahun lalu...


Pagi ini seperti biasanya Zinnia bangun untuk berjalan-jalan pagi di sekitar rumahnya tapi pagi ini dirinya merasa perutnya terasa tidak nyaman.


"Gasendra! V! Arka! Shin!" teriak Zinnia.


Keempat adiknya bergegas keluar kamar.


"Mbak Zee kenapa? Sudah mulas ya?" tanya Shinichi.


"Kita ke Jakarta! Sekarang!" ucap Valentino yang baru bangun tidur dan hanya memakai celana pendek.


Bergegas keempat pria tampan dan imut langsung menyiapkan segalanya. Gasendra memapah kakaknya masuk ke dalam mobil, sedangkan Shinichi mengambil tas yang sudah disiapkan Zinnia, Arka membawa makanan untuk bekal di jalan termasuk biscuit mint sedangkan Valentino yang bagian menyetir.


Jasmine memutuskan untuk tinggal di Indramayu dan mengabari Arum, Rani dan Anandhita jika Zinnia perjalanan menuju Rumah Sakit PRC group Jakarta.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2