The Prince and I

The Prince and I
Zinnia dan Thomas


__ADS_3

Geneva Swiss enam tahun lalu ...


Zinnia menikmati acara liburnya dengan pergi ke sebuah cafe dekat apartemennya. Di cafe ini menjual Älplermagronen atau Mac and cheese versi Swiss. Selain itu capuccino dan hot choco nya disana merupakan favorit gadis itu.


"Bonjour mademoiselle Zinnia" sapa Thomas Arnborg, pemilik cafe yang hapal dengan Zinnia.


"Bonjour Thomas" balas Zinnia sambil tersenyum menuju meja kosong di pojok. Hari ini dia mau mencicil belajar untuk ujian lisan tanggal 5 Januari besok.


"Comme d'habitude ( seperti biasa )?" tanya Thomas uang menyukai gadis cantik itu.


"Oui. Merci beaucoup, Thomas" senyum Zinnia sambil meletakkan MacBook dan beberapa bukunya.


Tak berapa lama pesanan Zinnia pun datang dan gadis itu mengucapkan terimakasih ke Thomas lalu fokus dengan belajar nya.



Älplermagronen aka Mac and cheese


Hawa dingin tampak dari luar jendela namun Zinnia suka di cafe ini karena pemanas nya bekerja dengan sangat baik. Tak jarang Zinnia bisa seharian belajar di cafe ini jika ada waktu luang.


"Kamu ada ujian? Bukannya semua libur natal ya?" tanya Thomas sambil duduk di hadapan Zinnia. Kebetulan pengunjung cafenya agak sepi jadi pria itu bisa menemani gadis itu.


"Masih tanggal 5 besok Thomas."


"Ini baru tanggal 22 Zee..." senyum Thomas.


"Aku harus nyicil soalnya ujian lisan."


"Kamu itu smart Zee, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lah" senyum Thomas.


"Tapi tetap saja aku harus cicil, Thomas. Aku bukan tipe sistem kebut semalam."


"Zee..."


"Ya?"


"Aku tahu kamu tidak merayakan natal tapi apakah kamu mau merayakan bersamaku?" tanya Thomas.


"Dimana?"


"Disini saja. Apa kamu tidak melihat flyer di jendela?"



Thomas Arnborg


"Aku tidak memperhatikan" senyum Zinnia.


"Kamu itu terlalu fokus dengan ujianmu, Zee. Seharusnya have fun go mad lah" kekeh Thomas.


"Acaranya apa Thomas?"


"Hanya makan malam buat para mahasiswa yang tidak pulang di hari natal. Kita saling menemani satu sama lain."


"Aku rasa aku bisa datang" ucap Zinnia. Sekali-kali dia menikmati liburannya berkumpul bersama dengan orang-orang yang menemani saat dirinya mulai kuliah di University of Geneva.


"Cool. Lagian kamu kan selalu pulang bulan Desember, Zee."


***

__ADS_1


Zinnia berjalan menuju apartemennya dan disana sudah duduk Sean di depan pintu apartemennya.


"Mau apa kamu kemari, yang mulia? Apa kamu tidak merasa jijik duduk di lantai." Zinnia membuka pintu apartemennya dengan menempelkan jempolnya dan password.


"Kamu kemana saja Zee?"


"Bukan urusanmu, Sean. Aku merasa tidak ada janji denganmu." Zinnia masuk ke dalam apartemennya sedangkan Sean susah payah untuk berdiri.


"Zee... Help..." panggil Sean yang memang kesulitan.


Zinnia pun keluar lagi dan melihat pria itu kesulitan berdiri dengan kruk nya. Sambil menghela nafas panjang, gadis itu berjongkok.


"Pegang bahuku, pelan-pelan." Zinnia membantu Sean untuk berdiri dan pria itu tampak menikmati harum parfum gadis itu. "Sudah bisa berdiri kan? Pakai kruknya, kakimu jangan dipakai buat menapak dulu." Zinnia memberikan kruk yang jatuh ke Sean.


"Thanks Zee" senyum Sean.


"Kemana pengawalmu? Babysittermu?" tanya Zinnia setelah Sean duduk di kursi makan.


"Aku hanya minta di-drop disini dan bodoh nya aku, aku lupa meminta nomor ponselmu."


Zinnia membuat dua cangkir hot choco. "Lalu?"


"Lalu aku bertanya pada pihak rumah sakit dan mereka menolak memberikannya padaku. See, kamu lihat Zee, meskipun aku pangeran, tapi tetap saja pihak rumah sakit tidak mau memberi nomor ponsel mu padaku."


Zinnia meletakkan cangkir berisikan hot choco di depan Sean. "Karena memang nomor ponsel semua pegawai rumah sakit HUG itu tidak diberikan sembarangan." Gadis itu duduk di hadapan Sean.


"Berikan nomor ponselmu."


"Kalau aku tidak mau?"


"Cewek centil, berikan nomormu."


"Zinniaaa..." Sean menatap tajam ke Zinnia yang hanya menyesap hot choco nya dengan santai.


"Kamu mau konsultasi apa sama aku?"


"Konsul ... Oh Astagaaa! Betapa sulitnya aku mendapatkan nomor ponsel kamu!" Sean mengacak-acak rambutnya.


"Tidak semua bisa kamu dapatkan, yang mulia."


"For God's sake. Just give me your number. Please?" Mata biru Sean tampak memohon dan mengerjap-ngerjap seperti puppy eyes.


"Kemana semua kesombongan mu dulu, pangeran?" tanya Zinnia mengacuhkan wajah lucu Sean.


"Kema... Oh come on Zee! See aku sekarang sampai semakin sering mengucapkan kalimat itu 'Oh come on Zee'." Sean tertawa kecil. "Kenapa dengan kesombongan aku?"


"Kamu waktu kecil kan memang sudah songong, anak manja dan tukang meremehkan orang lain. Memangnya apa yang membuat kamu berubah?"


"Jangan memprofile aku, Zee. Aku bukan klienmu."


"Oh maaf yang mulia, apakah anda keberatan dengan profiling? Maafkan saya yang kuliah di psikologi."


"Zee, jangan mengalihkan pembicaraan. Berikan nomor ponselmu."


Zinnia menyebutkan nomornya dan tak lama terdengar suara nada dering nya dan gadis itu mengambil ponselnya yang disimpan dalam tas.


"Itu nomorku" ucap Sean.


"Hhmmm." Zinnia membuka ponselnya dan menyimpan nomor Sean di dalam kontaknya dan sejurus kemudian dia tertawa cekikikan membaca pesan yang masuk.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa Zee?" tanya Sean penasaran.


"Bukan urusan kamu."


Sean hanya melengos. Apa gara-gara aku panggil dia cewek centil ya jadi aku dijudesin begini.


"Zee..." panggilnya lagi karena merasa tidak diperhatikan.


"Apa Sean?" sahut Zinnua tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Lihat aku, jangan layar ponselnya" pinta Sean.


Zinnia menatap Sean. "Kamu itu selain songong, seenaknya sendiri, manja juga tidak mau tidak diperhatikan. Very center ya Sean? Semua harus memperhatikan kamu? Apa karena kamu merasa seorang pangeran?"


"Zee, pedas sekali mulutmu."


"Bukannya aku sudah pedas dari kecil?" balas Zinnia.


"Ohya kamu dulu kecil datang bersama dengan Oom Benji mu bertemu dengan kakek dan nenekku. Bahasa Jerman kamu masih berantakan dan campur aduk dengan bahasa Inggris, dengan gaya sok imut dan centil merasa paling cantik. Apa kamu juga merasa hal yang sama dengan aku? Sama-sama center ?"


"Apa jika bertemu dengan orang yang lebih tua harus cemberut dan judes? Manner ku kemana? Aku hanya judes ke kamu karena kamu duluan yang memulai. Buat apa harus beramah tamah dengan anak yang dari awal sudah membentengi diri bergaya sombong dan arogan. Buang-buang energi saja!"


Sean menatap Zinnia dengan tatapan geli. "Apa kamu tertarik padaku Zee?"


Zinnia melongo. "Ngapain harus tertarik dengan kamu? Apa urgensinya?"


"Banyak wanita yang tergila-gila padaku Zee. I'm one of ten eligible bachelor in the world."


"Sorry, kalau soal fisik, aku tidak tertarik karena saudara - saudara aku fisiknya juga paripurna. Sifat, apalagi. Aku tidak tertarik dengan anak manja seperti kamu, womanizer, playboy dan menggampangkan segala sesuatu."


"Seriously Zee? Kamu profiling aku?"


"Aku sudah memprofiling kamu sejak kita bertemu lagi kemarin."


***



Pangeran manja



Si judes tukang profiling


Note :


Profiling adalah pencatatan dan analisis karakteristik psikologis dan perilaku seseorang, untuk menilai atau memprediksi kemampuan mereka dalam bidang tertentu atau untuk membantu mengidentifikasi subkelompok orang tertentu.


Jika kalian nonton film Criminal Minds, para agen FBI dari unit BAU ( Behavioral Analysis Unit ) disana memprofil unsub berupa manusia toksik yang berada di lingkungan kerja toksik atau menciptakan lingkungan kerja toksik itu sendiri. Unsub adalah akronim dari unknown perpetrator of a crime (pelaku kejahatan yang tidak diketahui), namun akibat dari kejahatannya terlihat dari korban-korbannya.


Coba kalian nonton drama seri itu baik Criminal Minds, Criminal Minds Korea yang diadaptasi dari versi Amerika nya, Criminal Minds Suspect Behavior dan Criminal Minds Beyond Borders. Bisa dilihat bagaimana otak dan perilaku manusia itu beyond our expectations.


Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2